Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Aku Rindu Dia


__ADS_3

Statement yang di keluarkan oleh Raya membuat Ruben hampir saja salah tafsir, sampai pada akhirnya Raya melanjutkan kembali pernyataannya.


" Seandainya saja mas Dion memiliki prinsip seperti kamu mungkin rumah tangga kita tidak akan berantakan seperti ini" sudut matanya mulai menghangat "Ruben boleh tidak aku meminjam pundakmu sebentar saja" imbuhnya


Ruben yang bingung hanya mampu berkata "boleh" dengan cepat Raya memeluk lengan Ruben dan menyandarkan kepalanya di pundak Ruben sambil mengeluarkan butiran-butiran bening yang sedari tadi di tahannya.


" Ruben aku rindu dia, aku rindu mas Dion, apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar ingin bertemu dengannya walau hanya sedetik saja"


Mendengar itu hati Ruben seperti tersayat, dia merasakan ketidakberdayaan di setiap kalimat Raya, ingin sekali dia memeluk Raya dengan erat dan mengucapkan kalimat cinta kepadanya, tapi apa daya dia tidak memiliki keberanian itu.


" Kalau mau kita bisa cari Tuan Muda bersama-sama " ucap Ruben tiba-tiba


" Kamu kira dunia ini seluas bola bekel? main cari saja, belum nanti kita dapat pertentangan dari Sophia, selama ini aku selalu menahan diri untuk bisa terlihat tegar di hadapan Sophia dan juga anak-anak karena aku malas jika terus-terusan berdebat dengan Sophia masalah aku yang belum bisa move on darinya, aku selama ini hanya bisa menangis di kamar mandi tanpa bisa mengungkapkan segala rasa di hati, tapi sekarang berkat kehadiranmu aku bisa melepaskan semua rasa yang selama ini terpendam di hati, bahkan aku bisa berbagi rasa itu denganmu, aku benar-benar bersyukur di pertemukan dengan orang baik sepertimu Ruben, terimakasih." kata Raya


" Aku yang justru berterima kasih karena Raya membuat kehidupanku jauh lebih berwarna, sekarang matahari hampir terbenam Raya mau pergi kemana lagi?" tanya Ruben


" Aku sekarang lapar, aku mau makan mie ayam" jawab Raya


" Dengan pakaian kita yang formal seperti ini memangnya Raya yakin mau makan di pinggir jalan?" tanya Ruben memastikan


" Loh memangnya kenapa? kamu malu? lagipula aku kan tidak bisa melihat jadi santai saja" kata Raya sambil tertawa kecil

__ADS_1


" Bukannya malu tapi kayak aneh saja aku berjas dan Raya memakai dress, tapi semua itu jadi tidak penting asal Raya bahagia apapun akan aku lakukan"


" Ruben kamu ini bisa saja, enggak nyangka Ruben yang cool kini berubah menjadi raja gombal" goda Raya


" Sudah Raya jangan berbicara seperti itu aku jadi malu, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum langit benar-benar menjadi gelap" ajak Ruben


Dengan hati-hati Ruben memapah tubuh Raya memasuki mobil dan membawanya ke tempat yang Raya inginkan.


Di pinggir jalan Ruben yang terlihat keki karena jadi pusat perhatian, pada awalnya ingin mengajak Raya untuk pergi, tapi niatannya segera dia urungkan ketika melihat Raya yang nampak bahagia memakan mie ayamnya.


" Mie ayamnya enak ya? sampai Raya terlihat sangat bahagia sekali"


" Ini bukan masalah enak atau tidaknya tapi makan mie ayam di pinggir jalan merupakan kebiasaan aku dan mas Dion ketika pulang sekolah dulu. Ruben tolong aku untuk bisa melupakan mas Dion, aku tidak tahu kenapa begitu sulit untukku melupakannya, apa karena setengah hidupku telah aku lewati dengan dirinya makanya wajah dan semua tingkah nya sudah terpatri di dalam hatiku sehingga sangat sulit untuk menghapusnya" ucap Raya putus asa


Aku terlalu egois untuk berpikiran menggantikan posisi Tuan Muda di hati Raya tanpa aku pikirkan perasaan Raya yang masih terpaut pada Tuan Muda, dia begitu sangat menderita mencintai di dalam diam. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya?


" Ruben apa kamu sudah selesai makannya? kalau sudah kita pulang yuk! kasihan Sophia jaga anak-anak sendirian" ajak Raya


" Iya aku sudah selesai mari kita pulang" balas Ruben


" Tunggu!" sambil memegang lengan Ruben "Tolong jika di hadapan Sophia jangan pernah membahas masalah Dion karena aku tidak mau suasana rumah kembali tegang" kata Raya penuh harap

__ADS_1


" Tenang saja aku akan berusaha menjaga semua privasi Raya dengan baik" ujar Ruben


Semua yang terjadi pada hari ini membuat mata Ruben semakin terbuka akan kepedihan dan kesepian yang Raya alami, mulai saat ini Ruben bertekad untuk selalu menjaga dan berusaha membuat Raya tersenyum bahagia ketika bersama dirinya, walau mungkin sosok Dion tidak akan pernah hilang dari hati Raya tapi seenggaknya Ruben berharap agar Raya bisa menerima bahwa dirinya telah berpisah dengan suami yang dia cintai dan bisa menjalani hidupnya dengan tanpa beban.


Tiga hari kemudian, hari dimana persidangan perceraian Raya dan Dion di gelar, dalam persidangan terakhir ini Sophia beserta pengacaranya yang datang dalam persidangan sedangkan Raya di rumah bermain dengan kedua anak-anaknya. Ruben yang ingin segera menemui Raya terhalang oleh rapat yang harus dia hadiri, di dalam rapat itu konsentrasi Ruben terpecah yang mengakibatkan para pemegang saham sedikit kecewa dengan performa kinerjanya, mereka mendesak agar Dion sang CEO segera pulang dari luar negeri dan bisa kembali mengurus perusahaan, bahkan mereka mengancam dalam waktu enam bulan jika Dion tidak kembali ke perusahaan maka mereka terpaksa akan mengadakan rapat pemegang saham guna memecat Dion dari jabatannya sebagai CEO, mendengar ancaman tersebut Ruben berusaha untuk tetap bersikap tenang sambil mencoba mengendalikan situasi. Hampir dua jam lamanya Ruben berusaha menenangkan para pemegang saham yang terus menyudutkan nya akhirnya rapat pun berakhir. Dengan segera Ruben melajukan mobilnya menemui Raya yang berada di apartemen.


Begitu bertemu dengan Raya Ruben ingin sekali memeluk wanita yang ada di hadapannya tapi tetap dirinya tak berani untuk melakukannya.


" Raya apakah kamu baik-baik saja?" ucap Ruben khawatir


" Aku baik-baik saja memangnya kenapa?" tanya Raya balik


" Bukankah hari ini persidangan terakhir perceraian kalian? apakah kamu tidak merasa sedih?" Ruben mencoba memastikan


" Kamu tenang saja Ruben, aku sudah menguatkan hatiku untuk hari ini" jawab Raya dengan tenang


" Syukurlah kalau kamu bisa lebih berlapang dada menerima semua ini, kalau ada yang mengganjal di hati jangan ragu untuk curhat! aku siap untuk mendengarkannya "


" Terimakasih Ruben atas perhatiannya, aku pastikan mulai hari ini akan menjadi sosok Raya yang lebih kuat dan lebih berani di dalam menjalani hidup walau harus dengan segala kekurangan"


" Raya bukankah lebih baik jika matamu dioperasi, agar bisa melihat lagi seperti dulu dan tentunya kamu lebih bisa leluasa di dalam beraktivitas " Ruben memberi saran

__ADS_1


" Aku sudah terlanjur berjanji pada diriku sendiri tidak akan pernah melakukan operasi mata sebelum bertemu dengan Dion, walau sekarang dia hanyalah mantan tapi yang namanya janji tetap harus di tepati" jawab Raya


Ruben sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa jika itu berkaitan dengan Tuan mudanya.


__ADS_2