
Perasaan cinta yang bersemayam di hati Asep tak mampu dia ungkapkan tatkala orang yang di kasihi sudah mengikat janji suci dengan pria lain, dia hanya bisa melepas dengan ikhlas orang yang dia cinta untuk mengejar kebahagiaan nya.
Menangis dalam hati hanya itu yang mampu dia lakukan karena dia tidak mau orang yang dia cintai mengetahui perasaannya terlebih orang yang dia cintai menganggap dirinya hanya sebatas adik.
Raya yang sudah berpamitan akhirnya meninggalkan Asep sendiri dalam sebuah angan-angan.
Di perjalanan menuju ke rumah Dion, Raya cukup sulit untuk mencari taksi sampai pada akhirnya ada mobil yang berjalan pelan mendekatinya, tanpa di duga keluarlah dua lelaki yang memiliki postur tubuh yang tinggi kekar menghampiri nya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Raya yang di ikat tangannya dan di lakban mulutnya hanya bisa terdiam pasrah sambil telinganya terus menyimak obrolan yang di lakukan penculik itu agar dirinya bisa mengetahui siapa dalang di balik penculikan dirinya.
Sebenarnya siapa mereka, kenapa mereka menculik ku? apa ini ada kaitannya dengan para preman yang sudah membakar rumah warga yang ada di Jawa barat, kalau iya bagaimana mungkin mereka mengetahui keberadaan ku disini, apa mungkin selama ini mereka terus mengikutiku? aku harus cari cara agar bisa bebas dari cengkeraman mereka.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu setengah jam akhirnya mobil yang mengangkut Raya pun berhenti di sebuah bangunan tua yang memiliki halaman cukup luas, bangunan itu seperti bekas sebuah gudang pabrik garmen.
Raya pun di paksa memasuki pabrik tersebut walau dengan perasaan yang sangat enggan karena terlihat dari luar gudang tersebut sangatlah kotor dan berdebu bahkan ada beberapa atapnya sudah roboh. Tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak mampu untuk melawan.
Apa ini maksud dari mimpi itu, bahwa aku harus berjuang sendiri keluar dari cengkeraman para preman ini? apakah mas Dion benar-benar tidak akan peduli lagi dengan keselamatan ku dan bayi yang aku kandung. Ya Allah tunjukkanlah jalan bagi hambamu ini.
" Wanita yang selama ini bos cari akhirnya berhasil kami tangkap" ucap salah satu preman dengan bangganya sambil mendorong tubuh Raya
__ADS_1
" Bagus kalian memang yang terbaik " sambil berjalan kearah Raya
" Oh jadi ini istri pertama nya Dion, cantik juga bahkan lebih cantik dari Maya, pantas saja Dion lebih memilihmu daripada Maya." sembari tangannya ingin membelai pipi Raya tapi Raya segera menghindar.
" Eeehhmmm...... ehmmm " Raya mencoba mengeluarkan suaranya
" Apa yang kamu katakan manis? aku tidak dengar, oke.. oke... aku akan membuka lakbannya" sambil menarik lakban
" Siapa kamu? kenapa kamu menculik ku?" tanya Raya dengan suara yang lantang
" Oh jadi kamu belum kenal siapa aku? aku Darwin kekasih dari istri kedua suamimu yang sekarang sedang mendekam di penjara akibat ulah suamimu yang belagu itu. Awalnya aku menculikmu sebagai alat untuk barter tapi setelah di lihat-lihat wajah dan kulitmu yang indah membuat aku ingin mencicipi nya terlebih dahulu sebelum menyerahkannya kepada Dion." dengan senyum menyeringai
Apa yang harus aku lakukan jika lelaki itu berbuat hal yang tidak senonoh terhadap diriku? Tidak aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus tetap berusaha memberontak walau nyawa taruhannya sekalipun.
Raya yang masih dalam kondisi tangan terikat dan dalam posisi duduk di lantai secara perlahan mundur ke belakang dengan niatan untuk menghindari Darwin yang semakin lama semakin dekat dengan tubuhnya.
" Ada apa sayang? kamu takut? kamu tidak perlu takut karena kita akan membuatmu merasakan kenikmatan surgawi, iya enggak teman-teman?" tanya Darwin kepada teman-teman nya
" Iya dong, haaaa... haaaa...... "
__ADS_1
Suara tawa para preman itu membuat jantung Raya berdegup sangat kencang hal itu memicu keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori yang ada di tubuh Raya, bahkan nafasnya yang tersengal-sengal membuat dadanya yang lumayan berisi ikut naik turun. Darwin yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Raya, begitu melihat pakaian yang di kenakan Raya mulai basah akibat keringat serta dadanya yang naik turun mengikuti alunan nafasnya membuat Darwin semakin bergairah tanpa basa basi di dekatinya Raya. " Ayo sayang kita mulai bermain" tangan Darwin pun memegang kuat pundak Raya
" Tidaaak lepaskan!!! aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku" teriak Raya sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Darwin
" Waaah...... kamu semakin imut kalau sedang marah, tapi sebaiknya mulai sekarang kamu nikmati saja sentuhan-sentuhan lembut yang akan aku berikan padamu, karena percuma saja jika kamu melawan wahai kucing liarku" Darwin pun memulai aksinya dengan mencium bibir Raya secara paksa, awalnya Raya merasa putus asa tapi sampai pada akhirnya dia berhasil menggigit bibir Darwin hingga terkelupas dan mengeluarkan banyak darah.
" Dasar wanita sialan! " Di tamparnya Raya dengan keras hingga dia tersungkur di lantai yang penuh dengan debu. Kamu pikir aku akan membiarkanmu lolos dari cengkeraman ku" imbuh Darwin sambil mendekati Raya kembali
Raya yang ketakutan mencoba untuk berdiri dan berlari dari tempat itu tapi apa daya tubuhnya yang melemah tak bisa dia gerakkan lebih leluasa lagi, kakinya yang bergemetaran tak mampu dia tegakkan dengan sempurna hingga dia harus berlari dalam kondisi sempoyongan. Netranya langsung terbelalak tatkala dia melihat Darwin berjalan santai dengan senyuman jahatnya mendekati dirinya.
" Tidak aku tidak boleh tertangkap lagi aku tidak mau jika tubuhku di nodai oleh orang biadab seperti mereka sampai matipun aku akan berjuang mempertahankan kehormatan ku, mas Dion dimana kamu? aku sangat membutuhkan pertolongan mu sekarang, ayo kaki berlari lah dengan lebih kencang lagi" Raya berbicara sendiri dengan keputusasaan
" Nah ketangkap juga kamu kucing liar" Darwin memeluk Raya dengan erat dari belakang, Raya yang sudah hampir kehilangan tenaganya masih berusaha memberontak walau hal itu sia-sia, karena dada indahnya yang selama ini dia jaga berhasil di jamah oleh Darwin.
Ketiga preman yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini mereka ingin ikut andil dalam menikmati setiap lekuk tubuh indah milik Raya. Raya menangis ketakutan dirinya ingin sekali bunuh diri dan mati di tempat daripada harus merasakan pelecehan yang akan mereka lakukan terhadap dirinya.
" Tolong lepaskan aku, aku mohon" Raya berusaha mengetuk hati para preman itu agar mereka mau melepaskannya.
" Jangan bercanda nona manis, mana mungkin kami para serigala membiarkan seekor kelinci imut seperti mu pergi begitu saja... haaaahaaa...... " ucap salah satu preman, yang membuat Raya kehilangan harapan.
__ADS_1