CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
SAYANG OMA...


__ADS_3

Akhirnya mereka menyelesaikan membuat virus untuk mencegah masuknya penyusup yang ingin membobol sistem perusahaan ini lagi.


" Ghani, Ghava."


Papi Ali yang sedari tadi berdiri didepan pintu memanggil kedua cucunya itu.


" Iya Opa." jawab keduanya dan meninggalkan meja itu.


" Apa sudah selesai pekerjaan kalian."


" Sudah Opa."


"Ya sudah ayok kita kerumah Opa, Oma kalian sangat merindukan kalian."


" Benarkah itu Opa." tanya Ghava dengn mata yang berbinar.


" Tentu saja. ayok."


Papi Ali dan sikembar meninggalkan ruang itu dan pergi menuju kediamannya.


--^^--


Disisi lain Siska terlihat sedang menelepon seseorang disebrang sana


" Bagai mana apa semuanya berjalan dengan sesuai rencana."


" Semua sudah berjalan sesuai keinginanmu cantik."


" Jaga ucapanmu, aku tidak akan segan-segan membuatmu hancur."


" Hahah... aku hanya bercanda jangan terlalu diambil serius. Lalu kapan kau akan datang kesini."


" Aku akan segera kesana setelah aku menyelesaikan urusan ku disini."


" Ya terserah lah asalkan kau tidak menipu ku, karena aku tidak mau melakukannya sendiri dan lagi pula aku juga sudah membereskan bagian ku."


" Kau tenang saja aku tidak akan menipumu karena aku yang menginginkannya."

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu."


Setelah sambungan terputus Siska mengambil tasnya dan keluar dari rumahnya.


Siska mengendarai mobilnya dan melaju meninggalkan kediamannya. Ia bermaksud untuk berjumpa dengan Arka karena dia merindukannya.


Setelah empat puluh lima menit diperjalanan Siska sampai di kantornya Arka, disaat mobilnya ingin masuk tanpa sengaja dia melihat Papi Ali keluar dari perusahaan Arka sambil menggandeng tangan dua bocah laki-laki yang tak lain Ghani dan Ghava.


" Om Ali sedang apa dia disini tidak seperti biasa dan ah.. siapa dua bocah itu sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana." Siska mulai mengingat kapan dan dimana dia melihat dua orang bocah itu dan ingatannya muncul saat tadi pagi dia melihat dua bocah itu bersama Arka.


" Oh iya mereka yang bersama dengan Arka tadi pagi tapi kenapa mereka dengan Om Ali dan siapa mereka." ucap Siska yang penasaran dia terus mengamati Papi Ali dan sikembar yang sedang keluar dari perusahaan itu dan masuk kedalam mobil hingga mobil yang membawa mereka pergi dari sana.


" Sepertinya aku harus mencari tau siapa dua bocah itu." Siska menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana. Dia mengikuti mobil Papi Ali yang berada didepannya dan ternyata mobil itu membawa mereka ke kediaman keluarga Khaleed.


Siska yang sedari tadi mengikuti mobil itu menghentikan mobilnya agak sedikit menjauh dari mobil milik Papi Ali.


Dan tanpa diduga ucapan dari kedua bocah itu membuatnya terkejut.


"OMAA..."


" Apa Oma ??" Siska terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" ****... jangan bilang mereka anak-anaknya Arka, Oh tidak...tidak itu tidak mungkin bagai mana Arka bisa memiliki anak dan sejak kapan. Sepertinya aku harus menyelidikinnya." Siska menjalankan mobilnya kembali dan pergi dari rumah tersebut dengan fikiran yang penuh dengan prasangkanya.


--^^--


Hari masih begitu terang walau sore sudah menghampiri tapi beda dengan seseorang disini dengan aura yang terlihat sangat gelap membuat ruangan tersebut terlihat sangat tegang dan mencekam karena sesorang yang beraura gelap itu.


Dengan tatapan matanya yang tajam membuat siapa saja yang berda disana merinding.


" Apa yang kalian lakukan dimana otak kalian saat ini kenapa tidak ada satu pun yang berhasil menemukan keberadaan pulau itu, apa kalian semua bodoh." lelaki itu meluapkan amarahnya kepada anak buahnya yang tidak becus menjalankan perintah bos mereka.


" Maafkan kami Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menemukan keberadaan pulau tersebut tapi kami tidak berhasil menemukannya." jelas seseorang yang terlihat ketakutan itu.


" Bagai mana bisa kalian tidak berhasil menemukannya itu hanya sebuah Pulau dan tidak berpenghuni."


" Tapi Tuan jika memang pulau itu tidak berpenghuni lalu kenapa tidak bisa terlacak."

__ADS_1


" Itu semua karena kalian semua yang bodoh karena tidak bisa menemukannya."


" Tapi Tuan...."


"Tidak ada tapi-tapi aku ingin sekarang kalian terus mencari keberadaan pulau itu hingga menemukannya dan aku tidak menginginkan kegagalan, Jika sampai kalian gagal kalian tau kan akibatnya." ucap Pria tersebut dan langsung meninggalkan tempat itu.


Mendengar ucapan dari bos mereka seketika membuat semua orang yang berada disana merinding takut karena ancaman dari bos mereka itu tidaklah main-main dan itu lah membuat semua anak buahnya takut akan nasib mereka jika mereka gagal.


Pria tersebut iyalah Lukman dengan aura hitamnya yang masih terlihat dia kembali masuk medalam ruang kerjanya dan meluapkan kekesalannya.


" Kkaahh.....sial, sialan kalian Ilyas, Ibrahim walaupun kalian sudah mati ditanganku dan tertanam ditanah tapi kalian masih saja membuat ku menderita apa belum cukup semasa kalian hidup membuatku selalu menderita. Tidak...tidak kali ini selama aku belum mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku dan akan aku buat semua keluarga kalian hancur."


Api amarah terpancar dari mata Lukman yang tajam, entah apa yang terjadi dengannya yang membuat Lukman menaruh dendam dengan kedua orang tersebut dan ingin mengambil kembali yang seharusnya menjadi miliknya.


Dendam yang mendalam dia rasakan bertahun-tahun akan penderitaan yang menimpahnya, Persahabatan yang mereka bertiga bangun runtuh akan kesalahan dan kesalah pahaman yang entah siapa yang memulainya.


Walau pun sudah melenyapkan kedua sahabatnya itu dengan kedua tangannya tidak menuntut kemungkinan bisa meredahkan amarah dan dendam yang sudah tertanam dihatinya.


Entah sampai kapan ia akan merasa puas akan pembalasan dendamnya ini.


Entahlah, yang jelas sebelum apa yang ia inginkan dia dapatkan, amarah dan dendam ini akan selalu ada.


--^^--


Di kediaman Khaleed kedatangan Ghani dan Ghava disambut dengan gembira oleh Mami Alin, pasalanya sudah lama ia tidak berjumpa dengan kedua cucu kesayangnnya itu saat terakhir kali pada saat acara lamaran Arka dan Khayra.


Dengan dihadiahkan ciuman diseluruh wajah Ghani dan Ghava Mami Alin juga memberikan beberapa hadiah yang sudah lama ia beli untuk kedua cucu kembarnya itu.


Dua buah Pesawat Helikopter Remote Control keluaran terbaru dengan harga yang tidaklah murah dan juga dua buah sepeda gunung Polygon Xquarone EX9 Shimano XTR dengan harga yang tak kalah mahalnya juga.


Mami Alin tidak memperdulikan seberapa mahalnya dan seberapa banyak ia mengeluarkan uang untuk membelikan kedua cucunya itu hadiah.


Ghani dan Ghava sangat senang akan hadiah pemberian dari Omanya tersebut dan mereka mengucapkan terima kasih dengan kecupan di kedua pipi Omanya.


"Apa kalian suka dengan hadiah yang Oma berikan." tanya Mami Alin.


" Ghava sangat menyukainya Oma, terima kasih Ghava sayang Oma." ucap Ghava dan menghadiakan Mami Alin kecupan dikedua pipinya.

__ADS_1


" Ghani juga menyukainya Oma, terima kasih Oma." Ghani juga menghadiahkan Mami Alin kecupan dikedua pipinya.


Mami Alin yang mendapatkan kecupan dari kedua cucunya sangatlah senang dan bersyukur bisa melihat kedua cucunya itu.


__ADS_2