
Rapat yang di pimpin oleh Dion menjadi sedikit alot tatkala memasuki sesi pemungutan suara, banyak di antara pemegang saham yang tidak setuju jika Dion mengundurkan diri dari jabatannya, karena mereka menganggap hanya Dion lah yang pantas memimpin Central Group. Mengingat kinerjanya selama ini yang penuh dengan ambisius dan kecermatan di dalam membaca pasar membuat dia berhasil membawa Central Group menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Tapi Dion yang sudah merencanakan akan menjalani hidup sederhana bersama Raya dan juga anak-anaknya berusaha menjelaskan kemungkinan ke depannya yang akan terjadi jika dirinya masih menjabat. Bukan hanya mengenai rumor itu tapi juga mengenai gangguan otaknya, yang kemungkinan besar akan di jadikan senjata bagi pesaing bisnis mereka untuk menghancurkan Central group.
" Saya sangat berterima kasih kepada beberapa orang disini yang masih mendukung saya, tapi maaf untuk kali ini saya harus mengambil keputusan yang berat ini demi kebaikan kita bersama, tapi kalian tidak perlu khawatir saya sebagai pemegang saham terbesar di Central Group masih mempunyai andil di dalam sebuah keputusan yang nantinya akan di ambil oleh CEO pengganti. intinya saya akan mengawasi semua pergerakan dari CEO baru kita." Ucapan Dion yang terkesan arogan bagi sebagian orang membuat mereka sedikit kesal karena mereka menganggap jika Dion seperti sedang mengolok-olok kinerja calon pemimpin Central Group. Tapi beda dengan orang yang mendukung penuh pada Dion, mereka nampak lega karena Dion masih mau mengawasi setiap pergerakan dari calon pemimpin mereka kelak.
Rapat yang berjalan kurang lebih hampir dua jam itu akhirnya memutuskan bahwa Dion resmi turun dari jabatannya sebagai CEO.
Hasil keputusan yang membuat Dion menjadi lega sekaligus bahagia. Bagaimana tidak, rencananya untuk membangun rumah tangga yang sederhana dan penuh kehangatan akan segera terwujud setelah pernikahan kontrak antara Raya dan Ruben berakhir.
Tiga hari kemudian
Dion yang baru saja sampai di apartemen milik Sophia segera mencari keberadaan Raya, dia mempunyai niatan untuk mengajak Raya pergi ke rumah sakit guna melakukan pelepasan perban. Tapi sayang dia harus menelan pil kekecewaan karena sang tercinta sudah pergi bersama laki-laki lain. Mendengar itu hati Dion mulai gemuruh pikiran-pikiran tak lazimnya mulai menari-nari di otaknya, dengan tanpa pikir panjang lagi dia segera ingin menyusul ke rumah sakit tempat Raya melepas perban yang melilit kedua matanya. Melihat Dion yang terburu-buru keluar dari apartemen nya dengan cepat Sophia menghalanginya, awalnya Dion berprasangka buruk kepada Sophia tapi pada akhirnya dia bisa luluh dengan penjelasan Sophia.
" Jadi aku mohon untuk kali ini saja kamu jangan bersikap gegabah! kamu sendiri kan yang mengumumkan pernikahan Raya dengan Ruben jadi biarkan mereka untuk membiasakan diri untuk bersama, lagipula jika ada salah satu wartawan yang melihat ternyata kamu masih sering berjalan berdua dengan Raya maka itu bisa menjadi polemik baru"
" Kali ini aku setuju dengan pemikiranmu, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Dion sambil berjalan keluar
Sebenarnya aku merasa tidak enak hati melihat Dion seperti ini, aku merasa sangat keterlaluan melakukan perbuatan yang membuat dia dan Raya akhirnya harus berpisah.
Huuuufffttt...... (menghembuskan napas panjang)
Lamunan Sophia buyar tatkala bel pintu rumahnya ada yang memencet. Dengan segera dia membuka pintu tersebut, alangkah bahagia Sophia setelah mendapati sahabatnya yang berada di balik pintu dengan kondisi mata yang sudah tidak lagi di perban.
__ADS_1
" MasyaAllah Raya, kamu sudah bisa melihat sekarang?" teriak Sophia kegirangan sambil memeluk Raya
" Tenangkan dirimu Sophia, nanti kalau ada yang liat di sangka nya kamu kurang waras lagi" celetuk Raya
" Kamu ya bisa-bisanya mengolok-olok ku!" sambil pura-pura memasang muka cemberut
" Maaf mengganggu kalian berdua, tapi ada sesuatu yang harus aku katakan kepada Raya secara empat mata " ungkap Ruben tiba-tiba
" Memangnya ada apa Ruben? kayaknya serius banget, yaudah kalau begitu bagaimana kalau kita mengobrol nya di balkon" tanya Raya
" Baik "
Mereka berdua berjalan ke arah balkon, di sana Ruben yang masih dalam posisi berdiri mengarahkan pandangannya ke arah jalanan dia merasa tidak siap jika harus kontak mata dengan Raya secara langsung.
" Rencana apa?" tanya Raya balik
" Rencana agar aku menikahimu hanya dalam waktu tiga bulan saja setelah itu aku disuruh menceraikanmu" jelas Ruben
" Jadi maksud kamu mas Dion minta agar kita nikah kontrak?" tanya Raya kembali untuk memastikan
" Kamu benar sekali Raya, bagaimana pendapat mu?"
__ADS_1
" Kalau itu rencana dari mas Dion, aku sih setuju saja lagipula kita menikah bukan karena cinta" ujar Raya sekenanya
Ruben yang awalnya selalu mengarahkan pandangannya ke arah jalan kali ini dia beranikan menatap tajam ke arah Raya sambil memegang pundaknya.
" Bukan kita yang menikah tanpa cinta tapi hanya kamu, iya hanya kamu Raya yang tidak mencintai ku tapi aku menikahimu karena cinta" ucapan Ruben sontak membuat Raya menjadi bingung, bagaimana tidak dia yang selama ini menganggap Ruben hanya sebatas teman ternyata memiliki perasaan khusus terhadapnya.
" Kamu jangan bercanda Ruben" Raya mencoba mencairkan suasana sambil memaksa untuk tersenyum
" Aku serius, sejak kita sering bersama aku merasakan perasaan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan kepada wanita manapun, jadi sekarang sebelum kita melangsungkan akad nikah aku mau membuat kesepakatan denganmu" masih dengan tatapan tajamnya
" Memangnya kesepakatan apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Raya sedikit gagap
" Karena kita hanya menikah selama tiga bulan maka selama itu aku ingin kamu benar-benar menjadi istriku, aku ingin kamu bertingkah sebagaimana seorang istri melayani suaminya, bahkan aku ingin tidur seranjang dengan mu walau kita tidak melakukan aktivitas di atasnya, kamu bersediakan Raya?" ucap Ruben penuh harap
Raya tidak segera menjawabnya dia memikirkannya terlebih dahulu agar keputusan yang akan dia ambil tidak akan di sesalinya di kemudian hari. Sambil memikirkannya Raya berjalan mondar mandir di depan Ruben yang penasaran akan sebuah jawaban.
" Kamu yakin tidak akan melakukan aktivitas fisik sama sekali denganku? " tanya Raya kembali mencoba memastikan
Ruben dengan cepat menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia serius dengan ucapannya.
" Oke kalau begitu aku setuju, asalkan kamu tidak menyesal di kemudian hari karena tidak bisa move on dariku setelah kita bercerai, sebab kesepakatan ini bisa saja membuatmu semakin mencintaiku dan semakin dalam luka yang kamu rasakan setelahnya." jelas Raya
__ADS_1
" Kamu memang benar Raya, mungkin aku akan semakin dalam merasakan rasa sakit tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang aku rasakan karena bisa berumah tangga dengan orang yang aku cintai." Kata-kata Ruben membuat hati Raya menjadi terenyuh, dia merasa kalau ini semua tidak adil bagi orang baik seperti dirinya tapi mau bagaimana lagi jika perasaan tidak bisa di paksakan.