Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Salah paham


__ADS_3

Di ruangan VIP salah satu rumah sakit ternama Dion terbangun dari pingsannya, dirinya merasa bingung tatkala membuka mata sudah berada di tempat asing, netranya di arahkan ke sekeliling ruangan yang nampak baginya hanya beberapa alat medis dan tangannya yang sudah di infus. Ia berpikir sejenak mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya berada di ruangan tersebut, setelah mencoba mengingat akhirnya Dion bisa ingat kenapa dirinya pingsan.


" Kenapa aku bisa pingsan di saat mencoba mengingat masa lalu? apa benar yang di katakan Rian bahwa otak ku bermasalah?sebaiknya aku harus cek langsung." Dion segera mencari tombol yang bisa membuatnya terhubung dengan para suster di rumah sakit tersebut, setelah menekannya masuk lah dua suster menjumpai Dion.


" Ada yang bisa kami bantu pak?" tegur salah satu suster tersebut


" Tolong panggilkan saya dokter spesialis neurologi yang terbaik di rumah sakit ini."


" Baik Pak, kami akan panggilkan, silahkan menunggu sebentar." Dua suster itu berpamitan kepada Dion


Setelah Dion sendirian di kamar rawatnya dia mulai teringat dengan sosok istri pertamanya, Dia ingin menelepon Raya tapi dia tidak menjumpai ponselnya di kedua saku celananya, dia mulai putus asa dan berpikiran kalau ponselnya mungkin terjatuh di tempat parkiran.


Ketika Dion mulai kesal dengan beberapa kesialan menimpa dirinya dengan beruntun, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang sebanyak tiga kali tanpa pikir panjang Dion pun mempersilahkan seseorang di balik pintu itu untuk masuk ke dalam kamarnya, betapa terkejutnya dia melihat sosok perempuan yang berada tepat di depan matanya.


" Raya kamu kok bisa ada disini?" tanya Dion, Raya tidak menjawab pertanyaan suaminya tapi dia langsung berlari dan memeluk lelaki yang berada di hadapannya.


" Mas apa yang terjadi kenapa kamu bisa masuk rumah sakit?" tanya Raya dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya sambil tangannya memeluk erat tubuh suaminya itu.


" Aku tadi pingsan di parkiran setelah bertemu dengan Rian." jelas Dion

__ADS_1


Mendengar kata Rian secara otomatis air mata Raya langsung berhenti, pelukannya pun di lepaskannya " Mas bertemu Rian? apa yang dia lakukan sehingga mas bisa pingsan?" Raya bertanya sambil mencengkeram pundak suaminya dengan mimik muka serius


" Kamu tenang dulu jangan panik seperti itu, aku kan baik-baik saja." sambil merentangkan tangannya


" Mas jangan mencoba mengalihkan pembicaraan sebenarnya apa yang Rian lakukan?" tanya Raya dengan nada di tinggikan


Melihat Raya yang terlihat begitu mengkhawatirkan nya membuat Dion bahagia tapi di satu sisi dia merasa curiga kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istrinya yang dia tidak boleh mengetahui nya sehingga Raya mecoba untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu.


" Kita hanya basa basi biasa jadi kamu tidak perlu khawatir, lagian siapa orang yang berani mencari masalah dengan Ceo terkeren seperti suamimu ini?" Dion mencoba bercanda tapi Raya membalasnya dengan senyuman tipis, terlihat begitu jelas di wajah Raya kalau dia kurang puas dengan jawaban yang di berikan Dion.


" Mas aku pamit keluar sebentar ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang" sambil mencium kening Dion lalu berjalan keluar kamar.


" Aku belum mengatakan iya kenapa dia sudah keluar, apa karena aku sedikit lembut terhadapnya sehingga membuat Raya jadi nglunjak, meyebalkan!!." gerutu Dion sambil meletakkan kepalanya di bantal.


Di luar rumah sakit Raya segera berlari ke dekat jalan raya untuk mencari taksi sambil tangannya terus memainkan ponsel. Setelah dia mendapatkan sebuah alamat dari Sophia segera dia menghentikan taksi yang melintasinya menuju alamat yang ada di ponselnya.


Sesampainya di tempat tujuan Raya segera turun dari taksi dan segera masuk ke dalam gedung pencakar langit. Di carinya nomer unit yang tertera di ponselnya, setelah Raya yakin kalau pintu di depan matanya adalah milik dari seseorang yang sedang dia cari segera dia menekan bel pintu, begitu pintu terbuka Raya dengan Ramah menyapanya. " Hai Rian boleh aku masuk?" tanya Raya sambil menerobos masuk ke dalam apartemen Rian. " Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Rian bingung.


" Aku kesini mencarimu untuk bertanya beberapa pertanyaan." jelas Raya singkat

__ADS_1


" Oke kalau gitu kamu duduk dulu biar aku ambilkan minuman " Rian mencoba menenangkan hatinya yang masih deg-degan saat bertemu Raya


" Tidak usah repot-repot, langsung ke intinya saja, sebenarnya apa yang kamu lakukan kepada Dion sehingga dia pingsan di parkiran mall?" tanya Raya dengan nada penuh penekanan


" Pingsan? aku tidak melakukan apa-apa" sambil merentangkan tangannya " justru suami kamu yang sudah menonjok pipi aku" imbuh Rian dengan menunjukkan pipinya yang lebam


" Kalau kamu tidak melakukan apa-apa bagaimana Dion bisa memukul tanpa alasan?" tanya Raya dengan sorot mata tajam menjurus ke Rian


"hah" tertawa kecil " Ternyata kamu sudah banyak berubah ya? dulu kamu begitu lembut tapi sekarang kamu hampir mirip dengan Dion suka menuduh orang dengan tuduhan yang sama sekali tidak dia lakukan, aku kemarin bertemu Dion di parkiran mall hanya menyapanya saja tapi ekspresi yang dia tunjukkan kepadaku begitu berlebihan bahkan dia menuduh kalau aku akan merebut kamu dari tangannya bahkan dia mengaitkannya dengan peristiwa dua tahun yang lalu sampai akhirnya dia memukulku, aku yang mulai emosi mengatakan kepadanya kalau kamu itu tidak pernah melakukan kesalahan justru otaknya yang bermasalah sehingga aku menyuruhnya untuk berobat." jelas Rian


Mendengar penjelasan dari Rian, Raya merasa kesal. " Kenapa kamu bilang bahwa otaknya bermasalah?" sambil berteriak " Aku yakin sekali setelah mendengar ucapanmu itu dia mulai mengingat masa lalunya sampai pada akhirnya dia harus pingsan karena otaknya tidak bisa mengingat peristiwa itu." suara Raya mulai melemah dan kelopak matanya mulai merasa hangat itu menunjukkan bahwa butiran-butiran yang ada di kelopak matanya siap untuk meluncur tapi Raya dengan semaksimal mungkin berusaha menahannya karena dia tidak mau kalau lelaki di hadapannya melihat betapa rapuh hatinya.


" Raya kamu baik-baik saja?" tanya Rian khawatir karena melihat Raya yang seperti orang linglung


" Aku baik, hanya saja aku kepikiran apa yang akan terjadi nanti kalau Dion mengingat bahwa dirinyalah yang telah menghancurkan kehormatan ku secara paksa" kali ini Raya tidak bisa lagi membendung air matanya. " Aku takut dia menjadi stres bahkan menjadi gila, aku tidak mau hal itu terjadi pada Dion suamiku" air matanya mulai deras memenuhi pipinya.


Tanpa pikir panjang lagi Rian segera mendekap wanita yang ada di hadapannya sambil berusaha menenangkan, " Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak seperti itu aku yakin kalau Dion orangnya kuat, bukankah kamu sudah menjadi sahabatnya dari kecil seharusnya kamu lebih tahu tentang itu." ucap Rian sembari tangannya mengusap punggung Raya.


Tanpa mereka sadari Sophia sudah berada di depan pintu sambil melihat mereka yang sedang berpelukan. Raya yang melihat kedatangan Sophia secara tiba-tiba menjadi kaget langsung mendorong tubuh Rian agar bisa segera menjauh dari tubuhnya.

__ADS_1


" Eehmm.... kayaknya aku datang pada situasi yang salah ya? maaf aku pergi dulu kalau begitu, takut mengganggu." kata Sophia sedikit terbata-bata sambil membalikkan badannya lalu berlari meninggalkan ruangan itu. Raya melihat Sophia berlari keluar segera mengejarnya di iringi teriakan yang memanggil nama sahabatnya itu.


__ADS_2