
Arka sekarang sudah kembali kekamarnya, sambil menatap luar jendela Arka memikirkan keadaan Endri tadi.
Ingatan tentang kematian Ayahnya kembali tengiang difikirannya, rasa takut akan kehilangan kembali menghantuinya .
Melihat keadaan Endri yang belum sadarkan diri seperti itu ia mengingat kembali sang Ayah pun sama seperti itu tidak sadarkan diri hingga akhirnya Ayahnya pergi meninggalkannya selamanya.
Air mengalir disudut matanya dan langsung diusapnya. Ia tidak siap untuk ditinggalkan kembali, tidak siap untuk kehilangan lagi.
Endri adalah sorang asisten, teman dan juga saudara yang ia dapatkan saat hatinya kosong, Endri hadir dalam hidupnya memberi warna dan kebahagiaan dihatinya.
Senang, sedih, marah atau pun susah mereka selalu bersama hingga mereka tidak menyadari tidak ada ikatan apa pun diantara mereka.
Keduanya sama-sama saling melengkapi dan saling menjaga bagai ikatan saudara yang saling menyayangi.
" Aku tau kau adalah saudara ku yang kuat, kau tidak akan meninggalkan ku sama seperti Papa dulu, aku tau kau akan bangun dan bersama ku lagi." ucap Arka lirih.
"Kau tau banyak orang yang menunggu kepulangan kita disana jadi segeralah sadar dan ayok kita pulang." ucapnya lagi.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu sudah seminggu Arka masih berada dirumah sakit, setelah bangun dari komanya Arka melanjutkan perawatan untuk menyembuhkan luka yang ada tubuhnya.
Dengan menjalani pengobatan perlahan luka ditubuh Arka mulai sembuh tapi untuk sementara Arka tidak diperbolehkan untuk berjalan dulu ia harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu karena.
Dikarenakan kedua kakinya mengalami keretakan tulang dan masih proses pemulihan jadi ia tidak diperbolehkan dulu untuk berjalan.
Sedangkan keadaan Endri, ia sudah melewati masa kritisnya dan itu membuat Arka bersyukur, kini tinggal menunggu Endri untuk sadar.
Karena mangingat ia sudah terlalu lama disini dan juga sudah terlalu lama meninggalkan keluarganya, Arka berencan ingin segera pulang kenegaranya.
Ia memaksa Dokter untuk mengijinkannya kembali kenegaranya dan menjalani pengobatan dirumah sakit pribadinya, walau sekarang ia tengah dirawat disalah satu rumah sakit milik Ayahnya yang ternyata dikelolah oleh Dino, Arka merasa lebih baik jika dekat dengan keluargany.
__ADS_1
Karena Arka bersikeras untuk pulang kenegaranya, akhirnya dokter mengizinkannya.
Arka menyuruh Dino untuk mengurus kepulangannya dan Endri besok pagi. Dan juga memperintahkan untuk ikut bersamanya.
Hingga keesokan harinya Arka sudah bersiap dikursi rodanya ia menunggu kabar dari Dino hingaga suara ketukan pintu terdengar.
Dino masuk dan melaporkan jika semuanya sudah siap.
" Tuan Muda semuanya sudah siap." ucap Dino.
" Baiklah, ayo kita pulang." ucap Arka.
Dino mendorong kursi roda Tuan mudanya meninggalkan kamarnya, Dino membawa Arka menuju Lift, Arka melihat bangkar Endri besarta alat bantunya juga dibawak menuju Lift yang sama.
Lift tersebut membawak mereka menuju lantai atas bangunan rumah sakit tersebut, setelah sampai terlihat pesawat pribadi sudah berada disana. Dengan bantuan dokter bangkar Endri dimasukan kedalam pesawat tersebut.
Arka, Dino, Endri dan juga satu orang Dokter yang bertugas memantau keadaan Endri sudah berada didalam pesawat pribadi itu, hingga persawat tersebut lepas landas.
Di rumah sakit lagi, ruangan rawat Ghava sedang ramai karena Opa, Oma, Ayi Hana dan juga saudara kembarnya datang mengunjunginya.
Ghava belum diperbolehkan untuk pulang karena dua hari lalu ia kembali demam hingga dokter menyuruhnya untuk dirawat beberapa hari.
" Ghava sayang cucu Oma mau makan apa, biar nanti Oma buatkan untukmu." ucap Mami Alin sayang pada Ghava.
" Ghava ingin makan puding coklat buatan Oma." ucap Ghava.
" Baiklah hari ini juga Oma akan buatkan puding yang enak untuk cucu Oma yang tampan ini."
Mami Alin, Ghava dan juga Ghani asik bercerita hingga tidak memperdulikn keberadaan dua orang lainnya.
__ADS_1
Khayra dan Hana duduk disofa sebelah tempat tidur Ghava keduanya hanya melihat keseruhan ketiganya, Mami Alin datang mengunjungi Ghava sendirian karena Papi Ali hasih sibuk dengan urusan perusahaan, semenjak kepergian Arka dan Endri Papi Ali yang bertugas menggantikannya.
" Hana bagai mana keadaan Cafe saat ini, .maaf semenjak Ghava sakit aku tidak pernah masuk kerja, aku sibuk mengurus Ghava." ucap Khayra merasa tidak enak.
" Kau tenang saja Khay, ada Nina dan asisten mu yang mengurus pesanan jadi kamu tidak perlu khawatir dan soal kamu tidak masuk aku tidak mempermasalahkannya, yang penting kesayanganku itu sehat." ucap Hana sambil melihat Ghava yang sudah sedikit kembali ceria.
" Kau tau Hana, semenjak Mas Arka menghilang aku merasa kehidupan kedua anak-anak ku berubah. Kedua anak ku sudah terbiasa akan hadirnya Mas Arka dihidup mereka, Lalu dengan datangnya masalah ini kedua anakku seakan belum bisa menerimanya dan kau lihat sendiri apa akibatnyakan." ucap Khayra sambil menitikan air matanya.
Hana langsung menggenggam erat tangan Khayra mencoba untuk menenangkannya.
" Aku tidak akan sanggup jika suatu saat tiba-tiba mereka mendengar jika Papa mereka sudah tidak ada lagi, apa yang akan terjadi kepada kedua anakku Han..Hiks..hiks.. aku tidak sanggup menghadapinya Han..hiks..hiks.." Hana masih terus menenangkan Khayra, hatinya juga merasa takut jika kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Janji dan juga Mimpinya bersama Endri tidak akan pernah terwujud jika kenyataan yang menyedihkan yang akan datang.
Tanpa ia sadari air matanya pun juga ikut mengalir, ia teringat akan mimpinya yang sudah beberapa hari ini ia rasakan.
Di mimpi itu, Hana berjumpa dengan Endri yang sedang tersenyum kepadanya. Rasa rindu yang amat sangat besar akan pria tersebut mengalir begitu saja. Hana berlari menghampri Endri dan langsung memeluknya, air mata yang sudah lama ia tahan akhirnya pecah juga.
Didalam dekapan Endri, Hana mengeluarkan semua rasa yang ada didalam hatinya. Rasa rindu , sedih dan marah bergabung menjadi satu, hingga pelukan itu merenggang.
Endri menghapus air mata itu sambil tersenyum dan kemudian Endri berkata.
" Aku akan segera pulang, tunggulah aku dan setelahnya aku kembali ayo kita menjalani hidup bersama dengan atas izin dari Allah." ucap Endri dan hingga Hana tersadar itu hanya mimpi.
" Kau harus sabar Khay, aku tau ini berat jadi ayo kita harus kuat, kita hadapi ini semua, Allah tidak tidur ia akan mendengarkan doa kita. Mereka berdua akan pulang, aku yakin itu." ucap Hana.
Khayra yang mendengar keyakinan Hana akan kembalinya Arka dan Endri membuatnya kembali sabar dan akan selalu menunggu serta berdoa untuk kembalinya keduanya.
Disaat mereka sedang berbicara, Mami Alin mendatangi kedua wanita yang akan menjadi menantunya itu.
__ADS_1
Karena kedua cucunya sudah tidur, Mami Alin pamit untuk pulang dan nanti sore ia akan datang kembali bersama dengan Papi Ali.