Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
salad buah


__ADS_3

Pagi pun tiba. Terdengar kicauan burung diluar sana menandakan pagi telah tiba, Hana dan Adam masih tertidur lelap dengan saling memeluk di-atas ranjang dengan tubuh polosnya dibalik selimut tebal. Hingga beberapa detik kemudian Hana mengerjapkan kelopak matanya. Mencoba menyesuaikan cahaya di-pagi hari.


Matanya sudah terbuka sempurna, Hana menatap kebawah dimana Adam berbaring sambil membenamkan wajahnya tepat di dua bukit kembar milik Hana. Ia tersenyum kecil menggelengkan kepalanya, jika tertidur seperti ini Adam mendadak seperti bayi yang tidak bisa jauh dari buah kesukaannya.


Mulut Adam masih beta di buah itu, dengan mata terpejam. Selamat pria itu terus menyesap dua gundukan itu tak henti hentinya, dan pagi ini ia masih belum juga melepaskan dua buah itu dari mulutnya.


Hana mengelus kepala Adam dengan lembut memberikan satu kecupan di kepala Adam, ia melirik jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, itu artinya ia harus bangun untuk membuatkan sarapan untuk Adam juga menyiapkan pakaian kerja adam.


Mengingat belum ada pembantu di villa mereka, sudah pasti Hana yang akan menyiapkan segala hal. Hana mencoba melepaskan satu bukit kembarnya dari mulut Adam, melepaskan begitu pelan agar Adam tidak terganggu tidurnya.


"Hmmpt ....." lenguhan pelan terdengar dari mulut Adam. Ia menggeliat pelan dengan mata terpejam, Hana bangun perlahan lahan agar pergerakannya tidak mengusik sosok pria kekar di sampingnya. Setelah berhasil turun dari ranjang, Hana meletakkan satu guling untuk dipeluk Adam.


Ia berjalan dengan tubuh polosnya kearah walk in closet meraih kaos oversize berwarna hitam, sebatas lutut di lemari pakaian. Memakainya tanpa menggunakan pakaian dalam lagi, mengingat mereka hanya tinggal berdua jadi ia bebas memakai apa saja.


Hana menuruni tangga menuju dapur, siap berkutat dengan peralatan dapur. Hari ini Hana ingin membuat salad buah dan juga sandwich roti gandum, mendadak ia ingin sekali memakan salad buah pagi ini.


Beberapa menit kemudian Hana telah selesai dengan pekerjaannya. Hana meletakkan sarapan di-atas meja tak lupa dua gelas susu murni juga tersaji, dalam menu sarapan mereka pagi ini.


Setelah menyajikan hidangan, Hana melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, pintu terbuka memperlihatkan Adam yang masih tertidur pulas. Hana melangkah ke arah Adam.


"Dad .... bangun udah pagi. Daddy harus ke kantor kan." Hana menggoyang pelan punggung Adam.


"Satu menit lagi, sayang." ucapnya terpejam mengeratkan pelukannya di guling. Karena aktivitas panas mereka di kolam semalam, berlanjut hingga ke kasur dan itu baru berakhir jam 2 pagi tadi.


Adam memang begitu kuat dalam hal ranjang, membuat Hana mau tak mau mengimbangi h*srat daddy-nya. Ia tak habis pikir kenapa daddy-nya bisa sekuat itu.


Melihat Adam yang masih nyenyak dan tak mau bangun. Hana memutuskan untuk menyiapkan baju kerja Adam.


Tak berselang lama pakaian kerja Adam pun telah siap di-atas sofa, Hana Kemudian berjalan kearah jendela kaca dan menarik kain gorden, membiarkan sinar matahari menembus ruangan itu.


Dan itu berhasil membuat Adam membuka matanya karena merasakan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Ia mengucek matanya, dengan satu tangan mencoba menghalangi terpaan cahaya di wajahnya.


Hana berjalan kearah ranjang saat melihat pergerakan Adam. "Daddy udah bangun?. tersenyum lalu mendekati tubuh berotot itu.


Adam menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, ia tersenyum menatap Hana, dengan satu jarinya bergerak memberi kode agar wanitanya mendekat.

__ADS_1


Hana langsung beranjak keatas ranjang dan duduk di pangkuan Adam. Ia mengalungkan tangannya di leher Adam lalu. Adam dengan sigap memegangi pinggang Hana. Lalu memberikan morning kiss di bibir Hana.


Cup ....


"Kenapa udah bangun, Daddy masih ingin berlama-lama di-atas kasur sama kamu." ucapnya dengan nada manja.


"Aku harus siapin sarapan juga pakaian kerja buat Daddy. Kita kan nggak punya pembantu." ucap Hana tersenyum mengingatkan Adam.


"Cih .... alasan. Daddy akan menyuruh Surti untuk datang ke sini setiap pagi juga sore biar kamu nggak usah masak lagi." ucap Adam sambil mengecup pipi Hana.


"Daddy itu akan sangat melelahkan buat bi Surti, kasian BI Surti harus bolak-balik buat ke vila, vila kita juga sangat jauh dari rumah Daddy."


"Aryo akan mengantar jemput Surti untuk ke sini. Karena jika ada orang lain selain kita berdua di vila ini, Daddy sudah tidak leluasa melakukan itu dengan kamu sayang." ucap Adam dengan kedua tangannya sudah menyelusup kedalam kaos Hana, ******* kedua buah itu dengan gemas.


"Dad!" Pekik Hana. mencoba melepaskan tangan Adam.


"Daddy pengen susu." ucap Adam tersenyum nakal, lalau melepaskan tangannya dari buah itu.


"Jangan mulai, ini masih pagi Dad. Ayo Daddy bersih bersih setelah itu kebawah buat sarapan." ucap Hana dengan malas.


"What! jadi maksud Daddy susu pada umumnya. Ish kenapa malah gue yang berpikir ke situ sih? gue udah mulai mesum ketularan Daddy nhi." gerutunya dalam hati. Ia mencoba menahan malunya karena sudah berpikir negatif dengan apa yang daddy-nya katakan.


"Tapi kalau kamu mau, susu itu boleh juga." ucap Adam menggoda Hana.


"Ish apa sih Dad, udah ih. Sana siap siap nanti telat loh." Hana buru buru bangkit dari posisinya.


"Hahaha, pipi kamu kenapa merah gitu Hmm?" Adam tertawa pelan melihat Hana yang salah tingkah dan buru buru keluar dari kamar mereka.


"Daddy jangan godain terus ih ...." kesal Hana. Hana kemudian berjalan cepat menuju pintu. Bermaksud menghindari pria dewasa itu karena sudah begitu malu.


"Hana pikiran loh kenapa tiba tiba ke situ sih." gerutunya disela langkah kakinya menuruni anak tangga. Hana memang selalu merasa malu jika di godain Adam seperti itu, padahal mereka sudah melakukan itu berulang ulang.


Tapi entah kenapa wanita itu selalu saja merasa malu, ada saatnya ia menjadi nakal dan juga ada saatnya ia merasa begitu malu. Memang benar benar aneh bukan? Dan itulah yang dialami Hana.


Sementara Adam tertawa melihat Hana yang sudah menghilang dibalik pintu. "Mengemaskan." ia kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Adam telah selesai dari mandinya. Ia meraih pakaian kerjanya dengan tersenyum kecil melihat Hana yang sudah menyiapkan setelan kerjanya dengan begitu sempurna.


"Sayang! ...." panggil Adam dengan nada teriak yang cukup kencang.


Hana yang sedang mencicipi salad buahnya terkejut, ia sudah tidak tahan dengan rasa ingin makanya terhadap makanan itu hingga membuatnya memakan itu tanpa menunggu Adam, tapi baru saja mencicipi dua sendok suara Adam telah memanggil di kamarnya.


"Kali ini apa lagi?" Hana menutup kembali salad buah itu dan melangkah keatas.


"Iya ada apa Dad?" Hana mendapati Adam sedang memasangkan dasinya.


"Bantuin Daddy pasangin ini." sambil menunjuk benda yang sudah melingkar di lehernya itu, tapi dengan posisi yang belum sempurna.


Hana tersenyum kecil lalu mendekati daddy-nya. "Sini Hana benerin." mengambil alih dasi itu saat sudah berdiri tepat di depan Adam. Hana lalu memperbaiki dengan rapi benda itu. Adam memegangi pinggang Hana dengan mesra.


Pria itu mengulum senyumnya memandangi wajah Hana yang tengah serius, memasangkan dasi di lehernya.


Cup ... cup .... cup ....


Tiga kecupan mendarat di bibir Hana yang Adam berikan.


Hana tersenyum lalu membalas kecupan Adam di bibir prianya. "Udah selesai." ucapnya dengan nada senang sambil menepuk pelan jas kerja Adam. Adam mengulas senyum lalu memegangi pipi Hana.


"I Love you, sayang." ucapnya dengan tulus.


"Love you to. Ya udah kita kebawah yuk! Hana udah nggak sabar pengen makan salad buah." ucap Hana sambil tersenyum me-nyengir.


"Cih kamu jadi rusak susana romantis, sayang." sahut Adam kesal.


Sementara Hana tersenyum tanpa bersalah. Yang pikirannya saat ini adalah, ingin cepat cepat turun dan menikmati salad buahnya.


Tanpa aba aba Adam langsung mengendong Hana seperti kuala, sambil mengecup berulang ulang wajah wanitanya.


"Hahah, Daddy geli." Hana tertawa dalam gendongan Adam. Karena ulah Adam menggosok gosokan brewok nya di leher Hana membuat Hana memekik geli.


Adam terus menjahili Hana disela langkah mereka menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2