Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat

Cinta Terlarang Antara Ayah Dan Anak Angkat
Mementingkan rasa ego


__ADS_3

Malam harinya ...


Langit kian gelap mengikuti waktu yang berjalan, di vila milik sepasang pasutri baru yang masih terlelap dibawah selimut empuk mereka, keduanya masih tertidur pulas hingga waktu malam pun tiba.


Setelah siang tadi menikmati siang pengantin mereka, Adam dan Hana menyempatkan makan siang guna mengisi perut mereka. Dan beberapa jam kemudian pria matang itu menggempur kembali istrinya, seakan tidak ada esok hari untuk melanjutkan kegiatan mereka tersebut.


Dan disinilah keduanya, tidur terlelap dalam selimut dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Hana sedari siang tadi sudah merengek untuk tidak melanjutkan lagi tetapi bukan Adam namanya, jika sesuatu yang ia inginkan tidak tercapai.


Pada awalnya rengekan Hana yang Adam dengar tetapi saat pertempuran itu dimulai, istrinya malah keenakan juga dengan aksi Adam.


Wanita seksi dan cantik itu mengerjapkan kedua bola matanya perlahan.


"Selamat malam, Daddy". Ucap Hana kala Hana membuka matanya dan kini terlihat senyuman Adam membingkai bibir pria tersebut, padahal Adam masih tertidur lelap dengan memeluk Hana tetapi pria itu sudah mengembangkan senyumnya. Seolah olah sedang memimpikan sesuatu yang begitu indah.


"Padahal masih tidur, tapi bibir Daddy udah senyum senyum aja." Hana terkekeh pelan lalu menyentuh hidung mancung Adam, menarik pelan di-sana.


Pergerakan yang Hana lakukan berhasil mengusik pria berwajah dingin itu. Perlahan ia membuka matanya saat merasakan hidungnya di mainkan Hana.


"Eungh .... mommy, kenapa? Mau nambah lagi?" ucapnya kala mata Adam terbuka sempurna, dan pertanyaan itulah yang Hana dengar. Memang benar-benar mesum suaminya ini.


Hana tak bisa untuk tidak merotasikan matanya malas, "Jangan mulai lagi Dad, aku udah capek gara gara Daddy." sedikit merengek.


"Capek atau keenakan? Bukannya tadi mommy begitu mendesah nikmat, hmmm?"


"Ya itu .... karena– karena Hana udah terlanjur Dad." ucapnya salah tingkah, ia sudah tersipu malu karena ucapan suaminya.


Adam mengulum senyum saat ucapannya berhasil membuat Hana tak bisa mengelak lagi.


"Terlanjur? Itu bukan terlanjur tapi keenakan mommy." ucapnya lalu mendekati wajah Hana. " Daddy mau ngapain lagi?" tanyanya was was sambil mencoba menjauh dari wajah Adam.


"Cih .... cup" dan satu kecupan Adam berikan pada pipi Hana saat tadi Hana sempat menghentikan pergerakannya.


"Kenapa harus Daddy lagi, panggil papi! kamu tidak ingat? Itu nama panggilan baru kita, jadi kamu harus terbiasa memanggil dengan sebutan papi." perintah Adam


"Tapi Hana masih canggung dengan panggilan itu, lagipula panggilan da–"

__ADS_1


"Papi tidak mau mendengarkan penolakan, mommy mau papi lakuin itu lagi?" Adam memberikan ancaman agar Hana menurut.


"Iy iya papi, jangan lakuin lagi! lagian Hana masih capek." ucapnya memelas.


Adam menyeringai mendengar penuturan Hana dan kini ia menepuk pelan pipinya yang membuat Hana mengernyit aneh.


"Ciuman selamat paginya mana?" Tanya Adam yang membuat Hana memutar bola matanya malas walau begitu ia cium juga pipi Adam dan membuat lelaki itu tersenyum puas.


"Udah, mommy mau ke kamar mandi dulu Pi." ijin Hana.


"Ya sudah." Adam Kemudian melepaskan pelukan di tubuh Hana.


Hana bangun dari tidurnya dan hendak ke kamar mandi namun kala ia hendak melangkahkan kakinya terasa sangat nyeri di bagian pusatnya yang membuat ia kesulitan berjalan.


Adam yang sedari tadi memperhatikan Hana kini beranjak dan duduk di belakang Hana dan menaruh dagunya di pundak wanita itu.


"Papi sebenarnya papi melakukannya berapa kali?" Tanya Hana dengan nada sendu seraya menahan perih di bagian pusatnya dan terlihat Adam sedang mengingat kejadian siang tadi.


"Entahlah Papi sendiri tidak ingat, tapi Papi ingat kita baru tidur jam 6 sore tadi." Ucap Adam yang membuat bola mata Hana membulat dan melirik jam mini di-atas naks untuk melihat jam berapa sekarang, betapa terkejutnya saat melihat jam yang menunjukkan pukul delapan malam.


Adam tersenyum tak bersalah, lalu segera menghampiri Hana lalu menggendongnya ke dalam kamar mandi. Didalam kamar mandi tentu Adam yeng melihat Hana dalam keadaan polos bahkan terkena guyuran air, membuat gairahnya memuncak hingga menuntaskan nafsunya di kamar mandi, dan alhasil mereka melanjutkannya di kamar mandi sampai bibir Hana terlihat membiru karena kedinginan.


Adam menggendong Hana keluar dari kamar mandi dan mengambil satu kotak besar di atas sofa, Hana mengernyit kala melihat kotak tersebut dan saat Adam membuka kotak itu, isinya adalah beberapa setel pakaian wanita yang membuat Hana ingin merutuki daddy-nya.


"Papi membeli pakaian itu kapan?" Tanya Hana.


Adam tersenyum miring seraya memakaikan pakaian pada tubuh Hana.


"Jangan bilang kita mau kuda kudaan lagi? Papi ... Hana masih lelah." ucapnya dengan nada merengek lucu.


"Ck .... pikiran mommy jadi negatif gini, papi cuman mau lihat bajunya pas tidak? ditubuh mommy."


Seketika Hana bernafas lega. "Mommy pikir papi mau lagi." lalu tersenyum kikuk.


"Pas .... bahkan sangat pas. Papi tidak salah pilih." Adam mengulum senyum puas saat melihat pakaian yang ia beli muat ditubuh Hana.

__ADS_1


"Ayo pakai pakaian, setelah itu kita makan malam." Ucap Adam lalu mengendong Hana kedalam walk in closet.


Dalam ruangan itu sesekali terdengar suara rengekan Hana karena tangan nakal Adam meremas buah dadanya dengan gemas. Dan itu malah dibalas tertawa oleh pria matang tersebut.


...****************...


Di kediaman Barack Matteo.


Kedua pasangan yang sudah tua tersebut sedang menikmati makan malam mereka. Hening menyertai makan malam tersebut, hingga kemudian Oma Ani memecahkan keheningan itu.


"Papi ... papi tidak ingin ke rumah Adam?" tanya beliau hati hati.


"Untuk apa?" kakek Barack menghentikan makannya saat mendengar perkataan Oma Ani, wajah pria tua tersebut sudah terlihat tidak suka.


"Papi, sekali ini aja turunkan ego papi. Bagaimana pun Adam anak kita Pi." ucap Oma Ani sendu.


"Anak? Apa dia pantas disebut anak? Saat perintah papi tidak ia dengarkan dan malah memilih gadis pungut itu." suaranya sudah sedikit meninggi.


"Papi! .... Adam anak kita Pi, bukan anak buah papi yang dengan seenaknya papi menyuruh mereka lalu setelah itu membayar mereka dengan uang. Mami tidak habis pikir dengan jalan pikiran papi, memang benar apa yang dikatakan ayah Nanda kalau papi adalah ayah yang mementingkan egonya sendiri tanpa berpikir perasaan anaknya seperti apa." setelah mengucapkan pernyataan itu, Oma Ani langsung bergegas berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.


"Mami! Habiskan makanannya." dengan nada perintah yang terdengar dingin, pandangannya terpaku lurus ke-depan.


Oma Ani yang baru melangkahkan kakinya, yang belum jauh itu seketika terhenti, ia menoleh kearah suaminya dengan tersenyum kecut. "Mami sudah kenyang, silahkan papi lanjutkan saja makan malam papi dan cobalah untuk merenungkan kembali, apakah papi pantas disebut ayah?" sahut Oma Ani begitu menusuk dada kakek Barack.


Wanita itu kemudian melangkah meninggalkan suaminya, yang terpaku ditempat duduknya. "Sial ...." kesalnya menjatuhkan sendok makan itu di atas piring dengan kasar, hingga menyebabkan bunyi dentuman keras dari dua benda tersebut.


Para membantu yang mendengar kan suara tersebut dengan cepat berlari ke arah ruang makan. "Tuan ada apa?" tanya mereka dengan tatapan bertanya tanya.


Beliau mengepalkan tangannya kuat menahan emosi. Tak tahu pada siapa ia ingin melampiaskan, ucapan istrinya begitu menusuk. Ia begitu tersindir dengan ucapan Oma Ani tadi.


"Bereskan, aku sudah kenyang." perintah kakek Barack dengan nada datar, lalu kemudian berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan itu.


Meninggalkan dua pembantu yang menatap kepergian Tuannya dengan wajah heran. "Ada apa dengan Tuan?


"Nggak tahu, mungkin ada masalah lagi." kedua pembantu itu saling menatap dengan wajah penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2