
Hana menggeliat pelan dalam tidurnya. Entah kenapasemalam tidurnya terasa begitu nyaman dan nyenyak, biasanya sesekali Hana akan terjaga di tengah malam demi memastikan apakah Adam akan pulang ke rumah atau tidak.
Tapi tadi malam tidurnya benar-benar nyenyak. Merasakan sinar matahari mulai merambat masuk kedalam kamarnya. Hana merentangkan tangannya lebar-lebar, merasakan lembutnya selimut yang menyentuh kulitnya.
Tubuh Hana terasa lebih segar karena berbaring di atas kasur empuknya. Hana mengerjap perlahan, berusaha membuka matanya lebar-lebar. Sudah satu minggu ia tidak merasa senyenyak ini saat tidur di ranjang. Eh? Tunggu.
Sontak Hana terperanjat, matanya spontan terbuka lebar begitu menyadari sesuatu. Ranjang? Seingatnya, semalam ia tertidur di atas sofa balkon. Bukan hanya semalam, tapi malam-malam sebelumnya juga ia tertidur di sana.
Lalu, kenapa sekarang ia bisa berbaring di atas ranjang empuk ini, bukan hanya itu, di tubuhnya pun melilit selembar selimut hangat yang membuat tidurnya semalam sangat nyenyak.
Hana tidak mungkin pindah ke kamar tanpa menyadari itu. Kemarin malam ia juga ingat kalau dirinya hanya sendiri di kamarnya. Lalu siapa yang memindahkan nya semalam?
Hana Beranjak hendak menuju pintu untuk keluar dari kamar, Hana menurunkan kakinya pada lantai kamar yang seketika terasa dingin setelah sebelumnya ia menyibak selimut yang melilit di tubuh.
Beberapa saat ia tersentak sambil berdiri kaku saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dari dalam, dan di detik itu juga Hana dapati tubuh tegap Adam dengan handuk melilit di pinggangnya, yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Pria itu sedang menatapnya datar.
Hana merasakan dunianya berhenti saat itu juga. la tidak sedang berhalusinasi kan? Di depannya saat ini benar-benar Daddy-nya?
"Pagi ...." bahkan suaranya terdengar nyata. Hana mengedip matanya beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya.
"Kamu udah bangun?" Adam berujar santai tanpa ia tahu kalau Hana sedang mati-matian menahan diri untuk tidak menghambur memeluk tubuhnya.
"Ini... benar Daddy?" tanya Hana tidak percaya.
"Iya, ini Daddy."
Dada Hana berdetak cepat. "Daddy tidur di sini?"
"Hm, semalam Daddy pulang." menatap kearah Hana.
Hana berjalan mendekat, berdiri di depan Adam sebelum kemudian menjatuhkan dahinya didepan dada pria bertato itu. Tercium bau aroma sabun dari pria matang itu. "Daddy ...."
"Kenapa baby?" Adam bertanya seraya mengelus punggung belakang Hana lembut.
__ADS_1
"Ada yang sakit?" Kepala wanita itu menggeleng pelan. Hana masih belum bisa mempercayai kalau Adam pulang ke rumah ini. Seminggu mereka tidak pernah bertemu dan sekarang rasanya seperti mimpi.
"Daddy wangi." ujarnya lalu mendongak. "Aku gak lagi mimpi kan?" Adam terkekeh kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan aneh itu.
la lalu mendudukkan Hana di tepi ranjang. "Daddy pakai baju dulu." Hana menurut sambil terus memperhatikan setiap pergerakan Daddy-nya, saat lelaki itu menjauhinya, masuk kedalam walk in closet, kembali lagi dengan membawa baju ganti ditangannya lalu kemudian membuka lilitan handuknya, Hana tetap menatap Adam yang sedang berganti didepannya.
Adam terlihat santai sekali bertelanjang di depan Hana seperti itu. la juga memakai bajunya dengan sangat santai sedangkan Hana terus terpaku menatapnya.
"Kamu mau makan sesuatu?" Hana menatapnya.
"Aku ngga pengen makan."
"Sekarang?" Adam sudah beranjak dari depan lemari dan berdiri di depan Hana. Terdiam sebentar untuk berpikir, Hana meruncingkan bibirnya dengan gemas.
Hana sedang tidak ingin apapun kali ini selain ingin di temani oleh Adam. "Hana lagi ngga pengen makan apa apa."
"Coklat?" Hana menggeleng. "Daddy mau pergi lagi?"
Mendadak hatinya meringis sakit. Adam akan pulang. Iya, pulang ke rumah Oma dan kakeknya, Hana sadar sekarang dirinya bukan tempat Adam untuk pulang.
"Bukannya ini rumah Daddy?" Matanya mulai berkaca-kaca. Bahkan belum ada satu jam mereka bertemu, Adam sudah memutuskan akan pergi lagi.
"Daddy akan usahakan datang lagi."
Jadi ia benar-benar seperti simpanan?
"Seminggu ini Daddy dimana dan kenapa ngga pulang?" Hana bertanya sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Daddy di rumah Kakek."
Sudah pasti kakeknya tidak akan tinggal diam saat tahu Hana dan Adam mempunyai hubungan. Apa karena lelaki tua itu juga Adam tiba tiba seperti ini Dan mengirimkan pesan perpisahan untuknya kemarin?
"Kamu mau mandi dulu?
__ADS_1
"Nanti kalau Hana mandi, Daddy bakalan pergi?" Hana benar-benar masih merindukan daddy-nya, jadi selama apapun itu asal ia bisa bersama Adam.
Hana tidak akan menyia-nyiakannya. "Kalau iya, Hana bisa mandinya nanti aja dan memakai waktu yang ada untuk bersama Daddy."
Adam menjadi tidak tega. Sungguh, ia pun sangat merasa rindu lebih besar dari Hana merindukan nya, tapi hubungan mereka masih belum menemukan titik yang jelas.
Adam tidak ingin lagi memberi harapan apapun pada Hana tidak ingin menyakiti wanita itu lagi.
"Daddy akan nunggu kamu."
"Lie!" Hana menyentak dengan satu bulir air mata yang jatuh mengenai pipinya.
"Daddy selalu bohongi Hana."
"Daddy tidak-"
"Daddy bilang Hana harus tetap percaya dan menunggu Daddy menyelesaikan masalah ini, tapi apa? Nyatanya Daddy malah mengirimkan pesan perpisahan kepada Hana."
"Daddy bilang akan tetap bersama Hana apapun yang terjadi dan menikah setelah masalah ini selesai tapi ternyata itu hanyalah omong kosong belaka! Bahkan masalah ini juga belum selesai Daddy sudah ingin mengakhiri hubungan kita." Sudah runtuh pertahanan Hana.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, mengalir membasahi pipinya diiringi dengan isakan tangis yang menyakitkan. Hana sesenggukan seraya menundukan wajahnya dalam-dalam.
Melihat itu membuat Adam merasa sangat bersalah. Katakan lah kalau dirinya terlalu plin-plan hingga tidak bisa menentukan pilihan, tapi akan ada banyak hati yang terluka kalau ia salah memilih. Terutama ibunya. Satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak akan pernah bisa ia sakiti.
"Maafin Daddy, Hana." Adam sentuh bahu wanita itu yang bergetar hebat. Ia beri remasan pelan untuk menenangkan.
"Tolong jangan nangis." Namun bukan berhenti, tangis itu malah semakin kencang terdengar, membuat Adam membawanya masuk ke dalam pelukan. Hana menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidangnya Hana menangis di sana sepuas mungkin.
Adam tidak bisa mengatakan pada Hana kalau Mami Ani menolak dirinya. Hana terlihat sangat terluka, dan masalah dengan Papinya sudah sangat membebaninya, jadi Adam tidak akan menambah beban itu dengan mengatakan yang sejujurnya pada Hana kalau Mami Ani tidak merestui hubungan mereka.
Tapi Maminya sudah menegaskan untuk tidak menerima Hana sebagai menantu keluarga mereka karena menganggap Hana tidak layak untuknya.
Sungguh, tidak ada yang lebih sulit dibanding memilih di antara kedua wanita yang sama sama penting dalam hidupnya.
__ADS_1