Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Merasa bersalah


__ADS_3

Bi surti yang melihat kepergian Nyonya-nya merasa khawatir. "Semoga aja Tuan Adam belum sampai ke sini." Ia lalu melangkah masuk kedalam rumah.


Sementara mobil Adam nampak terparkir di depan rumah ayah Nanda beberapa jam yang lalu. Ia cukup lama beranda di rumah itu, setelah menenangkan Nanda di mobil tadi Adam langsung mengantarkan wanita itu ke rumahnya.


Tapi saat sudah mengantar Nanda pria itu tak langsung pulang karena Nanda yang terus menahannya dengan begitu memelas. Alhasil Adam berada di rumah itu hingga pukul enam sore.


"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Adam mengelus rambut Nanda.


Mereka berdua tengah berdiri di depan rumah karena Adam yang akan kembali pulang sehingga Nanda mengantarkan Adam ke-depan.


"Hem, terima kasih karena sudah mengantarku pulang." ucap Nanda sambil mengangguk tersenyum kecil.


"Sama sama jangan coba lagi ingin berniat melakukan itu!" Adam mengingatkan Nanda.


"Hem .... tapi apa kamu akan melakukan apa yang aku mau?"


"Hah aku belum bisa memutuskan itu. Nanti saja jawabannya. Lagian acaranya masih dua hari lagi kan?" tanya Adam.


"Iya tapi aku harap kamu temenin aku ke acara ayah, itu permintaan terakhir aku sebelum aku akan kembali lagi ke paris."


"Ya baiklah, aku akan hadir bersama kamu di acara makan malam itu."


"Makasih." Nanda langsung memeluk tubuh Adam. Adam pun membalas pelukan Nanda.


Beberapa jam yang lalu, di mobil Adam.


"Peluk aku jika itu bisa membuat kamu lebih tenang, aku tidak ingin melihat Nanda yang seperti ini. Dimana Nanda yang selalu ceria?"


Nanda terus menangis dalam pelukan Adam.


"Aku tahu ini memang berat buat kamu tapi aku ingin kamu sadar bahwa kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Kita hanya saling mengenal dan tanpa tumbuhnya cinta. Aku tahu apa yang kamu rasakan itu bukan cinta tapi obsesi sementara.


"Kamu tahu bukan? Obsesi tidak akan berakhir baik? Dan aku tidak mau kamu melanjutkan fase itu." ucap Adam lembut terus mengelus rambut Nanda.


"Tapi aku tidak bisa Adam aku- aku susah melepaskan kamu begitu saja." lirihnya.


"Kamu harus bisa, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa. Kamu belum mencobanya, ayo belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kamu miliki." masih terus memberikan pengertian pada wanita itu.


"Apa aku masih bisa mendapatkan pria seperti kamu lagi?" tanya Nanda masih terus memeluk tubuh Adam dengan wajahnya terbenam di dada pria bertato itu.


"Mungkin tidak karena semua manusia mempunyai karakter yang berbeda beda tapi satu hal yang pasti kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik lagi, yang bisa membuat kamu merasa dicintai. Di-setiap kehilangan pasti Tuhan akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Trust me."


"Aku ingin kamu tidak melakukan hal nekat lagi hanya karena seorang pria, jika kamu melakukan itu bagaimana dengan ayah kamu nanti apakah ia akan diam saja mendengar putri yang ia sayangi melakukan hal itu? Dia akan sangat amat menyalakan dirinya sendiri atas insiden ini."


Deg !


Hati Nanda begitu tertampar. Ia langsung menyadari kebodohannya ini, ia bahkan berniat meninggalkan ayahnya seorang diri? Tidak ia tidak ingin melakukan itu lagi.


Nanda langsung mendongakkan kepalanya keatas menatap Adam sejenak lalu melepaskan pelukannya.


"Kamu memang benar aku tidak seharusnya melakukan hal gila ini, makasih karena mau menyadarkan aku Dam. Aku memang bodoh membiarkan obsesi menguasai diriku."


Adam tersenyum lalu mengangguk membenarkan ucapan Nanda. "Kamu hanya terjebak saja dalam rasa obsesi itu, jadi kamu tidak boleh lagi mengulangi niat kamu tadi."


"Kamu wanita cantik dan berkelas pria diluar sana banyak sekali yang menyukai kamu. Jadi jangan lagi merendahkan diri kamu untuk mengemis pada cinta seseorang pria yang sudah beristri." ucapnya sambil mengelus kepala Nanda.


"Iya aku ngga akan lagi melakukan itu. Makasih dam."


*


*

__ADS_1


*


"Yasudah aku pamit pulang, ingat jangan berniat melakukan hal nekat lagi!" Adam menatap Nanda mengingatkan kembali wanita itu.


"Iya Dam, udah sana pulang nanti kamu malah ditungguin Hana loh." ucapnya sambil tersenyum.


"Bye ..." pamit Adam lalu berjalan kearah mobilnya.


"Da ...." Nanda melambaikan tangannya kearah Adam yang sudah masuk didalam mobil.


Adam membalas lambaian tangannya saat jendela mobilnya ia turunkan. Lalu kemudian menyalakan mobilnya berlalu pergi.


Nanda menatap kepergian Adam sambil menarik napasnya lega, ia tersenyum lalu masuk kedalam rumah.


Dalam perjalanannya Adam meraih HP-nya yang terletak di dasbor mobil dengan satu tangannya, saat menyalakan layar ponselnya ia melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Hana, dengan cepat ia menelpon balik nomor itu.


Sambungan telepon berbunyi tapi tak diangkat oleh Hana. Adam menatap heran benda pipi itu. "Kenapa tidak diangkat? Apa mommy marah karena Papi tidak mengangkat panggilannya?" gumamnya dalam hati.


Beberapa kali ia mencoba menghubungi lagi tapi tak juga diangkat. Adam langsung menaikan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin cepat cepat sampai ke rumahnya.


Satu jam perjalanan Adam akhirnya pulang, ia sampai di rumahnya sudah memasuki malam terlihat langit yang sudah menggelap. Adam sampai di depan rumahnya, terlihat Aryo berlari membukakan gerbang rumah untuk Adam.


Adam langsung memasukkan mobilnya. Pria bertato itu menurunkan kaca mobilnya saat melihat Aryo yang membukakan pintu gerbangnya, ia menatap heran kearah Aryo dari jendela mobil.


"Kenapa kamu yang membukakan pintu gerbangnya? Dimana Dimas kenapa dia lalai dengan pekerjaannya?" tanya Adam dengan wajah datarnya.


"Saya juga tidak tahu Tuan, setelah saya kembali ke rumah tadi saya sudah tidak menemukan Dimas di pos satpam. Hpnya juga tertinggal jadi saya tidak tau dia sedang kemana." jelas Aryo.


"Kemana anak itu. Ya sudah kamu masukan mobil saya ke garasi!" perintah Adam sambil melihat kearah pos.


"Baik Tuan."


Adam lalu berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah lebarnya sudah tidak sabar ingin menemui istrinya.


Ia membawa tubuh-nya masuk kedalam kamar, melihat ke seluruh sudut kamar tapi tidak menemukan Hana. Ia juga berjalan kearah balkon tapi tidak mendapati Hana.


Keningnya tertaut, kemudian kembali lagi masuk kedalam satu tempat yang belum ia lihat adalah walk in closet, ia lalu berjalan lagi masuk kedalam ruangan itu mungkin saja istrinya sedang menganti pakaiannya.


"Mommy kamu di dalam." teriaknya berjalan masuk kedalam sana.


Tapi Adam lagi lagi tidak mendapati Hana. Wajahnya seketika terlihat khawatir. Ia lalu dengan cepat kembali keluar menuju lantai bawah.


"Hah apalagi ini, aku baru saja dipusingkan dengan masalah Nanda dan sekarang aku tidak mendapati istriku di kamar." kesalnya dengan berlari pelan menuruni tangga.


"Bibi, Bi Surti!" teriak Adam menggema di ruang tamu.


Bi Surti yang mendengar namanya dipanggil, dengan cepat buru buru ke ruang tamu. "Iya Tuan, ada apa?"


"Hah, dimana istriku? Kenapa dia tidak ada di kamar?" tanya Adam dengan nada dingin.


"Ah anu Tuan, tadi Nona Hana sedang pamit keluar." ucapnya takut takut.


"Apa keluar! Dan kalian di rumah ini membiarkan istriku keluar begitu saja? Bahkan ini sudah malam dan dia belum juga kembali!" bentak Adam dengan emosinya.


"Maaf Tuan tadi saya sudah coba melarang tapi Nona Hana bersikeras untuk pergi."


"Sial! Dengan siapa istriku pergi?" ucap Adam meraih HP-nya lalu mencoba menelpon nomor Hana.


"Dengan Dimas tuan."


"Dimas!." ucapnya begitu emosi.

__ADS_1


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


"Hah sial nomor Hana masih tidak aktif, sebenarnya kemana mereka?" Adam berjalan kesana kemari dengan menahan amarah.


"Tadi Nona Hana ma–" ucapan bi Surti terhenti saat Adam meninggalkan dirinya begitu saja saat Adam mendengar bunyi mobil baru saja memasuki halaman rumah.


Mobil yang membawa Hana tersebut baru saja sampai. Hana begitu terlihat senang karena keinginannya terpenuhi, Dimas dengan cepat berlari kearah pintu Hana lalu membukakan pintu untuk Hana.


"Makasih Om." Hana tersenyum saat turun dari mobil.


"Sama sama Non." kembali menutup pintu mobil.


"Oh iya cemilan coklatnya belum di keluarkan, tolong di ambil ya Om!" pinta Hana dengan sopan.


"Iya Nona." dimas lalu mengambilkan satu tas belanjaan kecil berisi cemilan milik Hana.


Saat mereka selesai makan di restoran Meksiko tadi, Hana meminta mampir ke minimarket untuk membeli cemilan kesukaannya, mengingat stoknya sudah habis di rumah hingga ia memutuskan untuk membelinya lagi.


Keduanya masih tidak menyadari jika Adam tengah berdiri menatap mereka sejak turun dari mobil, ia menatap tajam dengan rahang yang mengeras menahan emosi. Kedua tangannya terlipat didepan dada.


"Makasih ya Om."


"Sama sama No–" ucapan Dimas terjeda saat matanya tak sengaja melihat Adam yang sudah berdiri menatap tajam keduanya di depan pintu rumah.


Hana menatap heran kearah dimas lalu perlahan mengikuti kemana arah mata Dimas. Seketika ia tersenyum tanpa dosa saat melihat siapa yang sedang Dimas lihat.


Ia tidak tau saja jika pria itu sudah berkabut amarah karena tidak mendapati dirinya di rumah.


"Daddy, Daddy udah pulang?" Hana langsung berlari kearah suaminya.


Melihat itu Adam seketika membulatkan matanya terkejut. "Jangan lari lari kamu sedang hamil, kenapa ceroboh sekali!" teriak Adam begitu khawatir dengan cepat berlari menghampiri Hana lebih dulu sebelum wanita itu sampai ke tempatnya.


Hana langsung memeluk erat tubuh Adam saat tubuh mereka sudah mendekat. Adam membalas pelukan Hana walaupun sedang dilanda emosi.


"Jangan coba coba mengambil simpati Daddy agar Daddy tidak memarahi kamu." ucap Adam dengan dingin.


Hana mendongakkan kepalanya menatap suaminya dengan wajah bingung. "Siapa yang Ingin mengambil simpati? Aku hanya menyambut kepulangan Daddy. Bukannya itu yang kita lakukan setiap hari jika Daddy pulang dari kantor?"


"Kamu tidak menyadari kesalahan kamu? Kamu keluar rumah tanpa seijin Daddy dan bahkan membawa calon bayi kita hingga pulang malam hari." bentaknya masih memeluk tubuh Hana.


Hana lalu melepaskan pelukannya. "Aku tadinya mau memberitahu kan Daddy tapi Daddy tidak mengangkat panggilan Hana." imbuh Hana.


"Ck alasan, Daddy sudah pernah bilang bukan jangan keluar rumah tanpa Daddy dan hari ini kamu mengulangi lagi hal itu." menatap kesal istrinya.


"Maaf Dad Hana nggak bermaksud melanggar tapi karena dia." ucap Hana sambil menunjuk kearah perutnya.


Adam menatap kearah perut Hana. "Tadi aku kepengen banget makan Tacos Crispy di restoran Meksiko tapi papi saat Hana menelpon Daddy, Daddy tidak mengangkat panggilan Hana jadi Hana memutuskan meminta bantuan Om Dimas buat anterin aku ke sana. Rasanya tuh senang banget loh Dad saat keinginan ibu hamil terpenuhi. Buktinya sekarang Hana senang banget setelah dari restoran itu." ucap Hana sambil tersenyum ceria.


Deg!


Seketika ia merasa bersalah karena berlama lama di rumah Nanda sedangkan istrinya sedang membutuhkan dirinya tadi.


Ia langsung berjongkok didepan perut Hana memberikan kecupan di-sana. "Maafin papi ya Nak! karena papi tidak sempat memenuhi keinginan kalian." bisiknya lembut lalu memberikan lagi satu kecupan cukup lama di tempat itu.


Ia lalu berdiri kembali dan menatap wajah Hana. Mengelus lembut pipinya. "Maafin Daddy." ucap Adam dengan mengecup kening Hana penuh sayang.


Hana memejamkan matanya sambil tersenyum kecil. "Iya nggak apa apa Dad Hana tahu Daddy pasti punya banyak kerjaan di kantor, makannya Daddy tidak menjawab panggilan Hana."


Adam semakin merasa bersalah padahal yang terjadi adalah ia sedang di rumah Nanda bukan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ya udah ayo kita masuk Dad, Daddy juga belum mandi kan? Ayo kita masuk biar Daddy membersihkan tubuh Daddy."

__ADS_1


Adam mengangguk lalu menggenggam tangan istrinya. "Ayo."


Amarah dan emosinya seketika hilang begitu saja saat mendengar alasan Hana pergi keluar.


__ADS_2