Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Akhirnya pulang


__ADS_3

Adam sudah melewati masa pemulihannya. Sudah dua bulan dia berada di negeri seberang, dan terus berjauhan dengan Hana. Namun, kabar baiknya adalah Adam sudah diizinkan oleh sang dokter untuk melakukan hubungan badan. Itu artinya, pria matang itu sudah siap untuk kembali menggempur gadisnya.


Sementara untuk mengetahui prosedur tersebut berhasil atau tidak. Dokter akan meminta sampel air mani setelah beberapa minggu pasca operasi. Sampel tersebut akan diuji melalui tes analisis spermaa untuk melihat ada tidaknya cairan ****** di dalam air mani milik Adam.


Sore ini dia sudah bisa pulang, karena hari ini dia sudah memberikan sampel tersebut pada dokter yang menanganinya. Senyum Adam selalu mengembang selama perjalanan ke hotel, tempat di mana dia tinggal di negera tersebut. Dia tidak mau memberitahu Hana, dia akan memberi kejutan pada Hana.


"Baby, aku pulang," gumam Adam sambil tersenyum lebar. Dia pun menghubungi Aryo untuk menyiapkan semuanya. Malam ini, dia akan langsung bertemu Hana. Dan menghabiskan waktu bersama.


Setelah membereskan barang-barangnya, dan sedikit membeli oleh-oleh untuk Hana serta bi Surti yang sudah menemani Hana saat ia pergi. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum nantinya ia akan menggempur Hana.


Saat hari sudah menjelang malam, tiba-tiba Aryo datang ke vila dan langsung menanyakan keberadaan Hana pada Bi Surti. Kebetulan gadis itu baru saja turun dari tangga hendak pergi ke dapur.


Melihat itu, Bi Surti langsung memanggil Hana untuk mendekat. Patuh, Hana melangkah dengan ceria, hingga dia berdiri sejajar dengan Aryo dan wanita paruh baya itu.


"Ada apa, Bi?" tanya Hana sambil menatap Bi Surti. Namun, yang menjawab pertanyaannya justru Aryo, hingga dia berpindah haluan, menatap pria di sampingnya.


"Nona, bisa ikut saya malam ini?" Ujarnya dengan mimik wajah serius.


"Ikut, ikut ke mana?" tanya Hana dengan sedikit mengernyitkan dahi. Ia menatap Aryo dengan bingung tiba tiba pria itu mengajaknya keluar, bahkan tanpa persetujuan dari Adam.


"Nanti juga kamu akan tahu, lebih baik sekarang nona Hana bersiap-siap, saya tunggu di mobil," ujarnya buru-buru.


"Tapi." Sebelum Hana kembali bicara, Aryo justru sudah melangkah meninggalkannya. Membuat dia semakin dibuat penasaran. Hana menghela nafas, dan akhirnya mengikuti apa yang diperintahkan Aryo.


Tak butuh waktu lama, gadis manis itu sudah rapih dengan rok pendek selutut dan blouse kotak-kotak miliknya. Riasan tipis membuatnya terlihat sangat cantik malam ini tak lupa juga lipblos melengkapi bibir seksinya itu, gadis itu duduk dengan tenang di belakang sana sambil memainkan ponselnya.


Hana terus seperti itu, hingga mereka sampai hotel bintang lima. Pandangan mata Hana menyipit, dia sedikit tertegun dengan semua ini. Jangan bilang Aryo ingin macam macam kepada-nya saat Adam tidak ada seperti ini? Astaga itu sangatlah mengerikan. pikirnya.


"Om Aryo, kita mau apa sebenarnya? tanya Hana takut-takut. Apalagi tidak ada siapapun selain mereka berdua, dia menatap ke arah Aryo, seolah mengambil ancang-ancang untuk kabur.


Menyadari itu, Aryo sedikit mengulum senyum merasa lucu. Dia melirik Hana yang terlihat pias dari balik spion tengah. "Nona turunlah, dan naik ke atas. Tepatnya kamar nomor 17."


Deg


Jantung Hana seperti mau merosot, ada perasaan


takut, penasaran, cemas, semuanya menjadi satu. Hana menelan ludahnya susah payah.


"Apa yang sebenarnya om rencanakan? Om jangan macam macam, Hana bisa laporin Om ke Daddy." Ucap Hana dengan mimik takut.

__ADS_1


"Saya tidak sepicik yang Nona pikirkan, cepatlah, Nona. Waktu kita tidak banyak."


"Tapi Om, Hana nggak mau. Om pasti mau macam macam kan sama Hana?" wajahnya sudah terlihat takut.


"Astaga, saya tidak segila itu Nona Hana. Bisa bisa saya tidak ada lagi di bumi ini, jika berani macam macam sama Nona.


"Terus kenapa Om nyuruh aku ke atas?" tanyanya penuh selidik sekaligus takut.


Aryo menghela nafasnya berat, Hana malah berpikiran negatif padanya. Ia semua karena bosnya itu membuat Aryo harus dituduh seperti itu. Dengan terpaksa ia langsung memberitahukan jika di kamar tersebut ada Adam pria yang dua bulan ini meninggalkan dirinya.


"Tuan Adam lagi nungguin Nona di kamar 17." ucapnya.


Hana tertegun ....


Seketika mata Hana mulai berkaca-kaca, dia menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk. Tanpa menyahut, dia langsung keluar dan masuk ke dalam hotel tersebut.


Gadis seksi itu melangkah terburu buru seakan takut Adam pergi lagi. Kakinya bergetar saat dia sudah berhasil berdiri di depan ruangan yang dia tuju. Dia kembali menelan ludahnya susah payah. Tanpa banyak kata, Hana langsung membuka pintu kamar tersebut, kaki jenjangnya menyelinap masuk.


Dan pada saat tubuhnya sudah masuk dengan sempurna. Dia langsung disambut oleh sosok gaga dan tegas pemilik hatinya. Seseorang yang amat dia rindukan selama dua bulan ini, kini ada di depan mata.


Bibir seksi itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman untuk sang pujaan. "Daddy."


Adam bangkit dari duduknya, seolah siap untuk bertempur, Adam hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Dada bidang nan sixpack itu terekspos bebas, dan kali ini hanya Hana yang dapat menikmatinya.


Tak ada kata yang mereka ucapkan saat raga sudah saling berhadapan, tatap mata mereka menyiratkan rindu yang menggebu, utuh menjadi satu. Hingga gerak tubuh menjadi satu-satunya komunikasi yang paling ampuh.


Adam menarik lengan Hana dan lekas mendekap tubuh bak model itu, dekapan hangat dan terasa sangat erat. "Daddy merindukanmu. Miss you so much.' Ucap Adam sambil mengecupi puncak kepala Hana berulang ulang.


Hana tak dapat membalas apa-apa, hanya ada gerakan tangannya yang melingkar sempurna di perut Adam. Sebuah bukti bahwa dia pun sangat.merindukan pria ini.


Adam terus mengendus aroma tubuh Hana. Aroma candu yang sudah sangat lama tidak dia rasakan kehadirannya. Hingga dengan mudahnya, Adam mengangkat tubuh gadisnya, menggendong Hana seperti bayi koala.


"Sayang, kamu juga rindu kan sama, Daddy?" tanya Adam sambil menyatukan kening mereka.


Dan jawaban yang dia terima adalah sebuah ciuman di bibirnya. Adam tak menyia-nyiakan itu, dia langsung membalas ciuman Hana dengan beringas.


Berawal dari bibir yang saling beradu, nyatanya cukup membuat hasrat keduanya menggelora. Apalagi aroma tubuh Hana yang terasa sangat manis seperti vanila, terus menguar di dalam indera penciumannya.


Adam membawa tubuh ramping itu untuk duduk di sofa, dan membiarkan Hana terus berada di pangkuannya. Keduanya kembali tersulut api gairah.

__ADS_1


Setelah merasa cukup puas dengan bibir tebal itu, mulut Adam mulai berlarian kesana-kemari, menyesap leher jenjang Hana hingga tercetak bekas kemerahan.


"Ah, Daddy." Hana meremaas-remaas rambut Adam yang kini tengah bersarang di lehernya. Sedangkan tangan Adam bergerak, merayap masuk ke dalam pakaian Hana dan mengelus punggung mulus gadis itu.


Tak cukup sampai disana, Adam yang sudah benar-benar bergairah, dengan nalurinya membantu Hana untuk menanggalkan apa saja yang melekat di tubuhnya. Adam berkali-kali meneguk ludahnya, sebelum ia menghisap dua bukitan kenyal yang sudah terpampang nyata.


Namun, setengahnya masih berpenutup dengan kain yang berenda. Adam menelusupkan kesepuluh jarinya di antara riapan rambut Hana.


"Sayang, Daddy begitu rindu sama kamu." dengan suaranya yang sudah terdengar berat.


"Aku juga, Daddy. I miss you so much." Adam mencium bibir Hana lagi, kini disertai sesapan.yang sangat kuat, dan secepat itu pula, satu tangan Adam melepaskan pengait yang ada di belakang sana. Hingga dua benda sintal kesukaannya mulai mengitari otak, dan tanpa persetujuan sang pemilik raga, Adam langsung menghisapnya.


"Daddy!" Diperlakukan seperti itu Hana semakin melayang, dia menjambak rambut Adam yang kini sedang membenamkan wajah didadanya. Seketika ruang sunyi itu berubah ramai dengan suara aneh dari bibir tebal Hana. Bagaimana tidak? Kini pucuk dadanya tengah dimainkan begitu manja oleh lidah Adam yang sudah sering membuainya.


"Sayang, aku sudah tidak sanggup menahannya." Adam dengan nafas terengah-engah.


Menatap Hana dengan sorot mata sayu. Hana paham maksud Adam, dia mengangguk patuh, saat tangan Adam menuntun satu tangannya turun kebawah sana. Tempat si Jerry berada. Hana sedikit mengangkat tubuhnya, hingga Jerry itu berdiri tegak dengan leluasa.


"Dia juga rindu sama kamu, sayang. Kamu merindukannya tidak?" tanya Adam, masih menggenggam pusakanya bersama dengan tangan Hana.


"Kenapa Daddy tanya kayak gitu? Tanpa Hana jawab Daddy sudah tahu jawabannya, kalau Hana lebih merindukan Daddy juga dia." Hana melirik ke bawah, di mana tangannya dan tangan Adam menggenggam benda yang sama.


Adam mengulum senyum, dan mengecupi wajah Hana. "Kalau gitu, ayo kita berperang malam ini. Daddy ingin melayang bersama kamu semalaman suntuk, Daddy tidak ingin menerima kata menyerah sebelum pagi tiba." Ujar Adam dengan seringai tipis.


Hana mengangguk sambil tersenyum, satu tangannya memegangi kepala Adam hingga kening mereka senantiasa menyatu. Adam mengangkat tubuh gadis itu hingga entah di menit ke berapa benda panjang itu sudah melesak ke dalam miliknya.


"Ssh ..." Hana mendesis nikmat. Dan pandangan mereka kembali bertemu.


"Ayo sayang. Driving me crazy, make me crazy tonight. (Ayo, Sayang. Kendalikan aku, dan buat aku gila malam ini.) Tanpa pikir panjang Adam menyerang kembali bibir tebal tak bertulang itu.


Sementara Hana mulai bergerak dengan penuh penghayatan. Seketika, ruangan dengan pendingin udara itu berubah menjadi panas, pun dengan peluh yang mulai mengucur deras, menjadi saksi bagi kedua raga yang tengah berusaha menuju puncak nirwana.


Desaah dan lenguhan terdengar saling memburu, dan Hana masih berusaha memompa tubuhnya, menyenangkan Adam di atas kendalinya.


"Ah, Hana. Kamu yang terbaik, Sayang." puji Adam sambil mengerang dan menggigit bibirnya. Ingin membuat permainan ini semakin mantap, Adam pun ikut bergerak, seirama dengan hentakan gadisnya, terasa begitu cepat, hingga tak berapa lama kemudian, puncak itu serentak mereka dapatkan.


"Daddy!" jerit Hana.


Namun, satu pelepasan itu tak berarti apa-apa, dan kegiatan itu tak serta merta selesai, Adam mengangkat tubuh Hana dan melepas penyatuan sejenak, dia memutar tubuh gadis itu membelakangi sementara dia berdiri di belakang sana, dan kembali menancap Jerry.

__ADS_1


"Daddy tidak akan melepaskan kamu, sayang. Kita bermain sampai pagi." Adam kembali menghentak, sementara kedua tangannya sibuk dengan kedua benda yang ada didepannya.


__ADS_2