
Pagi hari.
Adam terbangun lebih dulu ia tengah memandangi wajah Hana sambil mengelus wajah istrinya, dengan gerakan lembut.
Ia tersenyum melihat pahatan yang begitu sempurna didepannya yang Tuhan ciptakan untuk ia miliki. Adam merasa sangat beruntung karena sudah dipertemukan dengan sosok seperti istrinya, wanita yang sabar menghadapi segala sikapnya. Ia bahkan tidak percaya akan menikahi gadis berusia 19 tahun yang sangat terpaut jauh dengan usianya.
Ia sebenarnya ikut sedih saat orang tua Hana meninggal dalam kecelakaan mobil, tapi di sisi lainnya ia sedikit bersyukur karena Hana tidak hidup bersama orangtuanya, jika saat ini orang tua Hana masih hidup mungkin saja Hana akan pergi meninggalkan dirinya saat mereka mempunyai masalah.
Mendengar Hana ingin mengakhiri hubungan mereka saja sudah membuatnya gila juga amarah yang memuncak, ia tidak bisa mendengar satu kata itu dari mulut Hana. Ia sudah sangat mencintai wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Adam melamun memikirkan hal itu hingga kemudian suara lenguhan kecil Hana terdengar. "Eungh." Hana menggeliat kecil dengan bibir yang maju ke-depan terlihat seperti anak kecil.
Adam tersenyum lalu mengecup bibir Hana. "Morning mommy."
Mendengar suara suaminya seketika Hana langsung membuka matanya dengan sempurna. Semalam ia tidur begitu nyenyak hingga tidak mengetahui jika suaminya sudah pulang dan tidur memeluknya sepanjang malam.
Saat mata coklatnya itu terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah wajah Adam tepat di depannya dengan senyum yang begitu lebar.
"Papi, papi pulang?" Hana menatap Adam mencoba menyesuaikan penglihatannya. Ia mengucek matanya sebentar ingin memastikan bahwa didepannya adalah Adam suaminya.
"Hmm, memangnya papi harus pulang kemana? Ini rumah kita kan." Adam terkekeh dengan pertanyaan Hana.
Hana tidak menjawab dan menatap pria itu dengan serius. "Kemarin papi kemana?" Hana tak merasa lucu dengan pembicaraan suaminya. Ia menatap datar pria itu.
Adam seketika menarik bibirnya ke-depan, senyumannya spontan hilang berganti dengan wajah bingung. "Papi ke kantor, kenapa bertanya seperti itu." Tangan Adam terangkat mengelus rambut Hana.
"Apa papi sudah menganti jam pulang papi? Papi tidak biasanya pulang sampai malam, kalau papi menghadiri acara Tante Nanda kenapa tidak ke sini dulu sebelum ke acara mereka? Apa sebegitu pentingnya Tante Nanda? Sampai papi tidak ingin menemui Hana, istri papi." ujar Hana sambil menekan kata istri.
Hati Adam langsung mencelos dengan ucapan Hana. "Apa mommy marah?" menatap Hana.
"Apa aku berhak marah? Dalam hubungan kita Hana tidak diijinkan untuk marah lali buat apa aku marah. Aku hanya bertanya saja." ucap Hana.
"Maafkan papi, seharusnya papi tidak pergi meninggalkan mommy begitu saja. Papi hanya tersulut rasa kesal saat keinginan papi ditolak. Papi tidak tau kenapa sampai papi tidak bisa menahan rasa kesal papi." ucapnya bersalah.
"Karena gairah papi tidak tersalurkan, itulah jawabannya." ucap Hana frontal dengan nada sedikit ketus.
Adam begitu terkejut mendengar jawaban istrinya.
"Kenapa papi menatap aku seperti itu? Apa aku salah bicara?"
__ADS_1
"Tidak, papi hanya kaget saja karena mommy mengatakan itu."
"Itulah yang Hana lihat kemarin, papi yang memulai tapi papi juga yang kesal." ketusnya.
"Kenapa mommy jadi galak seperti ini? Apa mommy begitu marah sama papi." Adam menahan senyumnya saat menyadari kalau Hana sedang merajuk padanya.
"Tidak untuk apa marah, aku tidak ingin membuang energi ku hanya untuk marah sama papi." bohongnya sambil menatap kearah lain.
"Dasar pemerajuk, hahah." Adam tertawa lalu menarik pinggang Hana merapat padanya.
"Apa sih, nggak ya," elaknya sambil terus menampilkan wajah ketusnya.
"Jangan berbohong kalau tidak papi akan menghukum mommy."
"Kenapa Hana terus mendapat hukuman? Hana bahkan tidak melakukan kesalahan." kesalnya dengan bibir yang monyong ke-depan.
"Karena kamu sudah berani membohongi papi." adam menatap tajam.
"Hah selalu saja seperti itu," Hana mencebik.
*
*
*
Di kediaman ayah Adam. Papi Barack dan Oma Ani sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan obrolan menyertai mereka.
"Papi sudah memutuskan." ucap Barack.
"Memutuskan apa?" Oma Ani bingung menghentikan kunyahan nya.
"Hah, papi memutuskan untuk menerima mereka dalam keluarga Matteo." ucapnya malas karena masih sedikit gengsi.
"Yang benar Pi? Papi serius?" Oma Ani begitu terkejut mendengar suaminya mengatakan menerima anak dan menantunya.
"Ya mau bagaimana lagi? Aku terpaksa melakukan itu."
"Terma kasih papi, ah mami senang sekali mendengarnya." Oma Ani bangkit dari posisinya berdiri mendekati Barack.
__ADS_1
"Hei kenapa malah berdiri ayo duduk, habiskan makanannya." papi Barack terlihat heran.
Buk
Oma Ani memeluk suaminya dengan begitu kuat. Sementara kakek Barack bergeming dengan aksi istrinya. "Mami jadi tambah cinta sama papi." gombal wanita tua tersebut.
Kakek Barack menahan tawanya mendengar pernyataan wanita tersebut. Tangannya membalas pelukan Oma Ani. "Itu sudah seharusnya bukan? Tapi papi rasa karena papi menerima Adam dan juga Hana sehingga mami dengan tumbennya mengatakan cinta kepada papi."
Oma Ani melepaskan pelukannya sambil menatap Barack dengan senyum lebar. "Tidak, mami selalu mencintai papi ya walaupun sikap papi terkadang menyebalkan." ucapnya terkekeh.
"Cih kenapa harus ada tapi nya, untuk cinta." ucap Barack tersenyum menatap Oma Ani.
"Hehehe, tapi sekarang mami semakin cinta sama papi kok."
Barack tersenyum salah tingkah. "Hentikan, ayo lanjutkan sarapannya, kamu tidak malu para pembantu melihat kita seperti ini." Adam mencoba menghentikan pembicaraan mereka sebelum ia semakin dibuat baper dengan wanita didepannya itu.
"Baiklah papi." Oma tersenyum lalu kembali lagi ketempat duduknya.
Ternyata kakek sama Oma sweet juga ya, ngga kalah sweet sama Adam dan Hana.😁
Sementara di kamar mandi Adam dan Hana tengah melakukan kegiatan panas yang begitu nikmat didalam sana.
Kedua pasangan yang sedang bertengkar kecil tadi, sudah berbaikan karena melakukan kegiatan suami istri. Yap, masalah sebesar dan sekecil apapun antara suami istri pasti akan kembali berbaikan dengan melakukan penyatuan.
"Aaaa papi!" erang Hana sambil mengigit bibirnya kuat.
"Mommy begitu sempit, akh hem." Adam memejamkan matanya dengan pinggul yang terus bergerak maju mundur.
Adam melakukan penyatuan dengan Hana yang membelakangi dirinya. Sementara Adam menghentak di belakang sana sambil satu tangannya bermain main di bukit kembar Hana. Pelu keduanya sudah menyatu dengan air shower yang membasahi tubuh mereka.
Beberapa saat melakukan itu, keduanya pun mendapatkan pelepasan. "Aaaaaaaa, papi, mommy." erangan nikmat Hana dan juga Adam begitu menggema di kamar mandi. Hana berpegang pada dinding kamar mandi.
Adam menahan tubuh Hana dengan memeluk dari belakang takut Hana ambruk di-atas lantai.
Nafas keduanya begitu tersengal. Adam dan juga Hana tersenyum. Kemudian pria itu dengan perlahan membalikkan tubuh Hana menghadap dirinya. "I love you." Adam tersenyum tulus.
"I love you to." ucap Hana lalu memeluk tubuh Adam.
Mereka berpelukan di bawah guyuran air.
__ADS_1