
"Maaf aku harus pergi." Hana langsung meninggalkan Leo di pantai itu setelah menjelaskan semuanya. Hana berharap Leo bisa mengerti dan tak mengejarnya lagi.
Sementara Leo tertegun ditempatnya, matanya terpaku lurus ke-depan melihat kepergian Hana. Senyum kecut langsung membingkai bibirnya.
"Aku memang salah karena berharap pada wanita yang tidak bisa lagi aku miliki, bodoh Leo! kenapa kamu bisa sebodoh ini." batinnya merutuki dirinya sendiri.
"Hana benar, sebaiknya gue ngga harus berharap cinta darinya, gue harus temanan sama dia lagi seperti sebelumnya. Yap," Leo mencoba menyempatkan diri disaat ia masih merasa patah hati.
*******
Beberapa menit kemudian Hana telah sampai di depan vila, ia kemudian masuk kedalam dengan buru buru berharap tidak dilihat oleh orang suruhan Adam.
"Syukurlah .... ternyata aku selamat." gumamnya sedikit lega.
"Dari mana saja kamu?" suara bariton milik Adam terdengar dari anak tangga, pria itu baru saja menuruni anak tangga dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana, setelah tadi mencari Hana didalam kamar mereka Adam turun kembali karena tidak mendapati istrinya di seluruh ruangan vila ini.
"Pa-papi! papi udah pulang. Bukannya ini masih siang kan?" Hana begitu gelagapan saat mendapati suaminya berada di vila. Jantungnya dibuat dag Dig dug karena pria itu akan mencurigainya.
"Jangan mengalihkan pertanyaan papi, dari mana kamu? Apa kamu tidak ingat dengan perintah papi? Kalau kamu tidak boleh keluar dari vila tanpa papi. Apa kamu tidak ingat?" ucapnya dengan tatapan dingin.
Adam mendekati Hana lalu menarik pinggang Hana dengan kasar hal itu membuat dada mereka saling menubruk. Rahangnya mengeras menahan emosi.
Hana diam seribu bahasa, ia tidak berani lagi mengucapkan sepatah katapun. Bahkan mulutnya mengatup rapat.
"Kenapa diam? Kamu mengakui kesalahan kamu karena tidak menepati perintah papi? jawab Hana!" teriaknya di-depan wajah Hana.
Sontak Hana memejamkan matanya mendengar teriakkan Adam yang begitu kuat. Ia semakin takut jika suaminya sudah mode marah seperti ini.
"Maafin Hana Pi, Ha-Hana mengaku salah." ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak berani menatap mata elang itu.
"Apa yang kamu lakukan diluar sana? Dengan siapa kamu diluar sana, jawab!" bentaknya.
"Apa pria itu? Apa pria yang sama saat menjenguk kamu waktu itu?" tanyanya penuh menyelidik.
"Apa kalian punya hubungan spesial dibelakang ku, Hana?" tanyanya begitu dingin."
Hana menggeleng cepat. "Nggak pi, Hana mungkin lakuin itu. Hana ngga punya hubungan apapun sama Leo." sahutnya cepat.
"Lalu untuk apa kamu menemui dia di luar sana? Untuk apa kalau tidak mempunyai hubungan!" bentakan adam begitu kuat dengan tangannya menggoyangkan bahu Hana dengan kasar.
"Papi jangan salah paham Pi, aku sama Leo hanya temanan nggak lebih."
__ADS_1
Dan Hana Kemudian menjelaskan semuanya yang terjadi di pantai tadi, tanpa ada yang ditutup tutupi. Adam mendengarkan penjelasan Hana dengan tatapan yang masih menajam.
"Lalu kamu menerimanya?" tanyanya menelisik.
"Nggak pi, Hana ngga mungkin terima Leo. Hana hanya cinta sama papi." ucapnya jujur.
Mendengar hal itu Adam melepaskan tubuh Hana. Ia lalu melangkah meninggalkan Hana naik menunju kamar mereka. Hana yang melihat itu dengan cepat menyusul suaminya keatas.
"Pi aku mohon maafin Hana," ucapnya mengikuti langkah Adam dari belakang.
Adam tak menggubris ucapannya, ia terus berjalan tanpa menoleh kearah kebelakang. Ia percaya dengan apa yang Hana katakan tetapi, rasa kesalnya pada wanita itu masih ada.
Adam membuka jasnya lalu membuang asal ke atas sofa, ia kemudian melonggarkan dasinya. Menggulung kemeja lengannya keatas.
"Pi-papi masih marah sama Hana." tanyanya takut takut." Hana terus mengikuti langkah Adam saat pria itu melangkah.
Masih tak ada sahutan dari mulut suaminya, Adam kemudian melangkah kearah sofa mendudukkan tubuhnya dengan kasar tanpa menatap kearah Hana.
Melihat itu Hana mendekati Adam di-sofa tersebut. Ia duduk disampingnya meraih tangan Adam untuk digenggam.
"Pi maafin Hana, Hana janji ngga akan lakuin hal itu lagi. Hana janji akan tetap di rumah selama papi ngga ada." masih berusaha mendapatkan maaf dari Adam.
"Kamu itu seharusnya tegas saat pria lain datang menemui kamu, harusnya kamu menolaknya bukan malah pergi dan berbicara berdua di pantai itu."
"Iya Hana minta maaf Pi," Mata Hana mulai berkaca-kaca menatap pria didepannya ini.
"Papi bosan mendengar permintaan maaf kamu, kenapa kamu begitu bodoh. Kamu itu istri dari seorang Adam Mateo harusnya kamu punya sikap tegas dan pintar mengambil tindakan, bukan malah mengikuti seperti orang yang tak berpendidikan seperti ini." bentaknya begitu menusuk.
Bahkan karena emosi pria itu tanpa sadar mengatai istrinya Bodoh dan tak berpendidikan. Jangan ditanya seperti apa perasaan Hana saat ini, wanita itu begitu terluka mendengar apa yang Adam katakan.
Dan air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, dua bola kristal bening berhasil jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Iya Hana tahu kalau Hana bodoh, makanya Hana minta maaf. Hana memang bodoh, Maaf karena belum bisa menjadi istri yang seperti papi inginkan." ucapnya dengan cepat menghapus air matanya.
Adam langsung tersadar dengan apa yang ia ucapkan pada wanita itu, apa ia sudah keterlaluan mengatai Hana seperti tadi. Oh astaga ia merutuki dirinya karena emosi membuat ia tidak bisa mengontrol ucapannya.
Adam menatap Hana yang terlihat akan beranjak. "Kamu mau kemana?"
Hana menoleh kearah Adam sambil mencoba tersenyum. "Mau buatin papi sarapan siang."
"Tidak perlu, papi sudah memesannya. Sebentar lagi akan tiba." ucapnya dengan nada yang masih terdengar datar.
__ADS_1
"Ya sudah," akan melangkah tetapi Adam dengan cepat mencekal tangannya.
Adam menarik tubuh Hana kedalam pangkuannya. Dan posisi mereka saling berhadapan dengan Adam yang memangku Hana.
Hana msih menundukkan kepalanya, ia masih sakit saat mengingat perkataan suaminya tadi. "Kenapa menunduk? Kamu sudah bosan menatap wajah papi?" tanya Adam dengan tangan yang memeluk pinggang Hana.
Dengan cepat Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam. "Ngga kok, Pi."
"Maafin papi karena ucapan papi tadi, papi terlalu emosi sampai tidak bisa mengontrol ucapan papi. Papi merasa kesal dan marah saat tahu kamu keluar bersama pria lain. Papi tidak suka dengan semua itu." ucapnya dengan nada sudah terdengar lembut.
Tangannya terangkat mengelus pipi Hana. "Maafin papi, ya? Papi marah kayak gitu karena terlalu cemburu, coba saja jika posisi itu diganti apa kamu akan terima kalau papi menemui wanita lain diluar sana?"
"Nggak, Hana ngga mau Pi." sahutnya cepat.
"Ya karena papi tahu kamu cinta sama papi dan ngga rela berbagi, itulah yang papi rasakan saat tahu kamu menemui pria lain. Papi begitu tidak terima." ucapnya sambil tersenyum menatap Hana. Tangannya terus mengelus pipi Hana.
"Kita akan kembali ke rumah, papi tidak bisa lagi mempercayai kamu untuk tinggal sendiri di vila ini. Pria itu akan datang lagi menemui kamu. Jika di rumah ada banyak orang yang bisa menemani kamu dan kamu juga tidak akan merasa bosan." ucap Adam.
Hana hanya menganggukkan kepalanya setuju. Ia tidak membantah karena sedari awal pindah ia memang tidak menginginkan hal ini. Rumah Adam lah tempat ternyaman untuknya karena begitu banyak kenangan di sana.
"Kamu tidak senang karena pria itu tidak bisa lagi menemui kamu?" tanya Adam mencoba meledek istrinya. Ia mencoba menahan senyumnya.
"Nggak pi, Hana senang bisa pindah lagi di rumah kita." menatap wajah Adam didepannya.
"Bagus ...."
Dan detik selanjutnya Adam telah mendekatkan wajah mereka, perlahan tapi pasti bibir keduanya pun menyatu.
Adam mengecup sebentar bibir Hana hingga kemudian ******* pun terjadi, saling menyesap, bertukar sali*a.
Adam semakin memperdalam ciuman mereka dengan menekan tengkuk Hana. keduanya memejamkan matanya, Hana sudah mengalungkan lengannya di leher Adam.
Tak sampai disitu, Adam dengan cepat menurunkan dres Hana lalu kemudian menurunkan underwear milik Hana sebatas paha, Adam kemudian beralih membuka c*la*anya.
"Emmmh ...." Hana melenguh mengigit b**irnya kuat saat Jerry berhasil masuk dengan sempurna di-sarung sempitnya.
Dengan perlahan Hana mengerakkan pin**ulnya dengan d*d* yang membusung ke-depan.
Tak ingin menyia-nyiakan dua buah didepannya itu, Adam Kemudian menurunkan baju Hana. Ia dengan cepat melahap semangka itu dengan rakus. Tangan Hana meremas kuat rambut Adam karena sensasi yang ia rasakan.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
__ADS_1