
Sepasang suami istri itu telah bersiap siap ke rumah orangtuanya. Keduanya begitu sangat terlihat serasi dengan pakaian couple berwarna hitam.
Hana begitu terlihat mempesona begitu pun dengan Adam suaminya sangat begitu tampan walaupun diusianya yang aman memasuki empat puluh tahun itu, ia tetap terlihat sangat awet mudah dan menggoda itulah kenapa para wanita diluar sana masih begitu tergila-gila dengan ketampanan Adam.
Saling bergandengan tangan saat menuruni tangga. Para pelayan yang melihat itu begitu dibuat iri juga senang karena pasangan tersebut terlihat bahagia setelah melewati banyak ujian dalam hidup mereka.
Sesekali mereka melemparkan senyuman satu sama lain. Sampainya kedua di depan mobil, Adam membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Hati hati, sayang." ucap Adam lembut.
Hana tersenyum kecil melihat sikap suaminya yang begitu berhati-hati. "Iya papi."
Setelah menutup pintu mobil untuk Hana, Adam Kemudian berjalan kearah pintu mengemudi lalu masuk kedalam sana. Tak butuh lama setelah Adam masuk, pria itu langsung menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman mereka.
Dalam perjalanan menuju kediaman orang tua Adam, Hana terlihat sedikit gugup disela antara rasa bahagianya. Adam yang menyadari bahwa istrinya sedang merasa gugup dengan cepat menggenggam tangannya, seolah menghilangkan rasa gugup itu dengan sebuah genggamannya.
Ia menatap sebentar kearah Hana lalu mengecup punggung telapak tangan istrinya sembari fokus menyetir. Hana mengarahkan matanya menatap pria disampingnya itu, seketika senyuman kecil terukir dibibir Hana.
"Jangan gugup ataupun cemas, kita akan disambut baik di acara Oma, oke? percaya sama Daddy!" ucap Adam tersenyum menatap Hana lalu kemudian fokus lagi ke-depan.
"Hana hanya sedikit gugup saja Dad karena ini menjadi pertemuan pertama kita setelah kejadian itu." ucapnya mengingat kejadian makan malam yang berujung berantakan. Dan Hana takut itu terulang lagi malam ini karena kehadirannya.
"Apa sebaiknya Hana tidak usah ikut? Biar Daddy saja yang hadir di acara Oma." usulnya tiba tiba, Hana mendadak tidak percaya diri lagi untuk hadir di makan malam itu.
"Hah .... jangan berulah lagi mommy, ini atas permintaan Oma jadi kamu akan disambut baik di sana. Untuk apa takut? Di-samping kamu ada Daddy yang akan menjaga kamu dari orang orang yang tidak membuat kamu nyaman." ucap Adam dengan nada sedikit tidak suka.
Hana terdiam sejenak ia mengingat kembali terakhir kalinya ia juga diundang oleh Oma tapi malah tetap saja ada kejutan ditengah tengah acara tersebut.
"Hei kenapa diam, hmmm? Apa mommy masih belum yakin? Tidak pa-pa kalau mommy ingin balik kembali ke rumah kita, Daddy akan memutar balik mobilnya." ucap Adam dengan lembut ia juga tidak ingin memaksa Hana untuk hadir selama itu tidak membuatnya banyak pikiran.
"Ja-jangan kita akan tetap hadir, jalan saja terus. Aku ngga mau buat Oma kecewa karena tidak datang di makan malam bersama.
Setelah terdiam sejenak Hana akhirnya mengeluarkan suara. Ia menyakinkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apapun di-sana, ya dia harus yakin hal itu.
"Benar mommy tidak keberatan?" Adam meyakinkan kembali istrinya.
"Iya Pi, Hana yakin ingin kesana." ucapnya tersenyum kearah Adam.
"Baiklah demi permintaan istri mudah ku, aku akan melaksanakan permintaannya." sambil tersenyum lebar. Hana membalas senyuman Adam tak kalah lebarnya. Dalam perjalanan Adam terus mengecup telapak tangan Hana berulang ulang membuat Hana juga melupakan rasa cemasnya.
*
*
*
Satu jam perjalanan mereka, akhirnya mobil berwarna hitam milik Hana masuk kedalam gerbang rumah besar milik orangtuanya. Tampak ramai dengan mobil para tamu yang terparkir di halaman yang sangat luas itu.
Adam menurunkan sedikit kaca mobilnya saat mobil itu masuk kedalam.
"Selamat datang Tuan Adam dan juga Nona Hana." mereka disambut oleh penjaga gerbang dengan begitu ramah.
Adam hanya tersenyum tipis membalas sambutan penjaga gerbang, sementara Hana mengulas senyum lebarnya sambil membalas dengan begitu ramah. "Terimakasih pa."
Adam yang melihat itu sontak berbicara. "Jangan senyum dengan pria lain jika pria itu bukan suami kamu." ucapnya posesif, wajah Adam terlihat begitu tidak suka.
"Ih ngga lucu Dad, masa Daddy cemburu sama tukang gerbang. Hana hanya membalasnya saja karena sudah menyapa kedatangan kita." ucap Hana tersenyum geli.
__ADS_1
"Itu sudah tugasnya menyambut tamu, sudah ayo kita turun. Lama lama di sini kamu akan tergoda dengan pria tua itu." ucap Adam kesal lalu membukakan seatbel Hana.
Hana merasa gemas dengan kecemburuan suaminya walaupun sedang kesal ia tetap saja perhatian padanya. Hana lalu mengambil kesempatan itu untuk memeluk Adam untuk menghilangkan rasa kesalnya.
Adam bergeming saat Hana memeluk dirinya, sudut bibirnya langsung tertarik kebelakang dibalik punggung Hana. "Jangan kesal, mommy hanya milik Daddy, memangnya siapa yang akan berani suka dengan istri dari seorang Adam Mateo?" ucapnya tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
Tangan Adam juga naik keatas memeluk Hana sembari mengelus punggung wanita hamil tersebut. "Memang tidak ada yang akan berani, karena itu tidak akan Daddy biarkan." ucap Adam.
Adam mengecup kepala Hana, menahan kecupan itu sedikit lama. Hana bahkan merasakan kehangatan itu tembus dalam jiwanya, Adam begitu pandai membuatnya merasa sangat dicintai dan disayang.
Cukup lama mereka berpelukan, Adam Kemudian melepaskan pelukan itu. Ia lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Hana.
"Ayo kita sudah di tunggu Oma, di dalam sana." ucap Adam memberikan pergelangan tangannya untuk Hana genggam.
Hana dengan senang hati menyambut tangan Adam. "Ayo." ucap Hana dengan nada senang. Mereka berdua lalu melangkah masuk kedalam sana.
Sementara Oma Ani terlihat tidak tenang di tempat duduknya, ia terlihat gelisah menunggu kedatangan Hana dan juga Adam yang belum juga menampakkan dirinya. Wanita tua itu akan berdiri dari tempat duduknya tapi dengan cepat di tahan oleh kakek Barack di samping beliau.
"Mau kemana? Duduk kembali, kenapa dari tadi mami tidak bisa tenang?" ucap kakek Barack.
"Kenapa mereka belum datang juga Pi?" Bukannya menjawab, Oma Ani malah balik bertanya pada suaminya.
"Ck, mereka akan datang mami, ayo duduk lagi. Mommy harus bisa tenang, lihat banyak kerabat dan teman-teman mommy yang datang. Jangan membuat mereka ikut khawatir melihat tingkah mommy." ucapnya sambil menunjuk para tamu yang sudah duduk bersama mereka.
Dengan kesal Oma Ani lalu kembali duduk di kursinya. Kakek Barack menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya ini.
"Udah mereka akan datang." Kakek Barack mencoba menenangkan Oma Ani sambil mengelus bahunya. Padahal dalam hatinya pria tua itu berharap kedatangan Adam dan Hana gagal, ia masih belum mau bertemu dengan mereka.
"Semoga saja mereka berdua tidak datang." batinnya berharap.
Wajahnya pun kembali datar saat melihat dua orang tersebut, ia menatap kearah lain saat Adam tidak sengaja melihat kearahnya.
Adam pun sama, ia juga menampakkan wajah dinginnya. Memang susah jika dia pria yang mempunyai sifat sebelas dua belas itu.
Mami Ani yang melihat kehadiran putra dan menantunya lantas berbinar bahagia ia.
"Akhirnya kalian datang juga mami sudah cemas sekali menunggu kalian, mami pikir kalian tidak akan datang." ucap mami Ani dengan nada senang sambil berjalan duluan menghampiri putranya.
Oma Ani langsung memeluk tubuh Adam saat sudah berada dihadapannya, melepaskan rasa rindunya dalam beberapa bulan ini. "Mami sangat merindukan kamu, Dam." ucap mami Ani terdengar sendu.
Adam tersenyum kecil lalu melepaskan genggaman tangannya dari Hana, kemudian membalas pelukan maminya. "Adam juga merindukan mami."
Bahu maminya bergetar menahan tangisnya. Adam lalu melepaskan sebentar pelukan maminya. "Jangan menangis, ini malam yang spesial untuk mami. Adam tidak ingin melihat mami menangis diulang tahun mami. Ayo senyum, aku datang ke sini karena ingin melihat lagi senyuman itu." ucap Adam sambil menyeka air mata Oma Ani dengan ibu jarinya.
"Mami menangis karena bisa melihat kamu lagi," jawab maminya.
"Dan sekarang aku sudah di sini jadi mami tidak boleh menangis karena Adam tidak suka melihat ibu meneteskan air mata, ayo senyum." ucap Adam sambil tersenyum menatap Oma Ani.
Oma Ani langsung tersenyum dan memeluk kembali tubuh Adam. "Kamu memang selalu bisa membuat suasana hati mami berubah." kata maminya dalam pelukan Adam.
Para tamu yang menyaksikan itu seketika tersenyum haru. Begitu juga dengan Hana yang berada di samping suaminya, ia tak kalah bahagianya. Bahkan ia berkaca-kaca menyaksikan momen haru suaminya dan juga Omanya yang sekarang menjadi mama mertuanya.
Puas memeluk putranya, Oma Ani kemudian melepaskan pelukan itu, Adam menatap bingung pada maminya saat beliau melepaskan pelukan itu, tapi detik selanjutnya ia melebarkan senyum saat melihat
Oma Ani menatap Hana sambil tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk menantunya. "Ayo, apa kamu tidak merindukan mami?" ucap Oma.
__ADS_1
Hana langsung berjalan mendekati Omanya, dan memeluk tubuh wanita paru baya tersebut. Ia memejamkan mata merasakan pelukan yang terasa begitu hangat, berbeda dengan pelukan pelukan sebelumnya.
"Mami minta maaf atas kejadian waktu itu, apa kamu sudah memaafkan mami?" Ucapnya dalam pelukan Hana.
Hana menggeleng cepat. "Hana tidak pernah marah kepada mami, Hana bahkan merasa bersalah atas kejadian itu." ucapnya.
"Tidak jangan salahkan diri kamu atas masalah ini, ini semua sudah takdirnya. Kalian memang disatukan sebagai pasangan itu lah alasan tuhan mempertemukan kalian. Mami sudah menerima kamu sebagai menantu keluarga Matteo begitu juga dengan Papi, tapi mungkin cara papi Barack menerima kalian sedikit berbeda karena dia masih begitu gengsi mengakui itu." ucap Oma pelan sambil terkekeh.
Hana tersenyum dan mengiyakan saja ucapan Omanya, ia masih belum yakin jika pria yang sangat membencinya terendah sudah menerimanya sebagai menantu keluarga mereka.
"Iya Oma."
"Sudah apa kalian akan terus berpelukan seperti ini? Para tamu sudah menunggu acara makan malam dimulai, hentikan drama kalian." ucap kakek Barack tiba tiba.
Adam yang senang melihat mami dan istrinya berpelukan seketika menatap kearah Barack dengan wajah datarnya. Oma Ani langsung melepaskan pelukan mereka.
"Maafkan saya, saya terlalu senang dengan kedatangan putra dan juga menantu saya hingga lupa jika ada tamu di sini yang sudah menunggu." ucapnya tersenyum.
Para kerabatnya tersenyum. "Tidak apa apa memang seperti itu jika sedang bahagia. Kita bahkan sangat menikmati momen haru kalian, benar kan jeng? Para pria di sini pun sama. Mereka juga ikut bahagia." ucap salah satu kerabat dekat Oma Ani.
"Iya benar." ucap para tamu membenarkan ucapan wanita itu.
Mereka memang sudah tahu pernikahan Adam dan juga Hana dari Oma Ani. Jadi mereka tidak kaget lagi saat Oma mengatakan Hana adalah menantunya.
"Syukurlah kalau kalian juga ikut bahagia." ucap mami Ani tersenyum manis.
"Oh iya mam, Adam juga ingin memberitahukan mami kabar bahagia ini. Semoga mami senang mendengarnya." ucap Adam tersenyum melirik kearah Hana.
Hana membalas senyuman Adam. Adam lalu mendekati Hana dan menggenggam tangannya.
"Kabar bahagia? Kabar apa sayang?" tanya Oma Ani penasaran. Bukan hanya mami Ani saja yang penasaran tetapi suaminya dan juga para tamu dibuat penasaran oleh Adam.
Tetapi karena memegang rasa gengsinya membuat Barack hanya diam dan menunggu apa yang akan Adam sampaikan.
"Jadi kabar bahagianya adalah ..."
"Adam jangan buat mami jadi penasaran, sayang." Oma Ani tampak sudah tidak bisa sabar lagi menunggu apa yang akan dikatakan putranya.
"Hana hamil mami, istri Adam Hamil cucu pertama mami." ucapnya tersenyum menatap ibunya dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan Hana.
Oma Ani, kakek Barack dan juga para tamu begitu terkejut. "Ap-apa? Hamil, Hana beneran hamil cucu pertama untuk mami?" ucapnya dengan mata yang sudah berkabut kristal bening yang sekali kedip langsung jatuh.
Oma Ani tidak bisa lagi menggambarkan perasaan bahagianya untuk apa yang baru saja ia dengar, ini adalah hal yang sudah lama ia inginkan dan itu dikabulkan oleh Hana. Ia benar-benar bahagia, akhirnya keluarga Mateo akan ramai dengan anak kecil.
Ah ia tidak sabar lagi membayangkan menghabiskan masa tuanya dengan anak dan cucunya. Bermain bersama, berbelanja, liburan bersama dan bahkan hal seru lainnya yang sudah tak sabar ia nantikan.
"Iya, mami akan menjadi Oma. Ini kan yang selama ini selalu mami inginkan? Sekarang keinginan mami akan sebentar lagi tercapai dengan kelahiran calon anak kita nanti." ucap Adam pada maminya.
"Terimakasih ya tuhan, mami sangat bahagia mendengar kabar ini, Sangat. Terimakasih Hana, terima kasih." lalu memeluk tubuh Hana.
Di sana lah air mata mami Ani langsung tumpah. Ia begitu terharu dan tidak bisa lagi menahan bulir air matanya. "Terimakasih." ucapnya lagi.
Hana senyum dalam pelukan mama mertuanya. "Sama sama mami." mengelus pundak mami Ani.
Adam mengulum senyum bahagia. Sementara papi Barack dengan wajah datar, ia juga diam diam sangat bahagia dengan kabar kehamilan menantunya hanya saja ia gengsi memperlihatkan rasa bahagianya.
__ADS_1