Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Bimbang


__ADS_3

Suasana hati Ruben yang bahagia tidak mampu dia tutupi lagi karena senyumannya terus merekah, berbeda dengan suasana hati Raya yang saat ini nampak frustasi.


" Dok, apa anda tidak salah di dalam melakukan pemeriksaan? kalau boleh tolong lakukan lagi pemeriksaan" pinta Raya


" Pemeriksaan saya sangat akurat jika anda kurang puas maka kita bisa melakukan USG kembali" balas sang dokter


Akhirnya Raya melakukan USG kembali, betapa terkejutnya dia ketika melihat di layar nampak benda bulat dengan ukuran kecil terpampang disana.


" Ini adalah janin anda yang masih berusia tiga minggu, keadaannya sehat dan tumbuh cukup optimal. Saya sarankan Anda banyak makan makanan yang bergizi jangan jajan sembarangan di luar dulu lebih baik masak sendiri di rumah itu jauh lebih higienis." ujar dokter


Raya tidak mengeluarkan sepatah katapun tatapannya kosong dia benar-benar merasa sangat syok dengan apa yang dia lihat.


" Dok, tolong gugurkan janin yang ada di dalam perut saya" ucap Raya tiba-tiba dengan muka datarnya


" Raya apa yang kamu katakan?" sela Ruben sambil memegang pundak Raya


" Aku mau menggugurkan nya karena aku tidak menginginkan kehadirannya." jawab Raya dengan tatapan kosongnya


" Kamu jangan gila Raya! bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu" ucap Ruben dengan nada suara agak meninggi


" Saya minta lebih baik anda membawa istri anda keluar! karena masih banyak pasien yang harus saya tangani" sanggah dokter


" Tapi dok saya masih butuh bantuan anda untuk menggugurkan janin yang ada di perut saya" sambil melepaskan pegangan Ruben yang mengajaknya untuk keluar ruangan.


" Maaf saya tidak bisa membantu Anda karena saya menjadi dokter mempunyai tujuan untuk bisa membantu orang mencapai kesembuhan bukan membantu seseorang untuk membunuh darah dagingnya sendiri. Saran saya lebih baik Anda menerima dengan ikhlas janin yang ada di perut Anda karena itu adalah titipan dari Allah yang tidak semua perempuan bisa memilikinya." perkataan dokter itu sedikit mengkoyak batin Raya, dengan rasa kecewa Raya memutuskan untuk keluar dari ruang pemeriksaan dengan tatapan kosongnya. Segera Ruben menyusul sang istri setelah dirinya berpamitan kepada dokter.

__ADS_1


Dengan langkah yang panjang Ruben akhirnya bisa mensejajarkan tubuhnya di samping Raya.


" Raya kamu baik-baik saja? kamu terlihat pucat, bagaimana kalau kita mampir dulu di kantin rumah sakit untuk membeli minuman dan beberapa cemilan" Ruben mencoba menawari Raya


Tanpa sepatah katapun Raya hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju, dengan perlahan Ruben menggandeng tangan Raya dan menuntunnya menuju kantin yang letaknya ada di samping ruang pemeriksaan. Disana Raya hanya bisa terdiam dan terpaku memandangi orang-orang yang sedang lalu lalang dengan urusannya masing-masing.


" Raya kamu mau pesan apa?" tanya Ruben untuk memecah keheningan


" Aku mau jus alpukat saja " jawab Raya singkat, tetap dengan muka acuhnya.


" Selain jus alpukat apakah ada yang mau kamu makan?" tanya Ruben lagi


" Tidak" balas Raya singkat


" Oke kalau begitu kamu tunggu sebentar biar aku pesankan" kata Ruben


Aku tidak tahu harus berbuat apa, kalau saja Sophia ada disini tentu dia akan memberi beberapa nasehat untukku. Aku tidak enak hati untuk menghubunginya tatkala dia sekarang sedang merawat orang tuanya, aku takut itu akan membuat beban untuknya. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?. keluh Raya sambil menghembuskan napas dengan kasar.


" Raya apa yang sedang kamu pikirkan? ini jus pesananmu" tegur Ruben sambil menyerahkan jus pesanan Raya.


" Oh itu aku sedang bingung, bagaimana caraku untuk menjelaskan semuanya kepada mas Dion tanpa membuatnya marah" jelas Raya


Oh jadi ini alasan kenapa dia tidak menginginkan janin yang ada diperutnya, ternyata dia takut tuan muda marah kepadanya.


" Kamu tenang saja tuan muda pasti bisa memaafkan dan menerima semuanya, asalkan kita bisa memberi pemahaman dengan apa adanya tanpa ada yang di tutupi"

__ADS_1


" Enggak! kamu kira mas Dion akan dengan mudahnya menerima semua? apa kamu lupa ketika aku berjuang agar dia mau mengakui anaknya? semua akan sia-sia jika dia sudah memutuskan untuk tidak percaya." ucap Raya tertunduk lesu


Ruben mendekati Raya lalu memeluknya "Kamu tenang saja apapun yang terjadi aku akan selalu menjaga kamu dan juga bayi kita"


Raya melepas pelukan Ruben "Semua lelaki sama saja, mereka hanya bisa berjanji tanpa bisa menepati. Bukankah kamu dulu berjanji untuk tidak menyentuhku? tapi apa? kamu buat aku mengandung darahmu" ucap Raya dengan tatapan tajam


" Maaf Raya aku tidak bermaksud, aku tahu kalau aku salah oleh sebab itu izinkan aku untuk menebus semuanya dengan cara menjaga dan merawatmu beserta calon bayi kita" sambil menggenggam tangan Raya


Raya menatap lekat lelaki yang berada tepat di hadapannya.


Sepertinya Ruben tulus di dalam ucapannya, aku yakin Ruben bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya.


" Oke aku akan memberimu kesempatan tapi ada satu syarat" ucap Raya


Mendengar Raya mengajukan syarat membuat Ruben mengernyitkan dahinya. "Syarat apa yang ingin kau ajukan? aku akan berusaha menetapinya" kata Ruben mantap


" Setelah aku melahirkan nanti otomatis kita akan bercerai setelah itu aku akan serahkan anak ini kepadamu, tolong kamu rawat dia dengan baik dan jangan pernah kamu memberitahukan bahwa aku adalah ibunya karena aku takut dia akan sakit hati setelah mengetahui kenyataan jika kehadirannya sebuah kesalahan" jelas Raya dengan wajah seriusnya


" Kenapa kamu bisa setega itu Raya, mana Raya yang baik dan penuh kasih sayang? kamu saja bisa menerima anak dari orang yang jahat kepadamu, tapi mengapa kamu tidak bisa menerima darah dagingmu sendiri dari hasil pernikahan kita? aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku, tapi kamu jangan pernah katakan kalau kamu juga tidak mencintai anak kita! bagaimanapun juga dia tidak bersalah apa-apa" Ruben mulai terbawa perasaan


Raya tertunduk sambil meneteskan air mata "Kamu kira hatiku tidak hancur Ruben? jujur aku menginginkan bayi ini, hanya saja aku tidak bisa membawanya di sisiku karena setelah kita bercerai aku akan ikut mas Dion ke Korea bersama anak-anak untuk menetap disana, aku tidak mau bayi ini akan menjadi duri didalam hubunganku dengan mas Dion. Lagipula aku tidak tega memisahkan ayah dengan anaknya. Jadi aku mohon jangan pernah kamu beri tahu bahwa akulah ibu kandungnya agar hatinya tidak terluka, bilang saja ibunya telah meninggal setelah melahirkannya" ujar Raya sambil menggenggam tangan Ruben dengan tatapan memohon.


Karena tidak ada yang bisa Ruben lakukan akhirnya dia menyetujui persyaratan yang Raya ajukan kepadanya walau dengan berat hati.


" Baiklah Raya aku menyetujuinya" jawab Ruben singkat.

__ADS_1


Selama beberapa bulan ini aku akan menikmati kebersamaanku dengan Raya karena aku tahu setelah bercerai mungkin aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.


__ADS_2