CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
ENDRI STORY


__ADS_3

POV ENDRI


Tujuh tahun yang lalu


Aku berlari masuk kedalam lorong-lorong pemukiman padat penduduk untuk menghindar dari beberapa orang preman yang ingin menangkap ku.


Aku tidak tau siapa mereka yang jelas aku selalu menghindar dari kejaran mereka.


Saat aku lelah berlari aku menutuskan untuk bersembunyi dibawah kolong jembatan agar tidak tertangkap mereka.


Jika kalian bertanya apa aku memiliki tempat tinggal, jawabannya tidak aku tidak memiliki tempat tinggal atau pun tempat untuk berlindung dan jika kalian bertanya dimana orang tua ku dan aku pun tetap menjawab tidak tau.


Sejak masih bayi aku hidup dipanti asuhan disaat aku bertanya dimana orang tua ku seseorang dipanti itu menjawab aku tidak memiliki orang tua dan mereka menemukanku di tempat pembuangan sampah, Menyedihkan bukan.


Aku hidup dijalanan seperti gelandangan selama 11 tahun disaat umurku 7 tahun aku kabur dari panti hasuhan karena aku mengetahui kalau panti itu adalah sindikat perdagangan manusia berkedok panti hasuhan.


Kini aku sudah remaja 18 tahun dan nasib ku masih sama seorang gelandangan. Walau pun begitu untuk bertahan hidup aku melakukan semua pekerjaan yang dapat menghasilkan uang seperti mengamen, buruh panggul dipasar atau pun pekerja bangunan.


Walaupun sedikit yang aku hasilkan tapi aku selalu bersyukur atas apa yang aku dapat untuk bertahan hidup.


Hingga suatu ketika ada beberapa orang yang sedang mencari ku. Awalnya aku tidak mengambil pusing dan berfikir mungkin orang-orang itu hanya iseng saja.


Tapi disaat orang-orang itu melihatku entah mengapa didalam hatiku menyuruh ku untuk lari dari orang-orang itu dan akhirnya sampai sekarang orang-orang itu terus mencari ku dan malahan sekarang yang mengejar ku bertampang seperti pereman.


Aku bersembunyi dibawah kolong jembatan dan mengatur nafas ku juga beristirahan sementara disana disaat sedang istirahat aku mendengar suara seseorang yang sedang menangis.


Awalnya aku takut tapi rasa penasaran ku yang tinggi membuatku mencari asal suara itu dan aku melihat seorang anak perempuan sekitar 15 atau 16 tahun sedang duduk sambil menunduk, aku mengampirinya dan membuat dia terkejut, dia sangat ketakutan melihat ku tapi aku mencoba menenangkannya dan mengatakan aku tidak akan berbuat jahat kepadanya dan dia percaya.


" Hay apa yang kau lakukan disini." ucap ku dan membuatnya terkejut.


"....."


"Maaf membuatmu terkejut, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu." ucap ku lagi karena dia tidak menjawab pertenyaanku.

__ADS_1


" Benarkah." Ha akhirnya dia bicara juga.


" Iya, apa yang kau lakukan disini." tanya ku lagi.


" A..aku tersesat kak."


"Tersesat, kenapa bisa ?." aku bingung kenapa dia bisa tersesat.


"A..aku tidak tau ini dimana karena aku baru pertama kali datang kekota ini." ucapnya dan membuat aku akhirnya mengerti.


" Oh begitu, jadi apa kau tau alamat rumahmu ?."tanya ku dan dia hanya menganggukan kepala.


" Dimana."


"Jalan utara putih no 23." ucapnya dan aku tau itu dimana karena itu kawasan perumahan yang lumayan elit.


"Baiklah ayo aku antar kamu kesana."


"Benarkah Kaka, terima kasih." ucapnya sambil tersenyum cantik dan seketika membuatku terpesona.


Akhirnya aku mengantar anak perempuan itu sampai dimana rumahnya berada, butuh waktu setengah jam akhirnya kami sampai didepan perumahan itu. Karena aku tau keamanan diperumahan itu sangat ketat jadi aku hanya mengantarkannya sampai depan perumahan itu dan langsung pergi dari sana.


Disaat aku pergi dari sama tiba-tiba ada sekelompok pereman menghalangi jalanku dan aku mengetahui kalau merekalah yang selama ini mengejarku.


Tanpa aba-aba mereka menyerang ku bersama-sama dan perkelahian pun terjadi, karena kalah jumlah akhirnya aku dihajar habis-habisan oleh mereka hingga aku berfikir kalau ini adalah akhir dari hidupku.


Dengan sedikit kesadaran aku melihat sesorang mendekatiku dan menghajar semua preman-preman yang tadi menghajar ku hingga akhirnya kesadaran ku hilang.


****


Tidak lama kemudian aku tersadar dan melihat sekeliling ternayata aku dirumah sakit.


" Ah iiss..ini dirumah sakit, aku fikir aku akan mati." ucap ku sambil perlahan bangkit dari tidurku.

__ADS_1


" Itu akan terjadi jika kau terus dihajar oleh mereka." suara dingin itu membuat ku terkejut, aku kira diruangan itu tidak ada siapa-siapa.


Seorang remaja laki-laki itu berjalan mendekati bangkar ku dengan tatapannya yang sangat dingin dan arogan terlihat dia seperti orang kaya dengan dari tampilannya.


Tapi aku tau dan melihat dengan jelas bahwa tatapan matanya itu dipenuhi dengan rasa kesepian, kesedihan dan juga dendam.


Saat ini dia berdiri tepat dihadapan ku tanpa merasa jijik dia mengulurkan tangannya kepadaku dan aku pun membalasnya.


" Arkana Khaleed." ucapnya.


" Endri, apa kau yang menolongku dan membawaku kesini" balasku.


" Iya, saya yang menolong dan membawamu kesini."


"Terima kasih, jika kamu tidak datang menolongku tadi sudah pasti aku akan mati."


"Tapi ini tidak gratis." ucapnya dengan memasang wajah dinginnya.


Aku yang mendengar itu sontak membuatku terkejut dan berfikir ternyata semua orang kaya itu sama mencari keuntungan dan tidak mau merugikan diri sendiri.


" Tapi maaf aku tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit ini, lebih baik aku pergi sekarang, lagi pula aku sudah merasa lebih baik." aku berusaha mencabut selang infus yang melekat ditangan ku, aku tidak ingin berlama-lama dirumah sakit karena aku tidak akan sanggup membayar jika aku masih dirawat.


Saat ingin mencabut selang infus tangan ku dihentikan olehnya dan dengan masih memasang wajah dinginnya dia berbicara membuat ku menghentikan perbuatanku


" Aku tidak butuh uangmu, aku sudah membayar semua admistrasinya dan lebih baik kau fikirkan dengan kesehatanmu."


"Jika bukan seperti itu lalu kenapa kau bilang ini tidak gratis yang jelas kau ingin aku menggantinyakan."ucapku


Remaja laki-laki itu menyentuh tanganku dan menjelaskan maksud dari ucapannya.


" Apa kau mau menjadi temanku."


Aku yang mendengar itu seketika heran dan tidak percaya, karena tidak menyangka orang kaya seperti dia mau berteman dengan ku yang gelandagan ini, yang benar saja.

__ADS_1


" Maaf apa kau tidak salah bicara ? kau ingin aku berteman dengan mu." tanya ku memastikan.


"Iya."


__ADS_2