Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Sebuah tanda tangan


__ADS_3

Di apartemen Raya yang pulang sambil membawa bayi di gendongannya mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-temannya terkait asal usul bayi tersebut.


Dengan penuh kesabaran Raya pun menjelaskan secara detail kronologi kejadian yang baru saja dia alami.


Sophia yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecil menyambut dengan hangat kehadiran Dion kecil ditengah-tengah mereka, bahkan Athala yang masih berusia satu setengah tahun pun merasa sangat senang mendapatkan adik baru.


" Kamu lihat deh Raya! Athala terlihat sangat bahagia bermain dengan adik barunya, oh ya Ruben kemana? kenapa dia tidak mengantarkanmu pulang?" tanya Sophia setelah dia sadar bahwa Ruben tidak ada di antara mereka


" Dia sedang mengurus jenazahnya Maya agar segera di kebumikan" jawab Raya singkat


" Terus kamu sudah memberitahu tante Dela tentang meninggalnya Maya? " tanya Sophia lagi


" Belum, lagipula kejiwaan tante Dela masih terganggu aku pikir akan memberitahukannya jika dia sudah sembuh nanti " jelas Raya


" Kalau menurut aku lebih baik kamu beritahu saja dia sekarang, toh kita tidak tahu kapan tante Dela akan sembuh" timpal Rian


" Tapi aku takut kalau kejiwaannya akan lebih terguncang jika mendengar berita ini" ucap Raya


" Kita ambil jalan tengah nya saja, bagaimana kalau setiap dua minggu sekali kita jenguk tante Dela, kita lihat perkembangannya kalau dia sudah baikan kita bisa langsung memberitahu nya." jelas Sophia penuh semangat


" Pendapat Sophia bagus aku setuju " ucap Raya


" Yasudah aku juga setuju! " imbuh Rian


Semenjak melakukan kesepakatan itu setiap dua minggu sekali mereka menyempatkan waktunya untuk mengunjungi tante Dela di rumah sakit jiwa guna mengecek kejiwaannya. Bahkan terkadang mereka membawa baby Dion agar bisa mengenal neneknya semenjak dini.


Hari demi hari Raya lewati dengan kebahagiaan bersama sahabat dan kedua anaknya, sehingga dia hampir melupakan suaminya yang telah pergi meninggalkannya hampir sepuluh bulan lamanya. Sampai pada satu hari dimana Raya merasakan dunianya menjadi runtuh tatkala mendapatkan surat gugatan cerai yang di layangkan oleh Dion kepadanya.

__ADS_1


" Ini enggak mungkin, aku tidak percaya kalau Dion yang sudah mengirim surat gugatan cerai ini, pokoknya sampai kapanpun aku tidak akan menandatanganinya " ucap Raya sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Aku tidak percaya kalau mas Dion melakukan ini semua, atas dasar apa dia berani menceraikanku?


Raya terus menangis di atas ranjangnya, Rian begitu cemas melihat kondisi Raya yang sudah terkunci di dalam kamar hampir dua jam lamanya.


" Apa yang harus kita lakukan agar Raya mau keluar kamar dan memakan makanannya? lagipula apa yang Dion inginkan? dia sudah merebut Raya dari tanganku dan sekarang dengan gampangnya dia mencampakkan nya, benar-benar lelaki brengsek" umpat Rian dengan kesalnya.


" Sudahlah kamu tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu, bukankah bagus kalau Dion menceraikan Raya jadi kamu ada kesempatan untuk mendapatkan nya" ucap Sophia dengan santai


" Kamu bicara apa Sophia? aku tidak se egois itu di dalam memanfaatkan situasi, ini masalah hati dan kebahagiaan seseorang" balas Rian dengan nada yang tinggi


" Kamu jangan naif Rian!, aku tahu kalau selama ini kamu berusaha mengambil hatinya Raya, makanya kamu sering membuat Raya dan Ruben berselisih agar mereka tidak terlalu dekat karena kamu cemburu. Iya kan?" tanya Sophia dengan lantangnya


" Iya benar aku cemburu dengan kedekatan mereka, karena aku tidak mau Raya akrab dengan laki-laki lain selain Dion suaminya dan aku mantan kekasihnya, walaupun begitu aku tidak pernah mengharapkan Dion untuk menceraikan Raya, sebab Dion adalah orang yang paling Raya cintai saat ini" jelas Rian


" Omong kosong, cinta? coba kamu pikir bagaimana caranya cinta itu hadir jika di dalam hubungan hanya ada perselisihan dan air mata, Raya tidak bahagia hidup dengan Dion jadi aku yakin kalau Raya tidak mencintai Dion dia hanya merasa bertanggungjawab atas keutuhan rumah tangganya, itu saja" ujar Sophia


Jika Raya bercerai ada kemungkinan buatku untuk menikahinya dan membuatnya selalu tersenyum.


Rian pun menghembuskan napas dengan kasar "Lantas apa rencanamu?, agar Raya mau menandatangani surat perceraian itu?" lanjut Rian


" Akhirnya kamu sependapat dengan jalan pikiranku, masalah itu tenang saja serahkan semuanya kepadaku, aku akan memastikan kalau Raya pasti akan tanda tangan" kata Sophia dengan penuh percaya diri.


Rian sedikit ragu dengan perkataan Sophia tapi untuk kali ini dia tidak bisa berbuat banyak selain menyerahkan masalahnya kepada Sophia.


" Baiklah aku serahkan semuanya kepadamu, sekarang aku mau keluar karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan " Rian pun pergi meninggalkan Sophia setelah berpamitan dengannya.

__ADS_1


Sekarang aku harus memikirkan cara supaya Raya mau menandatangani nya, oh ya Athala


Dengan semangat Raya mencari Athala yang sedang bermain di dalam kamarnya.


" Sayang kamu mau eskrim tidak?" Sophia bertanya pada Athala dengan lemah lembut


" Mau... mau" jawab Athala dengan antusias sambil memanggut-manggutkan kepalanya


" Kalau begitu Athala panggil mama dulu biar kita bisa beli eskrim bersama-sama"


Athala langsung berlari ke depan kamar mamanya sambil terus memanggil mamanya beberapa kali, Raya yang merasa dirinya di panggil dengan berat hati membuka pintunya.


" Sayang ada apa?" tanya Raya sambil menggendong Athala


" Eskim.. mau eskim" kata Athala


" Oh Athala mau makan eskrim? yasudah kita beli bersama-sama dengan aunty Sophia juga" ucap Raya


Sophia merasa senang tatkala rencananya berhasil, Ia pun segera mengajak Raya beserta Athala berjalan menuju mini market yang letaknya tidak jauh dari apartemen mereka. Setelah selesai membeli beberapa eskrim dan snack, Sophia mengajak Raya dan juga Athala untuk duduk santai di taman samping apartemen.


" Raya kamu masih sedih dengan surat gugatan cerai itu?" tanya Sophia memulai pembicaraan


" Aku tidak sedih tapi lebih kepada kecewa karena penantianku selama ini hanya sia-sia, aku tidak tahu kenapa mas Dion begitu cepat di dalam mengambil sebuah keputusan, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?" Raya nampak dalam keputusasaan


" Raya dengarkan aku baik-baik!, apapun yang Dion rasakan atau pikirkan saat ini itu tidak penting, yang perlu kamu pahami bahwa dia sudah menyerah dengan pernikahan kalian, jika kamu peduli dengan Dion seharusnya kamu bisa menerima keputusannya, karena dia berhak bahagia" jelas Sophia sambil memegang pundak Raya


Raya tertunduk meresapi setiap kata yang keluar dari lisan sahabatnya, dia merasa apa yang di katakan sahabatnya benar adanya, Dion kini telah menyerah jadi untuk apa lagi dirinya mempertahankan kalau hanya memberi rasa luka di antara keduanya.

__ADS_1


" Kamu benar Sophia, hubungan toxic ini harus segera di akhiri, baik aku akan menandatangani surat perceraian itu" ucap Raya dengan penuh keyakinan


Sophia yang mendengar keputusan dari Raya merasa sangat senang hal itu tersirat dari senyuman kemenangannya.


__ADS_2