
Keesokan harinya Khayra kembali dengan aktivitasnya ia masih harus melanjutkan hidupnya, ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai membuatnya harus bangkit dari kesedihan, Khayra percaya Arka akan kembali kepadanya dan juga anak-anak.
Khayra yang sedang serius membuat pesanan cake yang entah kenapa hari ini banyak yang mengorder dikejutkan dengan dering handphonenya.
Dilihat nomor yang tertera disana yang ternyata dari sekolahnya sikembar, segera Khayra mengangkatnya.
"Halo Assalamualaikum." ucap Khayra.
"Waalaikum salam, apa benar ini dengan Mamanya Ghava." tanya seseorang disebrang sana.
" Iya benar saya Mamanya Ghava, ada apa ya Bu."
" Begini Bu saya wali kelasnya Ghava ingin memberitau bahwa saat ini Ghava sedang dirawat di UKS sekolah, tadi saat sedang belajar Ghava tiba-tiba saja pingsan." ungkap sesorang di sana yang ternyata wali kelas anaknya.
" Astaghfirullah, jadi bagai mana keadaan anak saya sekarang Bu." ucap Kharya dengan nada khawatirnya.
" Keadaan Ghava saat ini baik-baik saja Bu, kalau bisa Ibu datang saja kesekolah untuk melihat keadaan Ghava secara langsung."
" Baik Bu saya akan segera kesana, Assalamualaikum."
" Waalaikum salam."
Setelah mematikan sambungan teleponnya Khayra menyuruh asistennya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan terburu-buru Khayra berjalan keruangan Hana untuk meminta ijin meninggalkan Cafe.
" Han, aku permisi keluar sebentar ya." ucap Khayra dengan wajah paniknya.
" Emang mau kemana Khay, terus kenapa kamu panik seperti ini." tanya Hana bingung.
" Aku baru saja dapat telpon dari sekolah sikembar, Ghava pingsan disekolah."
" Astaghfirullah alazim, kenapa itu bisa terjadi, kalau begitu aku ikut ayo kita berangkat." Hana yang juga Khawatir dengan keponakannya langsung mengambil kunci mobil dan menyusul Khayra yang sudah jalan keluar cafe duluan.
Dengan keadaan keduanya yang panik, Hana melajukan kendaraannya dengan kencang. tidak sampai tiga puluh menit mobil itu sampai dihalaman sekolah sikembar.
Keduanya berjalan dengan terburu-buru dan bertanya dengan beberapa siswa disana letak ruang UKS berada, karena Khayra maupun Hana tidak tau dimana letak ruangan itu.
Setelah sampai didepan ruangan UKS, Khayra melihat keadaan anaknya yang terbaring lemah diatas ranjang, disampingnya juga ada Ghani yang menemani sang adik sambil menangis.
" Sayang." ucap Khayra yang menghampiri anaknya itu.
__ADS_1
" Mama...hiks.." ucap Ghani dan langsung memeluk tubuh ibunya itu.
" Maafin Ghani Ma yang sudah gagal menjaga Ghava hiks..hiks .. ini semua gara-gara Ghani yang sudah membuat Ghava sakit hiks..hiks.."
Mendengar tangisan anaknya yang selama ini Khayra tidak pernah mendengarnya menangis seketika hati seorang ibu itu menjadi sakit dan ikut menangis.
" Tidak sayang, ini bukan salah kamu jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini, kamu kakak yang baik menjaga adiknya. jangan menangis sayang." ucap Khayra sambil menghapus air mata anaknya.
Khayra mendekati ranjang yang terdapat anaknya berbaring disana sambil mengusap kepalanya Khayra mencium kening anaknya itu dengan sayang.
Khayra merasakan badan anaknya itu panas dan Khayra juga mendengar sang anak yang mengigau memanggil Papanya.
" Papa.... Papa..." ucap Ghava lirih yang terdengar oleh Khayra.
" Sayang ini Mama nak, Ghava." ucap Khayra sambil menangis dan mengusap kepala anaknya.
Khayra sedih melihat anaknya seperti ini, Khayra yakin jika kedua anaknya ini sangat merindukan Papanya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya doa yang selalu dia panjatkan agar Arka akan segera kembali.
" Sayang bangun dulu yuk, kita pulang." Khayra membangunkan anaknya dengan lembut.
seperti mendengar ucapan Ibunya Ghava mulai membuka matanya, dengan wajah yang pucat Ghava melihat Mama, Aiy dan Kakaknya ada disini.
" Iya sayang Mama disini." jawab Khayra.
" Apa Papa sudah pulang." tanya Ghava.
Khayra yang mendengar ucapan anaknya itu merasa bingung harus menjawab apa. pertanyaan ini sudah sering Ghava tanyakan semenjak Arka menghilang namun selalu saja Khayra tidak dapat menjawabnya.
" Papa belum pulang sayang, sekarang bangun dulu yuk kita kerumah sakit, kita berobat dulu." ucap Khayra sambil tersenyum.
Ghava hanya menjawab dengan anggukan, ia terlalu lemah untuk bicara.
Khayra segera mencari wali kelas anaknya itu, ia ingin meminta izin untuk membawa pulang anaknya dan juga meminta izin membawak Ghani juga pulang.
Setelah mendapatkan izin Khayra segera menggendong tubuh lemah dan hangat Ghava menuju parkiran mobil, sedangkan Hana membantu Ghani untuk mengambil tas Ghani dan Ghava yang masih berada dikelas.
Semua teman-teman sekelas Ghani merasa sedih karena keadaan Ghava yang sedang sakit semuanya mengucapkan lekas sembuh dan mendoakan Ghava.
Setelah menyusun semua peralatan tulisnya dan Ghava, Hana meminta izin kepada guru yang berada dikelas itu untuk mengizinkan Ghani pulang.
__ADS_1
Keduanya menyusuri kolidor sekolah dan segera menyusul Khayra yang sudah dari tadi didalam mobil.
Mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan halaman sekolah, Hana menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Tidak sampai tiga puluh menit kendaraan itu tiba dirumah sakit, Khayra panik langsung menggendong Ghava yang kembali pingsan saat diperjalanan tadi menuju ruangan UGD
Dokter dan perawat yang berada diruangan itu melihat Khayra yang terlihat khawatir sambil menggendong anaknya langsung membawakan bangkar dan meletakan anaknya disana.
Tanpa Khayra sadari Mami Alin dan Papi Ali yang kebetulan melewati ruangan itu melihat Khayra yang panik sambil menggendong cucunya.
Dengan perasaan yang khawatir keduanya mendatangi Khayra yang sedang duduk dan menangis untuk bertanya.
" Khay.." panggil Mami Alin
Khayra yang merasa dirinya dipanggil melihat kearah kedua orang tua itu dengan wajah sedih dan khawatir.
" Mami...hiks.." Khayra langsung memeluk Mami Alin dan menangis sedih.
" Ada apa ini Khay, kenapa dengan Ghava ?." tanya Mami Alin.
" Ghava Mi...tadi dia pingsan disekolah dan dibawak ke ruang UKS sekolah, dia sempat sadar tadi namun diperjalanan menuju rumah sakit dia kembali tidak sadarkan diri ...hiks." ungkap Khayra yang masih memeluk Mami Alin.
" Ya Allah apa yang terjadi kepada cucuku." ucap Mami Alin sambil menitikan air matanya.
" Lalu dimana Ghani sekarang." tanya Papi Ali.
Sadar sang anak tidak ada disini Khayra melepaskan diri dari pelukan Mami Alin. sebelum Khayra menjawab terdengar suara yang memanggil dirinya.
" Mama..Oma, Opa." panggil Ghani yang digandeng oleh Hana disebelahnya.
" Sayang... cucuku." ucap Mami Alin sambil memeluk Ghani cucunya.
Disuatu tempat terlihat sebuah kamar yang bersih dengan warna putih yang dominan dan tercium bau obat-obatan yang khas dari rumah sakit.
Terlihat ada seorang pasien yang sedang tertidur diatas ranjang, dengan tubuh yang penuh perban yang hanya tersisa wajahnya saja.
Pasien itu menggerakkan tangannya tanpa ada yang menyadari, keringat yang membasahi tubuhnya terlihat seperti sedang mimpi buruk.
Hingga teriakannya terdengar dalam ruangan itu.
__ADS_1
" GHAVA...."