CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
ENDRI


__ADS_3

Hari menjelang malam Khayra masih setia menunggu anaknya yang belum sadar karena pengaruh obat bius.


Dokter mengatakan keadaan Ghava saat ini baik-baik saja namun Dokter juga mengatakan kalau Ghava menjadi seperti ini karena dia mengalami stres dan sikisnya terganggu ditambah lagi Ghava kekurangan asupan makanan ditubuhnya hingga terjadinya penurunan kekebalan tubuh mengakibatkan dia demam.


Mendengar ucapan dokter Khayra juga membenarkannya, karena akhir-akhir ini Ghava terlihat murung dan kurang nafsu makan.


Khayra berbaring disebelah Ghava, dia mengusap kepala anaknya dengan lembut dan menciumnya. Setitik air menetes dari matanya, Khayra merasa sedih melihat anaknya berbaring di atas tempat tidur rumah sakit, ia tau penyebab anaknya seperti itu.


Saat ini hanya Khayra yang menemani Ghava, sebenarnya Mami Alin memaksa untuk ikut menjaga cucunya namun Khayra melarangnya karena Mami Alin baru saja sembuh dan ia juga tidak mau penyakit Mami Alin kambuh karena kecapean.


Akhirnya Mami Alin mengalah karena demi kesehatannya juga, tapi Mami Alin menyuruh Hana dan Ghani untuk ikut bersamanya dan tinggal bersamanya untuk sementara waktu, selama Ghava masih dirawat.


Semenjak menghilangnya Arka, anak-anak dan dirinya berusaha untuk menjalani hidup seperti biasanya, namun tanpa disadari Khayra dan juga kedua anaknya sangat merindukan Arka.


Ketiganya selalu berdoa dan meminta kepada Allah untuk membawak Arka pulang kembali dan hanya itu yang bisa mereka lakukan.


" Sayang maafkan Mama yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Mama tau kamu pasti sangat merindukan Papa sampai kamu seperti ini." Ucap Khayra lirih.


Ghava yang mendengar ucapan Mamanya perlahan membuka kedua matanya.


" Ma..ma haus." Ucap Ghava lirih


" Sayang, kamu sudah bangun, sebentar Mama ambilkan minum." Khayra turun dari tempat tidur dan membawa segelas air dengan sedotan.


Ghava perlahan meminumnya, setelah selesai Khayra kembali meletakan kembali gelas itu.


Ghava melihat sekeliling ruangan tampak tidak seperti kamarnya.

__ADS_1


" Mama kita dimana ? Apa Papa sudah pulang ? Adek rindu Papa ?." Kata itu keluar lagi dan lagi dari mulut anaknya namun Khayra masih saja tidak tau apa yang harus dia jawab.


Khayra mengelus rambut Ghava dan mencium kening dan kedua pipi anaknya dengan lembut.


" Sayang, dengarkan Mama. Jika adek merindukan Papa dan ingin Papa cepat pulang adek harus sehat terlebih dahulu, nantik kalau adek sakit seperti ini jika Papa pulang Papa akan sedih melihatnya, apa dek mau melihat Papa sedih." tanya Khayra dan dijawab dengan gelengan oleh Ghava.


" Jadi kalau adek tidak mau melihat Papa sedih, adek harus sehat dulu dan selalu makan yang banyak, setelah itu kita akan tunggu Papa pulang, oke."


" Iya Mama adek mau cepat sembuh jadi kalau Papa pulang adek tidak sakit lagi."


" Bagus, pintarnya anak Mama ini, ya sudah kita istirahat dulu yuk biar adek cepat sehat."


Ghava akhrinya kembali memejamkan matanya dan tertidur. Khayra yang teringat belum solat isya, setelah melihat anaknya usah tertidur kembali ia berjalan menujuh kamar mandi untuk mengambil wuduh dan melaksanakan solat isya.


Selesai solat Khayra memanjatkan doa syukur atas keadaan anaknya dan tidak lupa mendoakan akan kembalinya Arka kepadanya dan juga anak-anaknya.


Ditempat lain Arka terlihat gelisah dalam tidurnya, wajahnya bercucuran keringat.


Terlihat disuatu ruangan ICU penuh dengan alat-alat medis seorang dokter telah berusaha untuk mengembalikan keadaan pasien yang sedang kritis hingga akhirnya dokter tersebut tidak bisa mengembalikan keaadaan pasien tersebut.


Dengan berat Dokter memberitahu bahwa sang pasien tidak bisa diselamatkan.


Seorang anak laki-laki yang sedari tadi menunggu sambil menangis keadaan Ayahnya, seketika berterik memanggil sang Papa yang sudah tidak bernyawa lagi.


" Tidak...tidak...tidak Papa.. Huaaaa, jangan tinggalkan Arka sendirian, Arka hanya memiliki Papa jika Papa pergi Arka akan bersama siapa... Papa..bangun Papa..Huaaaa hiks..hiks." tangis pilu anak laki-laki tersebut terdengar menyedihkan bergema di ruangan itu.


Dengan hati yang hancur ia menangis memohon sang Papa untuk bangun. Dokter serta perawan yang berada disana berusaha untuk menengakan anak laki-laki tersebut hingga akhirnya ia pun pingsan.

__ADS_1


"Tidak.. tidak Papa jangan tinggalkan Arka... PAPA." Arka berteriak dan bangun dari tidurnya.


Wajah yang menuh dengan peluh ia sadar bahwa ia tadi sedang bermimpi dan dengan cepat Arka mengambil segelas air yang sudah tersedia dimeja dekat bangkarnya dan meminumnya hingga tandas.


Setelah tenang Arka kembali mengingat perkataan Dino asisten Papanya.


" Papa apa yang sebenarnya terjadi, rahasia apa yang selama ini Papa sembunyikan dan Papa jaga hingga Papa rela mempertaruhkan nyawa untuk itu." ucap Arka.


Serasa tidak bisa tidur lagi Arka mencoba turun dari tempat tidur dengan perlahan, namun rasa sakit yang disebabkan oleh luka ditubuhnya membuat Arka meringis sakit.


Arka berusaha menahan rasa sakit ditubuhnya agar dia dapat turun namun tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan terbuka.


Terlihat Dino masuk keruangannya sambil membawak kursi roda.


" Tuan, anda sudah bangun. Saya sudah bawakan anda kursi roda jika anda ingin mengunjungi Tuan Muda." ucap Dino.


" Baiklah, aku ingin melihat keadaan Endri sekarang." pinta Arka.


" Baiklah Tuan." Dino membantu Arka untuk turun dari tempat tidur, ia memindahkan tubuh Arka dengan perlahan ke kursi roda walau Arka sempat meringis menahan sakit.


Setelah dilihat aman Dino mendorong kursi tersebut keluar dari kamar dan menuju ruangan sebelah tempat Endri dirawat yang dikatakan Dino kemarin.


Setelah sampai Arka dan Dino masuk kekamar Endri. Arka melihat keadaan Asisten, sahabat sekaligus saudaranya sangat mengenaskan, banyak alat-alat penunjang hidup yang terpasang melekan ditubuhnya.


Arka ingin menangis melihat keadaan Endri saat ini, ia bertanya kepada Dino bagaimana kondisi Endri, kenapa bisa seperti ini.


" Bagaimana keadaannya." tanya Arka sambil menatap saudaranya itu.

__ADS_1


" Tuan Endri mengalami lima patah tulang rusuk, kaki kanan dan juga tangan kanannya, ada dua tembakan yang mengenai paru-parunya dan juga bahunya, keduanya sudah dikeluarkan dan untungnya peluru yang mengenai Paru-parunya tidak begitu dalam namun harus segera mengambil tindakan operasi agar tidak membahayakan nyawanya." jelas Dino.


__ADS_2