
Hana mengerjapkan mata indahnya, bulu mata lentiknya bergerak perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kamarnya melalui jendela kaca, kamar mereka.
"Hmmpt papi ..." lenguhan Hana terdengar, matanya belum terbuka sempurna dengan satu tangannya menepuk nepuk sisi ranjang mencari suaminya.
Saat merasakan tempat disampingnya tidak ada sosok yang dicari, mata Hana pun seketika terbuka sempurna. Ia menoleh ke sisi sampingnya dan ia tidak mendapati daddy-nya di sana.
"Papi kemana?" gumamnya sambil mengucek matanya sebentar.
"Apa papi sudah ke kantor? Tapi kenapa tidak membangunkan Hana? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa berpamitan." ucapnya dengan nada yang sudah akan menangis.
Dengan wajah ditekuk Hana menyingkap selimutnya lalu menurunkan kakinya di atas lantai. Baru saja ia akan berdiri tapi sosok yang baru saja masuk menghentikan pergerakannya.
"Morning, mommy sudah bangun." Adam tersenyum manis melangkah masuk menghampiri Hana. Tangannya sudah terlihat membawa nampan berisi sarapan dan juga susu hamil untuk Hana.
"Mommy pikir papi sudah ke kantor meninggalkan mommy." kata Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Hei kenapa menangis? Papi tidak akan pergi sebelum mommy bangun. Sekarang papi di sini, ayo mommy harus sarapan dan minum susu mommy." ucap Adam menenangkan istrinya dengan pelukan setelah sebelumnya ia meletakkan nampan di-atas meja kamar.
Adam mengusap rambut Hana pelan sambil mengecupnya. Sementara Hana memeluk suaminya posesif. "Tapi mommy tidak ingin ditinggal Pi." ucapnya manja.
"Terus papi kerjanya gimana? Kalau mommy tidak ingin ditinggal."
"Ya papi kan bosnya, papi tidak masuk sehari juga tidak masalah bukan?" Hana begitu santai mengucapkan itu.
__ADS_1
"Hari ini papi ada meeting penting jadi papi tidak bisa untuk tidak pergi." Adam dengan pelan memberikan pengertian.
Hana mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam. "Kalau gitu mommy ikut papi saja ke kantor." setelah mengatakan itu ia kembali membenamkan wajahnya di-dada Adam.
"Papi tidak ingin mommy kecapean karena menunggu papi, mommy di sini saja ya." bujuk Adam.
"Mommy tidak mau, mommy mau ikut papi titik." ucapnya keras kepala.
"Hah .... baiklah tapi jika mommy sudah lelah di kantor mommy harus janji untuk dijemput Aryo kembali ke rumah, oke?" Adam melepaskan pelukan menatap Hana.
"Tapi mommy tidak akan capek, papi. Papi sepertinya tidak ingin mommy ikut karena papi pasti malu jika karyawan papi melihat mommy." Hana sudah mulai curiga yang tidak tidak pada suaminya.
Adam hanya bisa sabar saat Hana sudah seperti ini. Ia mengerti mungkin saja pengaruh hormon hingga membuat istrinya begitu manja dan tidak ingin ditinggal. Lagipula untuk apa dia malu seperti yang hana katakan tadi.
Dia bahkan sangat beruntung memiliki istri yang nyaris sempurna seperti Hana. Dengan modus wanita itu masih mudah jauh dari usianya. Dia malah takut jika istrinya akan di ambil oleh pria lain yang seusia dengan Hana ataupun seusia dirinya.
Hana tersenyum senang lalu mengangguk cepat. "Ayo kita ke sofa biar papi siapkan mommy." Adam menggenggam tangan Hana menunju sofa. Keduanya pun duduk. Adam lalu mengambil alih piring berisi sarapan sehat khusus ibu hamil untuk Hana.
Dengan telaten Adam menyendok kan makanan kedalam mulut Hana, Hana membuka mulutnya lalu menerima suapan itu dengan wajah senang.
"Pa-"
"Jangan berbicara dulu! habiskan makanan di dalam mulut mommy, jika mommy tersedak bagaimana?" Adam dengan cepat menegur istrinya saat wanita hamil itu baru mengeluarkan sepenggal kata.
__ADS_1
Hana cemberut lalu melanjutkan kunyahan nya. Ia kembali menerima suapan Adam. Suapan demi suapan Adam berikan hingga tak berapa lama makanan itu habis dilahap Hana. Adam lalu memberikan susu kepada Hana, Hana lalu meminumnya hingga tandas.
Adam tersenyum menatap Hana ia lalu membersihkan sudut bibir Hana dari sisa sisa susu yang ia minum. Hana tersenyum kecil menerima banyak perhatian dari suaminya. "Makasih Pi." ucap Hana.
"Sama sama.
***
Tiga puluh menit kemudian, Adam dan Hana sudah terlihat rapi dengan pakaian mereka masing masing. Hana memakai dress berlengan pendek sebatas lutut, ia juga terlihat segar dengan riasan tipis juga lipblos melengkapi bibir seksinya.
Begitu juga Adam pria itu sudah terlihat rapi dan ganteng dengan setelan kerjanya berwarna biru gelap.
Mereka tengah akan memasuki mobil.
"Ayo sayang." Adam membuka pintu untuk Hana.
Hana masuk kedalam mobil beberapa detik setelah itu kemudian disusul Adam. Adam menghidupkan mesin mobilnya. Di depan sana, Dimas sudah membuka pintu gerbang rumah lebar lebar mempersilahkan majikannya keluar.
"Terimakasih kasih om Dimas." ucap Hana dari jendela mobil saat mobil Adam melewati pria yang berdiri di samping gerbang. Wanita itu sengaja menurunkan benda itu agar suaranya bisa didengar Dimas.
"Sama sama Nona." sahut Dimas.
"Sayang!" suara dingin terdengar dari mulut Adam. Pria itu melirik tidak suka dengan interaksi Hana dan Dimas.
__ADS_1
"Hehehe maaf Pi, Hana cuman berterima kasih saja karena om Dimas sudah membuka gerbangnya." menatap kesamping dimana suaminya dengan wajah datar.
"Jangan berterima kasih, itu sudah tugasnya. Dia dibayar dengan apa yang sudah dia kerjakan." ucap Adam sambil mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah mereka menuju kantor Adam.