
Dua hari pun telah berlalu. Malam ini, dimana acara makan malam untuk merayakan ulang tahun mami Ani begitu banyak makanan tersaji di-atas meja yang berukuran panjang itu. Para pelayan terlihat sibuk menyajikan hidangan di-atas meja.
Acara makan malam diadakan diluar ruangan, di taman belakang kediaman kakek Barack. Lampu gantung juga dipasang untuk menerangi taman belakang, terlihat para kerabat dekat sudah mulai berdatangan.
Barack dan juga Ani tampak menyambut para tamu yang hadir dengan begitu senang, acara malam ini tidak diadakan tiup lilin tetapi hanya sekedar makan malam saja untuk merayakan ulang tahun Oma Ani.
Hal itu juga atas keinginan wanita paru baya tersebut, yang terpenting dalam acara ini ia bisa melihat anak dan menantunya datang menghadiri acara makan malam. Ia sudah sangat merindukan mereka.
Terlihat banyak sekali hadiah yang sudah dibawah oleh para tamu untuk Oma Ani. "Makasih jeng udah datang." ucap Oma Ani tersenyum menyapa tamu sekaligus temannya.
"Sama sama, ini acara penting kamu jadi saya harus pasti datang dong, jeng." jawab wanita itu balik tersenyum, yang berusia yang sama dengan Oma Ani.
"Iya kamu memang selalu menyempatkan hadir, di setiap ulang tahun saya." ucap mami Ani terkekeh.
"Itulah gunanya teman ya kan? Hhahah." sahut wanita paru baya itu dengan candaan.
Oma Ani tergelak dengan perkataan temannya. "Jeng bisa aja."
Barack yang melihat raut wajah bahagia dari istrinya ikut merasa senang karena wanita itu tidak sedih lagi. Ia mengulum senyum kecilnya.
"Ekhem ... Sepertinya kalian begitu asik dengan perbincangan ini, sampai melupakan jika seseorang yang masih ada di samping kalian." ucapnya meledek.
Sontak kedua wanita yang tak lagi muda itu menatap kearahnya, seketika mereka tergelak bersama. "Astaga kita sampai lupa, aduh saya jadi nggak enak kan, udah buat jeng cuekin suami jeng. Ya udah kalau gitu saya kesana dulu temu sama teman teman yang lain." ucapnya tersenyum.
"Ngga pa-pa kok, makasih udah datang ya." ucap Oma Ani lagi.
"Iya makasih udah datang di acara istri saya." sela Kakek Barack tersenyum tipis.
Lalu kemudian wanita para baya itu melangkah pergi meninggalkan keduanya. Oma Ani melirik kearah suaminya sambil tersenyum kecil.
Barack yang melihat istrinya melirik lantas mengeluarkan suara. "Rupanya mami begitu bahagia." tersenyum kecil.
"Iya dong mami bahagia, karena sebenar lagi Adam dan hana juga akan datang. Ya ampun mami sudah tidak sabar lagi menemui mereka." ucapnya penuh binar.
__ADS_1
Kakek Barack seketika memutar bola matanya dengan malas. Menyadari hal itu Oma Ani langsung menghentikan senyumannya. "Papi udah janji loh akan menyambut mereka dengan baik, awas kalau papi ingat sama janji papi. Mami akan tinggalin papi kalau papi lakuin itu." Ancam mami Ani.
"Ck ... sudah berani mengancam papi. Iya kali ini papi tidak akan membuat masalah dengannya demi acara mami berjalan lancar." ucapnya malas.
"Jangan cuman kali ini dong Pi, harus setiap saat kalau mereka datang." ucapnya.
"Hah ... untung papi sayang sama mami kalau ngga ... mana mungkin aku harus menerima mereka untuk datang ke sini." batinnya menggerutu.
"Pi! kok malah diam? Bisa ngga setiap saat?" Oma Ani membuyarkan kakek Barack dari lamunannya.
"Iya papi bisa. Udah ah papi tidak ingin membahas itu. Ayo kita kedalam! teman teman mami yang lain sudah datang." mencoba mengalihkan pembicaraan.
Oma Ani tersenyum senang lalu mengandeng tangan suaminya. "Ayo!" dengan nada senang.
*
*
*
Membicarakan seputaran pekerjaan kantor yang sudah dua hari ini ia tinggalkan karena menemani Hana di rumah. Saat pembicaraan itu berlangsung Adam sesekali melirik kearah istrinya yang sedang memakai Bra nya, ia terlihat sedikit kesusahan saat mengaitkan tali branya.
"Ya sudah besok saya akan masuk, jadi kamu bereskan beberapa pekerjaan yang tidak sempat saya lakukan!" perintah Adam lalu di iyakan oleh Aldi.
Ia kemudian mematikan sambungan telponnya. Adam mengulum senyum kecil lalu melangkah kearah istrinya.
"Kenapa susah banget sih." ucap Hana sedikit kesal berusaha memasang benda berbentuk kacamata itu.
"Sini, biar Daddy pasangin! Kenapa tidak minta tolong jika merasa sedikit kesusahan?" tanya Adam sambil memasangkan tali bra itu dengan perlahan.
Aku tidak enak mengangu Daddy yang sedang serius saat menelepon tadi." ucap Hana.
Wajah kesal Hana berganti senyuman saat pria itu sudah berada dibelakangnya. Ia tersenyum lebar menatap suaminya dibalik cermin besar di depan mereka.
__ADS_1
"Ck ... Daddy tidak akan menolak jika itu mommy yang minta." sahut Adam saat sudah berhasil mengaitkan benda tersebut.
Adam memeluk tubuh Hana dari belakang sambil meletakkan kepalanya di-bahu telanjang Hana. Menatap wanita itu di depan cermin.
"Ya tetap saja Hana merasa tidak sopan Pi. Sahut Hana tersenyum lalu mengarahkan tangannya ke belakang tepat di-bahu nya yang terdapat kepala Adam.
Ia mengelus sambil tersenyum menatap Adam didepan sana. "Kamu selalu saja seperti itu."
Cup cup.
Dua kecupan bibir, Adam berikan di ceruk leher Hana. Sambil menghirup dalam dalam aroma tubuh Hana yang begitu wangi dan menenangkan. "Pi jangan mulai lagi, nanti kita tidak bisa pergi ke acaranya Oma."
Hana mengingat suaminya agar menghentikan aksinya, ia tahu jika Adam melakukan hal itu pasti ujung-ujungnya berakhir di atas ranjang mereka.
Dan Hana tidak mau hal itu terjadi untuk malam ini, Hana ingin menghadiri acara Oma dan dia tidak mau sampai suaminya kembali menggempurnya.
Adam tersenyum lalu mengangkat wajahnya dari leher Hana tapi saat wajahnya sudah berpindah dari tempat itu, malah tangan nakalnya kembali merayap ke-depan tepat di dua gundukan kembar milik istrinya.
Meremasnya dengan gemas. "Mereka semakin besar sayang." ucap Adam terus *******-***** payudara Hana.
"Sssst Daddy, udah ih! biarin Hana bersiap siap. Nanti kita bisa terlambat kalau Daddy terus kayak gini." ucap Hana melepaskan tangan suaminya.
"Apa kita tidak usah ke sana? Biar kita main kuda kudaan saja lebih enak." ucapnya frontal.
Lantas membuat Hana terkejut dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari pria matang itu. "Ngga, Hana mau datang ke sana. Lagian Daddy ngga puas main setiap hari?" ucap Hana tak habis pikir.
"Tidak akan untuk yang satu ini, kalau melakukan itu dengan mommy papi tidak akan puas malah papi semakin ingin." ucapannya menggoda Hana sembari tersenyum nakal.
"Astaga .... udah stop kita harus siap siap untuk segera ke acara Oma." ucapnya lalu meraih satu dres berwarna hitam berlengan pendek.
Warna bajunya senada dengan tuksedo milik Adam. Itu juga atas permintaan pria matang itu, ia ingin couple an dengan istrinya. Baju Hana juga terlihat sopan karena Adam tidak menginginkan istrinya memakai baju terbuka saat menghadiri acara makan malam ibunya.
Ia tidak ingin istrinya menjadi pusat perhatian para lelaki di acara nanti. Terbilang posesif ya si papi.😁
__ADS_1