Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Tidak Terduga


__ADS_3

Cobaan yang bertubi-tubi menghampiri sahabatnya membuat Sophia merasa iba terlebih sahabatnya itu harus berjuang sendiri di dalam menghadapinya tanpa adanya sesosok imam yang berada di sisinya.


Apa ini saatnya bagiku untuk bertemu dengan Dion dan menjelaskan semua yang terjadi pada diri Raya agar dia tidak lagi salah paham mengenai janin yang di kandung Raya.


Setelah memikirkan dengan matang akhirnya Sophia memutuskan untuk menemui Dion, sebelum pergi Sophia menghampiri Rian yang sedang berbicara dengan dokter.


" Rian aku pamit dulu mau keluar sebentar, tolong kamu jaga Raya dan Asep dulu ya" kata Sophia


" Memangnya kamu mau kemana? sepertinya ada hal penting yang sedang kamu rahasiakan dariku?" tanya Rian curiga


" Kamu jangan suka berprasangka jelek deh, aku keluar karena ingin mencari makanan, yasudah aku pergi dulu"


" eh tunggu aku belum selesai bicara" Rian mencoba mencegahnya namun Sophia tetap berjalan tanpa menghiraukan dirinya.


Sophia pergi dengan tergesa-gesa hingga dia lupa untuk meminta kunci mobil yang di bawa Rian, dengan sedikit kesal terpaksa dia harus menunggu taksi lewat di depan rumah sakit.


Sudah hampir 45 menit Sophia berdiri di bawah terik sinar matahari sambil matanya terus tertuju pada jalan tapi tetap saja dirinya tidak menjumpai ada taksi melintas di depannya.


" Kenapa tidak ada taksi yang melintas sih, apa jangan-jangan di sini memang tidak ada taksi " keluh Sophia


" Permisi...... neng sedang menunggu siapa? dari tadi bapak perhatikan neng hanya berdiri sendiri disini." sapa lelaki paruh baya yang sengaja mendekati Sophia


" Saya sedang menunggu taksi lewat sini pak, tapi sudah hampir 45menit saya menunggu satupun tidak ada yang melintas." jawab Sophia

__ADS_1


" Disini mah memang tidak ada taksi neng yang ada cuman ojek maklum kota kami ini termasuk kota kecil." jelas lelaki paruh baya. " Tapi kalau neng terburu-buru saya bisa mengantarkan neng ke tempat tujuan dengan menggunakan mobil milik bapak." lanjut lelaki paruh baya itu sambil menunjuk sebuah mobil pick up yang terparkir tidak jauh dari mereka


Sejenak Sophia berpikir sambil terus memandangi lelaki di hadapannya, dia masih belum percaya sepenuhnya terhadap lelaki itu karena kejadian yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya semakin waspada terhadap orang asing.


Kira-kira pak tua itu bisa di percaya enggak ya? walau terlihat mencurigakan karena tiba-tiba memberi pertolongan tapi di lihat dari tampang sepertinya dia orang baik, lebih baik aku ikut saja lagipula aku kan bisa bela diri.


" Neng... neng.... bagaimana mau ikut bapak tidak? " tegur lelaki itu yang melihat Sophia melamun


" Ah ya pak, mau... mau" jawab Sophia dengan gagap


Mereka pun menaiki mobil pick up, selama perjalanan Sophia tidak berbicara banyak karena dia masih merasa kurang nyaman dengan pria paruh baya yang baru saja dia kenal, tapi beda dengan pria itu dia selalu berusaha mencairkan suasana dengan cara bertanya-tanya tentang kehidupan Sophia, awalnya dia enggan bercerita tapi lambat laun Sophia mulai terbuka. Tidak memerlukan waktu lama bagi mereka untuk saling berbagi cerita hidup.


" Oh jadi bapak ini seorang petani yang selalu mengirimkan hasil pertaniannya ke kota? "


" Rumah saya di Jakarta pak, dan sekarang saya harus kembali lagi kesana, tolong bapak antar saya ke stasiun atau terminal dekat sini." jelas Sophia


" Baik akan bapak antarkan neng ke stasiun dekat sini saja biar lebih aman." ujar lelaki itu


Lelaki paruh baya itupun melajukan mobilnya menuju stasiun, sesampainya di tempat tujuan Sophia berpamitan sembari mengucapkan terimakasih dan memberinya beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, awalnya lelaki itu tidak mau menerima tapi melihat Sophia yang terus memaksa akhirnya dia bersedia menerimanya.


" Terima kasih neng atas pemberiannya "


" Sama-sama Pak, kalau begitu saya pamit dulu. Asalamualaikum " Sophia pun berjalan masuk ke dalam Stasiun

__ADS_1


Di dalam kereta Sophia mengarahkan pandangannya ke luar jendela, tatapan matanya kosong dia tidak bisa menikmati indahnya alam di depan matanya karena pikirannya terus tertuju pada nasib yang menimpa sahabatnya yaitu Raya, dia sudah tidak sabaran untuk bisa bertemu dengan Dion, ingin rasanya segera menuntaskan kesalahpahaman yang terjadi di dalam rumah tangga sahabatnya.


Apa yang akan aku katakan jika sudah bertemu dengan Dion? dia itu kan batu, bahkan yang batu bukan hanya pikirannya tapi juga hatinya, kalau dia tidak bisa di ajak ngomong baik-baik lebih baik aku hajar saja dia. Aku heran dengan Raya kenapa dia bisa mencintai sesosok pria yang temperamental seperti Dion bahkan bukan hanya temperamental dia juga punya penyakit kejiwaan kalau aku jadi Raya sudah aku tinggalkan pria model kayak gitu. huuuftt....


Sophia menghembuskan nafas kasarnya dan memulai menikmati perjalanan panjangnya, lambat laun matanya mulai mengatup tidak membutuhkan waktu lama wanita itu sudah terbuai oleh rasa kantuknya.


" Mbak.... mbak.... ini sudah sampai di stasiun terakhir" ujar salah satu penumpang sambil menepuk pundak Sophia dengan pelan


" Ah... iya Terima kasih sudah membangunkan saya" kata Sophia sembari dirinya membenarkan pakaian dan krudung nya yang berantakan lalu bersiap untuk turun dari kereta.


Perjalanan menuju rumah Dion dengan mengendarai taksi terasa lebih lama Sophia rasakan dengan segala kejenuhan yang dia alami membuat Sophia memiliki ide konyol untuk menghitung setiap rumah yang dia telah lewati. Sampai pada akhirnya dia sampai di tempat tujuan, dengan suka cita Sophia segera turun dari taksi dan berlari menuju rumah Dion. Sophia yang sering keluar masuk rumah Dion semenjak hilangnya Raya kini menganggap rumah itu seperti rumah sendiri, dengan terus mengelilingi setiap sudut ruangan Sophia berteriak mencari keberadaan Dion mulai dari ruang kerja, kamar hingga ke tempat gym, tapi pencariannya sia-sia karena dia tidak melihat batang hidung Dion.


" Nih bocah kemana aja sih" keluh Sophia


" Kamu mencari tuan Dion?" tanya Ruben tiba-tiba


" Ya benar dimana dia sekarang? " tanya Sophia balik


Ruben tidak langsung menjawab pertanyaan Sophia, dia terdiam untuk sesaat dan sesekali mengeluarkan nafas beratnya " Dia sudah pergi dari negara ini bahkan dia meninggalkan ponselnya" jawab Ruben dengan tidak berani menatap Sophia


" Apa? pergi? jangan bohong kamu Ruben, mana mungkin Dion pergi begitu saja tanpa memberitahu Raya, sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Sophia dengan penuh kecemasan


" Ceritanya panjang sebaiknya kamu duduk dulu biar sedikit tenang" Ruben mencoba menenangkan Sophia

__ADS_1


" Oke baiklah aku akan duduk" Sophia pun duduk di sofa yang tidak jauh dari dirinya " Sekarang aku sudah siap mendengarkan ceritamu" imbuh Sophia tidak sabar


__ADS_2