
Di kampus.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kini Hana dan Tika sedang berada di kantin, kampus itu. Keduanya hanya sekedar menikmati drink tanpa memesan makanan.
Duduk berhadapan dengan Tika yang mendengarkan Pembicaraan Hana dengan wajah serius. "Jadi hari ini Daddy kamu mau selesaikan masalah kalian?"
"Iya, gue masih Khawatir soal itu."
"Apa yang harus kamu khawatirkan? Bukannya bagus, Daddy kamu mau dengan cepat menyelesaikan masalah kalian?" Tika dengan wajah heran, satu alisnya terangkat.
"Gue takut Daddy bisa berubah pikiran karena kedua orangtuanya." ucap Hana dengan wajah sendu.
"Han, kamu harusnya lebih optimis bukannya kalian saling cinta kan? Lalu untuk apa kamu takut kalau Daddy kamu akan berubah pikiran." Tika mendekati Hana mengelus bahu sahabatnya.
"Entahlah, perasaan gue masih merasa gundah." ucap Hana menatap Tika.
"Kamu jangan berpikiran negatif dulu, yang kamu lakuin adalah mensupport apa yang udah Daddy kamu lakuin, okay! Jangan sedih lagi ah ..... nanti mukanya jadi jelek." kata Tika sembari melontarkan candaan pada Hana.
Hana menekuk wajahnya. "Jangan jelek ih, doanya nggak banget!"
"Hahaha, gitu dong. Jangan sedih lagi!" ucap Tika tertawa melihat wajah Hana yang ditekuk.
"Tau ah, aku ngambek sama kamu." Hana dengan bibir yang maju ke-depan.
"Hahahah ..... ngga lucu ih, masa muka seksi di-imutin gitu. Ngga cocok tahu." Tika meledek.
"Ih Tika! ....." bibir Hana semakin monyong saja saat Tika melontarkan ucapan itu.
Dan detik selanjutnya keduanya tertawa bersamaan dengan candaan itu. Hana tertawa begitu lepas, seakan melepaskan rasa gundah dalam hatinya.
"Asik banget, lagi ketawa-in apa sih?" Leo datang tiba tiba entah dari arah mana yang pasti pria itu sudah duduk bergabung dengan kedua wanita itu. Wajah senang nya terpancar saat melihat Hana.
Secara bersamaan Hana dan Tika menatap kearah pria bule tersebut. Leo menatap Keduanya dengan kening yang di-naik turunkan sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Kebiasaan kan nhi bule, selalu tiba tiba gabung aja." Tika menggeleng geleng kepala.
"Hehehe, abisnya obrolan kalian kelihatan seru banget samai ketawa lepas gitu." Leo menatap Keduanya bergantian.
"Soal wanita kamu ngga diajak." sahut Tika.
"Kasian banget gue ngga diajak." Leo menampakkan wajah sedihnya yang dibuat buat.
Hana yang sedari menahan tawanya, menyaksikan Leo dan Tika pada akhirnya tawanya lepas juga. "Hahah, Tika jangan gitu ih. Leo nya jadi sedih kan." Hana menertawakan wajah Leo yang terlihat lucu.
"Ya ampun seksi banget sih ketawa kamu. Jadi pengen dimiliki deh." gombal Leo. Mengeluarkan gombalan mautnya.
"Masih pagi, udah mulai gombal aja lo." sahut Tika.
"Tapi asik juga sih Tik, ada Leo jadi makin lucu suasananya." sela Hana dengan wajah senang.
"Nah, ayang bebeb aja ngga masalah sama gombalan aku. Tapi emang benar sih tawa dan senyuman Hana tuh, bikin buat gue meleleh." Leo menatap Hana sambil satu tangannya menongkah dagunya di atas meja.
Hana terkekeh mendengar ucapan Leo, sementara Tika menatap malas manusia bermata biru tersebut. "Emang raja gombal, ya gitu." cebik Tika.
Leo hanya me-nyengir kuda ditempatnya. Lambat laun ketiganya asik mengobrol sesekali terdengar gombalan Leo untuk Hana dan sudah pasti Tika yang selalu menatap malas pria itu.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
__ADS_1
Mami Ani begitu senang karena Adam akhirnya menginjakkan kakinya lagi ke rumah mereka, setelah insiden makan malam itu.
"Mami! sebenarnya Adam ke sini, ingin bicara soal pertunangan itu." ucap Adam menatap maminya dengan wajah serius.
"Jadi kamu udah setuju sama pertunangan itu?" mami Ani dengan wajah yang sudah begitu senang karena mengira anaknya sudah menerima pertunangan itu.
Mami Ani menatap dengan tersenyum lebar, menunggu jawaban dari anaknya. Adam melirik sekilas kearah Maminya lalu kemudian mengeluarkan suara.
"Maaf Mi, Adam ngga bisa."
"Kenapa ngga bisa, sayang?" mami Ani masih tersenyum menganggap anaknya hanya bercanda.
"Adam ngga bisa lanjutkan pertunangan itu sama Nanda." ucap Adam.
"Dam, kamu ngga bercanda kan? Kenapa tiba-tiba kamu harus memutuskan secara sepihak kayak gini, hmm?" mami Ani memegang kedua sisi wajah Adam, menatapnya penuh tanya.
Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya, mendadak hilang saat mendengar perkataan anak semata wayangnya.
"Maaf Mi, itu keputusan Adam." Adam memegang kedua tangan maminya yang berada di-pipinya itu.
"Oke kalau kamu masih marah sama papi kamu, karena memperlakukan Hana tidak baik malam itu. Dan mami minta maaf atas sikap papi kamu. Tapi kamu ngga harus memutuskan hal itu karena hanya hal sepele."
Mami Ani berpikir Adam membatalkan pertunangan itu karena suaminya. "Ini bukan soal sikap papi ke Hana, Mami. Tapi karena–" Adam menjeda sebentar ucapannya.
"Tapi karena apa Adam? Jangan buat mami semakin bingung." Mami Ani melepaskan tangannya dari pipi Adam.
"Karena Adam mencintai wanita lain."
"Wanita lain? Wanita siapa yang kamu maksud Adam, selama ini ngga ada wanita yang kamu kencani. Jangan coba berbohong untuk menghindari pertunangan itu, ini ngga lucu Adam." beliau menatap Adam dengan wajah menelisik.
"Adam memang mencintai wanita lain Mi, dan wanita itu .... adalah Hana." ucap Adam.
"Hana, anak angkat aku. Adam mencintai Hana Mi dan kami berdua sudah menjalin hubungan asmara dalam beberapa tahun ini." ucapnya.
"Ad-Adam ..... Kamu udah gila, ha! kenapa kamu bisa lakuin hal itu!" beliau begitu terkejut dengan jawaban anaknya. beliau sontak memundurkan tubuhnya kebelakang menjauhi anaknya.
"Mi .... ini udah takdir Adam sama Hana, kami berdua saling mencintai Mi dan Adam ngga bisa hentikan itu. Adam benar benar cinta sama Hana." wajah dingin itu menatap maminya dengan wajah sendu. Ia merasa terluka karena reaksi maminya seakan tidak suka dengan hubungan mereka.
"Adam akan menikahi Hana setelah mendapatkan restu dari Mami, Adam mohon restu-in Adam sama Hana! Adam ngga perduli jika papi ngga setuju dengan hubungan aku sama Hana tapi Adam berharap mami mau menyetujui itu untuk Adam." ucapnya dengan wajah memohon, sambil mencoba mendekati maminya.
Mami Ani semakin dibuat syok dengan pernyataan Adam barusan. Menikahi Hana? Anak angkatnya sendiri? Astaga ini benar benar sudah diluar batas dan ia sudah menganggap wanita itu sebagai cucunya tapi apa sekarang? hari ini Adam datang membawa sesuatu yang mengejutkan.
Beliau menatap Adam dengan begitu kecewa. "Mama gak setuju!" Mami Ani sontak berteriak demikian saat Adam menjelaskan niatnya untuk menikahi cucunya.
Mami Ani langsung menangis histeris, terlebih Adam pun ingin membatalkan pertunangannya dengan Nanda yang sudah kedua keluarga itu putuskan.
"Ma ..." Adam memelas dengan wajah terluka melihat tangisan maminya.
"Gak Dam .. gak, jangan gila kamu!" Mami Ani menggeleng sambil terus menolak permintaan anaknya itu.
Di dalam kamar itu hanya ada mereka berdua, karena papi Barack yang belum kembali dari perusahaannya, Adam dibawa menuju kamarnya yang berada kediaman itu. Rumah masa kecilnya, tempat dimana ia dibesarkan sebelum kemudian memilih untuk pindah dan tinggal seorang diri di rumah yang ia beli.
"Mi, Adam mohon. Mami juga seorang wanita kan? apa Mami ngga sayang sama Hana? Dia ngga punya siapa siapa lagi selain kita." Adam terus memohon, memelas untuk sesuatu yang ingin ia pertahankan.
Mami Ani berpaling, tidak sanggup menatap wajah anak laki-lakinya yang sedang memelas seperti itu.
Ia memang menyayangi Hana tapi sebagai cucu bukan sebagai calon menantu untuknya. Itu sulit bagi beliau untuk menerima kenyataan itu.
"Mami memang menyayangi Hana tapi bukan berarti mami menerima dia sebagai calon menantu keluarga ini, itu sangat mustahil dan benar benar gila Adam." bentak mami Ani.
__ADS_1
"Mi, ini udah takdir Mi, dan kita ngga bisa mengelak dari hal itu. Aku dan Hana sama sama saling mencintai."
"Kalian kubur dalam-dalam rasa cinta itu, perlahan juga akan ilang cinta terlarang kalian. Itu bukan cinta Adam ..... tapi nafsu yang sudah menguasai hubungan kalian.
"Mi!" ..... Adam begitu terkejut dengan gampang Maminya mengatakan mengubur rasa cinta mereka yang sudah bertahun-tahun mereka jalani.
"Mami gak bisa punya menantu seperti Hana, kalian terpaut usia sangat jauh. Dan dia tidak cocok menjadi menantu dari keluarga Matteo" Mami Ani mendesis, masih berpaling dari wajah Adam yang terlihat sangat putus asa.
Kenapa kedua orangtuanya harus seperti ini? Kenapa menilai semua orang hanya dari luarnya saja dan selalu memandang dari faktor sosial saja.
"Mi, Adam cinta sama Hana."
"Akhiri hubungan kalian! dan menikahlah dengan Nanda yang sudah jelas cocok dengan kamu. Biarkan Hana tetap menjadi anak angkat kamu, juga sebagai cucu untuk mami dan bukan sebagai menantu keluarga Matteo. Mami gak mau Hana menjadi menantu mami!."
Adam mengusap wajahnya kasar, merasa frustrasi sekaligus bingung dengan sikap ibunya. Bergerak dari ranjang, Adam dekati tubuh sang Mami yang sedang memunggunginya itu. Wanita yang telah melahirkannya, wanita yang rela mati demi dirinya.
"Mi ...." Adam sentuh kedua bahu Mami Ani yang bergetar, lalu membaliknya agar pandangan mereka bertemu.
Adam tahu, Maminya tidak sejahat itu pada Hana, pasti Mami hanya merasa terkejut atas kabar yang ia bawa dan butuh waktu untuk menerima hal itu.
Menghela pelan, Adam tangkup kedua tangan Maminya. " Adam gak mungkin mengakhiri hubungan ini gitu aja, Nanda juga akan kasihan mi, jika Adam menikahi dia tanpa adanya cinta. Jika Nanda tahu mungkin juga akan menolak perjodohan ini."
"Tapi mami gak bisa, dam. Mami gak bisa terima terima Hana sebagai menantu." mami Ani masih tidak setuju dengan keputusan Adam.
"Mi .... Adam mohon," ujarnya memelas lagi. Tapi mungkin keputusan Mami Hana untuk menolak Hana benar-benar sudah besar. Karena sekeras apapun Adam memohon hanya gelengan kepala yang beliau berikan.
"Dam.. kalo kamu ingin menikahi wanita itu. maka, lebih baik Mama mati." ancam maminya.
"Mami!"' Adam membentak tidak suka. Bukan pada penolakan penolakan maminya, tapi pada kalimat terakhir yang sangat ia takutkan.
"Mami gak boleh ngomong kayak gitu? Jangan Mi."
"Tapi Mami bener-bener gak bisa terima keputusan kamu, dam." Dan detik itu juga Mami Ani pun sudah berlinang air mata.
Beliau menangis meratapi nasib anaknya. "Please, Adam .... Please sekali ini dengarkan Mami! akhiri hubungan terlarang kalian, jangan nikahi Hana. Kalau kamu tidak ingin menikahi Nanda, Mami tidak apa apa, Mami tidak akan memaksa kamu. Tapi tolong, Adam ...jangan nikahi Hana! Cukup dia sebagai cucu mami."
Melihat sang mami yang terisak sedih membuat hati Adam merasakan sakit yang teramat sangat. Saat Papinya menolak, Adam masih bisa melawan lelaki itu. Tapi, berbeda dengan Maminya, wanita yang sudah melahirkannya ke-dunia.
"Kita bicarakan ini nanti lagi ya, Mi. Mami jangan nangis." Adam membawa tubuh wanita tua itu ke dalam pelukannya. Mengusap bahunya lembut. Dalam hati terus memikirkan Hana.
"Daddy harus apa, Han?" batinnya.
Di rumah Adam.
Hana masih terus menggenggam ponsel Aryo ditangannya, ia sudah mencoba menghubungi pria itu menggunakan hpnya tapi juga tak bisa hingga ia memutuskan menggunakan nomor Aryo, siapa tahu pria itu mengangkat panggilannya
Bibirnya terus meruncing ke-depan sejak tadi. Saat pulang dari kampus tadi Hana terus menghubungi Adam tapi selalu saja tidak aktif, hingga menjelang sore hari pun nomor Adam tetap tidak bisa. Hana jadi merasa khawatir sekaligus kesal.
"Gimana, Nona?" Aryo yang baru saja datang dari dapur bertanya demikian seraya membawa segelas kopi ditangannya, yang baru saja dibuatkan oleh BI surti. Ia meletakkan sebentar kopi itu di atas meja. .
"Tuan Adam masih belum bisa dihubungi?" Hana mengangguk sedih.
"Iya, Om."
"Mungkin Tuan masih sibuk sama kerajaan kantor, .' ujar Aryo semata-mata hanya tidak ingin membuat Hana berpikiran macam macam.
Tapi ternyata, itu tidak berpengaruh karena nyatanya Hana sudah memikirkan hal buruk itu jauh-jauh sebelumnya.
"Apa mungkin Daddy masih di rumah Kakek? Semoga aja Daddy bisa selesaikan masalah ini?" gumamnya penuh harap.
__ADS_1