Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
mampus gue


__ADS_3

"Hana ... tungguin gue!" teriak Leo di belakang Hana dan juga Tika. Sambil berlari menuju ke tempat itu.


Hana dan Tika memang akan melangkah keluar meninggalkan kampus itu. Mereka berdua sudah membuat janji dengan beberapa anggota kelompok mereka untuk bertemu di cafe milik Leo.


"Lo ngapain lari lari, kebiasaan banget." ucap Hana dan Tika bersamaan, hal itu sontak membuat mereka berdua saling menoleh dan keduanya terkekeh satu sama lain.


"Emang kamu pernah gini juga di kejar Leo?" tanya Hana kepada Tika sambil terkekeh pelan.


"Iyah, sering banget nhi anak kayak gini." ucap Tika tidak habis pikir.


"Hahaha." Hana tertawa.


Leo hanya tersenyum kikuk mendengar kedua wanita itu membicarakannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa sih?" tanya Tika.


"Nggak, gue cuman ketemu aja sama Hana." ucapnya tersenyum kearah Hana.


"Cih ... mulai deh sikap playboy nya keluar lagi, kalau lihatin yang cantik." sahut Tika dengan merotasikan matanya.


"Jangan dibongkar dong, aib gue Tik." ucap Leo.


"Aku udah tahu kok, banyak anak kampus gosip-in kamu, hahhaha." Hana menertawakan Leo.


"Cih ... emang dasar tuh biang keroknya. Tapi emang benar kalau aku ngga kayak gitu lagi. Maunya sama kamu aja." ucapnya tersenyum manis menatap Hana.


"Bagus dong kalau gitu." ucap Hana tersenyum.


"Ya tapi berubah karena mau ngejar kamu." ucap Leo lagi.


Hana hanya tersenyum menggelengkan kepalanya tanpa menanggapi ucapan Leo.


"Halah ... bohong itu, jangan percaya." ucap Tika menjahili Leo.


"Eh eh ... jangan gitu dong." sahut Leo.


"Udah jangan gombal terus! Gue sama Hana mau on the way ke cafe kamu nhi." ucap Tika menyudahi gombalan pria buaya darat itu.


"Ha ... serius lo?" tanya Leo dengan wajah senangnya.


"Iyah kita lagi kerja kelompok, jadi cafe kamu pilihan kita buat kerjain tugas di situ." sahut Tika.


"Asik ... ketemu ayang bebeb lagi." ucap Leo kegirangan sambil menatap Hana.


Hana hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Leo. "Ya udah, berangkat yuk! Nanti mereka malah lama nungguin kita." ujar Hana menyudahi pembicaraan mereka.


"Ya udah, yuk!." Tika mengandeng tangan Hana dan berjalan pergi.


"Tungguin gue!." teriak Leo.


Leo mengikuti mereka dari belakang dengan senyum mengembang.


🍂🍂🍂🍂


Tampak matahari sudah terbenam, langit pun semakin gelap tampak bintang pun menghiasi langit itu.


Mobil Adam baru saja akan memasuki halaman rumah bak istana itu. Pa Deden selaku satpam rumah itu berlari pelan membukakan pintu pagar untuk Tuanya.


Mobil pun telah masuk kedalam halaman rumah mereka. Adam lalu turun dari mobil itu dan menyuruh Pa Deden memberitahukan Dimas untuk memarkirkan mobilnya di garasi mobil.


"Suru Dimas parkir kan mobil saya!" perintah Adam ke pa Deden lalu memberikan kunci itu.


"Baik Pak." sahut pa Deden.


Adam kemudian melangkah masuk kedalam rumah dengan senyum mengembang tidak sabar memeluk tubuh Hana.


Saat masuk para pekerja membungkuk sopan pada Tuan mereka. Adam hanya acuh dengan melangkah terus menaiki anak tangga.


Saat sudah di depan kamar Hana, Adam langsung membuka pintu itu. "Sayang Daddy pulang?" ucap Adam dengan nada senang.


Adam tidak mendapati sosok Hana di kamarnya. Ia lalu berjalan kearah kamar mandi, tapi tidak ada juga. Hinga ke seluruh tempat di dalam kamar itu pun, tidak mendapati Hana di sana.

__ADS_1


"Ha ... kemana dia?." gumam adam.


Adam memutuskan lagi untuk ke lantai bawah, mencoba menanyakan Hani pada para pembantu.


"Mungkin aja hana lagi di dapur tadi." ucapnya tersenyum.


Saat sampai dibawah Adam langsung berpapasan dengan bi Surti yang saat itu melangkah keluar dari dapur.


"Loh ... Tuan mau langsung makan?" tanya bi Surti melihat kedatangan Adam.


"Nggak, Hana nya ada di dapur?" tanya Adam sambil melirik kearah dapur itu.


"Nona Hana? Nona Hana belum pulang semenjak berangkat ke kampus pagi tadi, Tuan." ucap bi Surti.


"Belum pulang? Jadi Hana belum pulang juga semenjak pagi tadi?" tanya Adam dengan nada yang sudah terdengar marah.


"Iy ... Iyah tuan." jawab bi Surti dengan nada gugup karena takut dengan wajah Adam yang sudah terlihat emosi.


"Kemana lagi anak itu." ucapnya dengan kesal lalu berjalan meninggalkan bi Surti begitu saja.


"Ya ampun Gusti. Nona Hana kenapa lagi sih, aduh." bi Surti sudah terlihat khawatir.


Adam menuju ruang keluarga, duduk sebentar di sana. Ia kemudian mengambil handphonenya di saku. Menekankan nomor Aryo dikontak itu.


"Ke ruang keluarga sekarang!." perintah adam dengan nada dingin.


Aryo langsung pucat mendengar suara dibalik hp itu. Aryo tanpa pikir panjang, langsung berlari masuk kedalam rumah itu.


Saat baru saja memasuki ruang keluarga itu, Adam langsung melontarkan pertanyaan padanya.


"Kamu antar Hana, kemana saja selain kampus?." tanya Adam langsung pada intinya. Dengan tatapan mengintimidasi ia perlihatkan pada Aryo.


Aryo menelan ludahnya dengan kasar, melihat tatapan tajam itu. Aryo kemudian memberanikan dirinya untuk menjawab.


"Anu ... tadi saya anterin ke kampus tuan, tapi kata Nona Hana saya disuruh ngga usah jemput kalau pulang." ucap Aryo menyampaikan apa yang diucapkan Hana tadi.


Plakkkk ..... satu tamparan yang berasal dari tangan Adam tepat mengenai pipi Aryo. Aryo menahan rasa nyeri itu di-pipinya.


"Maaf Tuan, saya salah." ucap Aryo sambil memegang pipinya yang ditampar.


Adam lalu akan melangkah keluar untuk pergi ke kampus menjemput Hana. "Tuan! .... Nona sedang mengerjakan tugas kelompok dengan teman kampusnya." ucapan Aryo itu sontak mengehentikan langkah pria gagah itu.


Adam menatap Aryo dengan tatapan tajamnya lalu berbalik lagi kearah Aryo dan ....


Bukk .... satu pukulan keras mengenai perut Aryo yang Adam berikan.


Aryo hanya pasrah menerima pukulan itu. Ia memegang perutnya yang di pukul tadi.


"Sial! Dan kamu ngga lapor sama saya." teriak Adam dengan amarahnya.


Adam langsung menelepon nomor Hana. Tak butuh waktu lama Hana langsung mengangkat panggilan itu.


"Ha_" ucapan Hana belum selesai Adam sudah menyelanya.


"Dimana kamu, anak nakal?." Adam dengan nada dingin.


"Mampus gue! Kenapa bisa lupa sih buat kabarin Daddy, tadi." batinnya dengan menepuk jidatnya.


"Lo kenapa Han?" tanya Tika dan beberapa teman temannya, menatap Hana dengan heran.


Hana, Tika dan kelompoknya memang baru saja menyelesaikan tugas mereka di cafe itu, dan sudah bersiap siap akan pulang.


Hana langsung memberikan isyarat dengan satu telunjuknya ia letakkan di-bibirnya. Pertanda jika mereka jangan berisik.


"Ah .... lagi buat tugas kelompok sama teman kampus." ucap Hana dengan nada takut.


"Daddy ngga tanya kamu buat tugas atau tidak, tapi kamu di mana? Hana!" Teriak Adam di sebrang sana.


Deg deg .... jantung Hana langsung berdetak begitu cepat.


"Ha ... Hana di specta cafe, Daddy." ucap Hana dengan nada gugup.

__ADS_1


"Tunggu di situ, jangan berani kemana mana! Daddy yang akan ke sana jemput kamu." ucapnya tegas.


Adam lalu mematikan telepon itu. Sementara Hana sudah cemas apa lagi yang akan Daddy-nya berikan.


Tika yang melihat tingkah Hana, langsung mendekatinya. "Kamu kenapa?"


"Tik .... Daddy gue marah banget, karena gue lupa kasih tahu, kalau kita akan ada kerja kelompok hari ini." ucap Hana dengan wajah khawatir.


"Kamu tenang ya, biar gue coba jelasin pelan pelan sama Daddy kamu." Tika mencoba menenangkan Hana sambil mengusap bahunya.


"Iyah, nanti kita bantuin kamu kok." ucap teman temannya.


Tiga puluh menit perjalanan akhirnya Adam sampai juga di cafe itu. Ia turun dari mobil dan berjalan masuk dengan langkah lebarnya.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe itu. Hingga kedua matanya menangkap satu sosok wanita berbaju hitam itu, sedang duduk bersama keempat temannya. Di atas meja mereka pun Adam bisa melihat laptop dan juga buku buku mereka yang masih di atas meja kafe itu.


Ia mengatur napasnya sebelum melangkah kearah Hana. Mencoba meredakan amarahnya. Ia tidak ingin sampai melampiaskan kemarahannya pada Hana, di depan umum seperti ini. Adam tidak ingin membuat Hana malu didepan banyak orang.


Adam pun mendekati tempat meja mereka. "Hana ayo pulang!" ucapnya saat sudah berada di depan mereka.


Hana dan keempat temannya sontak menoleh kearah Adam.


"Da .... Daddy Hana_" ucapan Hana terhenti.


"Iyah, udah selesai kan? Ayo kita pulang!" ucapnya dengan nada lembut sambil tersenyum.


Ketiga teman teman Hana, menatap takjub wajah Adam dengan pahatan yang begitu sempurna itu.


"Ya ampun ganteng banget, daddy-nya Hana." gumam mereka yang masih bisa di dengar oleh Adam.


"Iyah benar, ganteng banget ya ampun. Ini hot Daddy yang gue maksud woe." celotehan terdengar dari satu temannya lagi.


Adam hanya acuh mendengar dirinya dikagumi oleh teman temannya Hana.


Tika menggeleng geleng kepala mendengarkan ucapan teman-temanya. "Dasar buaya betina." batin Tika melabeli ketiga temannya.


Hana yang tadinya takut kini bernafas lega karena Adam tidak memarahinya, seperti yang ia pikirkan tadi.


"Ayo cepat! Daddy tungguin di mobil. Bereskan buku buku kamu dan juga laptop, setelah itu langsung ke mobil." perintah Adam langsung melangkah keluar meninggalkan mereka.


Hana dengan cepat cepat mengemasi barang-barangnya.


"Gue pikir Daddy kamu bakalan marah." ucap Tika dengan perasaan lega.


"Iyah, gue juga pikirnya kayak gitu." sahut Hana sambil sibuk memasukkan bukunya.


"Sumpah Daddy lo ganteng dan hot banget." celotehan ketiganya kembali terdengar. Hana hanya tersenyum menanggapi hal itu.


"Ti sorry ya gue harus duluan ninggalin kalian." pamit Hana sambil memeluk Tika.


"Nggak apa apa, santai aja! Yang penting bokap lo ngga marah." ucap Tika membalas pelukan itu.


Hana kemudian memeluk ketiga temannya lagi. "Gue duluan ya girls." pamit Hana sambil tersenyum.


"Iyah hati hati, Jangan lupa salam buat Daddy kamu." teriak ketiganya. Hana hanya mengangguk saja.


"He ... kecil kecil udah godain bapak orang lagi, fokus kuliah! biar dapet IPK tinggi." Tika berucap kesal.


Ketiganya hanya me-nyengir kuda di tempatnya.


Sementara Hana sudah masuk kedalam mobil Daddy-nya. Adam langsung menjalankan mobilnya tanpa menatap kearah Hana.


Dalam perjalanan mereka tampak hening karena keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hana yang tidak berani berbicara dan Adam yang masih marah pada wanita itu pun, memilih mendiamkan Hana.


Mereka akhirnya tiba juga di rumah. Adam langsung turun dan berjalan masuk kedalam rumah, meninggalkan Hana yang masih di dalam mobil.


Hana membuang nafas berat. "Aku pikir Daddy udah nggak marah lagi." gumamnya masih berdiam di dalam mobil.


Adam yang menyadari Hana belum juga menyusulnya, berteriak keras hingga membuat Hana tersentak kaget didalam sana.


"Hana! .... mau sampai kapan kamu di dalam mobil." teriak Adam dengan kesal.

__ADS_1


Hana dengan buru buru keluar dari mobil itu, lalu berlari pelan menyusul Adam.


__ADS_2