Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Kendrick Keegan Matteo


__ADS_3

Hana sudah dipindahkan ke kamar rawat setelah selesai dijahit jalan lahirnya. Wanita itu sudah terpejam karena merasa kelelahan dengan kontraksi tadi.


Ia merasa bersyukur karena bisa melewati perjuangannya melahirkan anak pertama mereka, setelah tadi sempat menyerah karena tidak bisa menahannya tapi tapi Tuhan berkata lain, ia masih diberikan kekuatan untuk melahirkan anak mereka dengan selamat, tanpa kurang apa pun.


Sebelum tertidur Hana juga sempat menyusui anaknya , beruntung ASI Hana lancar dan anaknya bisa langsung menyusu pada ibunya. Proses bonding yang membuat Hana menitikkan air mata.


Dan kini Bayi lucu dan dan ganteng itu sekarang sedang berada di dalam gendongan Oma nya, meski tadi sempat dimasukan ke dalam ruang penghangat agar bisa segera beradaptasi dengan lingkungan baru, lalu bayi Hana kini diperbolehkan untuk di antar ke kamar rawat Hana.


"Kenapa ganteng banget sih cucu Oma, ya ampun mengemaskan sekali kamu." Mama Ani tidak berhenti mengecupi bayi itu. Sejak tadi wanita paruh baya itu terus menguasai bayi imut yang belum diberikan nama tersebut.


"Kalian buatnya gimana sih sampai seganteng ini, ya ampun." decak kagum terus Oma Ani layangkan untuk cucu pertama mereka.


Adam yang sedang duduk di tepi ranjang rumah sakit yang sedang Hana tiduri itu, menoleh bingung lalu menggelengkan kepalanya.


"Pertanyaan mami ada ada aja, yang pasti gantengnya turunan dari aku, mi." ucap Adam.


"Tapi sepertinya ini ada sedikit perpaduan antara kamu dan juga Hana. Jika dari mata turunan dari Hana, matanya begitu coklat sayang." kata Oma sambil tersenyum menatap sebentar kearah Adam.


Adam tersenyum menanggapi ucapan Mami nya.


"Oh iya, papi tidak ke sini? Sedari tadi Adam tidak melihat papi saat mami tiba." tanya Adam.


"Papi dalam perjalanan menuju ke sini, bentar lagi dia akan sampai. Sebenarnya tadi dia tidak mau ke sini mungkin masih merasa gengsi tapi mami terus maksa dan akhirnya papi kamu mau dan memilih menyusul dari belakang."


"Kenapa tidak bersama saja saat kemari?" tanya Adam dengan bingung.


"Papi kamu sedang ada urusan sebentar dengan kolega nya." sahut mami sambil mengecup pipi gembul bayi Adam, di gendongannya.


"Oh." sahut Adam.


"Sini, bayinya biar Adam yang gendong. Mami istirahat sebentar dulu. Dari tadi mami terus mengendongnya, Adam khawatir mami capek."


"Memangnya kamu sudah bisa mengendong bayi? Mami masih ragu karena ini pertama buat kamu, dam." terlihat jelas raut wajah khawatir mami Ani.


"Bisa mami, walaupun ini pertama buat Adam. Tapi Adam bisa menangani nya. Sini bayinya. Tadi Adam juga sudah diajarkan mengendong bayi oleh suster saat mereka membersihkan dia."


Mendengar itu mami Ani lantas menyerahkan bayi mengemaskan itu pada Adam. "Hati-hati, dam. pada Adam. "Duduk saja, Adam, tidak usah berdiri mami masih begitu khawatir."


"Astaga, iya mi. Kenapa mami begitu overprotektif lebih dari Adam sih." Adam menatap maminya sambil terkekeh.


Pasalnya maminya itu bahkan lebih terlihat khawatir dari dirinya.


"Harus dong sayang, ini adalah cucu pertama mami yang sudah mami impikan. Jadi sekali dapat harus hari hati menjaganya." ucap mami Ani.


"Iya, iya baiklah. Ya sudah mami istirahat saja."


"Tidak, mami akan keluar sebentar untuk mencari makan di sekitar rumah sakit. Sekalian saja mami menunggu papi kamu di depan." ucap mama Ani.


Adam mengangguk, membiarkan mami Ani pergi dari ruangan tersebut. Selepas kepergian Mami yang mencari restoran terdekat.


Adam mendekati ranjang, di samping Hana yang berbaring. Beberapa menit kemudian, wanita itu membuka matanya lalu mendapati sang suami sedang menggendong anak mereka di sebelahnya.


"Papi, panggil Hana lemah. Adam menoleh, lalu tersenyum. "Mommy sudah bangun? Mommy haus tidak?"


Hana menggeleng, lalu berusaha untuk duduk bersandar di ranjang. "Papi secepat itu bisa gendongnya."


"Papi belajar." jawab Adam dengan senyuman.


"Mommy gimana, udah enakan?" tanyanya pada Hana yang nyaris kelelahan saat di ruang bersaling tadi.


"Sudah lebih baik, hanya terasa sedikit nyeri."

__ADS_1


Lantas, Hana mengulurkan tangannya untuk meminta bayinya. "Sini Pi, mommy mau mengendong nya."


Adam berikan bayi itu dengan hati-hati. la kecup puncak kepala bayi mereka, bergantian dengan puncak kepala istrinya. Sementara wanita itu mengambil tangan Adam untuk ia kecup. Beberapa saat pandangan mereka bertemu.


"Mami di mana?"


"Mami sedang keluar sebentar, katanya beliau ingin makan. Jadi memilih mencari makan di resto terdekat."


"Oh. Hmm apa ... papi juga datang?" tanya Hana dengan hati hati.


Adam tersenyum lalu kembali mengecup kening Hana.


"Papi akan ke sini, dia dalam perjalanan ke rumah sakit."


"Syukurlah, semoga bayi kita bisa meluluhkan hatinya. Aku ingin kita bahagia tanpa ada rasa benci satu sama lain, Pi."


"Iya, sayang." ucap Adam.


***


Saat ini Papi Barack sedang duduk di atas sofa, tepat di sebelah Mami Ani yang sedang menggendong cucunya. Keduanya kembali setengah jam yang lalu.


Papi melirik cucu laki-lakinya itu sekilas masih terlihat gengsi, sesekali ia juga mengomeli Mami Ani kala mencium malaikat kecil tersebut karena Papi Barack takut bayi laki-laki yang tampan itu akan terkena bakteri.


"Mi, jangan terlalu mencium nya, mami baru saja dari luar, nanti bakterinya bisa berpindah ke bayinya." ujarnya memperingati.


Bohong jika papi Barack tidak senang dengan kelahiran cucunya, tentu saja ia begitu bahagia mendengar dan melihat langsung cucu mengemaskan itu di hadapannya. Ada rasa bersalah saat mengingat perlakuannya pada ibu dari bayi itu. Jika ia bisa mengulur waktu ia akan memilih untuk tidak melakukan hal itu.


"Tidak Pi, papi mau mengendong nya?"


Papi menoleh pada Mama Ani yang bertanya dengan nada meledek padanya. Mami tahu suaminya itu sejak tadi terus memperhatikan cucu mereka, ingin menyapa tapi gengsi.


"Tidak, tangan Papa masih kotor karena dari luar." tolak Papi beralasan.


Adam menoleh, menaikan sedikit alisnya seolah bertanya pada Mami Ani untuk apa memanggilnya.


"Ambilkan tisu basah untuk papi di atas meja itu, tadi mami sempat beli di luar. Berikan pada Papi mu."


Adam menurut, meski dengan pikiran yang bertanya-tanya. Untuk apa Mami meminta tisu basah untuk Papi.


Setelah mengambilkan tisu basah itu dari dalam atas meja rumah sakit, Adam pun mendekat, duduk di sebelah Mami seraya menyerahkan tisu basah itu pada Papi


Papi menerimanya dengan dengkusan pelan. Niatnya ingin menolak, nyatanya istrinya tersebut lebih pintar lagi menggagalkan niatnya.


"Papi kan sudah bilang, kalau papi masih kotor dan tidak bisa melakukannya." ujar Papi Barack sedikit menggerutu.


Tapi, meski begitu, ia tetap membersihkan tangannya menggunakan tisu basah.


"Tapi sepertinya papi tidak kotor, itu alasan papi saja, bukan!"


Mami Ani tetap memaksa, mencari celah agar Papi mau menggendong bayi itu. Hana dan Adam sontak hanya terdiam seraya memperhatikan Papi yang terlihat kesal karena dipaksa Maminya.


Sebenarnya Papi ingin menggendong cucu barunya tapi gengsi lelaki tua itu besar sekali, jadi Mami Ani harus memaksanya terlebih dahulu. Menyodorkan malaikat kecil itu pada Papi, Mami lantas tersenyum begitu Papi menerima bayinya dengan tangan yang cukup kaku. Tapi sebisa mungkin tidak ingin bayinya terganggu.


Papi memperbaiki kepala bayi Adam di kepalanya, ternyata Papa sudah cekatan, meski masih sedikit kaku. Mami Ani pun langsung mencibir. "Bisa kan, papi memang bisa hanya saja papi terlalu malu untuk mengakui nya."


Lantas dibalas dengan lirikan tajam oleh papi Barack.


"Ganteng kan, Pa, cucunya." tanya mami Ani tersenyum senang.


"Iya." Papi menjawab. "Siapa namanya,"

__ADS_1


"Namanya Ken Pi, Kendrick Keegan Matteo." jawabnya sambil tersenyum.


"Kendrick, hidungnya mirip papi ya, Mi." ujar Papi dengan pedenya. Dengan gemas, menoel hidung Kendrick yang mancung.


Senyumnya melebar membuat kulit keriputnya ikut tertarik.


"Iya, udah turunan. Mulai dari Papi, Adam dan sekarang Kendrick." Mami mendekat, meletakan kepala di pundak suaminya.


"Ganteng sekali ya, pi? Besar nanti ia pasti dikejar banyak wanita."


"Saat besar nanti, Kendrick bebas mau melakukan apa saja. Asal itu hal hal yang baik." Papi menyahuti, yang sontak membuat Mami mendengkus pelan.


"lya dong Pi, tidak boleh diatur-atur, kasihan cucu kita."


Karena itu yang Papi Barack lakukan pada Adam dan beliau menyadari kesalahannya.


"Tetapi harus bisa diarahkan, agar nantinya dia tidak salah tujuan." Mami menoleh ke arah Adam lalu tersenyum lebar.


Adam tersenyum lalu mengangguk. Lantas ia pun mendekati Mami dan ikut bersandar di pundak sang ibu. Mereka semua menatap ke satu arah Kendrick yang ada di dalam gendongan Papi.


"Kalau bibir sepertinya mirip mami." ujar Mami yang tak mau kalah. "Iya kan Dam?"


"Tapi gantengnya nurunin Adam loh, Mi."


"Itu dari Papi." sambar Papi Barack yang ikutan tidak terima.


Adam mencebik. "Gimana nurunin Papi, jelas jelas itu mirip Adam, turunin dari aku Pi."


"Eits tunggu dulu! sebelum kamu, siapa yang mewariskan kegantengan itu? Sudah jelas papi bukan? Papi yang mewariskan kegantengan itu dan turun ke kamu baru setelah itu Kendrick. Jadi sudah pasti itu dari papi." ucap pria tua itu yang tidak mau mengalah sama sekali.


"Sudah, yang jelas bibirnya mirip Mami."


"Iya, dan papi harap dia tidak seperti mami yang suka cerewet." sambung Papi yang kemudian disetujui oleh Adam.


Mereka lalu tertawa bahagia. Saling berebut siapa yang paling mirip dengan Mereka. Mereka seolah melupakan ketegangan yang terjadi di antara mereka.


Karena Kendrick semuanya berubah. Melihat pemandangan itu, membuat Hana tersenyum di tempatnya. Hatinya begitu merasa bahagia dan lega sekaligus, melihat ayah mertuanya menerima Kendrick dengan begitu bahagia. Rasanya kebahagiaan yang ia rasakan sudah cukup, melihat mereka menerima bayinya saja sudah membuatnya begitu bahagia.


Yang ia inginkan adalah, anaknya diterima baik oleh keluarga suaminya. Itu saja, dan ia sudah mendapatkan hal itu. Ia tidak menginginkan hal lain lagi. Selain kebahagiaan keluarganya.


Tanpa sadar air mata Hana menetes di sudut matanya, yang segera ia hapus. Tapi Adam sudah lebih dulu menyadari nya. la beranjak dari sofa, mendekati sang istri yang merasa sangat terharu.


"Kamu bahagia, sayang?" Adam mengelus kepala Hana, lalu mengecupnya sekilas.


Wanita itu mengangguk, memamerkan senyum bahagianya. "Hana begitu bahagia Pi. Hana senang Papi bisa menerima Kendrick."


"Kendrick cucu pertamanya, bagaimana pun Papi tidak mungkin bisa menolak darah dagingnya sendiri."


"Ya ... aku harap kehadiran anak kita bisa merubah sikap Papi sama kita sayang." sambil tersenyum haru.


"Pasti." Adam kembali mendekatkan dirinya pada Hana mengecupi kening wanita itu berulang-ulang.


Adam berharap kebahagiaan ini selalu bertahan selamanya dalam keluarga mereka.


Berharap kebahagiaan ini akan bertahan selamanya. Bukan hanya Hana, Adam pun merasa begitu bahagia melihat Papi nya bisa menerima Kendrick, bahkan beliau merebut kan kemiripan Kendrick dengan nya.


***


Kendrick\= mempunyai arti seorang pemimpin.


Keegan\= mempunyai arti seorang disipilin dan rupawan.

__ADS_1


Ia akan tumbuh menjadi seorang pemimpin yang disiplin dan rupawan.


__ADS_2