Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
merajuk


__ADS_3

Adam menunggu sampai Hana menelponnya duluan. Hingga beberapa detik kemudian satu panggilan pun masuk dari orang yang sudah beberapa menit yang lalu ia tunggu.


My darling is calling...


Melihat itu, senyum Adam langsung mengembang dengan gerakan cepat Adam mengusap icon untuk memulai panggilan. Senyum pria tampan itu semakin cerah, saat melihat wajah cantik gadisnya terpampang di sana.


Membuatnya tidak sabar untuk segera pulang, dan bercinta sepuasnya bersama Hana.


"Halo, Daddy." sapa Hana lebih dulu, gadis itu terlihat menggunakan dress rumahan, dan langsung bergulung di bawah selimut. Hawa dingin yang menyapa tubuhnya, membuat dia ingin memakai pakaian hangat saat tidur.


Adam merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Satu tangannya menumpu kepala, membuat sebuah bantalan.


"Halo, sayang. Kemana saja kamu? Kenapa baru menghubungi Daddy?" ucapnya dengan wajah datarnya mencoba menyembunyikan rasa rindunya.


"Hana minta maaf nggak kasih tahu Daddy. Tadi pagi aku sempat sakit, tapi Daddy jangan khawatir! Hana sekarang udah sembuh kok karena udah lihat wajah Daddy." ucapnya sambil tersenyum.


Membuat pria matang itu tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Bisa saja gadis ini membuat hatinya berbunga, bersama Hana benar-benar membuat Adam merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.


Tapi detik kemudian ia tersadar jika niatnya ingin memarahi Hana, padahal dia sudah begitu rindu dan cemas setengah mati tapi karena gengsinya membuat ia memperlihatkan wajah dinginnya itu. Ia masih kesal kepada Hana karena tidak menghubungi dirinya dan juga tidak memberitahukan jika ia sedang sakit.


"Bicaralah yang benar, Hana. Bagaimana kondisi kamu? Sudah ke rumah sakit apa belum?" tanya Adam, satu tangannya yang menganggur beralih untuk membuka kancing kemeja.


Membukanya satu persatu, hingga memperlihatkan otot-otot dada dan perut sixpack nya yang begitu indah dan sempurna. Hana terus memperhatikan gerakan jemari Adam. Hingga dia bisa melihat dengan jelas tubuh atletis kekarnya, kini giliran gadis itu yang mengulum senyum, sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Aku tidak ke rumah sakit, tapi bi Surti yang memanggil dokter untuk memeriksa Hana." Adam mengernyit, tadi Aryo belum menjelaskan sampai ke sana. Ah, lagi pula untuk apa memikirkan Aryo, kan sekarang sudah ada Hana. Dia bisa bertanya apa saja.


"Dokternya seorang wanita atau seorang pria?" tanya Adam, bukannya kondisi Hana yang dia tanyakan, dia malah mengurusi jenis kelamin sang dokter. Memang begitu posesif seorang Adam.


Mendengar itu, seketika otak usil Hana mulai berkelana, dia menatap Adam dengan senyum jahil.


"Pria, dia tampan." Ucap Hana tanpa rasa bersalah. Membuat Adam langsung menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang tampan?"


"Dokternya, dia masih muda dan ganteng. Daddy kalah jauh sama dia."


"Jaga bicaramu Hana! Apa yang dia lakukan sama tubuh kamu? Dia periksa bagian yang mana? Katakan!' Suara Adam mulai ketus, tetapi bukannya takut, Hana justru ingin terkekeh, merasa gemas dengan pria matang ini.


Tiba-tiba Hana menyibak selimut, dan menaikan dress nya, hingga perut rata nan mulus itu dapat Adam lihat dengan jelas. Mulut pria itu langsung menganga, sementara Hana terus mengarahkan kamera ke perutnya.


Adam bergeming, dia menelan saliva nya susah payah, sementara otak mesumnya mulai terkontaminasi, apalagi saat Hana menaikan kembali dressnya, dan pelan-pelan memperlihatkan dua bongkahan padat kesukaannya.


Terlihat sangat sintal dan memanjakan mata. Mulut Adam semakin menganga, mata buasnya mulai memindai dengan jeli pahatan indah di depannya.


"Semuanya dia sentuh, apa Daddy mau menyentuhnya juga?" tanya Hana semakin gencar untuk menggoda, apalagi melihat tatapan mata Adam yang sudah kembali mendamba.


Hana hampir saja memainkan salah satu bulatan itu menggunakan tangannya, tetapi dengan cepat Adam menghentikan. "Stop! Stop, Hana. Tutup kembali tubuh kamu, oke?"

__ADS_1


Kini Hana yang berganti mengeryitkan dahinya. Ada apa dengan Adam? Biasanya juga meminta lebih dulu, kenapa sekarang malah tidak mau. "Why? Daddy, you don't want me?"


Adam menghela nafas panjang, menetralkan kembali hasratnya, sebisa mungkin dia tidak boleh terpancing.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kalau seperti itu nanti Daddy ingin cepat pulang. Sedangkan pekerjaanku masih banyak." Jelas Adam bohong.


Mendengar itu, bibir Hana mencebik. Selalu saja pekerjaan yang pria itu katakan, pikirnya. Bukankah saat Adam bersamanya pria itu juga meminta itu semua padanya.


"Benar tidak mau?" Hana masih kukuh bertanya, dengan tatapannya yang menyelidik.


"Iya, Sayang. Sudah ya, tutup kembali tubuh kamu. Kamu juga sedang sakit, jadi jangan terlalu lama buka-bukaan seperti itu."


Bibir Hana semakin mencebik, dia menurunkan dressnya, lalu kembali menarik selimut. Kesal dengan reaksi Adam, padahal dia sudah berusaha menyenangkan pria itu.


"Hei, Sayang. Kenapa wajah kamu ditekuk gitu?"


"Mana Hana tahu!" sahut Hana ketus.


Adam menghela nafas, mencoba mengalah dengan sikap Hana. "Tadi makan apa? Makannya banyak kan?"


"Tidak tahu juga!" mengarahkan pandangannya ke tempat lain tanpa melihat kearah layar itu. Rupanya Hana sudah ngambek pada daddy-nya karena penawaran nya tadi ditolak oleh Adam.


Mendengar itu, Adam memejamkan matanya, selain merasa menjadi seorang remaja, bersama Hana juga ternyata melatih kesabarannya.

__ADS_1


"Ah, Hana. Daddy juga mau sebenarnya, tapi Daddy tidak bisa!" batinnya sendu.


Bukannya dia yang harus marah kenapa malah gadisnya itu yang ikut ikutan marah.


__ADS_2