
Mobil Adam sudah memasuki halaman rumah setelah Dimas membukakan gerbang untuk mereka. Adam Kemudian turun lalu berlari pelan kearah pintu Hana, membukakan pintu tersebut untuk sang istri.
"Hati hati!" Adam menuntun Hana Keluar dari dalam mobil dengan satu tangannya mencegah kepala Hana takut jika kepalanya terjedot atasan mobil.
"Dad, Hana ngga akan kenapa napa." sahut Hana terkekeh geli melihat sikap suaminya yang semakin protektif.
"Ck .... hak hal kecil seperti ini juga harus diperhatikan, aku tidak mau membayangkan kamu dan juga anak kita." sahut Adam sambil menutup pintu mobil lalu meraih tangan Hana untuk digenggam.
Hana tersenyum, walaupun sikap Adam terlihat berlebihan Hana tahu jika pria itu ingin yang terbaik untuk dirinya juga calon anak mereka.
"Terimakasih Papi, papi memang ayah yang sangat perhatian." puji Hana mencubit pelan pipi Adam dengan gemas.
"Yah aku memang ayah yang perhatian juga ayah yang sangat beruntung karena memiliki istri seperti kamu." sahut Adam tersenyum menatap Hana.
Mereka masih berdiri dengan saling melontarkan gombalan satu sama lain. Terlihat begitu romantis, bahkan sedari tadi Dimas menyaksikan adegan romantis atasannya. Memang nasib jomblo ya seperti ini.
"Ekhem .... Mobilnya mau langsung di parkir ke dalam garasi atau di sini aja Tuan?" tanya Dimas menyadarkan kedua manusia yang sedang bahagia itu.
Lantas Adam mengarahkan pandangannya kearah Dimas dengan tatapan tajam yang sedang berdiri dengan jarak beberapa langkah saja. Dimas melirik takut takut kearah Adam karena merasa bertanya diwaktu yang tidak tepat.
"Kenapa harus bertanya? Jika saya sudah turun seperti ini berarti tugas kamu selanjutnya apa!?" ucap Adam dengan nada bentak. Ia melirik kesal kearah Dimas karena sudah mengangu moments romantis mereka.
"Ma-maaaf Tuan saya salah. Baik saya akan laksanakan." jawab Dimas cepat lalu masuk kedalam mobil Adam untuk memarkirkan mobil Tuan nya di garasi.
Sementara Hana mencoba menenangkan Adam dari rasa kesalnya. "Sudah sudah, Daddy tidak boleh seperti ini. Jangan terlalu gampang marah, ayo kita masuk." ucap Hana lalu mengandeng tangan Adam masuk kedalam rumah.
"Bagaimana tidak marah dia sedang mengangu kesenangan kita sayang," ucap Adam melirik kearah istrinya disela langkah mereka.
"Itu hanya masalah kecil kenapa Daddy begitu kesal, kita juga bisa melanjutkan itu di dalam kamar kan?" sahut Hana dengan terus melangkah.
"Tapi tetap saja itu membuat Daddy merasa kesal." Adam tidak tahu kenapa ia merasa begitu kesal, padahal ia tahu itu hanya masalah kecil tapi perasaannya merasa tidak puas jika tidak mengomeli bawahan nya.
"Udah dong marahnya .... Daddy sudah akan menjadi ayah jadi Daddy harus bisa mengontrol emosi Daddy mulai sekarang." sahut Hana mengusap lengan Adam.
__ADS_1
Adam dan Hana terus berjalan hingga sampai didepan tangga dan baru saja satu kaki Hana ingin menyentuh anak tangga pertama, Adam sudah lebih dulu menghentikan pergerakan istrinya.
"Jangan! biar Daddy yang mengendong mommy." cegah adam lalu mengendong tubuh Hana dengan posisi berhadapan.
Sontak Hana tersenyum senang lalu dengan sigap mengalungkan lengannya di leher Adam dengan kakinya melingkar erat di-pinggang suaminya tersebut.
Hana sangat menyukai perhatian kecil seperti ini dari Adam, rasanya ia begitu dimanjakan oleh sikap Adam. Ia terus merasa beruntung memiliki suami matangnya.
"Kenapa senyum senyum, Hmm?" Adam bertanya saat menyadari Hana yang sedari tadi tersenyum senang.
"Hana bahagia karena Daddy makin perhatian sama Hana." ucapnya sambil sesekali mengelus rahang Adam.
"Memangnya selama ini Daddy kurang perhatian?" tanya Adam dengan langkah kaki yang terus menaiki anak tangga.
"Daddy selalu perhatian sama Hana, tapi hari ini perhatian Daddy semakin tinggi sama Hana." sahut Hana kemudian menghadiahkan kecupan singkat pada bibir Adam.
Adam sedikit tersentak ketika Hana memberikan kecupan di-bibirnya. "Dasar nakal." ucap Adam tersenyum lalu mencubit gemas pipi Hana.
"Aow Daddy sakit ..." keluh Hana dengan bibir monyong ke-depan.
"Masa hukumannya kayak gitu, kenapa ngga dirancang aja hukumannya." tantang Hana.
Adam membulatkan matanya terkejut. "Jadi kamu mau hukuman seperti itu?" tanya Adam dengan wajah menyeringai.
"Maybe, hahahah." sahut Hana asal sambil tertawa.
"Nakal ya kamu. Baiklah jadi kamu ingin hukuman seperti itu maka Daddy akan mengabulkan permintaan kamu." ucap Adam lalu membuka pintu kamar mereka dengan satu kakinya.
"Baiklah, Hana tunggu hukumannya." sahut Hana mengigit bibirnya nakal.
Adam semakin dibuat gemas oleh tingkah istrinya. Ia lalu menutup pintu kamar mereka setelah itu Adam langsung berjalan kearah ranjang, membaringkan tubuh Hana dengan pelan.
Ia duduk disisi ranjang tepat di-samping Hana kemudian mengelus lembut seluruh wajah Hana. Hana tersenyum dengan mata terpejam menikmati usapan lembut tangan Adam.
__ADS_1
"Kamu yakin ingin menerima hukum ini?" tanya Adam meyakinkan kembali.
"Iya ...." sahut Hana dengan senyum malu. Hana tidak tahu kenapa ia merasa ingin melakukan kuda kudaan dengan suaminya lagi. Mungkin saja pengaruh hormon hingga membuatnya seperti ini, bahkan melihat bibir suaminya saja sudah membuatnya bergairah.
Adam tersenyum. "Daddy akan melakukannya pelan pelan." ucap Adam lembut. Ia bahkan dengan senang hati menyetujui itu.
Tanpa pikir panjang Adam kemudian berdiri melepaskan semua pakaiannya, pria matang itu membuang asal seluruh pakaiannya yang sudah berserakan di lantai kamar mereka. Dan ia kemudian melepaskan satu lapisan terakhir yang menutupi pedang panjangnya.
Blush ....
Pipi Hana langsung merah merona karena malu melihat benda panjang dan berurat milik suaminya. Malu malu tapi ingin itulah Hana.
Adam Kemudian mendekati Hana, lalu membuka seluruh pakaian Hana dengan tidak sabaran. Gairahnya sudah terpancing sedari tadi, Jerry nya seakan ingin di asah.
Dan kini keduanya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Adam mengelus perut Hana dengan sayang lalu perlahan menurunkan wajahnya diperut Hana. Kemudian melabuhkan kecupan ditempat itu.
"Baik baik ya di sana, papi dan mommy sudah tidak sabar menunggu kehadiran kamu." bisik Adam didepan perut Hana.
Mendengar itu Hana tersenyum haru, tangannya mengelus kepala Adam yang masih beta didepan perutnya, membisikkan kata kata penuh haru di-sana untuk anaknya.
"Dia akan selalu baik dan sehat karena ingin menemui kita." sahut Hana menatap kebawah.
Adam mendongakkan kepalanya sebentar menatap Hana sambil tersenyum. "Ya itu pasti." lalu melabuhkan lagi satu kecupan diperut Hana.
Setelah merasa puas Adam Kemudian mengangkat kepalanya, berbaring menyamping menghadap istrinya sambil tersenyum.
"I love you." Adam mengelus lembut pipi Hana.
"I love you more." sahut Hana membalas senyuman Adam.
Detik selanjutnya kedua bibir mereka sudah menyatu, saling menyalurkan rasa cinta mereka dibalik ciuman lembut itu.
Terdengar suara decapan kedua bibir mereka di ruangan itu. Perlahan satu tangan Adam turun kebawah tepat disatu gundukan kembar milik Hana.
__ADS_1
Dan pertempuran itu kembali terjadi dikamar mereka. Saling memberikan kenikmatan tiada Tara. Pertempuran kali ini Adam melakukannya dengan tempo pelan, takut menyakiti calon anak mereka didalam sana.