
Hari bahagia pun tiba bagi Adam dan Hana. Keinginan keduanya untuk bersama menjadi terwujud. Karena hari ini adalah hari pernikahan mereka dimana hubungan mereka akan disahkan secara agama dan negara.
Hana juga beberapa menit lagi akan resmi menjadi istri dari Tuan Adam Matteo. Terlihat para tamu telah berdatangan di akad pernikahan mereka.
Adam sudah duduk bersila berhadapan dengan penghulu yang akan menikahkan mereka. Aryo juga telah mempersiapkan semuanya termasuk surat surat pernikahan mereka.
Adam sedari tadi tak melepaskan senyum bahagianya. Jantung Adam sedari tadi terus berdetak kencang, karena ini pertama kalinya ia mengikrarkan janji suci pernikahan. Tetapi, Adam bisa menyembunyikan rasa itu dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Sementara Hana tengah berjalan menuju tempat dimana Adam duduk. la berjalan di temani sahabatnya Tika, Tika berjalan di samping Hana sembari menuntun Hana. Senyum Hana terus menghiasi wajah cantiknya.
Hana terlihat begitu cantik dengan make up natural dan lipstik warna golden peach yang terlihat segar dibibir tebal itu. Hasil sentuhan tangan MUA yang dibayar mahal, oleh Adam Mateo itu sangat pantas diacungi jempol.
Hana mengenakan kebaya putih dengan aksen cape yang menjuntai indah. Kebaya ini rancangan desainer ternama di negara tersebut.
Kebaya yang dibuat dengan detail kerah hati tampak indah dengan struktur tulang yang menjadikan kebaya tampak kokoh saat dikenakan. Selain itu, detail lace yang cantik membuat tampilan kebaya secara keseluruhan terlihat semakin memesona di tubuh tinggi Hana.
Saat Adam berbalik menghadap ke arah dimana Hana berjalan, ia langsung terpukau dengan kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Entah mengapa? Pria bertato itu terus saja merasa jatuh cinta dengan gadisnya, padahal mereka sudah bersama cukup lama tetapi hari ini sedikit berbeda. Membuat pria matang itu terus terpaku dengan kecantikan calon istri nya, menatap Hana tanpa berkedip.
"Tuan, jaga sikap anda. Anda harus terlihat berwibawa didepan banyak orang juga calon pengantin." Aryo yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Tuanya, dengan cepat mengingatkan pria tersebut.
Seketika Adam tersadar dan menoleh kearah Aryo yang tidak jauh dari tempatnya, ia memberikan tatapan kesal pada anak bawahnya itu.
Adam kemudian berdehem dan merapihkan jasnya, jas yang sedari tadi memang sudah rapih. Aryo menahan senyumnya melihat sikap Bosnya itu.
Setelah sampai di depan penghulu, Hana duduk dengan melipatkan kedua kaki nya, persis di sebelah Adam. Adam sesekali mencuri curi kesempatan untuk melirik kearah Hana. Hana yang menyadari jika Adam tengah menatapnya, seketika bibirnya mengulum senyum kecil.
Penghulu mulai menjabat telapak tangan Adam dengan kuat dan acara ijab qobul itu pun di mulai. Adam menarik nafas sebentar, lalu dengan lancar mengucapkan kata-kata yang sesuai dengan kalimat penghulu itu, hanya dalam satu tarikan nafas.
"Sah.. Sah. Sah." Pak penghulu dan dan para tamu yang hadir menjadi saksi pun mengangkat kedua tangannya untuk mendoakan kedua mempelai.
Kemudian keduanya melakukan tukar cincin secara simbolik menggambarkan keduanya adalah pasangan yang siap berbagi, saling memberi, saling melayani, dan menunaikan apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing.
Adam mengecup dahi Hana setelah selesai memasangkan cincin itu, begitu juga Hana mengecup tangan Adam setelah cincin itu terpasang di jari manis mereka masing-masing.
Tika menarik nafas dan tersenyum. la begitu bahagia, dua bola matanya berkaca-kaca karena terharu, akhirnya sahabat satu satunya sudah di-nikahi oleh pria yang tulus mencintai Hana. Dengan cepat Tika menyeka air mata itu karena lolos menetes di pipi nya.
"Aku harap ini adalah awal kebahagiaan kamu, Han." batinnya penuh doa untuk Hana.
Tika memutuskan berjalan kearah sepasang pasangan suami istri yang baru saja sah tersebut.
"Selamat Tuan," Aryo memeluk Adam memberikan ucapan selamat pada pria itu.
"Hmm, terimakasih." Adam membalas pelukan Aryo.
Sementara Hana tengah berpelukan bersama Tika. Tika memberikan banyak nasehat yang dengan haru Hana dengarkan.
"Sekali lagi selamat ya buat kamu dan juga om Adam, aku bahagia banget rasanya. Karena sahabat satu satunya aku akhirnya menikah juga dengan pria pilihan nya." ucap Tika memeluk kembali tubuh Hana, ia mengusap punggung Hana sambil tersenyum bahagia.
"Makasih karena udah selalu ada hingga detik ini, bahkan di saat aku menikah kamu juga sempatkan datang. Padahal aku tahu kamu juga pasti sibuk dengan kegiatan kamu." ucap Hana saat pelukan itu terlepas.
__ADS_1
"Apapun demi sahabat aku. Aku udah pernah bilang mau kamu sedih atau bahagia, aku akan selalu ada di samping kamu." ucapnya menggenggam sebentar kepalan tangan Hana.
"Makasih Tik," Hana begitu terharu dengan ucapan Tika.
Dan pelukan itu terulang lagi, cukup lama hingga akhirnya Tika melepaskan pelukan itu dan membiarkan tamu yang lain yang ingin memberikan selamat kepada pengantin tersebut.
Dari tamu yang hadir dalam pernikahan mereka, ada dua orang yang tidak menghadiri acara tersebut. Siapa lagi jika bukan kakek Barack dan juga Oma Ani. Keduanya tidak menghadiri pernikahan anaknya yang diadakan secara tertutup.
Jika Oma Ani sangat ingin menghadiri pernikahan anaknya, tetapi suaminya yang masih memegang teguh rasa gengsi dan belum memaafkan anaknya itu, tidak sudi untuk datang kesana. Hal itu membuat Oma Ani merasa sedih karena di hari bahagia anak satu-satunya malah ia tidak datang menyaksikan hari bahagia putranya. Itu semua karena kakek Barack tidak mengijinkan istirnya untuk datang.
Adam dan Oma Ani juga semalam sempat bertukar kabar, anaknya tersebut memberitahukan jika hari ini ia akan menikahi Hana dan ia meminta doa dari mami nya untuk pernikahan mereka.
Para tamu menikmati hidangan juga acara yang di sediakan dan dipersiapkan oleh pihak Wedding organizer.
Adam menatap Hana sambil tersenyum, tangannya terulur menggenggam tangan Hana. Membawa tangan itu di-bibirnya lalu mengecup dengan sayang.
"I love you." ucapnya tersenyum.
"I Love you to Daddy." ucapnya dengan pipi bersemu merah.
Setelah mengucapkan kata cinta, Adam memangil Aryo untuk memberikan sebuah mic, dengan patuh Aryo langsung menjalankan perintah tuanya.
Hana sudah terlihat bertanya tanya, untuk apa Adam menyuruh Aryo untuk mengambil benda tersebut.
Tak berapa lama suara Adam menginterupsi para tamu yang hadir.
"Permisi semuanya". Kini Adam berbicara didepan mic yang ia pegang seraya memegang pinggang Hana dan sontak saja Hana langsung melihat ke arah Adam di sampingnya.
Hana begitu dibuat terharu oleh suaminya, buliran bening berhasil lolos membasahi pipinya. "Dad ...." gumamnya pelan tak bisa berkata kata. Dan yang ia lakukan adalah memeluk tubuh Adam.
Cukup lama ia memeluk tubuh itu, hingga kemudian Hana melepaskan sebentar, mengambil alih benda ditangan Adam. Hana mencoba memberanikan dirinya untuk berbicara didepan banyak tamu undangan lainnya.
"Aku hanya ingin berterimakasih kepada pria yang sudah menjadi suamiku, terima kasih karena mau memilih Hana. Terimakasih dalam beberapa tahun bersama ini Daddy udah begitu menyayangi hana, tak henti-hentinya memberikan banyak cinta untuk Hana. Hingga Hana merasa sangat di-ratuhkan oleh Daddy. Terimakasih karena mempertahankan Hana bahkan disaat dunia menentang hubungan kita. I Love you suamiku." ucapnya tulus dengan air mata haru.
Adam tersenyum menatap Hana, tangannya terulur menghapus air mata gadisnya. "Jangan menangis, ini adalah hari bahagia kita." lalu mengecup kening Hana.
Hana menganggukkan kepalanya lalu masuk kembali dalam pelukan Adam.
Para tamu yang sedari tadi menyaksikan mereka, juga ikut terharu. Terdengar suara tepukan tangan yang mereka berikan untuk kedua pasangan itu.
Pernikahan mereka diadakan secara tertutup, acara pernikahan itu di ramaikan banyak kolega penting Adam, juga Tika yang Hana undang. Nampaknya juga ada beberapa media yang ingin menerobos masuk kedalam acara itu, tetapi dicegah oleh para pengawal yang sedang menjaga Ketat didepan sana.
Bukan tanpa alasan Adam ingin acara pernikahan ini secara tertutup tetapi karena ia ingin melindungi privasi istrinya dari pihak pihak yang tidak bertanggungjawab. Itu sebabnya para tamu yang ia undang adalah orang-orang yang memang sangat bisa dipercaya dalam menjaga privasi nya.
Karena Hana ingin menikah dengan pemandangan pantai sebagai background nya jadi Adam memutuskan untuk menggelar pernikahan di taman belakang Villa miliknya agar mereka bisa istirahat di villa itu, setelah selesai acara berlangsung.
****************
Sepasang pengantin baru itu tampak terlihat menuju kamarnya. Adam menggendong Hana menuju kamar mereka. Hana sedikit terkejut dan menyuruh Adam untuk segera menurunkannya tapi itu akan sia sia karena Adam pasti tidak akan melakukannya, Jadi dia hanya bisa pasrah dan mengalungkan lengannya di leher Adam.
Mereka telah sampai di kamar pengantin dimana kamar itu di hias sedemikian rupa dan penuh dengan kelopak bunga mawar merah juga lilin beraroma lavender yang sudah di siapkan oleh pekerja tersebut atas instruksi dari Adam.
__ADS_1
"Kita telah sampai." ucap Adam seraya menurunkan Hana dari gendongannya, Hana menatap takjub dengan dekorasi kamar itu hingga ia tak sadar kala Adam menatapnya dengan senyum.
"Kamu suka?"
"Suka, bahkan sangat indah kamarnya. Daddy memang selalu menyiapkan sesuatu dengan begitu sempurna." Hana memberikan pujian pada suaminya.
Adam terkekeh pelan lalu kemudian berucap. "Kamu yang berganti dulu atau Papi?" tanya Adam dan membuat Hana mengerutkan keningnya.
"Papi? Papi siapa?" ucapnya dengan polos, membuat Adam tak bisa untuk tertawa.
"Astaga sayang, itu nama panggilan baru kita setelah menikah, hahah."
"Apa? panggilan baru? kenapa tidak yang lain saja seperti hubby atau bunny?" usul Hana karena merasa canggung dengan panggilan papi."
"No, papi tidak menginginkan itu. Kamu akan tetap memangil Daddy dengan sebutan papi dan begitu sebaliknya kamu akan Daddy panggil mommy." ucapnya dengan tersenyum genit.
Hana sontak melongo ditempatnya. "Daddy-nya benar benar aneh." batinnya.
"Ya udah, terserah papi." Ucapnya dengan masih begitu kaku dengan panggilan tersebut.
"Apa kita bisa mulai sekarang?" tanyanya dengan tersenyum smirk.
"Lakukan apa?"
"Ck, memangnya setelah pernikahan apa yang akan pengantin baru lakukan?" ucapnya sedikit kesal.
Hana yang mengerti dengan cepat menyahut. "Tapi kan ini masih cukup siang untuk melakukan itu."
"Kita bisa melakukan itu kapanpun, kalau untuk pengantin lain mereka akan mengenal malam pertama setelah pernikahan tapi papi ingin mencoba hal baru dengan merasakan siang pertama."
"Ha .... siang pertama?" Daddy nya memang ada ada saja, dimana mana yang dilakukan pengantin baru Adalah malam pertama tetapi Adam ingin berbeda dari yang lain.
Hana bisa apa jika suaminya itu ingin melakukannya sekarang, padahal mereka sudah melakukan itu berulang kali tapi mau bagaimana lagi jika pria bernama Adam tersebut tidak akan puas dengan dirinya.
****************
Adam keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya, ia melihat Adam yang masih berada di atas tempat tidur dengan bersembunyi di balik selimut, namun bukan Adam namanya kalau sesuatu yang ia inginkan tidak berjalan.
la ikut membaringkan tubuhnya dan menyelinap di bawah selimut melihat Hana yang tidur membelakanginya.
"Papi tau kamu belum tidur, mommy." Adam meniup leher Hana dan membuat wanita itu merinding sambil merapatkan matanya, tadi ia pura-pura tidur agar bisa menghindari tugas melayani Adam.
"Bukannya kita akan melakukan siang pertama? Ayo sekarang saatnya melakukan itu." Adam meraba perut Hana masih tertutup handuk kecil dan membuka handuk itu, namun dengan cepat Hana mencekal nya.
"Papi jadi kita akan melakukan itu sekarang, tapi kan ini masih siang Pi." Ucap Hana dan wanita itu berbalik hingga kedua matanya bersitatap dengan mata Adam yang terlihat sudah bergejolak tak bisa lagi menahan gairah.
"Papi kan sudah bilang kalau tidak ada batas waktu untuk melakukan itu, dan sekarang kita suami istri sah jadi bebas melakukan apa saja, waktu belum menikah saja kamu tidak mempermasalahkan kita melakukan itu diwaktu apapun, kenapa sekarang seperti ini. Ayo lakukan kewajiban kamu."
Adam kembali menarik handuk itu dan ***ee* bibir Hana tanpa ampun, dan kalau sudah begini Hana hanya bisa pasrah kala Adam menjamah seluruh tubuhnya, dan sesuai dengan perkataan Adam bahwa kini handuk yang Hana pakai sudah lolos begitu saja.
Siang pengantin mereka berjalan dengan semestinya bahkan Adam seperti orang kelaparan menjamah tubuh seksi istrinya.
__ADS_1