CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
BERPISAH HANYA SEBENTAR


__ADS_3

setelah menghabiskan waktu weekand bersama, Ghani dan Ghava begitu pun juga dengan Khayra harus berpisah kembali dengan Oma Alin dan Opa Ali karena mereka harus kembali pulang.


Dengan berat hati Mami Alin dan Juga Papi Ali harus melepas mereka bertiga, ada rasa tidak rela harus berpisah dengan calon menantu dan juga cucu-cucu mereka.


Khayra sudah membereskan semua perlengkapan mereka saat berada di sini dan dibantu oleh Arka.


Setelah semuanya selesai Khayra keluar dari kamar yang diikutin dengan Arka yang membawakan koper milik Khayra.


Disaat mereka turun, diruang tamu mereka melihat Mami dan Papi terlihat sedih dengan posisi masih memeluk Ghani dan Ghava seakan tidak ingin berpisah.


Arka dan Khayra menghampiri orang tua dan kedua anak mereka untuk sekalian berpamitan.


" Huuuu, kenapa kalian tidak tinggal disini saja si, kan Mami masih belum puas main sama kalian." rengek Mami Alin yang masih setia memeluk Ghava.


" Iya, kenapa kalian tidak menginap lebih lama lagi disini." kali ini Papi Ali yang merengek seakan tidak ingin berpisah dengan cucu-cucunya.


Khayra tersenyum melihat tingkah orang tua Arka yang terlihat sangat menyayangi kedua anaknya itu.


Dulu sempat ada rasa takut jika orang tua Arka mengetahui kalau Khayra yang hanyalah wanita biasa melahirkan pewaris dari keluarga Khaleed yang sangat terkenal dan dihormati itu tidak akan menerima kedua anaknya dan juga dirinya.


Tapi sekarang rasa itu dia tepis, karena Khayra melihat dengan matanya sendiri jika orang tua Arka menerima dirinya dan juga kedua anaknya dengan tangan terbuka.


Khayra dan kedua anaknya juga mendapatkan banyak cinta dan juga kasih sayang dari Orang tua Arka.dan mereka bisa merasakan kehangatan dari sebuah keluarga.


"Mi, Pi sudah dong jangan seperti ini, nanti mereka akan datang lagi kesini dan menginap disaat Weekand kok." ucap Arka yang tidak habis fikir dengan tingkah orang tuanya ini.


" Dasar tidak peka, Mami sama Papi masih kangen dengan kedua cucu ku yang tampan-tampan ini." ucap Mami Alin.


" Huu... Mami mereka besok sekolah, jadi mereka harus pulang. Jarak dari sini kesekolah sangat jauh Mi." ucap Arka sedikit memberi pengertian.


" Kalau begitu mereka disini saja tidak usah pulang dan lagi pula sekolah itu milik kelurga kita dan akan menjadi milik kedua cucuku ini jadi tidak masalahkan mereka tidak sekolah." kali ini Papi Ali yang berbicara.


Arka menghela nafasnya dengn kasar mendengr Papi Ali yang berbicara seperti itu. Endri yang sedari tadi hanya melihat drama dihadapannya terkeke geli dan tidak habis fikir dengan ucapan Papi Ali.


" Jadi maksud Papi, mereka bolos sekolah begitu, tidak tidak tidak anak-anakku harus tetap sekolah tidak boleh bolos. Walaupun sekolah itu akan menjadi milik mereka tapi Arka tidak mau mereka tidak disiplin dan sombong dengan semua yang akan mereka miliki. Jadi biarkan mereka pulang." ucap Arka yang tidak tau lagi harus bagai mana membujuk orang tuanya ini.


Khayra yang melihat perdebatan ini yang tidak akan pernah selesai akhirnya membuka suranya dan memberi pengertian kepada orang tua Arka.


" Om, Tante tenang saja, walaupun sikembar tidak disini Om dan Tante bisa bertemu dengan sikembar kok dan Om, Tante juga bisa mengajak sikembar jalan-jalan atau mengajak sikembar untuk menginap lagi sini juga boleh, Khayra ijinkan." ucap Khayra yang memberikan ijin untuk orang tua Arka menghabiskan waktu dengan sikembar.

__ADS_1


Karena dia tau kalau Mami Alin dan Papi Ali masih merasakan rindu kepada kedua anaknya itu. Waktu lima tahun tidaklah sebentar butuh waktu lama mereka mengetahui jika mereka sudah memiliki cucu.


" Baiklah kalau begitu, Mami dan Papi membiarkan mereka pulang." Mami Alin akhirnya pasrah membiarkan kedua cucunya pulang.


" Baiklah ayo kita berangkat sekarang." ucap Arka kepada Khayra dan kedua anaknya.


" Iya. Ghani, Ghava ayo pamin dulu sama Oma, Opa dan juga Paman Endri."


" Oke Ma." sikembar mendekati Mami Alin dan Papi Ali untuk berpamitan.


" Oma, Opa kami pulang dulu ya." ucap keduanya sambil mencium tangan Oma dan Opa mereka dan juga mencium tangan Endri yang duduk di sebelahnya.


" Paman Kami pulang dulu."


" Iya hati-hati." ucap Endri sambil mengusap rambut sikembar.


" Ya sudah ayo kita Papa sudah menunggu kita diluar." ucap Khayra sambil menggandeng tangan kedua anaknya.


"Iya Ma."


"Kalau begitu Khayra pamit pulang ya Om, Tante." ucap Khayra sambil mencium tangan Mami dan Papi.


" Iya sayang hati-hati. Sering-sering lah datang kesini."


setelah semuanya masuk kedalam mobil sikembar melambaikan tangannya dan mobil yang membawa mereka pun berjalan meninggalkan Mansion itu.


 


Dilain tempat Lukman sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan pawahannya.


" Apa persiapannya sudah selesai."


"Sudah Tuan, anda tinggal menempatinya saja."


"Baiklah nanti malam aku akan datang."


"Baik Tuan." Pelayan tersebut pergi dari sana dan meninggalkan Lukman di ruangan itu.


Sambil menikmati Wine, Lukman memikirkan cara agar rencananya kali ini harus berhasil, karena dia sudah terlalu lama menunggu yang seharusnya menjadi miliknya.

__ADS_1


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang ternyata dia menghubungi Siska, keponakannya.


" Halo, ini aku apa kau sudah berhasil mendekati Tuan muda Khaleed itu." ucapnya dingin.


" Be.. belum. Paman." ucap Siska yang diseberang sana dengan gugup.


" APA... kau belum berhasil, dasar anak bodoh. Apa saja yang kau lakukan selama ini Ha.." ucap Lukman emosi.


" Maafkan aku Paman, sangat susah sekali aku mendekatinya. Kau tau Paman dia selalu bersama dengan asistennya itu dan tidak ada celah bagi ku untuk mendekatinya." ucap Siska membela diri.


" Pakai sedikit otak mu itu. Jika kau tidak bisa mendekatinya secara langsung, kau bisa mendekatinya dengan cara yang kau sendiri tau harus apa."


"Baik lah Paman aku mengerti."


" Bagus lah jika kau mengerti. Aku tidak mau jika kali ini kau gagal lagi ingat ini kesempatan terakhir yang aku beri jadi laksanakanlah dengan baik."


"Baik Paman." sambungan telepon pun terputus.


Lukman sangat geman melihat keponakannya itu sama sekali tidak berguna. Dia selalu saja gagal untuk mendekati Tuan Muda keluarga Khaleed itu.


" Ilyas, Ibrahim kalian berdua sudah memberikan aku penghianatan dan kesengsaraan, akan aku pastikan kelurga kalian akan hancur ditanganku sama seperti saat kalian mati ditanganku dan aku akan bisa mendapatkan yang seharusnya menjadi milik ku."


Entah apa yang membuat Lukman merasakan dendam yang sangat besar seperti ini dan dengan tega ia membunuhnya, hanya dialah yang tau.


Disaat dia sedang mengingat penderitaan yang ia dapat, Pintu ruang kerjanya diketuk dan masuklah wanita yang sangat cantik dan seksi walaupun udah berumur kedalam ruang kerja lukman.


Dengan gayanya yang anggun wanita itu menghampiri meja lukman.


" Sayang makan siang telah siap."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya Like, Comment, Vote dan berikan hadiah banyak-banyak.


See you...


__ADS_2