Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Di undang makan malam


__ADS_3

Malam harinya.


Di rumah Adam tampak para pembantu sedang menyiapkan makan malam dengan bermacam macam menu tersaji di-atas meja makan berukuran panjang itu. Buah buahan juga melengkapi menu makan malam mereka.


Tak lupa bi Surti juga memasakkan Kaldu dan sup yang berbahan dasar bening, kentang, yogurt dan sereal multigrain. Hal itu atas perintah Adam karena saat berkonsultasi tadi, dokter menyarankan makanan tersebut sembab dipercaya dapat lebih mudah dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mual bagi ibu hamil.


Saat para pekerja yang sedang sibuk di dapur, berbeda dengan kedua pasangan yang sedang bermanja-manja di-atas ranjang mereka. Adam tengah mengusap usap perut Hana dengan gerakan memutar.


Setelah satu jam tadi mereka selesai membersihkan tubuh mereka di dalam kamar mandi, keduanya memutuskan untuk berbaring ditempat tidur sembari menunggu menu makan malam disajikan.


Adam tengah berbaring menyamping menghadap Hana sementara istrinya berbaring terlentang di-samping suaminya sambil menikmati usapan lembut dari Adam.


"Papi!" panggil Hana membuyarkan Adam dari kegiatannya.


Adam mengarahkan pandangannya menatap Hana, "Hmmm, ada apa?"


"Apa papi sudah memberitahukan kehamilan Hana sama Oma?" tanyanya dengan menatap suaminya, menunggu jawaban dari pria itu.


"Belum .... papi akan mengatakan saat kita berkunjung kesana, mungkin lusa karena Oma mengundang kita makan malam bersama."


"Oma mengundang kita? Kapan, kenapa papi baru mengatakan itu pada Hana?" Hana langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Posisinya bahkan sudah berbaring menyamping menghadap suaminya.


"Kemarin saat papi lagi di ruang kerja, tadinya papi ingin langsung mengatakan itu sama mommy tapi papi jadi lupa." sahut Adam dengan santai sambil terkekeh kecil.


"Ish papi, kenapa bisa lupa sih. Memangnya kakek tidak marah?" Tanya Hana sambil satu tangannya mengelus bulu bulu halus yang tumbuh di rahang tegas Adam, sambil terus menatap suaminya.


"Papi juga tidak tahu apakah kakek masih marah atau tidak karena pria itu tidak lagi berkomunikasi dengan papi. Mungkin hanya Oma saja yang selalu menanyakan kabar papi dan juga mommy." jawab Adam sambil menggenggam tangan Hana yang masih berada di-atas rahangnya.


"Hana jadi sedih karena kakek belum menerima semua ini, hah .... Hana akan terus dihantui rasa bersalah pi." ucapnya dengan wajah yang sudah tampak sendu." tangannya seketika terhenti mengelus rahang Adam.


"Jangan mulai lagi! kenapa harus menyalakan diri kamu dengan masalah ini. Ini sudah takdir kita, papi yakin seiring berjalannya waktu kakek akan menerima kenyataan ini.


"Tapi, pi ha–" ucapannya terjeda saat jari telunjuk Adam menempel di bibirnya.


"Sut .... papi tidak ingin mendengarkan apapun lagi menyangkut masalah kita yang sudah berlalu. Papi tidak ingin kamu banyak beban pikiran, papi tidak ingin kamu stres dan berakibat pada kandungan kamu." ucapnya tegas tak mau dibantah.


Hana pun tak ingin mengatakan apapun lagi, jika suaminya sudah mengeluarkan ultimatumnya. Ia tidak ingin membuat macan ganasnya kembali mengamuk.


"Iya Pi." ucapnya sambil bergeser merapatkan tubuh mereka dan masuk kedalam pelukan Adam. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Adam yang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus di-sana.


Karena Adam yang berbaring tanpa menggunakan atasannya membuat tubuh bagian atasnya terpampang jelas.

__ADS_1


Adam mengulum senyum kecil melihat Hana yang langsung menurut, ia menciumi Kepala Hana dengan sayang sembari tangannya mengelus punggung wanita hamil itu dengan lembut.


"Oh iya Pi, apa Oma sedang acara? Kenapa Oma tiba tiba mengundang kita untuk makan malam?" tanya Hana dalam pelukan Adam.


"Lusa ulang tahun Oma dan Oma mengadakan makan malam khusus orang terdekatnya dan juga keluarga menghadiri makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun Oma." ucap Adam dengan dagunya ia letakkan di atas kepala istrinya.


"Astaga Hana sampai lupa, jadi lusa sudah tanggal 25 itu artinya ulang tahun Oma yang selalu dirayakan tiap tahun kan Pi. Nanti kalau kita ke sana, Hana mau kasih hadiah apa ya Pi, buat Oma?" ucapnya sambil memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan kepada ibu dari suaminya tersebut.


Adam terkekeh pelan mendengar antusias Hana dengan ulang tahun ibunya. "Kamu tidak perlu memikirkan hadiah apa yang Ingin dibawah nanti saat ulang tahun Oma, karena ada hadiah yang lebih berharga untuk Oma. Oma akan sangat bahagia mendapatkan hadiah itu dari kamu." ucap Adam tersenyum lalu meraih wajah Hana, memberikan satu kecupan dibibir Hana dengan lembut.


Cup ...


Sementara Hana memasang wajah bingungnya karena masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan suaminya tadi. "Maksud papi hadiah berharga dari Hana? Memangnya hadiah apa? Seingat Hana, Hana belum membeli hadiah apapun untuk Oma, Pi." ucapnya dengan polosnya.


Adam terkekeh rupanya istri mudanya itu belum mengerti dengan maksud yang ia katakan. "Kamu memang tidak membelinya, tapi kamu setiap hari membuatnya dengan papi." ucap Adam tersenyum nakal menatap Hana.


"Hadiah apa sih Pi, kenapa papi jadi main teka teki kaya gini." Hana masih juga belum paham dengan maksud suaminya.


Suaminya tersenyum lalu tangannya terulur kebawah tepat diatas perut Hana, mengelus penuh sayang di-sana. "Dia, dia hadiah yang paling berharga untuk Oma dengarkan. Malaikat kecil kita akan menjadi hadiah yang sangat berharga untuk Oma." ucap Adam pelan.


Deg ...


"Papi ..." Hana sudah meneteskan air matanya. Bukan air mata sedih melainkan rasa haru yang ia dapatkan.


Adam langsung merengkuh tubuh Hana masuk kedalam pelukannya. Memeluk tubuh wanita pujaannya dengan erat. "Ya, dia adalah hadiah yang sudah lama Oma tunggu tunggu. Oma pasti sangat bahagia mendengar kabar ini." ucap Adam mengecup berulang ulang puncak kepala Hana.


"Hana tidak menyangka jika ini akan menjadi hadiah berharga bagi Oma." jawab Hana sambil membalas pelukan Adam tak kala erat.


"Ya karena ini cucu pertamanya bukan? Dia pasti sangat bahagia." Adam tersenyum lebar sambil mengusap punggung Hana.


...****************...


Di rumah Barack. Pria paruh baya itu tengah bersantai di taman belakang rumah mereka, duduk sambil memangku satu kakinya sembari menatap bintang yang menghiasi langit malam.


Oma Ani tampak menghampiri suaminya dengan secangkir kopi ditangannya. Mendengar langkah kaki dari arah belakang membuat pria tua itu mengarahkan pandangannya keasal suara tersebut.


Ia tersenyum kecil melihat kedatangan istrinya. Ani membalas senyuman itu kemudian meletakkan segelas kopi itu di-atas meja, tepat didepan suaminya.


"Diminum kopinya papi. Papi lagi lihatin apa? Dari mami masuk tadi, mami lihatin papi seperti memikirkan sesuatu." ucapnya sedikit menebak.


"Tidak, papi hanya sedang menikmati langit malam," sahut Barack tersenyum lalu meraih gelas kopi, meneguknya sedikit.

__ADS_1


"Oh mami pikir papi sedang apa." ucap Ani lalu beralih duduk di samping suaminya.


"Tidak. Bagaimana dengan teman teman mami? Apa mereka juga diundang saat makan malam, di ulang tahun mami?" tanyanya sambil meletakkan cangkir kopinya.


"Mungkin hanya beberapa orang saja yang mami undang, jangan terlalu ramai mami tidak suka. Memangnya mami anak mudah harus merayakan dengan banyak tamu? Mami hanya ingin keluarga dan kerabat dekat kita untuk datang." ucapnya melihat kearah Barack.


Barack mengangguk menganggukkan kepalanya mengerti. "Terserah mami saja yang penting mami merasa senang dan bahagia di ulang tahun mami." ucap Barack tersenyum kecil.


Kedua pasangan itu sudah terlihat akur lagi setelah perdebatan mereka beberapa bulan yang lalu. Awalnya Ani ingin terus mendiami suaminya tapi melihat suaminya yang lebih dulu meminta maaf dan membujuknya membuat wanita tua yang masih terlihat cantik diusia tua itu mau memaafkan Barack.


Barack memang mempunyai sifat pemarah dan emosian tetapi jika saat bertengkar dan istrinya sudah berada pada mode silent seperti beberapa bulan yang lalu, membuat pria tua itu tidak bisa tenang dan terus kepikiran dengan istrinya. Hal itulah yang membuatnya meminta maaf dan membujuk istrinya lebih dulu karena ia tidak bisa tahan jika terus di-diamkan.


"Mami juga mengundang dua tamu spesial loh Pi." ucap Oma Ani menatap penuh binar suaminya.


Barack mengerutkan keningnya. "Tamu spesial? Siapa? Memangnya mami punya pria spesial selain papi? Awas saja jika mami berani mengundang pria itu." ucap Barack dengan wajah yang sudah terlihat menahan kesalnya.


"Bukan Pi, astaga. Mana ada mami melakukan itu, mami juga ingat umur kali Pi." ucapnya terkekeh geli karena suaminya masih suka cemburu di usia mereka yang tak lagi muda.


"Terus siapa yang mami maksud?"


"Adam .... Adam dan Ani akan datang di ulang tahun mami." ucapnya dengan wajah bahagia.


Pasalnya wanita itu sudah merindukan putranya yang tak lagi berkunjung di rumah mereka, setelah ayah Nanda membatalkan pertunangan anak anak mereka. Ia hanya bisa mendengar suara Adam dibalik hp untuk melepaskan rasa rindunya.


"Apa! Kenapa mami mengundang mereka! apa tidak ada tamu lain selain mereka berdua?" marah Barack pada istrinya, ia begitu kaget mendengar Ani mengundang putra dan juga istrinya yang jelas jelas masih belum ia maafkan.


Ya mungkin bagi Barack, masih belum menerima keduanya tapi bagi Hana dan Adam mereka sudah melupakan kejadian itu dan memaafkan pria tua tersebut.


"Papi .... Adam anak kita Pi dan Hana juga sudah bagian terpenting dalam keluarga kita karena dia menantu kita. Apa salahnya sih Pi menerima mereka, apa papi akan terus berharap punya menantu seperti Nanda? Sadar pi ayahnya sudah membatalkan pertunangan mereka dan beliau juga sudah memaafkan kesalahan putra kita. Dan hanya papi saja yang sulit berdamai dengan anak papi sendiri." ucap Ani menghela nafasnya berat.


"Papi tidak semudah itu memaafkan mereka, papi masih kecewa." ucapnya memalingkan wajahnya ke-sisi lain.


"Hah .... mau sampai kapan papi akan terus berada pada masalah yang sudah berlalu, papi memang sangat menginginkan menantu seperti Nanda rupanya, kalau begitu kenapa tidak papi saja yang menikah dengan Nanda, biar papi bisa dapat dua sekaligus." ucap mami Ani kesal lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan suaminya.


Sementara Barack membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan istrinya. "Astaga mami! Ngomong apa sih kamu." teriak pria tua itu lalu dengan cepat menyusul istrinya yang sudah dipastikan akan mendiami dirinya lagi.


Ia melangkah sambil menghembuskan nafasnya kasar, bukannya dia yang harus marah? kenapa berbalik malah istrinya yang marah padanya, pikirnya.


"Mami tunggu!" teriak Barack terus mengejar istrinya yang terus melangkah pergi. Ani mengabaikan teriakan Barack dibelakang sana.


"Dengan begini aku bisa menjadikan alat, biar putra dan menantu aku bisa datang di makan malam nanti." batinnya terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2