
Adam tengah bermanja-manja dengan istrinya di-atas ranjang mereka. Memeluk tubuh Hana dari samping dengan meletakkan kepalanya di dada Hana, tak lupa juga satu tangannya mengelus perut Hana begitu lembut.
Mereka baru saja selesai membersihkan tubuh mereka setelah pergulatan panas itu. Dan kini keduanya sudah berbaring di-atas ranjang dengan Adam memeluk tubuh Hana sesudah berganti pakaian, Hana hanya memakai baju tidur terusan yang bertali tipis yang panjangnya sebatas paha.
Sementara Adam seperti biasa jika sedang berdua di dalam kamar ia tidak akan memakai pakaiannya dan hanya mengandalkan bokser untuk dipakainya.
Hana mengelus rambut Adam sambil dagunya bertumpu pada Kepala Adam. "Papi ingin mengatakan sesuatu sama mommy." ucap Adam tiba tiba memulai pembicaraan.
"Ingin mengatakan apa? Apa sesuatu yang serius?" Hana mendongakkan kepalanya kebawah melihat Adam tapi karena Adam yang meletakkan sepenuhnya wajahnya di bagian dada Hana membuat dia tidak bisa melihat wajah pria itu.
"Apa mommy akan marah jika papi mengatakan hal ini?" Adam langsung mengangkat wajahnya menatap Hana.
Perasaan Hana seketika merasa tidak enak, seakan tau sesuatu yang akan dikatakan Adam adalah kabar yang tidak menyenangkan untuk ia dengar. Tapi sebisa mungkin Hana mencoba menghilangkan rasa khawatirnya, ia tersenyum sambil mengangguk setuju.
"Iya, Hana tidak akan marah jika itu sesuatu yang baik. Memangnya papi ingin mengatakan apa?" mengulas senyum menatap Adam.
Adam langsung mensejajarkan wajah mereka, begitu juga Hana wanita hamil itu menganti posisi tidur yang tadinya terlentang mengubahnya dengan posisi menyamping menghadap Adam.
"Katakan saja Pi Hana akan dengar." pinta Hana sambil tersenyum kecil.
"Tapi mommy janji kan, tidak akan marah?" Adam memastikan lagi sebelum mengatakannya.
"Iya mommy janji." Hana terpaksa mengiyakan padahal hatinya sedang ragu.
Adam tersenyum lalu mengelus pipi Hana. "Papi sedang diundang ke acara ayah Nanda."
Deg!
Detik itu juga bibir Hana tertarik ke-depan. Senyumnya seketika lenyap. "Apa! Tante Nanda yang pernah dijodohkan sama papi?" tanya Hana memastikan orang yang dimaksud Adam.
"Iya, Tante kamu mengundang papi makan malam di acara ayahnya."
"Apa papi selama ini diam diam masih berhubungan dengan Tante Nanda? Oh astaga apa ia akan merasakan ujian yang baru lagi, dalam rumah tangganya?" batin Hana.
__ADS_1
Pikirannya jadi melayang mengingat nasehat Tika tentang harus kuat dan sabar menghadapi krikil krikil kecil yang mungkin saja sewaktu waktu akan menghampiri rumah tangga mereka.
"Mommy, kenapa diam? Apa mommy marah?" Adam menyadarkan Hana dari lamunannya, pria itu sudah terlihat was was takut jika Hana akan marah.
"Ah tidak, apa papi bertemu Tante Nanda?" Adam tersadar dan langsung melontarkan pertanyaan kepada Adam.
Adam terdiam sejenak berpikir alasan apa yang baik, agar tidak membuat Hana jadi salah paham. "Tadi siang dan dia datang mengundang papi." ucapnya sedikit berbohong.
Adam memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian tadi siang bersama Nanda, jika ia menceritakan hal itu ia takutkan Hana akan menjadi beban pikiran dan berakibat pada kandungannya.
"Oh, Hana pikir papi yang datang ke rumah Tante Nanda." sahut Hana dengan asal tapi malah membuat perasaan Adam sedikit tersinggung.
"Tidak untuk apa papi datang ke sana. Lagipula Nanda akan ke Paris dan ia mengundang papi sebelum kembali lagi ke negara itu." sahutnya cepat.
"Papi tidak akan pergi jika mommy tidak mengijinkan." Adam mengalihkan perhatian Hana dengan mengecup kening Hana sebentar saat melihat perubahan wajah istrinya sudah terlihat tidak suka dengan pembahasan ini.
Hana terdiam sejenak menatap Adam. "Pergilah! Akan tidak sopan jika papi tidak datang ke acara mereka, mereka juga sudah mengundang papi jadi tidak enak jika papi tidak hadir ke acara itu."
"Mommy serius? Papi tidak masalah kalau mommy tidak ingin papi untuk ke sana." Adam menatap istrinya lekat.
"Hana serius Pi, mommy tidak apa apa yang penting papi hanya sekedar menghadiri karena diundang bukan karena menemui Tante Nanda." ucap Hana memperingatkan.
"Papi tidak akan macam macam. Setelah acara selesai papi langsung pulang." janji Adam, sembari mengecup pipi Hana.
Hana mengangguk tersenyum kecil. "Hem." singkat Hana. Hana berusaha berprasangka baik pada suaminya, ia tidak ingin nantinya pikirannya jadi terganggu mengingat pesan dokter yang mengatakan ia tidak boleh banyak pikiran yang nantinya mengakibatkan ia jadi stres.
"Papi akan menyuruh Bi Surti mengantarkan makanan untuk kita." ucap Adam memeluk Hana sebentar.
"Aku masih kenyang Pi, papi saja yang makan." tolak Hana.
"Mommy harus makan malam, tadi mommy makan beberapa jam yang lalu sebelum malam bukan? Sedikit saja, setelah itu papi akan membuatkan susu hamil untuk mommy." Adam membujuk.
"Tapi mommy masih kenyang Pi, mommy minum susu saja ya?" Hana memelas dengan menampilkan puppy eyes.
__ADS_1
Adam menghela nafasnya pasrah melihat Hana dengan wajah dibuat seperti itu. "Baiklah, papi akan turun membuatkan susu untuk mommy." Adam Kemudian beranjak dari ranjang setelah baru saja memberikan kecupan dibibir Hana.
Hana tersenyum menatap Adam yang sudah turun dari tempat tidur mereka. "Jangan menyusul kebawah, tetap di sini." perintah Adam.
"Iya Pi." jawab Hana sambil bersandar pada sandaran ranjang.
Adam langsung melangkah keluar menuju lantai bawah membuat kan susu hamil untuk istrinya.
Saat Adam berlalu keluar Hana menatap kearah ponsel milik suaminya. Dengan memberanikan diri Hana langsung cepat mengambil benda itu.
Sesekali matanya kearah pintu takut jika suaminya mendapati dirinya sedang membuka ponselnya secara diam diam.
"Maafin Hana Pi karena sudah lancang membuka ponsel papi, Hana hanya ingin memastikan saja jika papi tidak menyembunyikan apapun dari Hana." gumamnya pelan sambil terus memencet layar sentuh itu.
Yang ia buka pertama kali adalah aplikasi berwarna hijau yang menjadi apk yang selalu digunakan banyak orang.
Didalam itu banyak sekali kontak dan juga pesan yang sudah terbaca maupun belum terbaca yang berasal dari rekan bisnis Adam maupun kerabat dekat suaminya.
Mata Hana langsung menangkap pada satu pesan yang berasal dari kontak bernama Nanda. Hana langsung tertegun, dengan perlahan ia mencoba membuka pesan tersebut yang sudah terbaca.
"Hah syukurlah, ternyata hanya perasaan aku saja. Ternyata tidak ada yang harus dikhawatirkan." Hana bernafas lega karena tidak mendapati apapun yang harus ditakutkan.
Karena dalam pesan itu Nanda hanya mengingatkan Adam untuk datang ke acara mereka.
Dengan cepat Hana kembali ke beranda. "Mommy sedang apa?" tanya Adam tiba tiba saat sudah melangkah masuk tepat di pintu kamar mereka.
Hana seketika tersentak kaget, ia hampir saja ketahuan dengan Adam. Untuk ia lebih cepat meletakan benda pipi itu sebelum Adam masuk.
Adam melangkah dengan segelas susu hangat ditangannya. Ia menatap bertanya tanya saat melihat Hana menatap kearah nakas dimana hpnya terletak.
"Eh papi, tidak mommy hanya melamun saja karena menunggu papi." ucap Hana tersenyum paksa.
"Oh, papi pikir apa. Ayo minum susunya." Adam mendekati Hana lalu duduk di sisi ranjang, sambil menyodorkan susu itu pada istrinya.
__ADS_1