
Dua bulan telah berlalu dan pasangan beda usia itu semakin terlihat romantis dan lengket. Adam semakin romantis dengan istrinya. Ia terus menyisakan waktu untuk berdua dengan istrinya, kadang ia berlibur ataupun hanya menghabiskan waktu di rumah bersama Hana.
Keduanya sudah kembali tinggal di rumah Adam, satu bulan yang lalu. Ia ingin saat ia tidak ada di rumah Hana bisa punya teman ataupun ada orang yang menemaninya di rumah tersebut, agar wanita 19 tahun itu tidak merasa bosan.
Dan itu berhasil membuat Hana tidak mengeluh padanya, jika di vila ia akan mengeluh tidak punya teman ataupun sendirian di tempat itu, kini ia sudah jarang mengeluarkan keluhannya itu.
Dan pagi ini Adam tengah berdiri di depan , pintu kamar mandi, menunggu istrinya yang sedang berada didalam sana.
"Daddy! ..." teriak Hana begitu kuat karena begitu terkejut. Ia menatap tidak percaya pada benda yang sedang ia genggam tersebut.
"Iya sayang." Adam panik lalu membuka pintu kamar mandi dengan kasar.
"Daddy, ini" Hana menunjukan testpack nya kepada Adam sambil tersenyum matanya sudah penuh haru.
"Sayang ini?" Adam membekap mulutnya melihat ada garis dua di benda itu.
"Itu apa artinya Dad? Artinya aku- aku hamil Dad." ucapnya dengan nada penuh bahagia.
Adam tidak menjawab melainkan mengangkat tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Dad! lepas dulu Hana belum pakai celana." Ucap Adam sedikit tersentak kaget karena aksi tiba-tiba suaminya.
Dengan cepat Adam menaikan underware istrinya.
"Maaf." Adam membasuh sudut matanya yang basah.
"Dad, kenapa nangis apa Daddy tidak suka dengan kabar gembira ini? Hana bertanya dengan wajah yang terlihat sedih karena ia takut mengecewakan suaminya.
"Tidak sayang ini adalah air mata bahagia." Adam mencium puncuk kepala istrinya lalu tangannya mengusap lembut perut istrinya.
"Disini ada anak kita." Bahkan suara Adam terdengar bergetar, menandakan jika pria itu tengah menahan tangisnya.
"Jadi?"
"Daddy bahagia mendengar kabar yang sangat bahagia ini, terimakasih. Daddy akan menjaga kalian sebaik mungkin" Ucap Adam.
__ADS_1
Adam tidak menyangka jika akan diberikan kepercayaan secepat ini, diusianya yang sebentar lagi memasuki 40 Tahun.
Hana juga sangat tidak menyangka jika diperut nya ada makhluk kecil yang bersemayam di dalam sana. Pasalnya ia tidak merasakan tanda tanda ataupun gejala kehamilan seperti wanita hamil pada umumnya.
Ia bahkan tidak mengalami muntah muntah di pagi hari ataupun mengidam makanan untuk dimakannya. Ia tidak merasakan hal hal itu. Dia merasa tubuhnya seperti tidak hamil.
Dan alasan pagi ini ia menggunakan testpack tersebut karena tamu bulanannya tidak datang, Hana langsung memberitahukan pada suaminya hingga pria matang itu menyuruhnya untuk mencoba alat tes kehamilan tersebut.
Dan kabar bahagianya ia benar-benar hamil. Awalnya ia ragu dan takut jika hasilnya tidak sesuai harapan suaminya, ia takut membuat pria itu kecewa tapi hal itu malah menjadi sebaliknya ia hamil dan membuat suaminya begitu bahagia.
Keduanya sangat bahagia, bahkan mereka lupa jika masih di dalam kamar mandi.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh melakukan pekerjaan yang terlalu berat." ucap Adam, lalu menggendong Hana menuju tempat tidur dan merebahkannya disana.
"Memang Hana melakukan apa? Kecuali satu .... yaitu melayani Daddy diatas ranjang arena pertempuran ini". Hana berkata sambil menatap sinis suaminya.
Memang benar apa yang dikatakan Hana, sejak balik di rumah Adam wanita itu sudah dilarang melakukan apapun di rumah itu. Ia hanya bisa bekerja keras jika itu menyangkut adegan ranjang mereka.
"He he he, itu hal yang wajib dan tidak boleh dilewatkan dan lihat hasilnya kamu sudah dibuahi sekarang." Adam terkekeh sambil mengusap perut Hana yang masih rata.
"Kau disini dulu Daddy akan memberi pengumuman untuk penghuni rumah ini." Adam mengecup kening Hana sebelum keluar dari kamar.
Kabar hamilnya Nyonya muda sudah tersebar di seluruh rumah besar itu. Para pekerja ikut bahagia mendengar kabar tersebut apa lagi mereka mendapatkan bonus 2 kali gaji mereka.
"Sering-sering aja Nyonya Hana hamil jadi kita sering juga dapat bonusnya he he he." Ucap Salah satu
pelayan di sana.
"Hus .... ngomong tuh di jaga. Kamu pikir Nona Hana kucing, coba aja kalau Tuan Adam dengar apa yang kamu bilang tadi." tegur bi Surti dengan nada tidak suka.
Pelayanan itupun menutupi mulutnya dengan tangan sembari melirik ke sana kemari, takut jika ucapnya tadi didengar oleh Tuan nya.
Setelah memberikan pengumuman penting itu. Adam Kemudian kembali ke kamar mereka. Hana tampak sudah menunggu suaminya di-atas ranjang dengan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. dengan tangannya memegang guling.
Adam mengulum senyum saat masuk kedalam kamar mereka, ia berjalan menuju Hana Kemudian mendudukkan tubuhnya disisi ranjang tepat di-samping Hana.
__ADS_1
"Kita akan ke dokter kandungan jam sembilan pagi, nanti. Daddy ingin memastikan apakah anak kita baik baik saja di dalam sana? Karena kita berdua tidak menyadari kehadirannya di sini." ucap Adam sambil mengelus perut Hana dengan sayang dengan tersenyum bahagia.
Hana menatap suaminya dengan wajah tak kalah bahagianya. Satu tangan Hana terulur menyentuh tangan Adam yang sedang mengelus perutnya.
"Daddy kelihatan banget antusiasnya. Apa sebahagia itu?" tanya Hana sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Daddy sangat bahagia, bahkan Daddy tidak pernah merasakan sebahagia ini dalam hidup Daddy." Adam mengelus pipi Hana lalu mendekati wajah Hana dan memberikan satu kecupan di kening wanitanya.
Hana menerima kecupan itu dengan senang hati, sambil matanya terpejam menikmati kecupan Adam.
"Hana juga bahagia, bisa mempunyai anak bersama Daddy." sahut Hana saat kecupan Adam terlepas.
"Daddy akan menjaga kalian, memberikan kasih sayang yang tak henti hentinya." ucapnya tulus lalu membawa tubuh Hana kedalam pelukannya, memeluk wanita itu dengan erat sesekali ia mengecup puncak kepala Hana.
...********...
Di rumah sakit.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Adam pada dokter kandungan yang tengah memeriksa kandungan istrinya.
"Coba Tuan dan Nyonya lihat dilayar monitor itu?" Dokter cantik itu menunjuk layar monitor berukuran 34 inci.
"Begini Tuan dan nyonya, kandungannya kuat dan janinnya sehat. Untuk pola makan harus lebih dijaga dan jangan terlalu lelah atau pun stres, karena usia kandungan trimester pertama itu masih rentan keguguran. Dan untuk suaminya tolong selalu jaga mood Nona agar tidak merasa stres ." Ucap Dokter itu, lalu selanjutnya memberikan tips-tips tentang kehamilan lainnya.
"Em apa boleh-" Ucapan Adam terjeda saat dokter itu segera menjawab.
"Tentu saja boleh tuan, asalkan dilakukan dengan pelan dan hati-hati, juga durasinya dikurangi ya, Tuan. Sela Dokter cantik itu sambil tersenyum.
"Syukurlah, Jerry masih bisa di asah." Batin Adam tersenyum.
Sementara Hana merasa malu dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya. "Daddy bikin malu aja." Keluh Hana, menatap malas Suaminya.
"Tidak apa-apa nyonya, hal ini juga sangat penting untuk di tanyakan. Demi keberlangsungan rumah tangga." Ucap Dokter itu sambil terkekeh.
Setelah memeriksa kandungan Hana, Adam memutuskan pulang ke rumah setelah beberapa saat yang lalu keduanya singgah di minimarket terdekat untuk membeli susu hamil buat Hana, dan sudah pasti itu rasa coklat kesukaan Hana.
__ADS_1