
Adam bilang akan pulang, dan Hana percaya. la menunggu lelaki itu. Malam ini, seperti biasa tertidur di atas sofa. Kalau pun Adam tidak pulang, Hana merasa tidak masalah. Entah mengapa, ia tidak bisa membenci pria bertato itu yang sudah meninggalkan dirinya saat ia menangis pilu.
Walaupun ia sudah mengeluarkan kata benci untuk Daddy-nya tetapi tak bisa dipungkiri, rasa cinta dan rindunya lebih mendominasi rasa benci itu. Inilah yang membuatnya merasa bodoh karena terlalu begitu cinta dengan Adam.
Meski sampai pagi menjelang, Adam pun tak kunjung datang, bagi Hana itu tidak masalah, ia bisa menunggu nanti malam lagi. Bukan sekali atau dua kali ia menunggu Adam pulang, jadi tidak masalah untuk hari ini.
BI Surti memasuki kamar Hana. Bermaksud untuk menanyakan Nona-nya ingin memakan sesuatu atau tidak.
Saat memasuki kamar itu, BI Surti mendapati Hana yang terduduk di-atas sofa dengan pandangan yang terpaku pada sebuah benda, lebih tepatnya pada foto Hana dan juga Adam yang ia pegang ditangannya itu. Ia terus memandangi foto mereka dengan wajah melamun.
BI Surti ikut sedih melihat Nona-nya yang seperti ini, ia ikut menyalakan Adam atas semua ini tapi apa boleh buat dia hanya lah pembantu yang tidak bisa ikut campur dengan urusan majikannya.
"Non! ....." BI Surti berjalan mendekati sosok cantik itu.
Hana menoleh ke asal suara itu, ia mengulum senyum tipis. "Bibi." Ia lalu meletakkan bingkai foto mereka di-atas meja, samping sofa tersebut.
"Nona Hana mau di masakin apa?" Bi Surti bertanya setelah duduk di samping Hana.
Hana tampak berpikir sebentar. la baru saja selesai mandi, tubuhnya sudah segar tetapi kantung matanya terlihat bengkak karena banyak menangis. Semalam ia banyak menangis dan tidak bisa tertidur nyenyak.
Sesekali ia terbangun untuk memeriksa apakah Daddy-nya sudah pulang atau belum. "Hana belum lapar BI?"
"Tapi Nona harus makan. Dari semalam Nona Hana ngga makan apa apa loh, nanti bisa sakit Non." Bujuk Bi Surti.
"Nona mau bu mau Bibi buatkan sayur?
Hana tersenyum kecil karena melihat bi Surti yang begitu perhatian padanya. Ia jadi mengingat orang tuanya.
Jika saja mereka masih ada, mungkin Hana bisa memeluk mereka dengan begitu erat, mungkin ia akan dimasakin makanan yang ia suka, mungkin ia akan diperhatikan dan dikhawatirkan oleh mereka. Mungkin ibunya akan memberikan pelukan hangat dan menguatkan dirinya saat rapuh seperti ini.
Membayangkan hal itu, kedua bola mata Hana mengeluarkan kembali air matanya, jatuh membasahi wajah segarnya itu. Hana menatap bi Surti dengan tersenyum walaupun air matanya terus menetes.
BI Surti menatap Nona nya dengan perasaan yang ikut terluka. "Boleh Hana peluk bibi?" tanya Hana sambil mencoba menyeka air matanya itu, ia berusaha tersenyum agar bi Surti tidak khawatir.
"Boleh Nona ......" dengan cepat Hana memeluk bi Surti dan menangis di-bahu wanita paru baya itu. BI Surti berkaca kaca sambil mengusap punggung Hana.
"Nona Hana yang kuat ya! bibi yakin semua ini ada hikmahnya. Nona harus kuat menghadapi masalah ini!." saat mengatakan hal itu, air mata bi Surti ikut menetes.
Hana kembali terisak mendengar bi Surti yang menguatkan dirinya. Ia hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Udah, Nona ngga boleh terlalu nangis. Di mana nona Hana yang ceria, dimana nona Hana yang suka cerewet dan banyak bicara."
Hana tersenyum mendengar ucapan bibinya. Ya dia memang seperti itu saat belum ada masalah ini.
"Makasih ya bi." Ia melepaskan pelukan itu saat merasa sudah cukup baik. Ia menyeka air matanya dengan tersenyum mengikatkan.
"Bibi benar, aku harus jadi Hana yang kuat dan banyak bicara, aku ngga boleh cengeng kan bi?." Hana tersenyum dengan wajah sembab nya.
BI Surti malah merasa sedih karena Hana yang mencoba kuat didepannya. Tapi ia membalas senyuman Hana sambil menganggukkan kepalanya.
"Iyah Non. Nona mau dibuatin apa? Biar bibi masakin." bi Surti mencoba mengalihkan pembicaraan itu agar Hana merasa lebih baik dan melupakan kesedihannya.
Hana tampak berpikir sambil tersenyum. "Gimana kalau sup iga?" usulnya.
__ADS_1
Bi Surti mengangguk cepat. "Baik, Bibi buatkan dulu ya, Non." bi Surti tersenyum lalu akan melangkah keluar menunju dapur.
Hana tersenyum kecil menganggukkan kepalanya. "Iyah bi."
Tak lama setelah Bi Surti kembali ke bawah menuju dapur. Hana beranjak pergi kearah balkon. Ia lalu duduk di sofa balkon kamarnya, sambil membawa satu buku novel untuk dibaca.
Ia lalu membuka buku novel yang belum sempat ia baca semua, seraya membolak-balikkan lembar demi lembar buku itu, tetapi ia tetap tidak fokus dan merasa tidak menarik dengan cerita yang ada dalam novel itu.
Padahal cerita yang ia pegang itu adalah buku yang sangat bagus ceritanya, tetapi karena pikirannya tidak baik baik saja membuat ia merasa seperti ini.
Hana pun jadi melamun ditempatnya. Matanya kearah buku itu tetapi pikiran dan hatinya terus melayang ke tempat lain.
Tok tok ....
Di tengah-tengah lamunannya itu, tiba-tiba saja bunyi ketokan pintu terdengar.
Siapa? bukannya bi Surti baru saja kebawah? Masa secepat itu makanan yang diminta sudah masak?. Batinnya bertanya tanya.
Hana lalu melangkah kearah pintu itu. Saat handle pintu itu ia tarik, Hana langsung mendapati tubuh Tika sedang berdiri di depan pintu dengan wajah berbinar senang.
"Kejutan." sapa Tika dengan wajah berbinar-binar.
Hana sempat kaget sebelum kemudian keningnya mengernyit dalam. "Tika, kamu?"
"Iya, ini aku. Aku datang lagi, kamu sih bikin aku khawatir, kenapa tiba-tiba ngga ke kampus lagi sih Suka banget deh, ilang tiba tiba." omel Tika dengan wajah kesal.
Tika langsung memeluk tubuh Hana didepan pintu kamar. "Aku kangen banget tau, sama kamu. Setidaknya tinggalin kabar kek." ucap Tika.
Karena selama satu minggu ini, Hana memang ijin tidak masuk ke kampusnya. Hal itu membuat sahabat satu satunya merasa cemas dan menyusulnya ke rumah Adam.
Tika lalu tersenyum tipis dan melongok ke dalam. "Aku gak diizinin masuk, nih?"
"Astaga." Hana buru-buru menggeser tubuhnya untuk membiarkan Safira masuk ke dalam. "Maaf, aku terlalu terkejut. Ayo masuk."
"Oke, maaf diterima." ujar Tika seraya melangkah masuk ke dalam kamar Hana.
"Oh iya, aku bawain cemilan kesukaan kamu, loh. Masih suka kan makan yang coklat coklat?" Hana menyodorkan satu kantung belanjaan ke arah Hana.
Hana menerima kantung kresek berisikan cemilan coklat itu, dengan kepala mengangguk pelan.
"Masih suka, tapi udah ngga terlalu sering. Makasih ya."
"Hem." Tika lalu mengamati wajah Hana dan detik itu juga ia baru menyadari jika kantung mata Hana terlihat bengkak, seperti orang yang baru saja selesai menangis. "Han, kamu nangis?"
"Duduk dulu yuk!." Hana mencoba menghindari pertanyaan Tika, ia lalu menunju ke arah sofa di kamar itu. "Duduk dulu, Tik. Kamu mau minum apa?"
"Han .... kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu habis nangis?" Tika menyusul Hana kearah sofa itu dan duduk berhadapan dengan Hana. Ia menelisik wajah sahabatnya itu.
"Ha ..... ngga kok, aku ngga nangis." elak Hana yang sudah berkaca-kaca. Wanita memang seperti itu, jika ditanya akan dengan mudah menangis tapi berusaha mengelak jika tidak terjadi apa apa. Padahal Tika sudah bisa melihat dari matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Hana ..... benar kan, kamu habis nangis. Kamu ngga bisa bohong, bibir kamu berusaha mengelak tapi tidak dengan mata kamu." ucap Tika dengan nada menyindir.
Dan detik itu juga dua kristal lolos begitu saja dari matanya, turun membasahi lagi pipinya. Jangan bilang jika Hana sedikit sedikit menangis, karena sumpah demi apapun dia tidak bisa membendung air matanya itu.
__ADS_1
Tika dengan sigap mendekati Hana dan memberikan pelukan untuk sahabatnya.
"Menangis lah, jika dengan menangis membuat kamu merasa lebih baik. Keluarkan semua yang menjadi beban dalam hati kamu, jangan ditahan." ucap Tika sambil mengusap pelan bahu Hana.
Tidak ada sahutan dari Hana. Wanita itu masih terus menumpahkan tangisannya di bahu Tika. Tika dengan tulus terus memberikan pelukan itu, sesekali menguatkan dirinya dengan kata kata.
Ia tidak mau bertanya lebih lanjut dan menuntut Hana untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Karena ia ingin wanita itu merasa lebih baik dulu dan tidak semakin menekannya dengan pertanyaan yang ia berikan.
Hingga lambat laun, tangisan Hana pun rendah. Hana sudah cukup merasa sedikit lebih baik. Merasa Hana sudah sedikit baik, Tika pun melepaskan pelukan itu. Ia menatap sebentar wajah Hana dan menghapus sisa sisa air mata wanita itu.
"Kamu merasa lebih baik, sekarang?" tanya Tika dengan lembut.
Hana mengangguk sambil mencoba tersenyum. "Makasih karena udah selalu ada buat aku, makasih." ucap Hana pelan.
"Aku ngga butuh makasih dari kamu, yang aku butuh adalah Hana yang ada didepan aku ini, bisa lebih baik dan ceria lagi." ucapnya tersenyum.
Ia tidak ingin bertanya penyebab Hana menangis karena apa, yang jelas Tika tau itu sudah pasti menyangkut tentang Adam. Pria yang menjadi kekasih Hana tersebut.
Hana mengangguk sambil tersenyum. "Iyah."
Tika sudah duduk kembali ditempatnya semula, duduk sambil berhadapan. "Kamu kenapa ngga masuk kampus?" Pertanyaan yang sejak tadi belum dijawab oleh Tika.
"Aku ngga bisa fokus, disaat sahabat aku ngga ada kabar." bersamaan dengan tangannya yang membukakan snake coklat kesukaan Hana.
Hana merasa terharu karena Tika segitu mengkhawatirkan dirinya. "Aku kesini diantar Leo, sebenarnya tadi dia kepengen banget masuk dan lihat keadaan kamu, tapi aku bohongin dia kalau kita bakalan diusir." Tika tertawa pelan saat mengingat hal itu.
Hana terkekeh mendengar Tika yang mengerjai pria bule itu. "Tega banget kamu."
"Hehehe." Tika me-nyengir.
"Aku kesal banget tau, di-setiap perjalanan kita tadi. Leo terus aja buat ingatin gue untuk sampaikan salam dari dia buat kamu. Aku udah iya-in tapi dia terus aja mengulang ulang ucapan itu. Gimana ngga kesal coba." hal itu lantas membuat Hana tertawa mendengar celotehan sahabatnya. Ia sejenak melupakan kesedihannya.
"Hahaha." Tika yang melihat tawa Hana yang begitu lepas, jadi bernafas lega lalu tersenyum. Tangan Tika terulur menggenggam tangan Hana erat, seolah memberi kekuatan pada wanita itu. Hana sontak menghentikan tawanya dan mengalihkan perhatiannya pada genggaman tangan Tika.
"Kamu harus ceria seperti Hana yang aku kenal selama ini! Hana yang kuat dan selalu tertawa ceria, suka banyak bicara. Aku harap aku bisa lihat Hana itu, saat ini."
Hana meringis dan sedikit terkekeh mendengar itu.
"Hana yang saat itu suka cerewet dan sedikit konyol." timpal Tika. Keduanya pun tergelak setelah itu. Hana memandangi Safira dalam diam. Ketulusan hati wanita itu memang terlihat sekali.
Tidak menyangka Tika bisa menjadi sahabatnya hingga detik ini. Ia tidak mungkin lagi mendapatkan sahabat seperti ini lagi di dunia, selain Tika.
"Kamu terlalu baik, Tik." Tika melipat bibirnya menahan tawa. "Aku gak sebaik itu.
"Tapi aku melihatnya seperti itu. Kamu gak tahu aja kalo aku sering mengumpat diam-diam untuk seseorang. Aku sering menyumpahi beberapa orang yang menyebalkan."
"Termasuk aku?" tanya Hana yakin.
"Iya, karena kamu sering ilang kabar akhir akhir ini. Makanya aku kesal."
Keduanya kembali tergelak didalam kamar itu. Gelak tawa mereka mengisi keheningan dalam ruangan tersebut, ruangan yang beberapa hari ini hanya terisi dengan suara tangisan Hana.
Aku tahu kalian lagi dendam dan kesal sama Adam, tapi jangan sampai kalian ikut kesal sama Author 😁dan malas buat kencangkan Like, vote, favoritkan, komen, berikan bintang dan juga subscribe.
__ADS_1
Yuk tunaikan kewajiban kalian teman teman. Para pembaca yang Budiman kalian ngga ada niatan buat follow Author? Follow yuk!"
Selamat membaca semuanya...