Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Nasi goreng


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu.


Hubungan Adam dan Hana semakin romantis dan lengket, pun juga dengan sikap Adam yang begitu overprotektif pada istrinya.


Sejak kepergian Nanda dua bulan yang lalu Hana merasa sangat lega dan bersyukur karena tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Tetapi ia juga akan tetap berhati-hati dengan wanita lain di luaran sana takut jika ada Nanda kedua.


Usia kehamilan Hana yang sudah memasuki bulan ketiga membuat ia sering terbangun tiba-tiba di tengah malam saat merasakan kram pada perut. Kadang juga Hana merasa ingin sekali memakan sesuatu.


Dan malam ini terulang lagi, Hana terbangun karena ingin memakan sesuatu, padahal saat usia kandungannya satu hingga dua bulan, Hana tidak sesering ini menginginkan makanan di tengah malam ia ingin makan sesuatu tapi itu sangatlah jarang ia alami.


Hana menatap kesamping dimana suaminya terlelap dengan memeluk dirinya dengan nafas yang begitu teratur. Ia jadi tidak tega membangunkan suaminya mengingat pria itu juga lelah karena pekerjaan kantor. Tapi keinginannya tidak bisa ditunda, ia ingin segera merasakan makanan yang diinginkannya.


Malam itu, entah kenapa Hana ingin sekali memakan nasi goreng buatan suaminya. Ia menatap kearah jam dinding menunjukan pukul dua malam, Hana sudah begitu ngiler membayangkan akan memakan nasi goreng itu.


Dengan perlahan Hana kemudian membangunkan sang suami yang sedang terlelap begitu pulas di sebelahnya. la guncang pelan bahu Adam.


"Pi ...


Lelaki itu tidak menyahut, atau mungkin lebih tepatnya tidak terganggu sama sekali. Hingga Hana kembali mengguncang bahunya, kali ini lebih kerasa dari sebelumnya.


"Papi ..


Sang suami melenguh pelan, namun ia belum juga sadar dalam tidurnya. Hana mengembuskan napasnya.


"Papi!"' Hana sedikit mengeraskan suaranya, hingga lelaki itu mengerjap pelan.


"Hmmpt." lenguhan Adam terdengar.


"Kenapa mi?" tanya Adam dengan mata yang tertutup.


Masih dengan mata yang belum terbuka sempurna, Adam memutar tubuhnya, berbaring menghadap sang istri.

__ADS_1


"Mommy pengen nasi goreng." ucap Hana dengan wajah sudah cemberut karena Adam belum juga membuka matanya.


"Jam berapa ini?" Adam mengucek matanya sebentar lalu kemudian bangkit dari tidurnya, ia duduk menghadap Hana yang sudah lebih dulu terduduk sejak beberapa menit yang lalu.


"Jam 2? Apa masih ada penjual di jam selarut ini?" ucapnya saat melihat jam.


"Hana nggak ingin memakan makanan yang dijual, Pi. Tapi Hana pengen makan nasi goreng yang dimasak, papi."


Sontak Adam terkejut. Memasak? Apa dia tidak salah dengar? Bahkan pria ia tidak tau memasak, selama ini ia hanya mengandalkan pembantu di rumahnya dan apa sekarang, dia disuruh Hana untuk memasak makanan untuk istri dan calon anak mereka.


Dia tidak yakin masakan yang dibuatnya akan enak dimakan. Hah ia tidak mau jika calon anak dan juga istrinya memakan masakan yang tidak enak darinya, jika terjadi sesuatu pada mereka bagaimana? Hah tidak tidak ia tidak ingin melakukan itu. Adam berperang dengan pikirannya sendiri.


Sedangkan Hana sudah menatap sendu pada suaminya. "Pi Hana pengen nasi gorengnya sekarang." rengek Hana.


"Tapi mana mungkin papi membuatkan itu untuk kalian? Papi tidak tau cara memasak jika masakan papi tidak enak bagaimana?" tolaknya.


"Cih papi benar benar tidak sayang dengan kita, papi tega membiarkan aku dan anak aku kelaparan." ucapnya dengan suara yang sudah bergetar menahan tangisnya. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Alasan! bilang saja kalau papi tidak mau. Papi cuman ingin enaknya saja tapi setelah aku menginginkan sesuatu papi tidak ingin mengabulkan." ucapnya menatap kearah lain. Mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.


Astaga kurang apa lagi ia mengabulkan semua permintaan istrinya selama hamil beberapa bulan ini, bahkan wanita itu sudah berulangkali menyuruhnya untuk membelikan makanan yang bahkan jaraknya begitu jauh dengan tempat tinggal mereka dan hanya kali ini, permintaan Hana yang Adam rasa tidak bisa ia lakukan tapi Hana sudah mengatakannya seperti itu? Hah mood ibu hamil memang sangat membingungkan.


Tapi ia dengan sabar menghadapi itu semua. Jika bukan istrinya sudah dipastikan ia akan membentaknya habis habisan.


"Papi akan menyuruh Siti membuatkan nasi goreng untuk kamu agar lebih enak." ucap Adam mengelus pipi Hana.


Sontak Hana menatap kearah suaminya dengan wajah kecewa, air matanya sudah menetes di pipinya. Ia tersenyum kecut.


"Aku hanya ingin nasi goreng yang dibuat papi, bukan masakan Siti Pi!" marahnya. Ia bahkan tanpa sadar sudah memarahi suaminya dengan suara yang meninggi.


Adam bergeming, istrinya sudah benar benar marah. Beberapa detik kemudian Hana tersadar apa yang sudah ia lakukan dengan cepat ia menghapus air matanya, lalu melepaskan tangan Adam dari pipinya.

__ADS_1


"Maaf Hana tidak sopan sudah berbicara dengan suara meninggi. Biar Hana saja yang masak jika papi tidak bisa membantu Hana." ucapnya tersenyum paksa padahal ia begitu sedih karena Adam tidak bisa melakukan itu untuknya.


Ia merasa seperti anak kecil karena hal sepele membuat ia secengeng itu. Hana dengan cepat beranjak dari ranjang, menurunkan kedua kakinya di lantai. Baru saja akan melangkah tangan Hana sudah ditahan kuat oleh Adam, Hana berbalik menatap suaminya yang masih terduduk di-atas ranjang.


Mereka saling menatap. "Baiklah papi akan membuatkan itu untuk mommy, mommy tetap di sini biarkan papi yang membuatkan untuk mommy." ucap Adam.


"Tidak apa apa aku tidak ingin papi melakukannya dengan terpaksa, biarkan Hana saja yang turun membuatnya." ucap Hana menguatkan dirinya.


Padahal ia sudah senang mendengar Adam ingin memasak tapi entahlah wanita suka membingungkan. Dalam hati dan mulut berkata lain.


"Tidak mommy tetap di sini, biarkan papi yang membuatnya."


"Tidak biarkan aku saja yang membuatnya." tolak Hana.


"Papi bilang tetap di sini!" ucap Adam dengan nada tegas tidak ingin dibantah lagi.


Seketika Hana terdiam, dia tidak berani lagi melawan suaminya. Sontak Hana terpaksa duduk kembali di atas ranjang saat tangannya sudah dituntut oleh Adam.


"Papi akan segera kembali setelah membuat nasi goreng untuk mommy." ucapnya lembut sambil mengecup kedua pipi Hana.


Setelah itu Adam lalu melangkah menunjukkan pintu. "Papi!" panggil Hana saat suaminya sudah berada di depan pintu hendak membukanya.


"Ada apa?" Adam menoleh menghadap Hana.


Dengan ragu ragu Hana menjawab. "Ha-Hana pengen ikut kebawah, Hana pengen menunggu papi sambil menunggu nasi gorengnya masak, Pi."


Ia menampilkan wajah sedihnya, hal itu membuat Adam tidak tega menolaknya. "Ya sudah ayo kita kebawah." Adam berjalan mendekati Hana lalu menggenggam tangan Hana untuk melangkah bersama.


Hana tersenyum kecil melihat Adam mengiyakan permintaannya apalagi pria itu berbalik menghampirinya.


Setelah itu keduanya berjalan keluar dengan Adam menggenggam istrinya.

__ADS_1


__ADS_2