
Hana sedang berendam di bathub, merilekskan tubuhnya yang terasa sakit dan pegal, terutama di bagian kaki., Betisnya terasa nyeri. Berjalan jauh tak cocok untuk dirinya yang mungkin sudah terbiasa kemana mana dengan mobil setiap hari. Fix, ini terakhir kali dirinya berjalan-jalan jauh seperti tadi siang.
"Benar kamu ngga mau ikut, Daddy?" Adam yang malam itu akan menghadiri makan malam penting bersama beberapa koleganya. Ia mencoba membujuk Hana untuk ikut, tetapi karena lelah Hana memutuskan untuk tidak ikut bersama daddy-nya.
Hana mengangguk. "Kaki Hana pegal, Daddy." jawabnya, memijit kedua kakinya yang berada didalam air hangat aromatherapi.
Adam bisa saja untuk tidak mendatangi makan malam itu, tetapi mengingat ia adalah tuan rumah dari acara itu jadi mau tak mau Adam harus datang dan makan malam bersama.
"Ya udah. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa telfon Aryo untuk jemput kamu. oke?"
Hana mengangguk sambil tersenyum tipis. Adam mengusap puncak kepalanya, kemudian keluar dari villa menuju tempat makan malam mereka yang kebetulan tempatnya sudah di janjikan di area pantai tak jauh dari villa tempat ia tinggal.
Lagi, rasa bosan menghinggapi hati Hana. Suasana villa yang sunyi karena jauh dari keramaian, memang masih terlihat beberapa cafe, rumah dan juga tokoh yang tidak jauh dari vila mereka.
Tetapi Hana merasa sunyi sebab dirumahnya tidak ada pembantu yang mungkin bisa saja ia ajak mengobrol seperti di rumah daddy-nya. Hana duduk di kursi santai di teras belakang. Memandang kelap-kelip lampu dari kejauhan.
Pantai dibawah tampak ramai. Sepertinya pengunjung mulai berdatangan. Hana masuk kedalam villa, membaringkan tubuhnya di-atas kasur empuk nan nyaman itu, bermaksud untuk beristirahat.
Perempuan itu mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi gagal. Matanya tak mau terpejam sedikitpun, padahal rasanya begitu lelah. Hana bangkit, berpikir sebentar, kemudian turun dari tempat tidur.
Berjalan memasuki ruang ganti untuk mencari pakaian yang pas. Dia memutuskan untuk pergi menyusul Daddy-nya di makan malam mereka, yang berada di pantai bagian bawah.
Pilihannya jatuh pada gaun satin berwarna merah gelap, dengan panjang selutut. Dari brand termahal yang mengekspos pundak dan punggung bagian atasnya sedemikian rupa. Juga dengan tali kecil yang dililitkan di leher jenjangnya. Sederhana namun seksi.
Ia kemudian merias wajahnya di cermin, duduk menatap pantulannya sambil menepuk kan bedak tipis, sedikit perona pipi dan lipstik berwarna bibir alami, perempuan itu segera menghubungi Aryo untuk untuk segera menjemputnya.
Dan tanpa menunggu lama, Aryo pun datang. Segera membawa Hana ke area pantai tempat dimana Adam dan beberapa kolega nya berada. Tak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit mereka berjalan telah sampai di depan resort baru yang telah disesaki tamu undangan.
Adam bukanlah orang sembarangan. Dilihat dari tamu-tamu yang datang. Hana mengenali beberapa orang yang sering dia lihat di televisi maupun majalah. Entah artis, model, maupun pengusaha terkenal. Tampak juga beberapa media juga reporter yang tengah bersiap meliput acaranya.
Sepeninggalnya Aryo, Hana melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam resort, namun seketika langkahnya terhenti oleh petugas yang menanyakan perihal kartu undangan.
"Maaf, Nyonya. Bisa perlihatkan kartu undangannya?" petugas tersebut berusaha sopan.
"Saya, kesini mau ketemu Daddy saya, namanya Adam." ucapnya, berharap petugas tersebut mengenali pemilik resort tersebut.
"Bapak Adam?" Petugas tersebut langsung menatap dirinya dengan wajah mengejek. "Mungkin Nona hanya berpura-pura, bukan? Supaya bisa masuk kedalam sana." Sambil terkekeh.
"Tapi saya memang benar mau temui Daddy." ucap Hana bersikukuh. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Adam pacarnya yang menyuruhnya datang, tetapi ia tidak punya cukup keberanian mengatakan itu. Mengingat hubungan mereka belum di publish oleh Adam.
Petugas tersebut hanya mengernyitkan dahi, tak
percaya dengan apa yang Hana katakan. "Cih, ngaku-ngaku." Batinnya, mengejek.
"Saya bisa masuk sekarang?" Hana bertanya lagi.
"Maaf Nona, tanpa undangan tamu siapapun tidak bisa masuk ke area ini. Ini tempat khusus." jawab petugas itu, yang kemudian melengos.
Hana merasa kesal, merutuki dirinya sendiri mengapa dia tak ikut bersama Adam saja tadi. Perempuan itu membalikkan tubuhnya bermaksud kembali ke tempat asalnya, sebelum satu sosok menghentikan dirinya.
"Bidadari?" suara berat yang terdengar riang. Hana mendongak. Tampak pria tinggi dan bule dengan penampilan rapi tengah menatapnya tersenyum.
"Han kamu di sini, juga?" tanya pria itu lagi, berjalan menghampiri Hana. Hana lalu membalikkan badannya ke asal suara itu.
"Leo, kamu ngapain di sini?" Hana menatap terkejut.
"kebetulan banget, ya." Leo tersenyum lebar. Hana tersenyum membalas senyuman Leo. Hana tersenyum kecil.
"Kamu disini juga? Sama siapa?" tanya Leo lagi.
__ADS_1
"Aku baru aja sampai, mau kedalam nyusul Daddy." Dan satu ide melintas di kepala perempuan itu. "Leo kamu bawa kartu undangan?" kemudian bertanya.
"lya. ada." memperlihatkan kartu undangan yang dimaksud.
"Boleh nggak aku ikut kamu, kedalam? Soalnya aku nggak punya kartu undangan makanya nggak dibolehin masuk sama petugas, aku juga lupa bawah ponsel, soalnya." pinta Hana.
Leo seketika tersenyum senang. "Boleh. Kebetulan aku sendiri juga karena gantiin papa aku." jawabnya.
"Pas banget tuh, ya udah masuk yuk!" Hana dengan riang. Kemudian mereka masuk kedalam area resort dengan mudah.
Saat masuk kedalam terlihat suasana makan malam tampak meriah. Adam dikelilingi orang-orang terkenal di dunia bisnis dan entertainmen membuat pria itu terlihat begitu bersinar. Karena perusahaannya bergerak diberbagai bidang membuat dia sangat dikenal oleh berbagai kalangan di dunia bisnis maupun non bisnis.
Seketika Hana merasa pesimis. Dia semakin merasa kerdil dihadapan Adam. Dirinya bahkan tak sebanding apa apa dengan Daddy-nya. Adam memang benar-benar jauh dari jangkauan nya.
Setengah jam kemudian.
Hana dan Leo sedang duduk berdua saling berbincang.
"Ini buat kamu." satu gelas minuman disodorkan leo ketika Hana tengah duduk di kursi tamu. Hana mendongak lalu tersenyum.
"Oh iya, udah ketemu Daddy kamu?" tanya pria itu. Hana seperti tersadarkan. Dirinya menggeleng lemah.
Leo tersenyum. "Its oke. Aku bisa nemenin kamu sampai kamu ketemu Daddy kamu." katanya.
Hana mengernyit, "Memangnya kamu nggak ikutan gabung sama beberapa tamu penting di sini?" perempuan itu bertanya tanya karena Leo sedari tadi tidak ikut bergabung dengan mereka.
Leo menggeleng. "Sebenarnya aku sama papa aku, dia koleganya pemilik acara ini." Leo menjatuhkan bokongnya di kursi didepan Hana. Menatap wajah seksi yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Jadi kamu bohongin aku?" Hana menatap kesal Leo. Pasalnya tadi Leo mengatakan jika ia sendiri ke sini untuk mengantikan papanya.
"Heheh, sorry." Leo me-nyengir sambil memperlihatkan giginya.
"By the way, nama Daddy kamu siapa? Mungkin aja aku kenal." Leo penasaran.
"Lupain aja, kamu nggak bakalan kenal." Hana menyela menghentikan minumnya.
"Serius. Aku kenal banyak pengusaha kenalan papa aku, mungkin salah satunya Daddy kamu." Leo menatap dengan tersenyum.
Hana berpikir sebentar, jika dia membeberkan Adam adalah daddy-nya, Leo pasti tidak akan percaya dan berpikir Hana hanya bercanda, mengingat Adam bukanlah orang sembarangan.
"Kamu nggak kenal. Percaya deh. Udah ya, aku mau cari Daddy dulu. Makasih udah nganter aku sampai sini."
"Aku mau ikut, buat bantu cari Daddy kamu." ucap Leo tersenyum. Hana hanya bisa pasrah dan berjalan pergi dengan Leo yang berada di belakangnya. Pria bule itu tampak senang.
Keduanya berjalan mencari cari sosok Daddy-nya, hingga detik kemudian mata Hana menangkap satu sosok pria yang terlihat begitu berwibawa tengah serius berbincang bincang, sesekali tertawa bersama para koleganya dimeja itu. Melihat itu Hana langsung mengurungkan niatnya untuk menyampari Adam.
"Kayaknya Daddy ngga bisa diganggu, hah tau gitu aku di vila aja tadi." gumamnya dalam hati.
"Gimana? Diantara orang orang di sini, ada nggak Daddy kamu?" Leo menatap Hana yang sedang terdiam melamun.
"Ah ..... Nggak ada kayaknya, ya udah aku pamit duluan ya." Hana akan melangkah pergi namun Leo menahan tangannya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku langsung pulang, aja. Soalnya udah capek mau istirahat."
"Biar aku antar."
"Nggak usah aku bisa pulang sendiri, kok." tolak Hana sembari tersenyum.
__ADS_1
"Aku tetap anterin kamu pulang, bahaya perempuan jalan sendiri di sekitar sini."
"Ya udah." Hana dan Leo pun keluar meninggalkan tempat itu, dengan Leo yang mengantarnya menggunakan motor sportnya.
"Ayo naik!" Leo mempersilahkan Hana naik keatas motornya, dengan patuh Hana menurut.
"Udah siap?" Leo menoleh sebentar kebelakang memastikan Hana sudah aman dibelakangnya.
"Udah." sahut Hana.
...****************...
Leo menjalankan motornya menuju vila. Tiga puluh menit perjalanan mereka, akhirnya sampailah mereka ditempat vila itu.
"Makasih ya, udah anterin aku sampai di sini." ucap Hana setelah turun dari motor Leo.
"Sama sama, apapun buat kamu." ucap Leo sembari menggombal.
"Hahaha mulai lagi kan. Udah aku duluan, bye." Hana berjalan tergesa tanpa menunggu ucapan selamat tinggal dari pemuda itu, yang belum beranjak dari tempat dia berdiri, menatapnya hingga menghilang ditelan kegelapan malam.
Leo tersenyum menatap wanita yang sudah berlalu pergi dibalik kegelapan malam itu, wanita yang sudah membuatnya tergila gila. Ia kemudian tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Gue bakal usaha pelan pelan dapatin hati kamu, Han. Selama lo ngga punya pacar, gue bakal tetap kejar lo sampai jadi milik gue." ucapnya dengan yakin. Lalu menjalankan motornya berlalu pergi.
Dia tidak tahu saja siapa pemilik hati wanita itu. Jika Leo tahu mungkin saja terkejut dan tidak bisa berkata kata.
...****************...
Hana berjalan setengah tertatih, kembali merasakan kakinya yang sakit sisa petualangan tadi siang. Menaiki tangga-tangga kecil menuju teras villa yang temaram. Langkahnya terhenti ketika ada sosok menjulang tinggi tengah berdiri di teras.
Hana tertegun. "Daddy?"
Adam menatap tajam, dengan iris kelamnya yang berkilat diterpa cahaya lampu yang menempel di
tiang bangunan.
"Udah berapa kali Daddy bilang jangan pergi tanpa Daddy!" geramnya.
"Tadi Hana mau nyamperin Daddy, tapi Daddy-nya sibuk:" jawab Hana, belum menyadari kemarahan yang hampir menyembur dari pria 39 tahun itu, yang sudah mengetahui Hana bersama dengan seorang pria asing, bahkan sampai duduk bersama dan bercengkrama.
"Harusnya kamu nunggu hingga Daddy selesai dengan urusan Daddy bukan malah berkeliaran dengan pria asing." tukasnya, berjalan menghampiri Hana yang terkejut mendengar ucapannya.
"Daddy tahu?" kedua matanya membulat.
Bukannya tadi Adam sedang sibuk dengan koleganya? Kenapa dia bisa tau?. Batin Hana bertanya tanya.
"Tidak ada satu hal pun yang luput dari pengawasan Daddy, Hana." Adam berdiri tepat dihadapan perempuan itu yang sedang mendongak.
Hana menelan ludahnya kasar. Menangkap kabut kemarahan dimata elang sang Daddy Sepertinya pria ini akan salah faham.
"Daddy ngga suka kamu jalan sama pria lain, kamu tahu?" katanya lagi.
Hana menggeleng cepat, "Enggak gitu, dia cuma teman kampus Hana Dad, dia temenin Hana karena Hana cuman duduk sendiri, tadi." Hana berusaha menjelaskan.
"Tetap saja Daddy tidak suka, Daddy benci melihat itu. Daddy sudah pernah memperingatkan kamu untuk tidak berhubungan dengan pria manapun selain Daddy!!" Adam setengah berteriak.
Hana kembali menggeleng. "Daddy salah faham! Hana juga nggak sengaja ketemu Leo di tempat tadi. Leo cuman bantuin Hana karena Hana nggak bawa undangan, petugas di pintu depan nggak bolehin Hana, buat masuk. Dan kebetulan Leo ada di situ makanya Hana ikut masuk juga kesana sama Leo." perempuan itu menjelaskan.
Adam mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1