
Jam sepuluh pagi.
Adam juga sudah berangkat ke kantor beberapa jam yang lalu. Sementara Tika sudah sampai satu jam yang lalu, kini sudah berada di dapur bersiap membuat kue.
Bahan-bahan yang disiapkan pun, sudah siap di-atas meja. Mereka ingin membuatnya tanpa dibantu oleh para pembantu di rumah tersebut.
Sebelum Tika berangkat ke sini, ia sudah lebih dulu menelponnya untuk membeli bahan bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat kue bolu tersebut. Dan Tika pun mengiyakan permintaan Hana.
Kini keduanya sudah bersiap berkutat di ruang kitchen.
"Oke, jadi apa aja bahan-bahannya?" tanya Hana sambil memakai celemek nya.
"Terigu, mentega, dan gula halus 225 gram, secukupnya saja." sahut Tika tersenyum sambil menaruh bahan bahan tersebut kedalam wadah.
Hana mengangguk mengerti lalu mengikuti apa yang Tika arahkan.
"Jangan lupa juga sama empat butir telur dan satu sendok makan soda kue. Itu semua bahan-bahannya." ucap Tika mengarahkan Hana.
"Tunggu, ngomong ngomong ini untuk berapa porsi?" tanya Hana menghentikan pergerakan Tika yang sedang mencampurkan bahan-bahannya.
"Untuk sekitar delapan porsi." ucap Tika.
"Oke. Terus apa yang harus aku lakuin dengan bahan-bahan ini?"
"Kamu hanya tinggal mencampur bahan-bahannya dengan mesin pengaduk adonan." ucap Tika.
Hana pun mengikuti apa yang Tika ucapkan.
"Lalu?" tanya Hana setelah selesai mencampurkan bahan-bahannya.
"Terus abis itu kamu tuangkan adonannya ke dalam loyang. Baru setelah itu masukkan ke dalam oven sekitar 15 sampai 25 menit, nanti kalau warnanya udah coklat keemasan baru deh kita keluarin." ucap Tika dengan sabar mengarahkan ibu hamil itu.
"Itu saja?"
"Ya, itu saja."
"Ya udah kita tingal tunggu aja kue nya matang." ucap Tika.
Hana mengangguk lalu beralih menarik kursi makan untuk ia duduki, Tika yang melihat itu sontak bertanya.
"Kamu capek?" tanya Tika lalu ikut menarik kursi di samping Hana dan duduk di sana.
"Ngga, aku ngga capek. Aku malah senang loh kalau masak masak gini, oh iya gimana kegiatan kuliah kamu?" tanya Hana melirik Tika.
"Kegiatan ngampus aku lancar."
"Gimana kabar nya Leo? Apa dia juga baik?" tanya Hana.
"Udah banyak diam dia. Semenjak loh cuti kuliah, dia udah ngga banyak tingkah lagi. Paling-paling dia ke kelas kita buat nanyain seputaran tugas yang agak susah buat dia ngerti." jelas Tika.
Hana pun hanya menangapi dengan mengangguk-nganguk mengerti.
"Aku jadi kangen kuliah lagi bareng kamu." ucap Hana.
"Jangan kan kamu, aku aja udah kangen setengah mati tau nggak. Pengen banget pergi kuliah dan buat tugas sama kamu lagi." Tika mengingatkan masa masa mereka saat kuliah.
"Iya." Hana tersenyum mengingat hal tersebut.
"Udah matang kayaknya." ucap Tika ketika tiba tiba mengingat kue yang dimasak, ia pun berdiri mengeceknya.
"Oh iya astaga, sampai lupa kalau lagi buat kue." Hana terkekeh sambil mengusap perut besarnya, arah pandangnya kearah Tika yang sedang mengeluarkan kue dari pemanas.
"Udah masak." ucap Tika tersenyum lalu memindahkan kue kue tersebut ke atas wadah khusus kue.
__ADS_1
"Aromanya enak banget, jadi nggak sabar pengen coba." kata Hana dengan menghirup aroma cake itu.
"Sabar masih panas." Tika terkekeh menanggapi ucapan Hana.
Ia kemudian memindahkan kue itu keatas meja makan, tepat didepan Hana.
"Sengaja banget kayaknya, jadi tambah ngiler kan aku." ucap Hana melirik Tika lalu beralih menatap kue tersebut.
"Emang aku sengaja biar kamu ngiler." sambil tertawa.
"Ih dasar, tega banget sama ibu hamil." Hana pun ikut tertawa.
Beberapa menit kemudian keduanya pun berpindah ke ruang tamu menikmati kue buatan mereka di-sana sambil mengobrol santai.
"Bayi nya sehat kan?" tanya Tika sambil memakan kue nya.
"Sehat, dia begitu aktif dibulan kedelapan ini, suka banget ngentak-ngentak perut aku." jawab Hana sambil tersenyum mengunyah kue nya.
"Ya ampun gemes banget dengernya, aku jadi semakin nggak sabar dia lahir, sebagus apa ya dia nanti? Papi sama mommy nya aja seganteng dan cantik begini, apalagi anaknya nanti." ucap Tika.
Hana tersenyum. "Semoga perpaduan antara aku sama papi, karena banyak juga ibu hamil di luar sana lahirin anak kadang mirip papa atau mama nya aja. Kayak nggak adil gitu lah. Jadi aku pengen perbaduan aku sama papi." ucap Hana.
"Iya."
"Iya kamu benar, pasti cantik dan ganteng banget, oh iya ngomong-ngomong kamu kalian udah pasti tau kan jenis kelaminnya apa?" tanya Tika saat mengingat hal tersebut.
Hana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak, papi sama aku memutuskan untuk jadikan itu sebagai kejutan nanti, saat konsultasi aja kita nolak buat dikasih tau apa gender anak kita." ucap Hana.
"Untung kamu ngga penasaran banget kayak aku, tadi kalau semisal aku pasti aku udah nggak bisa tahan dan pengen cepat cepat tau." Tika terkekeh.
"Hahah sebenarnya aku juga sama penasarannya tapi mau gimana lagi, sebisa mungkin aku tahan rasa penasaran aku." ucap Hana.
Tak terasa cukup lama mereka berbincang-bincang, bahkan kue yang mereka makan pun telah habis.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul satu siang dan Hana sudah bersiap siap akan pulang. "Makasih ya udah mau sempatin waktu buat ke sini." ucap Hana tersenyum, sembari mengikuti Tika ke depan rumah.
"Iya sama sama, kalau kamu yang minta aku tetap sempatin waktu buat kamu." ucap Tika tersenyum.
Terlihat motor Vespa kesayangan Tika, terparkir di depan rumah. "Ya udah, aku pamit pulang ya. Jaga kandungan kamu jangan capek capek!" ucap Tika dengan begitu perhatian pada sahabatnya.
Hana mengangguk tersenyum, "Iya pasti di jaga kok." jawab Hana sambil menerima pelukan Tika.
"Kalau aku ada waktu lagi, aku akan sempatin ke sini buat jengukin kamu." kata Tika sambil mengusap punggung Hana.
Hana mengangguk dalam pelukan Tika. "Iya, tapi jangan dipaksakan kalau lagi sibuk."
"Iya." Tika kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Ya udah aku pulang ya." ucap Tika lalu beralih naik keatas motornya.
"Hati hati, jangan ngebut!"
Tika menaikan jadi jempolnya, lalu memasangkan helm. Setelah itu ia melajukan motornya meninggalkan kediaman Adam Matteo.
Hana tersenyum melihat kepergian sahabatnya tersebut, lalu kemudian melangkah masuk kedalam rumah.
****
Adam sudah tiba di rumahnya tepat pukul lima sore, ia terlihat tergesa gesa masuk kedalam rumah. Pria berbadan kekar itu tidak sabar menemui istrinya, seharian bekerja ia sudah begitu merindukan Hana.
Padahal hanya beberapa jam saja ia tidak menemui Hana, tapi sudah membuatnya rindu setengah mati.
__ADS_1
"Siti Nona di mana?" tanya Adam saat berpapasan dengan pembantunya di ruang tamu.
"Sedang di kamar Tuan, ibu sudah tidak turun lagi setelah temannya pulang siang tadi." ucap Siti.
"Ya sudah." Adam pun bergegas naik menuju kamar mereka.
Saat membuka pintu kamar mereka, Adam mendapati Hana tengah tertidur pulas di atas ranjang king size tersebut.
Adam tersenyum melangkah mendekati Hana. Ia duduk disisi ranjang. Ia menurunkan wajahnya di wajah Hana lalu mengecup bibir dan pelipis wanita itu.
"Nyenyak sekali tidurnya," Adam tersenyum sambil terus mengecup berulang ulang bibir Hana.
Hal itu membuat Hana terusik dan langsung mengerjapkan matanya. "Heum ....." Hana menggeliat kecil dalam tidurnya.
"Papi ... papi udah pulang?" kata Hana saat matanya sudah terbuka sempurna.
Adam mengangguk lalu melanjutkan lagi kecupannya.
"Papi stop, itu geli Pi." rengek Hana dengan manja saat bibir Adam mengecup ceruk lehernya.
"Kenapa tidak menyambut papi."
"Maaf mommy ketiduran jadi ngga tau kalau papi udah pulang." ucap Hana lalu Menganti posisi duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Tidak apa-apa, bagaimana dengan kegiatan mommy hari ini, apa mommy senang?" ia elus pipi mulus Hana dengan gerakan lembut.
"Senang banget Pi." ucap Hana.
"Syukurlah, setidaknya itu bisa membuat mommy tidak merasa bosan saat berada di rumah."
"Lalu apa papi tidak diberi hadiah?" tanya Adam dengan maksud lain.
"Ada, Hana punya hadiah kue yang tadi Hana buat. Dijamin enak banget Pi, papi harus coba." ucap Hana dengan polosnya karena belum mengerti dengan arah yang dimaksud suaminya tersebut.
Raut wajah Adam seketika terlihat masam. Maksudnya bukan hadiah itu tapi hadiah yang lain yang menyangkut keberlangsungan hidupnya.😁
"Kenapa? Papi ngga suka?" tanya Hana saat melihat raut wajah Adam.
"Maksud papi bukan hadiah itu mommy, tapi hadiah yang papi maksud adalah ini." ucap Adam sambil meremas salah satu bukit kembar Hana.
"Aow papi! nakal banget tangannya." sentak Hana karena Adam tiba tiba memegang bagian itu.
"Ini masih sore Pi, papi juga belum mandi. Papi mandi dulu setelah itu papi boleh mendapatkan Hadianya." ucap Hana.
"Papi maunya sekarang, papi hanya ingin menikmati susu alami yang kaya akan manfaatnya." ucap Adam dengan konyolnya."
"Hahaha apa sih Pi, ucapan papi berlebihan sekali." Hana tertawa merasa lucu.
"Itu benar mommy, susu mommy buat papi jadi semangat beraktivitas tanpa lelah." ucap Adam dengan tatapan nakalnya.
"Ih dasar mesum." kata Hana.
"Ayo mommy papi ingin itu." ucap Adam sambil mencoba menarik turunkan tali dress Hana.
"Hah, dasar bayi besar." Hana mencebik lalu kemudian mengikuti permintaan suaminya.
Ia menurunkan Bra nya hingga terlihat lah dua benda yang padat itu. Adam menatap dengan penuh damba.
Dengan cepat ia langsung melahapnya, menyesap dengan begitu kuat hingga membuat si empunya mengigit bibir bawahnya kuat karena sesapan Adam.
"Pelan pelan aja Pi." ucap Hana sambil mengelus kepala Adam.
Adam tak menggubris dan terus menikmati benda tersebut.
__ADS_1