
Pukul lima sore.
Hana merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyentuh keningnya, membuatnya membuka matanya perlahan. Tampak wajah tampan yang tengah tersenyum itu berada satu jengkal dari wajahnya.
"Selamat sore, mommy!" Adam setengah berbisik. Hana tersenyum, lalu melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu.
"Papi udah pulang, kenapa lama sekali pulangnya." Hana melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Rupanya ia sudah tertidur begitu lama di kamarnya tersebut hingga memasuki sore hari.
Niatnya hanya sekedar berbaring saja untuk menunggu kepulangan suaminya, tapi ia malah ketiduran dan terbangun di sore hari.
"Iya papi tahu, maafkan Papi. Pekerjaan papi sangat banyak tadi, jadi papi tidak bisa pulang lebih awal." Adam menempelkan kening mereka berdua hingga membuat wajah mereka tak berjarak.
"Apa mommy senang karena Oma datang ke sini, apa saja yang kalian lakukan tadi siang, hmm?" Adam bertanya, kini tangannya menyentuh perut buncit istrinya yang telah memasuki usia delapan, yang sebentar lagi akan masuk sembilan bulan.
"Senang Pi, rasanya begitu bahagia karena mommy menjenguk Hana. Ia juga memberikan banyak nasehat untuk hubungan kita Pi. Oma juga menitipkan salam untuk papi karena Oma tidak bisa menunggu papi pulang, mami terus di telfon oleh kakek agar cepat pulang ke rumah." jelasnya sambil terkekeh lucu mengingat kejadian tadi saat Omanya mengomel karena suaminya terus menelpon.
"Cih dia selalu seperti itu jika mami pergi meninggalkan dia sendiri di rumah, dia (Kakek Barack) memang begitu posesif pada mami jadi tidak bisa heran jika dia (Kakek Barack) seperti itu."
Hana tersenyum. "Jangan lupa papi juga seperti itu kalau aku sedang di luar, bahkan papi lebih parah dari kakek. Jika kakek mungkin saja hanya menelpon tapi jika itu papi sudah dipastikan papi akan menyusul Hana bukan?" ucap Hana menyindir sambil tersenyum mengejek.
"Ya itu karena papi khawatir, takut mommy kenapa napa di laut sana. Dan takut mommy digoda oleh pria mudah mengingat istri papi adalah wanita seksi dan begitu cantik seperti mommy, bagaimana bisa papi tenang meninggalkan mommy diluar sana." ucap Adam membela dirinya.
Hana tersenyum. "Ya ya baiklah, terserah papi saja."
__ADS_1
Adam pun terus mengelus perut Hana, ada pergerakan dari dalam sana, membuat pria itu berteriak kegirangan.
"Dia sedang apa?" Adam mendongak.
Hana menggendikkan bahu, "Mungkin dia sedang berolah raga, ... lalu meringis, namun kemudian terkekeh ketika merasakan lagi gerakan didalam rahimnya ketika Adam mengelus perut buncitnya itu dengan lembut.
"Apa rasanya sakit?" Adam bertanya.
"Tidak." Hana menjawab.
Adam tersenyum lagi, dan melanjutkan belaiannya pada perut Hana yang didalamnya tengah tumbuh makhluk kecil itu yang tengah menunggu waktu kelahirannya.
Lagi-lagi janin didalam rahim istrinya bereaksi. Membuat perut perempuan itu bergerak-gerak tak karuan.
"Dia senang mendengar suara papi dan juga merasa senang saat papi menyentuh dia seperti tadi. Bayi kita sedang merespon sentuhan papi." Hana menjelaskan.
"Benarkah?" Adam penuh takjub.
Hana mengangguk, lalu membenarkan posisi duduknya.
"Apa dia juga akan senang jika papi menengoknya sebentar lagi?" Adam berbisik.
Hana seketika mencebik kesal lalu mencubit lengan Adam. "Ish papi, kenapa terus saja memikirkan hal itu disaat seperti ini." ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hahah, abisnya papi gemas sama baby nya jadi papi pengen jenguk dia mommy."
"Dasar mesum bilang saja papi gemas dengan mommy nya dan tidak tahan ingin menerkam nya bukan?!" ucap Hana dengan nada menyindir.
Adam menggaruk tengkuknya sambil me-nyengir kuda. "Ya anggap saja begitu, gemas pada mommy dan juga anak kita."
"Ish papi." Hana semakin memonyongkan bibirnya ke-depan saat mendengar jawaban suaminya.
"Ayolah kita melakukannya lagi." sambil menaik turunkan keningnya dengan nakal.
Hana pun pasrah saat Adam sudah melanjutkan aksinya, ia tengah melucuti pakaiannya dan terjadilah adegan panas dengan penuh kelembutan itu di sore hari. Mereka tengah menikmati tubuh satu sama lain.
Yang awalnya Hana menolak, kini ia juga ikut terbawah dengan kenikmatan yang Adam berikan pada tubuhnya. Ia melakukannya dengan penuh kelembutan takut menyakiti buah cinta mereka didalam sana.
Beberapa saat kemudian kenikmatan mereka pun mereka dapatkan. Adam membaringkan tubuhnya di-samping Hana.
Mereka saling melemparkan senyuman dengan mengatur napasnya yang memburu, lalu kemudian Adam mengecup sebentar kening istrinya. "Papi mencintai kalian."
Hana tersenyum lalu membalas ungkapan cinta suaminya. "Kita juga mencintai papi." ucap Hana melingkarkan tangannya dileher Adam.
"Ayo kita mandi, sebentar lagi akan gelap." ucap Adam lalu membantu Hana bangun dari baringnya. Hana tersenyum menerima uluran tangan Adam.
Mereka pun masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka. Kali ini hanya sekedar mandi saja tanpa melakukan hal hal aneh seperti yang sudah sudah.
__ADS_1