Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Dua duanya hancur.


__ADS_3

"Kenapa saat Hana ingin menyerah Daddy menahan Hana untuk bertahan? dan setelah Hana sudah melakukan itu, Daddy dengan mudanya ingin mengakhiri hubungan kita?" ucapnya disela tangisan itu.


"Maafin Daddy!" pria bertubuh tegap itu ikut merasa sakit mendengar tangisan wanita dalam pelukannya. Ia terus mengeratkan pelukannya di tubuh Hana.


Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan. "Ini memang salah Hana, salah Hana karena sudah mau mempercayai ucapan Daddy. Aku memang benar-benar bodoh bukan?" kata Hana dengan lirih, sembari mencoba melepaskan pelukan itu.


Adam menahan tubuh Hana untuk tidak terlepas dari pelukannya. "Ini bukan salah kamu, bukan." Adam menggeleng sambil menahan tubuh Hana agar tidak melepaskan pelukan darinya. Matanya ikut menetes kan air mata.


"Lepas Dad! Lepasin Hana. Jika memang Daddy tidak bisa menentukan pilihan Daddy, maka lebih baik biarkan Hana pergi dari hidup Daddy. Anggap aku bukan lagi siapa siapa Daddy, lupakan hubungan kita yang pernah terjadi. Lupakan Dad!" Suara Hana terdengar pelan karena tidak mampu lagi meneruskan ucapannya.


Pukulan yang ia berikan di dada Adam perlahan terhenti, ia sudah pasrah dengan posisinya yang masih di-pelukan Adam.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Daddy gak akan melepaskan kamu sampai kapan pun." ucap Adam dengan wajah yang sudah terlihat dingin. Ia mencoba mengontrol emosinya yang tiba-tiba muncul karena ucapan Hana.


Aneh bukan? Dia yang sudah mengirimkan pesan perpisahan untuk Hana tetapi ia juga yang terus menahan Hana di sisinya dan mendengar Hana yang sudah menyerah ingin pergi dari hidupnya, membuat hatinya tidak terima. Ia mendadak emosi dan tidak suka Hana mengatakan itu. Katakanlah jika Adam egois dan tidak punya pendirian.


Perlahan Adam melepaskan pelukan mereka, ia menangkup kedua sisi wajah Hana. Lalu kemudian menyatukan dahinya di-dahi Hana, membuat kedua dahi mereka saling menempel dengan jarak yang begitu dekat, hanya berjarak sejengkal hidung.


"Daddy yang membawa kamu masuk kedalam hidup Daddy dan itu artinya Daddy juga yang membebaskan kamu jika Daddy mau. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Kamu akan tetap menjadi milik Daddy." Ucapnya dengan rahang yang mengeras. Matanya sudah terlihat kabut amarah didalam sana.


"Hiks hiks ..... Daddy benar benar egois, Hana benci sama Daddy." tangis Hana semakin pilu.


Dirinya sudah dikuasai oleh pria matang didepannya ini. "Daddy tidak masalah jika kamu membenci Daddy, tapi jangan pernah berani untuk pergi dari hidup Daddy karena Daddy tidak akan membiarkan itu." Ucap Adam lalu menciumi seluruh wajah Hana.


Hana hanya bisa menangis disela Adam menciumi dirinya. Ia sudah pasrah dengan semua ini, ia sudah pasrah dengan nasibnya. Air matanya terus menetes membasahi pipinya.


"Daddy akan pergi, jangan berani-berani kabur dari rumah ini! Aryo akan terus mengawasi kamu." ucapnya setelah puas memberikan ciuman di wajah Hana.


Ia lalu bangkit, melirik sebentar kearah Hana yang sudah terlihat rapuh sambil wajahnya menunduk tanpa melihat dirinya, ia sudah kehabisan tenaga untuk melontarkan perkataan.


Puas memandangi Hana, pria itu pun melangkah keluar dari kamar Hana. Meninggalkan Hana yang masih menangis tersedu-sedu di-atas ranjangnya.


Punggung pria itu perlahan menghilang dibalik pintu. "Kamu egois Dad! egois ....." ucap Hana dengan suara sudah terdengar pelan menangis sambil menatap pintu itu.


"Hiks hiks ..... Bodoh, kamu bodoh Hana ..... Haha haha." tangisnya diikuti suara tawa yang terdengar begitu menyakitkan.


...****************...


Masih teringat jelas wajah Hana saat ia meninggalkan rumahnya tadi. Wanita itu menangis begitu lirih. Pelupuk mata Adam menggenang, bibirnya terlipat sambil bergetar. Adam tahu jika sikapnya tadi sangat keterlaluan dan itu sudah pasti sangat melukai hati Hana. Ia harus terpaksa mengatakan ucapan tadi, agar Hana tidak berani melarikan diri dari rumahnya.


Hana sadar posisinya sekarang. Jika ia tidak lebih dari sekedar simpanan yang merelakan sang lelaki pulang ke tempat lain.

__ADS_1


"Aku pasti pulang." gumamnya sembari menghapus air matanya.


Ya, ia akan pulang dan kembali bersama Hana. Tidak peduli lagi apapun yang tejadi nantinya. Tiba di rumah besar saat langit hampir menggelap, Adam melewati.pintu gerbang rumah itu dengan wajah lemas.


Yang pertama kali ia temui adalah tubuh Maminya yang sedang terduduk di ruang tamu bersama dengan Nanda. Ah, mungkin ini waktu yang tepat untuk Adam mengatakan yang sejujurnya pada wanita itu.


Tapi lebih dari itu, saat ia mulai mendekat ke arah dua wanita yang berbeda generasi itu, Adam bisa melihat dengan jelas wajah Diana yang tertunduk sedih bersama cairan bening yang bergelinang di pipinya.


Adam seketika tersentak. Nanda menangis, terlihat jelas dari matanya yang membengkak dan hidungnya yang memerah. Karena apa? Apa yang Maminya dan Nanda obrolkan sehingga membuat wanita itu menangis.


Mendekat ke arah Mami Ani dengan wajah khawatir, Adam lantas bertanya, "kenapa, Mi? Nanda kenapa?" Mami Ani dengan wajah datar dan dinginnya menggeleng, masih terduduk dengan tenang di kursinya.


"Mama sudah kasih tahu Nanda tentang kamu." ujarnya.


Adam menganga tidak percaya. "Mami ... apa?"


"Nanda sudah tahu tentang kamu yang mempunyai hubungan terlarang dengan Hana."


"****!" Adam ingin berteriak kencang saat ini juga. Jujur saja, ia memang ingin memberitahukan Nanda perihal hubungannya dengan Hana, tapi bukan dengan cara seperti ini. Bukan dari Mami yang mengatakannya.


Adam memejamkan mata, membuang napas kasar. Kepalanya semakin terasa berat saja. Sialan! Sekarang ia benar benar sudah seperti pecundang keparat.


"Mi,"


"Kamu puas, Dam? Puas kamu."


Adam bungkam, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Hana yang saat ini yang semakin terisak di tempatnya.


"Sekarang hubungan pertunangan kalian ada di tangan Hana, dia yang akan memutuskan apakah hubungan kalian terus berlanjut atau tidak." Mami Ani beranjak dari duduknya, menatap anak semata wayangnya dengan sorot mata penuh kecewa.


"Setidaknya, Dam, kamu bisa meminta izin pada Mami untuk menemui wanita itu, tidak dengan pergi diam-diam begitu saja di saat tengah malam." Adam menarik napasnya lambat.


Ia tahu tindakannya itu salah, tapi Adam juga tidak ingin melihat Maminya terluka. "Adam minta maaf Mi."


"Maaf kamu basi." Lalu Mama Ani pergi dari sana, meninggalkan Adam dan Nanda untuk berbicara.


"Bisa kamu jelaskan?" Nanda kini sudah mengangkat wajahnya, memberi tatapan penuh tanya. "Apa aku salah dengar? Apa yang Tante Ani katakan tadi tidak benar kan?"


Mengusap wajahnya kasar, perlahan Adam mendekati tubuh Hana yang masih terduduk di atas sofa, ia lalu berlutut di depannya. Kedua tangan Hana terangkat untuk menyentuh tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.


"Aku minta maaf, Nan"

__ADS_1


"Jangan minta maaf! Tolong katakan itu tidak benar!" Nanda kembali terisak, kali ini terdengar sangat menyakitkan.


"Aku benar-benar minta maaf, Di." Karena semua


yang ia dengar hari ini adalah kenyataan. "Aku memang punya hubungan dengan dengan Hana.


"Adam!" Nanda meraung, memukul bahu Adam berulang-ulang dengan keras. "Tolong katakan itu tidak benar. Tolong kalau semua ini hanya bercanda, kamu sedang mengerjai aku, kan? Katakan!"


Adam menggeleng. "Semua benar, apa yang Mami katakan benar, aku menjalin hubungan terlarang dengan anak angkatku sendiri."


Plakkkkkkkkk!


Satu tamparan keras bersarang di wajah Adam. Tapi ia tahu itu tidak sesakit hati Adam saat ini, tamparan itu tidak sebanding dengan sakit hati yang sudah ia torehkan pada wanita itu.


"Jahat! Kamu jahat, Dam!"


"Aku minta maaf!"


"Berhenti meminta maaf, berengsek!' Nanda terus mengguncang bahu Hana, meraung, melepaskan perasaan sakit hatinya di sana.


"Aku benci kamu Dam. Benci." Lalu Nanda beranjak dari sana, meraih tasnya dan bersiap untuk pergi.


"Kamu mau kemana?" Jona mencegat wanita itu.


"Menurut kamu?" Diana mendesis kesal dan penuh amarah. 'Apa yang aku dapat kalau aku masih terus di sini? Hanya rasa sakit, Dam!"


"Aku antar kamu pulang."


"Dan kamu masih berani melakukan itu?" Nanda menyentak tangan Hana yang menggenggam tangannya.


"Aku akan menjelaskan semuanya sama ayah kamu."


"Gak perlu! Kamu gak perlu lakukan itu!" Nanda hendak melangkah keluar lagi, tapi Adam lagi-lagi menahannya.


"Aku antar." Detik itu juga Nanda menoleh, mempertemukan pandangan mereka.


"Kamu pikir aku semurah itu, Dam? Kamu pikir hati aku tidak seberharga itu? Aku cinta sama kamu, tapi kamu .... kamu bahkan tidak sekali pun membalasnya. Aku mencintai kamu dan menahannya bertahun-tahun, tapi apa yang kamu balas?" Tangis Nanda semakin deras, kini kedua tangannya sudah mencengkram kain berlapis di depan dada Adam.


"Jahat, kamu jahat" Dengan cepat Adam menarik bahu Nanda untuk ia peluk, meski awalnya Nanda memberontak tapi perlahan penolakan wanita itu berhenti.


Nanda menangis di pelukan Adam, melepaskan semuanya di sana." Aku minta maaf, maafin aku, Nanda."

__ADS_1


__ADS_2