Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Relakan aku


__ADS_3

Lima hari lalu di Apartemen Dion.


Tatapan tajam dia arahkan ke seorang wanita dengan wajah lesu dan mata sayu yang sedang berada di pinggir jendela Apartemen nya. Sebenarnya dia sedang kesal dengan wanita itu tapi rasa kesal di dalam hatinya coba ia redam karena dia sadar jika rasa itu di luapkan maka kemungkinan besar wanita di hadapannya itu akan jauh meninggalkannya.


Dengan perlahan di dekatinya wanita itu lalu di peluknya dengan penuh rasa cinta, tapi sayang wanita itu dengan cepat melepaskan pelukannya.


" Mas jangan lakukan ini! kita bukan mahram" teriaknya


" Kenapa Raya? kenapa kamu jadi seperti ini? memangnya salahku apa? semenjak kepulangan kita dari Batam kamu jauh berubah, seakan-akan kamu selalu menjaga jarak denganku, sebenarnya ada apa Raya? aku sudah bosan dengan kediamanmu" Dion mulai naik pitam


Raya menjadi sedikit takut melihat perubahan sikap yang di tunjukkan Dion, dengan perlahan dia mundur kebelakang.


" Maafkan aku mas, maafkan aku" sambil tertunduk dan meneteskan air mata


Dion memegang pundak Raya "Selalu saja kamu meminta maaf kepadaku, aku tidak butuh itu Raya! katakan sebenarnya apa yang kamu inginkan! kamu jangan buat aku kehilangan kesabaran" teriakan Dion membuat Raya semakin menundukkan kepalanya


" Kamu jangan takut Raya aku tidak akan menyakitimu, aku sangat mencintaimu jadi bagaimana mungkin aku akan menyakitimu, aku hanya ingin kamu jujur kepadaku" sambil menatap lekat ke arah wanita yang terlihat sangat ketakutan


" Aku tidak tahu mas, aku hanya merasa kalau semua yang kita lakukan ini salah, aku... aku.. " ucap Raya terbata-bata


" Apanya yang salah Raya? kita saling mencintai bukankah kita memimpikan untuk hidup bersama?" ucap Dion sambil menekan pundak Raya


" Mas kan tahu kalau aku belum cerai jadi secara otomatis aku masih" Raya menahan Kata-katanya

__ADS_1


" Masih apa? masih istri sah nya Ruben? itu kan yang mau kamu katakan? selalu itu saja yang kamu katakan, aku benar-benar sudah muak Raya. Kamu sudah mengatakannya tidak kurang dari lima puluh kali" kata Dion dengan kesal


Raya hanya bisa terdiam tertunduk dia tidak berani melihat ke arah Dion, dia takut jika laki-laki itu berbuat kasar terhadapnya.


" Raya apa kamu mencintai Ruben?" tanya Dion tiba-tiba, pertanyaan itu membuat Raya terperanjat dia nyaris tidak percaya jika pertanyaan itu bisa keluar dari mulut lelaki yang selama ini dia kenal sangat dingin dan otoriter.


Apakah barusan mas Dion sedang menanyakan sesuatu tentang perasaanku? kenapa bisa? bukankah selama ini dia tidak peduli dengan apa yang aku rasakan? benar-benar sangat aneh, apa benar penyakitnya sudah sembuh? atau ini pertanyaan menjebak? tau ah sebaiknya aku tidak terlalu overthinking.


" Kenapa mas Dion tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Raya balik


" Karena aku merasa kalau kamu mulai menyukainya, itu terlihat dari tatapanmu ketika melihatnya sedang terluka pada waktu itu. Saat itu aku merasa tidak terima jika kamu menatap laki-laki lain dengan tatapan penuh sayang makanya aku langsung membawa mu keluar dari rumah Ruben berharap jika kita hidup bersama maka rasa cintamu yang terbagi dengan laki-laki lain akan menjadi seutuhnya untukku" jelas Dion dengan nada lemah lembut "Tapi sayang semua usahaku sia-sia karena semenjak keluar dari rumah Ruben kamu selalu terdiam, termenung dan tak menghiraukan ku sama sekali" imbuhnya


" Maafkan aku mas aku tidak bermaksud melakukannya, jujur sampai saat ini aku masih mencintaimu hanya saja aku tidak bisa pungkiri jika aku juga mencintai Ruben, aku tidak tahu persis kapan rasa itu muncul di dalam hatiku yang jelas ketika aku berada di dekatnya aku merasa nyaman dan bahagia" tutur Raya


" Mas apa kamu yakin akan melakukannya? apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Raya memastikan


" Jelas aku akan menyesal karena separuh perjalanan hidupku selalu ada kamu di sisiku, sejak dari kecil kamu sudah banyak berkorban untukku bahkan kamu rela mendapatkan cap jelek dariku ketika aku menuduhmu sebagai wanita murahan tukang selingkuh, aku benar-benar menyesalinya Raya. Andai saja waktu bisa diputar kembali maka aku akan berusaha menjadi Dion yang kuat agar kejiwaanku tidak mudah terguncang dan otomatis hal itu tidak akan membuat otakku mereset ulang kejadian-kejadian yang aku lalui" ujar Dion dengan penuh keputusasaan


" Mas maafkan aku karena sudah mengecewakanmu, walaupun nantinya kita tidak bisa bersama tapi kamu harus ingat kalau di antara kita masih ada Athala yang selalu butuh akan kehadiran sosok ayah kandungnya, jadi aku minta kamu bisa lebih dekat dengan dia"


" Kamu benar hanya Athala yang saat ini aku punya, dulu aku tidak respect terhadapnya karena aku kira dia anak Rian tapi kamu jangan khawatir mulai saat ini aku berjanji akan lebih memperhatikannya dan menyayanginya"


" Terima kasih mas, kamu sudah mau menerima Athala" ucap Raya sambil meneteskan air mata

__ADS_1


" Kamu jangan berterima kasih kepadaku karena itu kesannya seperti aku ini orang lain bukan bagian dari keluarga Athala, kalau boleh satu minggu dalam satu bulan biarkan Athala bersamaku, aku rela kalau harus bolak balik Jakarta-Batam asalkan aku bisa menebus semua dosaku kepadanya"


Tangisan Raya pecah dia benar-benar terharu mendengar ucapan Dion, selama ini dia berjuang agar suatu hari nanti Dion bisa menerima Athala sebagai anaknya dan ternyata hari itu benar-benar tiba.


" Aku bahagia mas, akhirnya mas mau dengan ikhlas menerima kehadiran Athala di kehidupan mu sebagai anak kandung bukan lagi sebagai anak sambung" sambil menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya


" Sudahlah sebaiknya cukup disini saja pembahasannya bukankah kamu harus segera kembali ke Batam menemui suamimu!" ucap Dion dengan nada pasrah "Sekarang kamu siap-siap aku akan menunggu di mobil bersama anak-anak" lanjutnya


" Mas apa kamu benar-benar yakin akan mengantarkan ku kembali ke Batam?" Raya ingin memastikan kembali


" Sebaiknya kamu jangan banyak bertanya kalau tidak ingin aku berubah pikiran" jawab Dion sambil berjalan pergi meninggalkannya.


Raya sebenarnya tidak yakin jika keputusannya kali ini benar atau salah tapi yang jelas dia sudah tidak mau lagi bermain-main dengan hukum Allah apalagi itu menyangkut dengan pernikahan. Akhirnya dia mantap untuk meninggalkan Apartemen Dion dan menuju ke Batam untuk melanjutkan hidupnya bersama lelaki yang sudah menikahinya.


Sesampainya di halaman rumah Ruben, Dion mematikan mobilnya.


" Raya setelah kamu keluar dari mobil ini maka hubungan kita benar-benar sudah berakhir, sebelum itu terjadi bolehkah aku mencium mu untuk yang terakhir kali" kata Dion penuh harap


Sambil menelan ludah karena bingung harus menjawab apa akhirnya Raya menganggukkan kepalanya.


Dengan lembut Dion membelai pipi Raya sambil mendekatkan wajahnya kemudian mulailah dia menciumi bibir Raya dengan penuh rasa sakit yang ada di hatinya karena sebentar lagi dia akan kehilangan kekasih hati yang selama ini menemaninya, tanpa terasa air matanya mulai berseluncur bebas di kedua sisi pipinya.


" Raya terima kasih atas semua pengorbanan yang selama ini kamu lakukan kepadaku, maaf aku tidak bisa membalasnya mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan, sekarang kamu keluarlah bersama kedua anakmu dan mulailah untuk berbahagia" ucap Dion dengan senyum getirnya.

__ADS_1


__ADS_2