
Di kamar Hana. Kedua perempuan itu asik mengobrol, sesekali terdengar tawa dari mulut Hana karena Tika membuat menceritakan hal lucu pada dirinya, mencoba menghibur sahabatnya itu.
Tika tersenyum tipis melihat Hana yang tertawa begitu lepas, seakan akan wanita itu baru saja mendapatkan kesenangan.
"Aku harap kamu baik baik aja, karena ngga tau kenapa perasaan gue belum seratus persen yakin, kalau kamu ngga punya masalah." ucap Tika.
Hana menghentikan tawanya saat mendengar perkataan Tika, ia menatap Tika tepat disampingnya, yang juga melihat kearahnya. Keduanya memang masih berada di atas ranjang Hana, Keduanya duduk sambil bersandar di sandaran ranjang.
Ia hanya bisa terdiam tanpa membalas ucapan Tika. "Gue tau lo punya masalah kan? Kenapa harus bohong sih sama gue, gue sahabat lo Hana. Kenapa harus disimpan sendiri masalah kamu, kamu boleh cerita ke aku." ucap Tika sambil memegang telapak tangan Hana.
Hana menundukkan wajahnya. Ia takut pada akhirnya tidak bisa menyimpan masalah ini dan memberitahukan hubungan terlarang ini pada Tika.
Ia takut sahabatnya itu meninggalkan dirinya karena merasa jijik berteman dengan perempuan seperti dirinya.
"Apa gue ngga penting lagi buat Lo?" tanya Tika.
"Mana mungkin kamu ngga penting buat gue, Tik. Kamu udah seperti saudara buat gue." ucap Hana sambil mendongakkan wajahnya menatap Tika.
"Lalu? Lalu kenapa kamu punya masalah ngga cerita sama aku?" tanya Tika.
"Ngga semua masalah pribadi harus diceritakan, bukan?" Hana terpaksa melontarkan perkataan itu, yang jelas jelas membuat Tika tidak suka. Ia tau bagaimana sifat sahabatnya, Tika memang tidak suka melihat Hana menyimpan masalahnya sendiri.
"Walaupun gue lo udah anggap saudara?" sindir Tika.
Ucapan Tika membuat Hana terdiam membisu, ia langsung tersindir dengan pernyataan itu.
"Lalu untuk apa kamu menganggap aku sebagai sahabat sekaligus saudara kalau kamu punya masalah aja, kamu pendam sendiri."
Kedua bola mata Hana sudah berkaca-kaca menatap sahabatnya. "Gu-gue ..... gue hanya takut Tik,"
Tika tersenyum kecut melihat Hana. Sesuai dugaannya, jika sahabatnya ini memang tidak baik Baik saja.
"Apa yang lo takutkan?" Tika memegang bahu Hana, dengan mata melihat kearah netra itu.
Detik itu juga air mata Hana langsung terjatuh membasahi pipinya. "Gue takut ..... takut lo bakalan ninggalin gue."
"Cih .... sempit banget pikiran lo, hubungan persahabatan kita udah berjalan dengan tahun, dan Lo dengan mudanya berpikiran kalau gue bakalan ninggalin lo!." kesal Tika. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya ini.
__ADS_1
Hana hanya bisa diam dengan air matanya terus mengalir.
"Apapun masalah kamu dan dari manapun kamu berasal, itu tidak akan mengubah pemikiran aku untuk ninggalin kamu Hana." ucap Tika menangkup kedua pipi Hana, menatap lekat wanita itu.
"Sekarang cerita sama gue! apa masalah kamu, Hmm?"
"Ak-aku .... aku sebenernya punya hubungan terlarang sama Daddy." ucap Hana dengan ragu ragu, kedua bola matanya masih dipenuhi air mata.
Lantas pernyataannya membuat Tika melepaskan tangannya dari pipi itu. "Han! .... bagaimana bisa?" Tika menatap Hana dengan begitu tidak percaya. Ia begitu terkejut dengan jawaban Hana, dan ini benar benar gila.
"Aku tahu kamu akan jijik sama aku dan ngga mau lagi sahabatan sama aku, ta-tapi .... tapi memang itu yang terjadi, dan aku cinta sama Daddy, Tik." ucapnya begitu lirih.
"Han, kenapa kamu sembunyikan ini dari aku." ucap Tika lalu dengan cepat menarik tubuh Hana kedalam pelukannya. Ia tidak menyangka Hana bisa menyimpan masalah sebesar ini darinya.
"Aku nggak tau harus menanggapi dengan apa, tapi ini benar benar beresiko banget buat kamu. Dan aku tau ini pasti berat buat diri kamu." ucap Tika dengan perasaan ikut terluka, matanya sudah berkabut kristal.
"Hiks hiks .... maafin gue, tapi gue dan Daddy saling cinta dan ngga bisa menghindari hal ini. Please jangan jahuin gue, gue hanya punya satu sahabat yang benar benar sayang sama gue." tangis Hana dalam pelukan Tika.
Air mata Tika tidak bisa dibendung lagi, sedari tadi ingin menahan hal itu tetapi tidak bisa lagi. Wanita itu ikut meneteskan air matanya.
"Hiks hiks .... makasih Tika, makasih udah tulus terima aku sebagai sahabat." Hana tersedu sedu dalam pelukan Tika.
"Itu sudah semestinya dilakukan seorang sahabat bukan?" Tika mencoba tersenyum saat air matanya ikut menetes. Tika mengusap punggung Hana dengan begitu tulus.
Hana menganggukkan kepalanya disela tangisan itu. Ia menyadarkan wajahnya di-bahu tika. Cukup lama mereka menangis. Tika lalu melepaskan pelukan mereka, saat merasa Hana sudah mulai tenang.
Ia menyeka sisa air mata Hana di pipi itu, lalu kemudian menghapus Ari matanya. "Sekarang kamu harus cerita, kenapa semalam kamu ngga ada kabar?"
Hana Melirik sebentar kearah Tika lalu menarik nafas pelan. "Ceritanya panjang, aku ngga bisa ceritain masalah yang terjadi malam itu. Tapi yang pasti inti dari masalah ini adalah, hubungan aku dan Daddy tidak direstui oleh kakek Barack dan mungkin juga Oma." ucap Hana dengan nada sendu.
Wajah sembab itu sudah terlihat sendu lagi saat mengingat hal tersebut. "Daddy juga dijodohin sama wanita lain dari kalangan terpandang." ucap Hana tersenyum kecut.
"Han ..... gue ngga nyangka lo bisa nanggung masalah ini, ini benar-benar berat banget buat kamu. Menerima penolakan dari ayah dan ibu dari Daddy kamu dan mungkin orang orang lainnya dari keluarga Matteo." ucap Tika menatap sedih sahabatnya ini.
"Aku udah berani melakukan, jadi aku juga harus berani menyelesaikan." ucap Hana tersenyum. Bukan senyuman senang ataupun bahagia tetapi senyuman yang menyimpan kesedihannya.
Tika membawa tubuh rapuh itu kembali dalam pelukannya, mencoba menguatkan Hana dari pelukan itu. "Aku tau kamu akan kuat lalui semua ini. Ada aku yang selalu ada buat kamu." ucap Hana mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Makasih ya Tik .... Makasih udah selalu ada buat aku." ucap Hana dalam pelukan Tika.
"Sama sama." sahutnya tersenyum kecil.
Cukup lama mereka berpelukan, Tika Kemudian melepaskan pelukan itu. Ia menatap Hana sambil tersenyum. "Udah jangan nangis lagi, kamu harus kuat!" Tika memberikan semangat untuk Hana.
Hana membalasnya dengan senyum kecil. Lalu menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Leo tadi khawatir banget sama lo, dia sebenarnya mau ikut ke sini, tapi gue Nggak bolehin dia." Tika terkekeh.
"Oh ya?"
"Hmm .... katanya wa dia ngga kamu balas juga dari semalam." tersenyum kecil.
"Kasian banget." Hana menyahut sambil menggelengkan kepalanya. Wajah sembab itu sudah terlihat sedikit baik.
Tika sengaja untuk tidak mengatakan pria itu ingin meminta video call. Karena mendengar masalah Hana tadi, membuat ia mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.
Ia takut Daddy Hana mendapati mereka sedang video call bersama pria.
"Aku juga bawah cemilan kesukaan kamu, loh. Bentar ya aku ambil-in!" Tika meraih tasnya dan mengambil beberapa bingkisan untuk Hana.
Yap saat pergi tadi, ia memutuskan untuk singgah di sebuah minimarket terdekat untuk memberikan beberapa cemilan buat Hana.
Hana tersenyum tipis menatap sahabatnya itu. Memang Tika sebegitu perhatian pada dirinya.
Tika mengeluarkan beberapa cemilan yang rasanya coklat tetapi dari merek cemilan yang berbeda beda.
"Ta rah .... Ini cemilannya. Untuk kamu." Tika tersenyum lebar kearah Hana.
Hana terkekeh melihat Tika yang berusaha menghiburnya.
"Makasih ya." sahut Hana tersenyum membalas senyuman Tika.
"Sama sama."
Obrolan mereka pun terus berlanjut, dengan Tika yang banyak menceritakan hal hal lucu agar sahabatnya itu ceria lagi dan melupakan masalahnya.
__ADS_1