
Setelah perlombaan itu selesai dengan terpilihnya 30 murid yang mewakilin sekolah untuk mengikuti Olimpiade yang diadakan diBerlin dua minggu yang akan datang.
Ghani dan Ghava berlari kearah Papa mereka dan langsung memeluknya.
" Papa..."
"Oh jagoannya Papa, kalian hebat Papa sangat bangga kepada kalian."
" Papa kenapa terlambat datangnya, kami fikir Papa tidak jadi datang." ucap Ghava.
" Tentu saja Papa akan datang, Papa tidak akan melewatkan kesempatan untuk melihat lomba kedua pangeran hebat Papa ini dan Maaf kan Papa Baby, sudah membuat kalian sedih." Arka langsung mencium pipi kedua anaknya dan merasa sangat menyesal telah membuat kedua anaknya sedih jika bukan karena masalah yang terjadi di kantornya dan ditambah lagi dia meladenin wanita itu dia tidak akan membuat kedua anaknya itu sedih dan menunggunya.
" Tidak masalah Pa, yang penting Papa datang dan melihat perlombaan kami." ucap Ghani.
" Baiklah sebagai permintaan maaf, Papa akan mengajak kalian liburan bagaimana."
Ghani dan Ghava yang mendengar itu merasa senang karena hal inilah yang selama ini mereka inginkan, mereka nantikan jika Papa mereka kembali, Liburan bersama.
" Yeeh., benarkah itu Papa." tanya Ghava lagi untuk memastikannya.
" Benar sayang, apa kalian mau."
"Tentu saja kami mau, terima kasih Papa kami mencintaimu." ucap mereka bersama dan langsung mencium pipi Arka.
" Papa juga sangat mencintai kalian. Ya sudah ayo kita ke tempat Mama kalian pasti dia sedang menunggu kita."
Arka nenuntun kedua anaknya dan mengajak kedua anaknya untuk menemui Khayra. Benar saja Khayra ada disana menunggu mereka.
" Mama..." ucap keduanya, Ghava langsung berlari kearah Khayra meninggalkan Arka dan Ghani dibelakangnya.
" Jangan lari sayang nanti jatuh." ucap Khayra dan benar saja Ghava terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
Arka dan Khayra yang melihatnya sontak segera mendekati anak mereka dan segera membangunkannya.
" Kamu tidak apa sayang. Ada yang sakit." ucap Arka yang terlihat khawatir.
" Iya bilang sama Mama dimana yang sakit." ucap Khayra yang juga khawatir.
" Hehehe aku tidak apa-apa Pa Ma." ucap Ghava sambil tertawa.
__ADS_1
" Is kau ini bukannya berhati-hati, lihat lah dagumu terluka. Seperti anak kecil saja." ucap Ghani yang tidak habis fikir dengan kembarannya itu karena tidak berhati-hati.
Khayra dan Arka yang mendengar tuturan dari anaknya langsung melihat dagu Ghava dan benar ada luka disana.
" Huu...kakak kitakan memang anak kecil." Dengan polosnya Ghava menjawabnya.
" Yang bilang kita sudah dewasa siapa." jawab Ghani seperti biasa dengan wajah datarnya.
Perdebatan keduanya pun terjadi tanpa ada yang mau mengalah. Khayra dan Arka hanya menjadi penonton perdebatan mereka tanpa mau melerainya. Hingga akhirnya...
"Huuuu...Papa lihat Kakak memarahiku." Ghava yang kalah bedebat dengan saudaranya pun akhirnya meminta bantuan kepada sang Papa.
" Hahah... sudah-sudah jangan bertengkar lagi ayo kita pulang." ucap Arka.
"Papa... gendong." ucap Ghava dengan mode manjanya yang sudah merentangkan kedua tangannya dan mau gak mau Arka menggendong anak kesayangnnya itu.
"Hu dasar manja."
"Biarin weeek." Ghava mengeratkan pelukannya dileher sang Papa.
Disaat mereka ingin meninggalkan ruangn tersebut Arka mencari keberadaan Endri yang tanpa dia sadari sudah tidak ada dibelakannya.
" Oh saya mencari Endri, kemana anak itu." jawab Arka.
"Oh ya ampun Hana juga tidak ada dari tadi."
Kemudian Arka dan Khayra mengambil ponsel mereka untuk menghubungi Endri dan juga Hana, tapi sebelum ingin menghubungi, Mami Alin menjawabnya.
" Endri sedang bersama dengan Hana ditaman sekolah Ar." Mami Alin mendekati mereka.
" Ngapain Mi." tanya Arka
" Tidak tau, biarkan saja mereka dulu. Oh iya kalian mau pulang. dan ini kenapa dagu Ghava terluka" Tanya Mami Alin yang tidak sengaja melihat luka didagu cucunya.
" Itu tadi Ghava jatuh Tante karena tersandung kakinya sendiri." ucap Khayra menjelaskan.
" Ya ampun sayang lain kali hati-hati donk."
" Hehehe iya Oma. Maaf."
__ADS_1
" Yasudah pulanglah kalian, kedua cucuku ini sudah terlihat sangat lelah dan jangan lupa obati lukanya."
" Iya Mami, kami pamit pulang dulu. Bilang juga ke Papi."
"Iya sayang, hati-hati ya."
Setelah kepergian Arka dan Khayra, Mami Alin bergabung kembali dengan sang suami yang sedang berbincang dengan coleganya.
*****
Disisi lain Endri sedang bersama dengan Hana duduk dibangku taman sekolah tersebut terlihat mereka hanya diam saja tidak ada satu kata pun terucap.
" Ada apa End, kau ingin menyampaikan sesuatu." akhirnya Hana membuka obrolan yang sedari tadi mereka hanya diam saja.
" Saya bingung harus bicara dari mana dulu, tapi saya sudah tidak bisa lagi menahannya untuk tidak mengatakannya....." Endri menghentikan ucapannya dan memutar memposisikan badannya menghadap Hana.
Terlihat dari wajahnya Endri terlihat sangat tegang dan gugup tidak seperti biasanya yang terlihat dingin, debaran dijantungnya pun terdengar sangan kencang.
" Hana, saya menyukaimu." ucapan Endri seketika membuat Hana terkejut
" Saya tau ini terlalu cepat mengingat kita baru beberapa bulan saling mengenal, tapi ijinkan saya untuk mengenalmu lebih jauh." ucap Endri lagi.
Hana yang mendapat pengakuan tersebut membuat hatinya seketika merasakan ada rasa yang baru pertama kali dia rasakan. Entahlah Hana pun tidak tau, Tapi dia juga merasa senang dengan pengakuan dari Endri.
" Ta..tapi bagai mana bisa."tanya Hana gugup.
" Saat pertama kali kita berjumpa. Awalnya saya menganggap rasa itu biasa saja tapi entah mengapa rasa itu semakin lama semakin tumbuh, hingga saat saya melihat kamu bersama dengan seorang pria seketika saya merasa tidak menyukai itu, mungkin saya sedang cemburu."
Seketika wajah Hana bersemu merona dan itu membuat Endri gemas sendiri.
" Jadi apakah kamu mau menjadi kekasih saya dan kita akan memulainya dengan saling mengenal satu sama lain." ucap Endri.
Endri berharap Hana akan menerima dirinya, tapi semuanya kembali kepada Hana, apa pun keputusan Hana dia akan menerimanya Endri tidak mau memaksakan perasaan dan kehendak jika Hana akan menolaknya.
Semua sudah dia serahkan kepada Allah jika Hana memang jodohnya Allah akan memberikan kepadanya dan jika tidak Endri juga akan menerimanya dengan ikhlas.
" End... apa kamu sudah yakin dengan ini, apa kamu akan siap mengetahui semua yang ada pada diri saya dan apa kamu bisa berjanji untuk itu."
" Saya tidak ingin menjanjikan apa pun kepada mu, tapi tindakan yang ada pada diri kita yang akan menjawabnya. Yakin dan siapnya, kita akan lalui itu denga kita untuk saling mengenal satu sama lain." ucapan Endri seketika membuat air mata Hana jatuh ada rasa bahagia yang menghampiri.
__ADS_1
"Jadi apakah kamu mau menjadi kekasihku."