Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Memijat


__ADS_3

Adam membiarkan kedua wanita yang ia cintai itu untuk melepaskan rasa bahagianya dengan melangkah mendekati pria tua yang sedang terdiam dengan wajah datar.


Dibalik wajah datarnya, diam diam terselip rasa bahagia mendengar kehamilan Hana. Ia juga sangat amat menginginkan seorang cucu untuk keluarga mereka.


Adam lalu berjalan menuju Papinya, ia menarik satu kursi tepat di-samping papi Barack. Barack yang menyadari ada seseorang yang duduk disampingnya langsung melihat kearah itu, Adam tersenyum sinis dan menatap Papinya.


"Apa papi tidak ingin mengucapkan selamat untuk istriku? Dia sedang mengandung cucu pertama papi." ucap Adam sambil memangku kakinya.


"Cih .... untuk apa? Dia bukan cucu ku, apa kamu mendengarkan permintaan ku saat aku menyuruh kamu untuk menikah dengan Nanda?"


"Hahah, aku tidak masalah jika papi tidak mengakui dia sebagai cucu papi tapi papi tidak bisa mengelak dengan kenyataan bahwa dia adalah cucu kandung papi." ucapnya tersenyum kecut.


"Dan masalah perjodohan yang sudah berlalu itu ... untuk apa lagi papi ungkit. Ayahnya sudah membatalkan pertunangan itu jadi papi juga harus belajar menerima kenyataannya. Papi Barack tidak mengeluarkan lagi sepatah katapun. Ia terdiam membisu mendengar ucapan anaknya.


"Aku harap papi cepat sadar dan bisa berdamai dengan masalah yang sudah berlalu." setelah mengatakan itu Adam langsung berdiri meninggalkan Papinya dan menunju kearah Hana dan juga mami Ani.


Barack langsung mengarahkan pandangannya kearah langkah anaknya yang sudah berlalu pergi. "****!" ada rasa bersalah menggelitik hatinya.


"Selamat ya Hana, kami ikut senang atas kehamilan pertama kamu. Semoga janinnya selalu sehat." para tamu satu persatu memberikan ucapan selamat kepada Hana.


"Tante ikut senang dengar kabar gembira ini. Keluarga Mateo akan diramaikan dengan tangisan bayi pertama kalian." ucap adik dari mami Ani tersebut.


"Ayo sayang duduk dulu, kamu tidak boleh capek berdiri." mami Ani begitu perhatian pada Hana.


Beliau menarik satu kursi untuk Hana. "Terimakasih mami." ucapnya tersenyum manis.


"Sama sama."


"Sekarang aku sudah dilupakan rupanya." Adam meledek ibunya.


"Kamu sudah tua, ayo duduk sendiri." seketika para tamu tergelak kencang merasa lucu. Adam pun tertawa pelan lalu duduk di-samping Hana, alhasil Hana duduk di tengah tengah mami Ani dan juga Adam.


Sementara Barack duduk berjarak satu kursi dengan mereka bertiga, sambil mencoba berbincang bincang dengan para tamu pria yang kebetulan menghampiri dirinya.

__ADS_1


Acara makan malam itu berlangsung dengan lancar dan penuh rasa haru, Oma Ani dan juga teman temannya ikut memberikan petua untuk ibu hamil muda ( Hana ) agar selalu berhati-hati dan menjaga kandungannya mengingat ini adalah kehamilan pertama Hana.


Adam merasa lega dan senang karena kehamilan Hana disambut baik oleh keluarga Mateo dan juga para kerabat dekat mereka, mungkin hanya tersisa satu orang saja yang masih belum menerima kabar gembira ini siapa lagi kalau bukan papi Barack.


*


*


*


Hana dan juga Adam sudah sampai di rumah mereka setelah makan malam tadi berakhir, Adam langsung memutuskan pulang karena tidak ingin membuat Hana kecapean.


Oma Ani juga sempat menahan mereka untuk tidur semalam di rumah mereka tapi Adam menolaknya dengan berjanji lain waktu akan berkunjung lagi ke rumah orangtuanya.


Adam mengendong Hana saat mereka menaiki tangga karena wanita hamil itu mengeluh lelah pada kakinya. Ia mengendong dengan bridal style.


"Nanti biar Daddy yang memijat kaki mommy, apa begitu lelah?" Adam bertanya sembari terus melangkah.


Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam sambil tersenyum kecil. "Tidak terlalu, mungkin acaranya cukup lama jadi aku sedikit merasa lelah."


"Hana tidak enak sama mami, beliau terlalu bahagia berbicara mengenai kehamilan Hana. Mana mungkin Hana tega pamit ditengah acara berjalan."


"Hah kamu memang selalu seperti itu." desa Adam.


Saat sampai di depan pintu kamar mereka, Adam langsung membuka benda persegi panjang itu. Ia melangkah perlahan kearah ranjang, saat sudah berada didepan ranjang Adam langsung membaringkan tubuh Hana dengan hati hati.


"Aku ingin ganti baju dulu." ucapnya lalu bangkit menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


"Biar Daddy yang ganti baju kamu tunggu di situ setelah Daddy berganti!" Adam lalu bangkit dan membuka satu persatu pakaiannya tepat didepan Hana.


Hana menyaksikan tubuh polos Adam didepan matanya, sudah menjadi kebiasaan mereka setiap hari.


Adam lalu meletakkan pakaiannya di atas sofa, lalu berjalan masuk di walk in closet dengan tubuh telanjang. Beberapa detik kemudian Adam keluar menggunakan bokser dengan membawa pakaian tidur milik Hana, baju tidur berbahan satin bertali spaghetti.

__ADS_1


"Sini Daddy bukain bajunya!" pintanya langsung naik keatas ranjang berhadapan dengan Hana. Perlahan Hana bergerak mendekati Adam, membiarkan pria itu membantunya melepas pakaian.


Adam perlahan menarik gaun itu keatas, setelah gaun Hana berhasil lepas ia kemudian membuka tali bra milik Hana dan terpampang sudah dua benda kenyal dan padat milik Hana.


Sebelum memakaikan gaun untuk Hana, Adam mencium gemas dua benda itu bergantian, dengan gemas ia mengigit pelan di sana hingga membuat si empu berdesis nyeri karena ulah Suaminya.


"Aow papi sakit jangan digigit. Udah ayo pakaikan baju nya, katanya tadi mau pijat kaki mommy." ucapnya sambil mencoba melepaskan tangan Adam dari benda itu.


Adam langsung mengangkat kepalanya dari sana, sambil tersenyum. "Baiklah Ratu, akan raja laksanakan perintah ratu." Adam sambil bercanda. Hana tertawa pelan mendengar jawaban suaminya.


Adam langsung memakaikan baju Hana, setelah selesai ia langsung berdiri dan mengambil sebuah minyak urut dari lemari khusus obat obatan, lalu kembali lagi naik keatas kasur mereka.


Di sana Hana sudah berbaring telentang, menunggu Adam melakukan tugasnya. Adam tersenyum menatap sebentar kearah Hana lalu mengoleskan minyak urut di betis Hana lalu memijatnya perlahan-lahan.


"Pijatan Daddy cukup baik, apa Daddy pernah bekerja sebelumnya di tempat spa?" Hana beranda menatap Adam yang sedang serius memijat kakinya.


"Daddy tidak punya riwayat pekerjaan seperti itu, Daddy dari keluarga kaya untuk apa bekerja sebagai tukang pijat." tangannya terus bergerak memijat kaki Hana.


"Ya Hana lupa jika Daddy adalah anak dari keluarga Mateo," ucap Hana sambil tertawa pelan.


"Dan kamu beruntung bukan memiliki suami seperti Daddy?" Adam kembali menatap istrinya.


"Sangat, sangat beruntung karena selain tampan di usia 39 tahun dia juga memiliki segudang kekayaan." Hana tertawa.


"Ternyata istriku juga mata duitan. Baiklah aku akan lebih giat lagi bekerja keras untuk istriku ini." ucapnya terkekeh.


"Hahaha itu juga ide yang bagus karena sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang siap menghabiskan uang Daddy." Mereka tertawa bersama didalam kamar.


"Ya mommy benar, Daddy harus siap siap dengan itu." tersenyum menatap Hana.


"Hmm."


"Dad pijatnya di bagian kaki saja kenapa malah naik di paha mommy." Hana memperingati suaminya saat tangan nakal Adam sudah merambat naik keatas pahanya, bahkan tangan itu hampir masuk kedalam gaun tidurnya.

__ADS_1


"Ya ya baiklah." ia lalu kembali memijat di bagian kaki."


Hana menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa, merasa lucu dengan tingkah suami matangnya.


__ADS_2