Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Aunty kesayangan


__ADS_3

Setelah mengantarkan kepergian suaminya di-depan, Hana kembali masuk kedalam rumah. Sebelum ke kamar ia berbelok kearah dapur bermaksud mencari para pembantu didalam sana.


Di dapur terlihat para pelayan sibuk dengan aktivitasnya, satu pembantu yang ditugaskan membuat kue oleh Hana tadi sedang mengeluarkan kue itu dari pemanas.


"Bi Siti nanti kue nya di bawah ke taman belakang aja ya!" Siti pembantu berumur 28 tahun itu sontak menatap kearah majikannya.


"Nggak di bawah ke kamar Non?" tanya Siti.


"Ngga soalnya saya lagi kedatangan sahabat, jadi Hana mau makannya di taman belakang aja." ucapnya tersenyum manis.


"Oh iyaa udah, saya siapkan dulu kuenya."


"Makasih ya bi. Kalau gitu Hana ke kamar dulu." Hana langsung berjalan pergi.


"Iya Nona." sahut siti kembali menyibukkan dirinya pada kue itu.


Hana masuk kedalam kamar dan bergegas membersihkan dirinya setelah tadi menolak ajakan mandi bersama dengan Adam.


Lima belas menit berlalu Hana pun keluar dengan tubuh yang berbalut handuk kecil sebatas paha. Ia langsung masuk kedalam ruangan ganti dan memilih dress rumahan berpola kotak kotak kecil tanpa lengan.


Setelah selesai memakai pakaian, Hana kemudian melangkah keluar menuju kearah nakas mengambil hpnya, melihat ada sebuah pesan masuk di-sana.


Pesan dari suaminya beberapa menit yang lalu. Hana tersenyum lebar membaca pesan dari Adam.


Isi pesan dari Adam: Semoga mommy bersenang senang dengan Tika, ingat jangan keluar rumah.


Pesan itu juga diakhiri emote love diakhir pesan.


Tok tok!


"Non, teman nona udah datang." teriak pembantu didepan kamar.


Hana langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. "Iya aku kebawah sekarang." teriaknya lalu meletakkan asal hpnya di-atas nakas tanpa membalas pesan suaminya.


Ia buru buru keluar menemui Tika yang sudah menunggunya diruang tamu. Ia bahkan sudah melupakan pesan dari nomor yang tidak dikenal tadi.


Sampainya di ruang tamu ia melihat Tika sedang duduk di sofa menunggunya, ia lalu berjalan kearah Tika. "Hai aunty kesayangan ku." teriak Hana begitu senang.


Tika tersenyum lalu berdiri menghampiri Hana dan memeluknya. "Akhirnya aku bisa ke sini lagi." ucap Tika dalam pelukan.


"Aku juga senang, kamu bisa datang lagi." ucap Hana lalu melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Gimana kuliah kamu? Lancar?" ucap Hana lalu mempersilahkan Tika untuk duduk kembali.


"Lancar tapi nggak seasik ada kamu, setelah kamu memutuskan kuliah privat aku kuliah aku ngga seasik ada kamu." ucapnya sendu.


Hana terkekeh. "Maaf ya, soalnya itu juga keputusan suami aku. Apalagi aku udh hamil kayak gini suami aku semakin overprotektif banget sama aku, jadi segala kegiatan aku udah diatur sama Daddy."


"Y mau gimana lagi aku juga nggak bisa lakuin apa apa kan, itu juga demi kebaikan kamu jadi aku juga dukung tindakan yang diambil suami kamu." ucap Tika.


Hana tersenyum. "Oh iya aku mau elus perut kamu boleh ya?" Tika meminta ijin.


"Boleh banget dong ayo sini." Tika langsung mendekati Hana dan mengelus perut wanita hamil tersebut.


"Halo calon keponakan kesayangan aunty, semoga kamu selalu sehat dan baik baik ya di sana. Kami sudah tidak sabar menunggu kehadiran kamu di sini." ucap Tika dengan wajah senang.


"Pasti aunty, aku akan selalu sehat sampai bertemu kalian." sahut Hana menirukan suara anak kecil.


Tika mendongakkan kepalanya lalu terkekeh bersama. "Nggak nyangka ya, kamu udah mau jadi seorang ibu aja, waktu begitu cepat berlalu." ucap Tika dengan pikiran kembali melayang memikirkan masa masa nya bersama Hana.


"Iya, bahkan aku ngga nyangka akan menikah dan hamil di usia muda." sela Hana.


"Yap, tapi aku bersyukur sih kamu menikah dengan orang yang tepat." imbuh Tika.


"Iya kamu benar. Dan aku salut sama kamu bisa bertahan dititik ini."


"Hmm."


"Pokonya apapun masalah ke-depan yang terjadi sama rumah tangga kamu, kamu tidak boleh menyerah dan yakin bisa menghadapi semua itu. Karena aku tahu dalam rumah tangga pasti tidak selamanya berjalan mulus, pasti ada kerikil kerikil kecil menghampiri rumah tangga seseorang. Jadi aku selalu berdoa dan berharap kamu tetap menjadi Hana yang selalu kuat dalam menghadapi segala sesuatu." Tika menasehati Hana.


Hana tersenyum lalu memeluk Tika. "Makasih, kamu selalu punya nasehat baik untuk aku."


"Sama sama, itu sudah seharusnya sebagai sahabat kita saling mengingatkan dalam kebaikan." ujar Tika seraya mengusap punggung Hana.


Pelukan mereka akhirnya terlepas saat siti masuk kedalam ruang tamu itu. "Non, kuenya udah di bawa ke taman belakang."


Hana menoleh sambil tersenyum ramah, "Iya nanti kita ke sana, makasih ya bi."


"Sama sama Non, ya udah saya balik kebelakang dulu. permisi." pamit Siti.


"Iya Bi." Hana mengangguk.


"Kita ke teman belakang yuk, aku udah suruh bibi buatin kue untuk kita berdua." ucap Hana tersenyum.

__ADS_1


"Ayo." Tika berdiri dan mengandeng tangan Hana sambil tersenyum. Mereka lalu pergi ke taman belakang dimana kue dan juga beberapa menu disiapkan di meja taman belakang.


*


*


*


Sementara di kantor. Adam baru saja selesai mengadakan meeting bulanan untuk membahas tentang performa perusahaan mereka bulan ini. Perusahaannya memang selalu mempunyai performa yang terus menerus meningkat.


Ia melangkah keluar dari ruangan rapat bersama Aldi di sampingnya yang sedang memegang beberapa berkas.


"Apa jadwal saya setelah ini?" tanya Adam melirik sebentar kearah Aldi sambil terus berjalan dengan dua tangannya ia letakkan di saku celananya.


"Sekitar pukul jam satu siang Tuan Adam di undang makan siang bersama dengan start grup."


"Baiklah." ucapnya lalu masuk kedalam ruang CEO.


"Ya sudah kamu boleh kembali ke ruangan kamu." berhenti di depan pintu ruangannya menatap Aldi.


"Baik Tuan, permisi." Aldi membungkuk lalu membalikkan badannya melangkah pergi.


Setelah kepergian Aldi. Adam langsung masuk dan menutup pintu ruangannya. Ia berjalan kearah kursi kebesarannya dan duduk di sana.


Ia meraih HP-nya untuk menelpon Hana tapi ... baru saja akan menelepon nomor Hana, panggilan dari Nanda lebih dulu menghentikan jarinya.


Ia menatap bingung. "Untuk apa lagi dia menelepon?" Adam bertanya tanya tapi tak urung membuatnya menjawab panggilan Nanda.


"Halo Adam, kamu di mana? Kita boleh ketemu?" ucap Nanda diseberang sana.


"Aku di kantor atas dasar apa kita ketemu?" tanya Adam dengan kening yang tertaut.


"Aku mohon Adam, please kali ini aja." Nanda dengan nada memohon.


Pria matang itu berpikir sejenak. "Ya sudah kita ketemu di cafe x jam 2 nanti." ucap Adam kemudian.


"Semoga saja mommy tidak mengetahui hal ini." batin Adam berharap Hana tidak tahu tentang pertemuannya dengan Nanda nanti.


"Terimakasih Dam."


Nanda begitu bersorak gembira dalam hatinya. Akhirnya Adam mau menemui dirinya.

__ADS_1


__ADS_2