CINTA UNTUK SI KEMBAR

CINTA UNTUK SI KEMBAR
KECURIGAAN


__ADS_3

Kepulangan Ghava dari rumah sakit disambut hangat oleh Mami Alin dan Papi Ali, mereka merasa senang karena cucu mereka sudah sembuh dan sehat selalu.


Khayra dan Hana juga dipeluk hangat oleh Mami Alin.


" Ayo semuanya kita masuk." ajak Mami Alin untuk masuk kedalam rumah.


mereka semua duduk diruang keluarga, terlihat raut wajah Ghava murung tidak seperti biasa. Mami alin yang duduk disebelahnya sangat tau apa yang difikirkan cucu kesayangannya itu begitu pun juga dengan Ghani, pria kecil itu walau terlihat dingin dan pendiam tapi terlihat dimatanya terpancar kesedihan.


Mami Alin memeluk kedua cucunya dan menciumnya.


" Kenap muka cucu-cucu Oma yang tampan ini murung." tanya Mami Alin.


Khayra, Hana dan Papi Ali hanya melihat saja karena mereka pun juga tau apa yang difikirkan sikembar.


"Kami tidak apa-apa kok Oma." jawab Ghani.


" Oh cucu Oma, Oma tau apa yang kalian rasakan, kalian merindukan Papa kan Oma juga sama seperti kalian, Oma juga merindukan Papa kalian dan juga Om Endri yang bisa Oma lakukan hanya berdoa jadi jika kalian sangat merindukan Papa berdoalah agar Papa cepat pulang." jelas Mami Alin sambil menghapus air matanya.


" Iya Oma kami akan selalu berdoa kepada Allah agar Papa cepat pulang." ucap Ghava.


" Yasudah kalau begitu kalian istrirahatlah nanti waktunya makan siang Oma akan penggil." ucap Mami Alin.


" Baik Oma." ucap sikembar.


Ghava dan Ghani naik menujuh lantai dua dimana kamar mereka yang sudah dipersiapkan dirumah itu.


Setelah anak-anak masuk kekamar, tinggallah orang-orang dewasa disana. Mami Alin bangun dari duduknya dan mendekati Khayra dan Hana.


Mami Alin duduk diantara Khayra dan Hana ia langsung memeluk keduanya hingga terdengar isak tangis dari kedua calon menantunya itu.


" Ssuhtt... sudah-sudah kalian juga harus sabar dan ikhlas semuanya akan baik-baik saja." ucap Mami Alin menengakan kedua wanita yang ada dipelukannya.


" Apa yang Mami kalian katakan benar, kali berdua harus sabar dan ikhlas, Papi juga masih berusaha untuk mencari mereka berdua, Papi juga berharap kalian juga harus ikhlas dengan hasil apa yang nanti kita dapat." Ucap Papi Ali yang juga terlihat sangat sedih dan juga terlihat wajah yang lesuh dan lelah disana.

__ADS_1


" Jadi apa ada kabar terbarunya Papi." Tanya Mami Alin.


" Papi dapat kabar jika Arka dan Endri hanya dua hari disana dan untuk masalah perusahaan disana sudah di selesaikan yang ternyata hanya masalah sepele yang seharusnya Arka dan Endri tidak perlu ikut turun tangan." Jelas Papi Ali.


" Bukannya Endri juga memeriksa kembali masalah itu sebelum mereka pergi kesana ya Pi." tanya Mami Alin aneh.


" Iya Mami benar Endri sudah memeriksanya terlebih dahulu tapi setelah mereka perksa kembali ternyata masalah itu tidak lah serius. Memang benar ada masalah dan orangnya pun juga sudah mereka serahkan kepihak berwajib disana. Sepertinya ada orang yang sengaja melebih-lebihkan masalah ini." ucap Papi Ali.


" Jadi Mas Arka dan Tuan Endri dijebak dengan dalih perusahaan yang di Berlin bermasalah ya Pi." tanya Khayra dengan wajah sembabnya.


" Benar nak, dan sampai sekarang kita tidak tau siapa orang yang melakukan itu."


" Tapi jika masalah diperusahaan sudah diselesaikan, lalu kenapa tuan Arka dan Tuan Endri bisa menghilang Pi." kali inj Hana angkat bicara.


" Itu lah yang Papi fikirkan dan Papi rasa orang itu juga adalah dalang dibalik menghilangnya Arka dan Endri, tapi Papi tidak tau siapa dia dan apa yang dia inginkan." ucap Papi Ali.


sebenarnya Papi Ali sudah mencurigai seseorang, karena salah satu anak buahnya memberitau kalau dia berada dikota ini, tapi Papi Ali kurangnya bukti kalau memang dia juga ikut didalam hilangnya Arka.


Sedangkan dirumah sakit Arka sedang bersiap untuk pulang kerumah dan ingin melihat keadaan keluarganya apa lagi dengan kedua anak kembarnya .


Dengan hati yang hancur saat mendengar keadaan anaknya, Arka memutuskan untuk cepat kembali kerumahnya.


" Tuan, mobil jemputan sudah tiba." ucap Dino.


" Baiklah Paman, ayo kita pulang." jawab Arka dengan antusias.


Dino mendorong kursi roda Arka dengan menaikin lift mereka tiba dilantai bawah yang terlihat mobil sedang menunggunya.


Didalam perjalanan Arka terus saja memikirkan kedua anaknya, apa mereka merindukannya atau mereka marah kepadanya karena tidak menepati janji akan pulang segera. Entahlah.


Dengan waktu empat puluh menit mobil yang membawa Arka sampai kesebuah Mansion yang sudah sebulan ini ia tinggalkan. Disaat sampai pintu gerbang mobil mereka diberhentikan oleh penjaga rumah Arka.


" Selamat siang Pak, Anda mencari sia.....pa. Tu..tuan Mudaaa." ucap penjaga itu yang terkejut saat ia melihat seseorang yang duduk dibelakan.

__ADS_1


" Pak.." ucap Arka.


" Ya Allah Tuan Muda, akhirnya anda kembali... anda kemana saja kasian Nyonya dan Tuan muda Ghava masuk rumah sakit karena merindukan Tuan Muda." ucap Pak penjaga itu dengan air mata bahagia.


" Maafkan saya Pak sudah membuat kalian cemas saat saya menghilang." ucap Arka.


" Tidak Apa-apa tuan muda, ya sudah silahkan masuk Tuan." ucap Pak penjaga Mansion kelarga Khaleed.


Didalam Mansion Papi Ali, Mami Alin, Khayra, Hana dan juga sikembar sedang menikmati makan siang mereka, tidak ada pembicaraan disana hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.


" Sayang, mau tambah lagi makanannya." tanya Khayra karena melihat kedua anaknya makan sangat sedikit.


" Tidak Mama, ini sudah cukup." ucap Ghani


" Adek.." tanya Khayra lagi.


" Tidak Mama." jawab Ghava sambil tersenyum dengan wajah yang masih terlihat pucat.


Khayra tidak memaksa kedua anaknya untuk makan lebih banyak lagi.


" Mama adek sudah selesai makannya, adek kembali kekamar ya." ucap Ghava yang memang sudah selesai makannya.


" Ghani juga sudah Mama." ucap Ghani.


" Baiklah sayang."


Sikembar meninggalkan ruang makan dan kembali masuk kekamar mereka. Khayra yang melihat kedua anaknya tidak seperti biasanya lagi menjadi sedih.


Tidak pernah lagi dia melihat senyum diwajah anaknya dan tidak ada lagi kecerian disana, semenjak mereka tau kalau Papa mereka menghilang.


" Kapan semua ini berakhir, aku sangat merindukan senyum dari kedua anak aku." ucap Khayra lirih, semua yang ada disana juga mendengarkannya.


Hana yang duduk disebelahnya mengelus bahu Khayra unthk menenangkannya begitu juga dengan Mami Alin yang duduk didepannya, ia memegang tangan Khayra.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan makan siang dengan kesedihan yang terlihat diwajah mereka. Hingga


" AAAAAKKHHHH TUAN..."


__ADS_2