CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
ARKA DAN GHANI


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu setelah acara ulang tahun sekolah, Ghani dan Ghava melalui hari mereka seperti biasanya.


Siang itu disekolah waktu jam istirahat siang Ghani, Ghava, Kevin dan Danel berencana ingin bermain bola dilapang.


Keempatnya pergi keluar kelas menuju lapangan saat mereka ingin keluar ada lima orang anak perempuan teman sekelas mereka menghadang jalan keempatnya.


Dengan gaya centilnya anak-anak perempuan itu menghampiri keempatnya.


"Hay Danel kalian mau kemana, boleh kami bergabung." ucap Lita salah satu anak perempuan tersebut.


"Kami mau main bola dilapangan."


jawab Danel


"Disana cuma ada anak laki-laki. Lebih baik kalian tidak usah ikut, menyusahkan" ucap Kevin sinis.


"Apa kamu bilang menyusahkan, kamu yang menyusahkan. Aku bertanya sama Danel bukan sama kamu, dasar jelek." ucap Lita kesal.


"Apa kamu bilang, Aku jelak ? kamu tu yang jelek." Kevin yang tidak terima semakin sesal dibuat Lita.


"Kamu yang jelek." ucap Lita tidak mau kalah.


Pada akhirnya Lita dan Kevin bertengkar, Danel dan Ana berusahan untuk mererai mereka tapi mereka tidak peduli.


"Hay Ghava apa kamu sudah makan siang kebetulan aku dan Shila bawak bekal apa kamu mau." ucap Tiya ramah sambil menawarka bekal makan siang mereka.


"Iya Ghani apa kamu juga mau." tawan Shila kepada Ghani.


Ghani yang di ajak bicara hanya diam saja sedangkan Ghava terlihat tersenyum ramah.


"Tidak usah Tiya, kami sudah makan tadi kok, ya kan Kaka." ucap Ghava lembut menolak tawaran temannya.


" Jangan mau Ghani, kamu makan aja bekal ku ini enak loh." sela Nisa tiba-tiba yang menyodorkan kotak bekalnya kepada Ghani.


" Iiii apaan si kamu Nisa kan aku duluan yang menawarkan makanan kepada Ghani jadi Ghani harus menerima punya ku" ucap Shila kesal.


" Tidak bisa begitu donk, Ghani harus nerima makanan ku." ucap Nisa tidak mau kalah.


"Tidak punya ku." ucap Shila.


"Tidak punya ku saja." ucap NisaTidak mau kalah.

__ADS_1


Terjadi perdebatan dikeduanya. Ghani yang melihat perdebatan itu hanya melihat tanpa expresi dan tanpa mererai keduanya.


Malas meladeni anak-anak perempuan yang selalu berisik itu Ghani keluar dari kelas sendiri meninggalkan Ghava dan kedua temannya yang terjebak diantara para anak-anak perempuan yang berisik itu.


Ghani berjalan sendiri dilorong sekolah sambil membaca buku yang selalu di bawak , saat sedang serius membaca sambil berjalan tanpa dia sadari Ghani menabrak seseorang yang membuat tubuhnya jatuh kelantai.


"Aaaw.." ucap Ghani sambil mengelus hidungnya yang terbentur orang tersebut.


"Apa kamu tidak apa-apa Nak."


Ghani yang mendengar suara itu langsung melihat orang tersebut.


"Papa" ucap Ghani pelan namun Arka tidak mendengarnya. Arka langsung mensejajarkan badannya menghadap Ghani dan mengulurkan tanganya.


Ghani yng maaih melamun tidak memperdulikan uluran tangan Arka.


" Hay kamu tidak apa-apa nak. oh kamu Ghani kan ?" tanya Arka lagi yang membuat Ghani tersadar. melihat uluran tangan Arka, Ghani memengang tangan itu dan bagun dari lantai.


Ghani senang Papa nya menyebut namanya tanpa salah. Karena biasanya orang-orang akan salah memanggil namanya bukan Ghani saja tapi Ghava juga. karena mereka kembar identik jadi orang selalu salah memanggil nama mereka.


"Saya tidak apa-apa Tuan. Maaf sudah menabrak anda tadi." ucap Ghani.


Arka tersenyum dan melihat buku dilantai, Arka mengambilnya dan memberikannya pada Ghani.


"Iya Tuan ini buku saya."


Arka yang meliha buku itu heran karena buku ditangan Ghani ada buku Matetatika kelas tiga SMP. sedangkan dia baru kelas satu SD.


"Bukannya ini buku kelas tiga SMP Ghani. apa kamu mengerti tentang pelanaran itu." tanya Arka penasaran.


" Saya mengerti Tuan, tapi ada beberapa soal yang belum bisa saya mengerti."


"Oh begitu, apa kamu tidak keberatan jika saya yang mengajari kamu."


Bagai mendapat hadiah terbaik didunia Ghani merasa sangat senang bukan main. Dia mendapat kesempatan belajar dengan Arka orang yang mereka harapkan menjadi Papa kandung mereka.


"Boleh Tuan, saya sangat senang." ucap Ghani dengan mata yang berbinar-binar.


"Baik lah ayo kita ke taman sekolah." ucap Arka dan menggenggam tangan kecil Ghani.


Ghani yang tangannya digenggam oleh Arka merasa sangat senang karena dari dulu dia ingin sekali tangannya digenggam hangat oleh Papa nya.

__ADS_1


"Apa benar anda Papa kandungku, jika benar betapa bahagianya aku digenggam oleh anda. Ya Allah Ghani berharap dia adalah Papa kandung Ghani." ucap doa tulus Ghani.


Arka dan Ghani berjalan menuju taman sekolah disana disana tersedia bangku dan meja untuk para murid.


Arka dan Ghani duduk berdampingan dan mulai mengajarkan Ghani soal yang tidak dia pahami.


Saat melihat buku itu Arka sempat tidak menyangka anak umur lima tahun mengerti pelajaran anak SMP. Karena buku itu terlihat lecek seperti sering dibuka dan banyak coret-coretan jawaban yang benar.


"Dari mana anak ini mempelajari semua ini, aku melihat dia masih umur 5 Tahun tidak mungkin dia mengerjakan soal-soal ini sendri."


"Ghani saya boleh bertanya."


"Boleh Tuan."


"Dari mana kamu mengerti tentang pelajaran matematika tingkat SMP ini. apa kamu les privat dirumah ?."


"Tidak Tuan, Mama dan Ayi yang mengajarkan semua ini. Mama dan Ayi sangat pintar dan mereka bisa menyelesaikan soal-soal yang sulit sekali pun."


"Oh iya hebat sekali mereka, Kalau Papa Ghani gimana." seketika raut wajah Ghani sedih Arka yang melihat itu bingung.


"Ghani tidak pernah melihat Papa dari kecil hingga sekarang, Kami tidak tau Papa dimana, kata Mama Papa sedang berkerja ditempat yang jauh, Tapi sampai sekarang Papa tidak pernah pulang untuk bertemu dengan kami." ucap Ghani sedih.


Arka yang mendengar cerita Ghani ada perasaan sedih entah kenapa ada perasaan bersalah yang menghampirinya seketika tanpa sadar air mata Arka mengalir.


"Ah apa ini, kenapa aku menangis." Arka menghapusnya cepat.


"Maafkan Bapak sudah membuatmu sedih ya."


"Tidak apa-apa Tuan." ucap Ghani tersenyum.


"Baik lah mulai sekarang Ghani bisa menganggap Bapak, Papa kandung Ghani." Entah bagaimana bisa fikiran itu terlintas dikepala Arka. Ghani yang mendengar itu secara reflex memeluk Arka. Arka yang mendapat pelukan itu merasa senang.


"Ahhh.... pelukan ini lagi aku sangat menginginkannya."


"Apa boleh Ghani memanggil anda Papa." mendengar ucapan Ghani. Arka merasa senang dan terharu.


"Kamu boleh panggil saya Papa." mendapat lampu hijau dari Arka. Sambil mengangis dipelukan Arka Ghani memanggil Arka.


"Papa...Papa..Papa...Papa." ucap Ghani berulang-ulang. Kata yang sejak dulu ingin dia ucapkan kini kata itu mengalir keluar begitu saja.


Saat mereka masih berpelukan suara lain dibelakan mengejutkan keduanya.

__ADS_1


" Kak Ghani."


__ADS_2