
Hana mengerjapkan kelopak matanya, hari masih tampak gelap, pun dengan kamarnya yang minim pencahayaan, karena dia hanya memakai lampu tidur sebagai penerangan. Wanita itu mencoba mengumpulkan nyawanya.
Ia membuka matanya perlahan dengan satu tangannya mencoba meraih jam mini di atas nakas yang berada di samping tempat tidur itu. Tertera waktu yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Hana terbangun karena merasakan sensasi aneh yang menyapa kulitnya. Seperti terpaan hangat menyentuh kulitnya. Ia merasakan seperti ada yang bergerak gerak dibawah sana.
Hana mendongakkan kepalanya kebawah, tepat berada didepan melonnya, nampaknya mulut adam masih bergerak gerak di satu buah itu layaknya bayi yang menyusu pada ibunya. Adam dengan mata yang masih terpejam.
Pria itu sepertinya masih terlelap dari tidurnya, tetapi mulutnya tidak berhenti menyusu di bawah sana.
"Astaga daddy selalu saja seperti ini." desisnya sambil menggelengkan kepalanya, saat melihat kelakuan Daddy-nya.
Hana lalu mencoba meraih kepala Adam guna memindahkan kepala pria itu dari dadanya. Saat akan mendorong kepala Daddy-nya, adam malah lebih menekankan kepalanya ditempat itu dengan mulut yang semakin kuat menyedot di-sana.
Hal itu lantas membuat Hana berdesis nyeri karena hisapan yang diberikan Adam sangat kuat.
"Daddy, bangun! Pindahkan kepala Daddy dari situ." Hana mencoba membangunkan Adam dari tidurnya sekaligus mengehentikan aktivitas Adam ditempat itu.
"Hmmpt ..." Adam melenguh pelan lalu melepaskan mulutnya dari buah itu.
"Ada apa sih baby? Ini masih gelap, tidurlah lagi!" ucap Adam saat membuka sedikit matanya melihat Hana.
Ia lalu memejamkan lagi matanya dan membalikkan badannya membelakangi Hana. Hana menggelengkan kepalanya sebentar, lalu bangun dari tidurnya.
Hana masih dengan posisi duduk di atas tempat tidur, membenarkan tali baju tidurnya yang dibuka oleh Adam semalam.
Ia menatap sebentar punggung Adam yang memperlihatkan tato sayap berwarna hitam dengan tulisan Hana terukir jelas dipunggung itu, ia mengukirkan senyum lalu menurunkan kepalanya di punggung Adam dan memberikan satu kecupan di-sana. Karena Adam tidak memakai baju membuat tato itu terpampang jelas disana.
Adam memang tidur tidak memakai baju dan hanya menggunakan boxer. Ia tidak terbiasa menggunakan atasan jika menjelang tidurnya.
Hana lalu beranjak turun dari tempat tidur, melangkah masuk kedalam kamar mandi. Sementara Adam terlelap lagi dalam tidurnya sambil memeluk guling.
Didalam kamar mandi Hana menatap tubuhnya di depan cermin kamar mandi itu. Menatap bagian tubuhnya yang banyak sekali jejak-jejak berwarna merah keunguan di tubuhnya. Terutama di bagian melonya.
Adam memang suka sekali meninggalkan bekas disana. Ia lalu bergegas membersihkan tubuhnya.
Satu jam kemudian, Hana sudah terlihat segar dengan riasan tipisnya. Ia hanya memakai bedak dan juga lipblos di bibirnya.
Hana memang sudah selesai mandi lima belas menit yang lalu. Saat keluar dari kamar mandi tadi, Adam belum juga terbangun dari tidurnya.
Hana memutuskan turun kebawah untuk mengambilkan menu sarapan untuk Daddy-nya. Ia menuruni tangga dengan wajah yang tampak terlihat begitu senang.
__ADS_1
Hana memasuki dapur, tampak bi Surti dan juga beberapa pembantu lainnya sedang sibuk menyiapkan hidangan sarapan pagi di atas meja.
BI Surti mengarahkan pandangannya kearah Hana yang baru saja masuk.
"Non, nona kenapa sini?" tanya bi Surti dengan wajah yang sudah terlihat khawatir. Ia takut jika Adam melihat Hana berada di dapur, akan membuat Adam melampiaskan kemarahannya kepada mereka.
"Hana mau siapkan sarapan oatmeal untuk Daddy." sahut Hana sambil tersenyum.
"Tapi Non_" ucapan bi Surti dipotong oleh Hana dengan cepat.
"Udah, bibi tenang aja! Hana yang akan ngomong ke daddy. Kalau Hana yang berinisiatif sendiri untuk membuatkan sarapan untuk Daddy." Hana menjelaskan pada bi Surti karena paham dengan raut wajah Hana yang terlihat khawatir.
Adam memang tidak mengijinkannya untuk melakukan aktivitas apapun di dapur. Yang hanya boleh ia lakukan adalah duduk manis dan belajar yang giat untuk kuliahnya, eits ada satu tugas lagi yang tertinggal dan tak kalah pentingnya. Adam memang sangat memanjakan anaknya dengan segala kemewahannya.
Hana meraih satu mangkuk putih dan mulai membuat oatmeal untuk Adam, tak lupa juga segelas susu yang selalu ada di menu sarapannya.
Para pembantu hanya bisa memandangi Hana melakukan semua itu. Mereka menahan senyum mereka melihat Nona mudah mereka yang terlihat sangat ramah pada mereka karena disela sela aktivitas nya membuat sarapan, Hana sesekali mengajak mereka berbicara.
Sementara didalam kamar Hana. Adam baru saja mengerjapkan matanya sedikit, dengan satu tangannya meraba-raba kasur disisi sampingnya berbaring.
Merasa tidak ada orang yang dicarinya, membuat pria 39 tahun itu membuka matanya dengan sempurna.
"Dimana dia?" Adam mengerutkan keningnya mengarahkan pandangannya ke seluruh bagian Kamar itu.
Adam lalu bangkit dari posisi berbaring dan mendudukkan sebentar tubuhnya di sana. Merenggangkan otot otot tubuhnya sebentar.
Saat Adam akan beranjak turun dari tempat tidur, pergerakannya terhenti saat Hana membuka pintu kamar itu.
Adam menatap Hana yang berjalan kearahnya dengan membawa nampan ditangannya. Adam melotot kan matanya.
"Apa kamu ke dapur?" tanya Adam saat Hana sedang menaruh nampan itu di atas meja.
"Iyah Daddy, jangan marah ya sama bi Surti dan lainnya. Ini memang kemauan Hana yang ingin membuatkan sarapan untuk Daddy." Hana menatap Daddy-nya dengan tersenyum.
"Ha ... kamu memang selalu saja buat Daddy luluh dengan ucapan kamu." Adam menghembuskan nafasnya kesal. Dia memang akan luluh jika Hana membujuk nya seperti itu.
"Hahaha, itu bagus dong buat Hana." Hana tertawa melihat Adam dengan wajah seperti itu.
"Ya udah, Daddy harus sarapan dulu!." Hana mengambil mangkuk yang berisi oatmeal itu. Lalu menyuapkan satu sendok pertama kedalam mulut Adam.
Adam menerimanya dengan senang hati. Ia memakan lahap, sarapan yang dibuatkan Hana di-atas tempat tidur itu.
__ADS_1
"Daddy akan berangkat jam berapa ke kantor, hari ini?" tanya Hana merapikan dasi Adam dengan begitu telatennya.
Adam memandangi pahatan yang begitu sempurna di depannya itu. Mata yang bersih dan berwarna coklat pekat, hidung mancung, kening tebal dan bibir yang seksi tercetak di wajah wanita itu.
Ah membuat Adam tidak bisa lagi berpaling dari wanita yang ada didepannya ini. Rasanya ia sudah begitu sejatuh jatuh nya dengan Hana.
Ia tidak rela Hana bersama dengan orang lain nantinya. Ia pastikan Hana bukan saja menjadi anaknya tetapi menjadi pendampingnya kelak dihari tua dengan ikatan pernikahan.
Tapi ia masih belum juga memberitahukan hubungan mereka kepada orang tuanya maupun orang orang terdekat lainnya. Yang orang lain tahu diluar sana adalah Adam mempunyai satu anak angkat yang ia adopsi.
"Daddy, akan berangkat jam delapan tepat." jawab Adam sambil memberikan kecupan di-pipi dan dahi Hana.
"Oke, udah rapi dasi Daddy." Hana tersenyum puas menatap penampilan Adam yang sudah rapi.
"Kamu tidak ke kampus, hari ini?" Adam menatap bingung Hana yang masih belum juga bersiap siap.
"Aku hari ini nggak ada jadwal kuliah, Hana boleh ijin ngga?" Hana mencoba meminta ijin kepada Adam dengan mimik wajah yang dibuat seimut mungkin.
Tapi yang Adam lihat malah terlihat seksi. Karena pada dasarnya wajah Hana mempunyai pahatan seksi.
"Jadi kamu membuatkan Daddy sarapan, karena ada maunya?" Adam menatap Hana dengan wajah menyelidik.
"Nggak, aku memang berniat buatin Daddy sarapan kok. Dan ini memang aku baru aja, terpikirkan untuk minta ijin sama Daddy." ucap Hana cepat.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Adam lalu meraih tubuh Hana, menggendongnya seperti koala.
Hana langsung reflek melingkarkan tangannya di leher Adam.
"Hmm ... aku mau temanin Tika buat beli peralatan kuliahnya." ucap Hana tepat di wajah Adam.
"Tika? Tika yang pernah kamu bawah ke sini?" tanya Adam memastikan.
"Iyah, Daddy ..." sahut Hana tersenyum.
Tika memang sudah beberapa kali ke rumah Adam karena mereka mengerjakan tugas kuliah mereka di rumah itu.
"Baiklah, tapi ingat! Pulang sebelum Daddy sampai ke rumah. Dan tidak boleh sore pulangnya!." Adam memeringati Hana.
"Ye ... Makasih Daddy, Hana akan pulang sesuai waktu yang Daddy tetapkan." ucap Hana begitu senang lalu menciumi pipi Adam sebentar.
Umaach.
__ADS_1
Adam membalas ciuman Hana dibibir, sebelum meninggalkan Hana untuk pergi.
Beberapa menit kemudian Hana mengantar Adam ke depan rumah besar itu.