
Adam baru saja keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit yang lalu Hana yang lebih dulu keluar. Saat keluar ia mendapati Hana terduduk ditepi ranjang dengan masih berbalut kan bathrop. Perempuan itu terdiam sambil memegangi perut buncitnya.
"Mommy kenapa?" tanyanya, lalu berlutut dihadapan Hana.
"Tidak tahu, tiba tiba perut mommy merasa tidak nyaman." jawab Hana.
"Apa karena kegiatan kita tadi? ... padahal papi udah berusaha selembut mungkin tadi," Adam terkekeh.
"Masih sakit?" Adam menyentuh perut yang terus ada pergerakan dari dalam sana, bayi mereka terlihat begitu aktif.
Hana menggeleng. "Mungkin dia terlalu banyak bergerak di dalam sana." sambil tersenyum kecil saat merasakan sakitnya kembali hilang.
"Apa mommy mau melahirkan?" tanya pria itu, mendekatkan tubuhnya dengan kaki Hana yang menjuntai kebawah.
"Tidak mungkin ini masih delapan bulan,"
"Benar juga ya, hei boy jangan nakal ya di dalam sana! Kasian mommy merasa kesakitan karena kamu. Ayo tenang tenang di sana agar mommy kalian bisa lebih tenang." bisik Adam tepat di perut Hana.
Seperti mendengar bisikan Adam, malaikat kecil di dalam sana berhenti bergerak-gerak. Ia seketika tenang di dalam sana, hal itu membuat Adam dan Hana seketika tersenyum lalu saling memandang.
"Dia mengerti apa yang papi katakan, hahah lucu sekali." Hana terkekeh lucu.
"Iya dia langsung berhenti menghentak, kamu benar benar anak papi sayang." ucap Adam lalu mengecup gemas perut besar Hana.
"Apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Adam sekali lagi.
"Tidak, dia menurut apa yang papi katakan." sahut Hana sambil mengelus rahang Adam.
Adam tersenyum lalu memegang tangan Hana yang berada di rahangnya, ia kecup punggung tangan Hana dengan sayang lalu beralih mengecup bibir dan juga kening Hana dengan penuh cinta.
"Ayo ganti baju dulu, setelah itu kita makan malam." ucap Adam lalu membantu Hana berdiri dari duduknya.
Hana mengangguk lalu membiarkan Adam menuntun nya masuk ke ruang walk in closet. Setelah berganti pakaian Adam dan juga Hana menikmati makan malam mereka dengan makanan yang diantar oleh pembantu ke kamar mereka. Keduanya menikmati makan malam itu di balkon kamarnya.
Adam dengan telaten menyuapi istrinya hingga wanita hamil itu menghabiskan makanannya. Setelah menghabiskan makan malam mereka keduanya memutuskan duduk bersantai sebentar di balkon sebelum nantinya memutuskan untuk tidur.
Keduanya duduk dengan Adam memeluk tubuh Hana dalam pangkuannya. Hana menyandarkan punggungnya di dada bidang Adam dengan kedua tangan Adam memeluk perutnya, mengelus-elus lembut di sana.
__ADS_1
"Hana pengen kita tetap seperti ini hingga tua Pi. Bahagia dengan keluarga kecil kita dan menghabiskan waktu di hari tua nanti." ucap Hana sambil tersenyum kecil dengan pandangan kearah langit malam.
Adam tersenyum sambil mengecup bahu Hana. "Itu sudah pasti kita akan bahagia dengan anak anak kita kelak."
"Huh tapi papi mengkhawatirkan satu hal di masa tua nanti." ucap Adam menatap lurus ke-depan.
Hana yang tadinya tersenyum seketika mengerutkan keningnya bingung. "Mengkhawatirkan apa?" tanya Hana sambil mengarahkan pandangannya kebelakang menatap Adam.
"Papi takut nantinya jika papi sudah tua maka mommy masih terlihat mudah dan itu membuat papi cemas. Papi takut mommy akan digoda oleh pria pria diluar sana mengingat umur kita sangat jauh dan jika kita tua kelak mungkin papi yang lebih dulu menjadi kakek dan mommy akan tetap masih terlihat mudah seperti ini." ucap Adam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha jadi itu yang buat papi cemas?" tawa Hana seketika pecah merasa lucu dengan ucapan suaminya.
Adam semakin menampakkan wajah kesalnya karena Hana menertawakan dirinya. Hana menghentikan tawanya lalu turun dari posisinya tersebut, ia lalu naik kembali kepangkuan Adam dengan posisi berhadapan.
Lengannya ia lingkarkan di leher Adam. Adam pun dengan sigap memegangi pinggang Hana, takut wanita itu terjatuh.
"Papi harus ingat satu hal dari mommy. Bahwa setua apapun usia papi kelak mommy akan tetap bersama papi. Papi segalanya untuk mommy, tidak ada lebih berharga lagi selain Adam Mateo suami dari Hana Adam." ucap Hana tersenyum lalu memegang kedua sisi wajah Adam.
"Mommy tetap setia bersama papi apapun yang terjadi, justru Hana takut nantinya papi tergoda dengan wanita lain. Bahkan wajah dan tubuh papi saja masih terlihat gagah dan tampan diusia yang tidak mudah lagi. Papi tidak terlihat seperti pria yang berusia 39 tahun." lanjut Hana dengan jujur.
"Hmm benarkah? Papi rasa malam ini mommy cukup banyak menggombal." ucap Adam sambil menyadarkan wajahnya di dada Hana.
"Itu bagus mommy, berarti papi masih terlihat menggoda bukan?" goda Adam dengan percaya diri.
"Cih mulai lagi, awas saja jika papi coba mencari perhatian pada wanita lain di luar sana." ucap Hana dengan wajah sebal.
"Hahahha papi hanya bercanda mommy. Untuk apa papi melakukan itu pada wanita lain jika istri papi saja secantik dan seksi seperti ini." ucap Adam sambil menaik turunkan satu alisnya dengan nakal.
"Dasar gombal." ucap Hana sambil menahan senyumannya. Ia merona mendengar ucapan pria tersebut.
Adam tersenyum lalu mengecup bibir Hana. Hana menerima kecupan itu dengan senang hati. Hinga perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman yang penuh kelembutan. Kedua tangan Adam terangkat menahan tengkuk Hana sambil memperdalam ciuman mereka.
Hana pun mengalungkan lengannya pada leher pria bertato tersebut. Saling *******, mencecap, menyesap merasakan manisnya bibir satu sama lain.
Malam itu langit penuh bintang menjadi saksi bisu ciuman penuh cinta yang mereka lakukan di balkon kamar.
***
__ADS_1
Pagi ini Hana tengah memasangkan dasi suaminya, Tubuh Hana yang hampir sejajar dengan tubuh tinggi suaminya membuat ia tidak susah susah untuk membungkuk mensejajarkan tingginya dengan Adam.
"Selesai," ucapnya sambil tersenyum senang karena berhasil mengikatkan dasi dengan sempurna, kemudian tangannya bergerak mengusap lurus ke bawah dasi di dada bidang Adam untuk memastikan Suaminya berpenampilan rapi.
"Terimakasih kasih mommy." Adam menatap Hana penuh cinta sambil meremas pundaknya lembut.
"Sama sama papi." jawab Hana menenangkan sambil mengusap-usap tangan Adam yang ada di pundaknya.
"Oh iya hari ini teman mommy ingin ke sini?" tanya Adam melihat istrinya masih memakai gaun berwarna biru mudah.
"Iya pi, tapi sepertinya mommy ingin ke mall dengan Tika, apa bo–" ucapan Hana langsung dengan cepat disela oleh Adam.
"Tidak, kehamilan mommy sudah begitu besar. Papi tidak ingin sesuatu terjadi dengan mommy diluar sana. Jika dia ke sini ingin mengajak mommy untuk keluar maka lebih baik dia tidak usah datang." ucapnya tegas dengan tatapan tajamnya.
Hana sudah menduga jika suaminya tidak mengijinkannya untuk keluar. Padahal ia ingin sekali berjalan jalan sambil menikmati udara luar.
Adam bisa melihat wajah sedih Hana karena keinginannya tidak diijinkan. Adam lalu memegang pipi Hana, menatapnya lekat. " Ingat! Ini demi kebaikan kamu dan calon anak kita, papi hanya tidak ingin sesuatu terjadi dengan kalian. Minta yang lain saja, asal jangan yang satu ini." Adam perlahan membujuk istrinya.
Ia juga sebenarnya tidak tega menolak permintaan istrinya tapi ia juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan Hana keluar dari rumah. Katakan jika ia begitu overprotektif pada istrinya.
"Ya sudah kita di rumah saja tapi Hana pengen membuat kue dengan Tika. Bolehkan?"
"Tapi mommy bisa lelah, apa tidak ada permintaan yang lain lagi?"
Sontak Hana melepaskan tangan Adams dari pipinya. Lalu mendudukkan bokongnya di-atas ranjang menatap kearah lain.
"Tadi papi bilang minta saja permintaan yang lain? Sekarang Hana sudah meminta yang lain papi malah mengatakan lagi tidak ada permintaan yang lain selain ini. Tahu begitu aku tidak meminta ijin saja." ucap Hana dengan merajuk.
Adam menghembuskan nafasnya berat. Adam lalu menghampiri Hana duduk tepat di samping istrinya.
"Baiklah, papi mengijinkan mommy membuat kue dengan Tika, tapi .... mommy tidak boleh terlalu capek, jika merasa lelah mommy tidak boleh melanjutkan lagi." ucap Adam menarik dagu Hana agar menatap wajahnya.
Mendengar itu Hana langsung tersenyum dan mengangguk. "Iya Hana janji." ucap Hana.
Wanita hamil tersebut kemudian memeluk tubuh Adam. Adam pun membalas pelukan istrinya sambil mengecup tengkuk Hana.
Beberapa detik kemudian Adam melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Ayo kebawah! mommy harus sarapan dulu." kata Adam.
Hana mengangguk dan keduanya pun melangkah sambil bergandengan tangan, keluar menuju ruang makan.