
Suara lenguhan terdengar bersahutan dari dalam kamar mandi, karena nyatanya sekuat apapun Hana melawan daddy-nya. Gadis itu akan tetap kalah, dan jatuh pada permainan sang pria kekar itu.
Tubuh bagian bawahnya terus dibuat sesak oleh benda panjang milik Adam, yang lagi-lagi membuat mulutnya menganga, dengan rasa yang dia terima. Adam membawa tubuh Hana merapat di dinding kamar mandi, sebelum mereka benar-benar membersihkan diri, pria matang itu lebih dulu mengajak Hana terbang ke nirwana.
Kaki Adam dengan reflek melingkar di pinggang Adam sementara pria itu tak berhenti untuk bergerak sesuai dengan tempo yang menuntut kepuasan.
"Sayang, sebut nama Daddy!" pinta Adam di antara lenguhannya yang menggema di seisi ruangan. Dia ingin namanya disebut oleh bibir ranum gadis itu.
Agar Hana ingat, bahwa apa yang mereka lakukan adalah nyata, dan Adam ingin membuat Hana merasakan ini semua bukan karena terpaksa.
Pelan-pelan dia akan membuat Hana terbiasa. Dan akhirnya gadis itu yang berinisiatif untuk meminta lebih dulu padanya. Adam akan buat Hana merindukan sensasi yang dia berikan. Namun, bukannya menurut Hana justru menggeleng.
Dia tidak mau mengikuti semua kemauan Adam, karena dia tau Adam pasti akan semakin bersemangat saat Hana mengabulkan apa yang Daddy-nya mau.
"Kenapa? Kamu hanya perlu sebut nama Daddy, dan Daddy yang akan bergerak." Adam melepaskan kedua tangan Hana yang melingkar di lehernya lalu memindahkannya di-atas kepala gadis itu.
__ADS_1
Sementara kening mereka saling beradu, yang berjarak hanya sejengkal hidung. Sedekat ini Hana bisa merasakan terpaan nafas Adam yang memburu menerpa wajahnya.
"Ayo panggil nama Daddy, Hana!" pinta Adam lagi dengan mendesah. Dan lagi-lagi Hana menggeleng, tanda menolak permintaan Adam.
"Aku nggak mau, Daddy. Aku nggak terbiasa." sahut Hana.
"Sebentar lagi kamu akan terbiasa dengan semuanya. Percaya sama Daddy, kamu cuman perlu membiasakan dengan panggilan itu" ujar Adam.
Tapi Hana tetap kukuh, tidak mau mengikuti kemauan pria matang itu. Hingga pada akhirnya Adam menunduk, sambil terus menggerakkan pinggulnya, Adam juga menyesap dua bulatan yang tengah menegang hebat itu.
Dia tidak akan berhenti, sebelum Hana menyerah dan bertekuk lutut padanya. Jika hari ini tidak berhasil, maka masih ada hari berikutnya dan seterusnya.
Karena sebagai seorang pria, Adam memiliki jiwa traveling yang begitu besar. Adam menciumi leher jenjang Hana, saat dia merasakan getaran itu akan meledak dalam dirinya.
Dia semakin mempercepat permainan, hingga akhirnya dia mendapat gelombang itu secara serentak dengan sang gadis.
__ADS_1
"Ahh ..." Lenguhan panjang terdengar, disertai nafas yang terdengar tersengal-sengal. Adam menekan miliknya hingga vla puding yang dia keluarkan habis tak tersisa.
Lantas setelah itu, baru Adam melepaskan cekalan tangannya yang mengunci kedua tangan Hana. Lalu membawa tubuh itu untuk mandi bersama, di bawah guyuran shower, Adam membantu Hana mengsabuni seluruh tubuhnya.
"Daddy aku bisa sendiri." tolak Hana, saat pria itu ingin membersihkan area-area sensitifnya.
"Nurut lah, atau kamu mau Daddy ulangi lagi?" Hana menatap malas lalu membiarkan Adam melakukan apa yang dia mau. Hingga akhirnya mereka hanya benar-benar mandi.
Adam kembali menggendong tubuh gadis-nya keluar dari sana, dan gadis itu hanya mampu menurut pasrah. Pria itu menurunkan Hana di depan meja rias walk in closet dan mengambil satu handuk kecil.
Namun, begitu dia ingin mengeringkan rambut Hana pintu kamar mereka diketuk, dan mereka kompak menoleh ke sumber suara.
"Siapa?" tanya Adam. Tidak biasanya ada yang mengganggu kesenangannya.
"Ini saya, Tuan. Saya mau memberitahu kalau di bawah ada papinya Tuan, dia sedang menunggu anda." ucap bi Surti apa adanya.
__ADS_1
"Papi? Hah .... pasti akan membahas tentang pertunangan itu." Gumamnya dengan helaan nafas berat.