
Raya mengajak Ruben ke balkon apartemen, dia ingin berbicara empat mata mengenai ketersediaan Ruben dalam menikahinya.
" Apakah kamu yakin mau menikahiku Ruben? aku tahu kalau kamu melakukannya karena merasa tidak enak hati, sebaiknya kamu jujur sama aku sekarang sebelum semua terlambat " Raya memulai percakapannya
" Aku bersedia menikahi Raya ikhlas tanpa paksaan" jawab Ruben singkat
Raya menghembuskan napasnya dengan kasar lalu dia kembali berbicara.
" Aku tahu kita tidak saling mencintai tapi aku berharap kita bisa jadi partner yang baik untuk anak-anak, mungkin setelah kita menikah hubungan kita hanya sebatas status apakah kamu rela menghabiskan sisa hidupmu dengan seorang teman?" tanya Raya lagi untuk memastikan
" Tidak masalah bukankah Raya sendiri pernah bilang kalau aku ini lelaki berhati dingin yang susah jatuh cinta terhadap wanita? lagipula setelah aku memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuan Muda Dion aku tidak pernah memikirkan untuk menikah, kalaupun sekarang aku menikah hanya sebatas status tidak masalah bagiku" jelas Ruben
" Syukurlah kalau begitu pemikiran mu aku jadi tenang, aku tidak perlu berusaha dengan susah payah mencintaimu" ucap Raya secara terbuka
Aku tahu Raya kalau di hatimu hanya ada Tuan Muda, tapi tidak masalah bagiku asalkan bisa selalu berada di sampingmu aku sudah bahagia.
" Kalau sudah tidak ada lagi yang di bicarakan aku mau pamit pulang dulu, karena masih ada berkas-berkas yang harus aku pelajari " kata Ruben
" Yasudah kalau begitu kamu pulang saja, maaf sudah menyita waktumu" ujar Raya sambil beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum meninggalkan apartemen Ruben terlebih dahulu membantu Raya masuk ke dalam rumah dan berpamitan kepada Sophia.
__ADS_1
Beberapa hari terakhir Ruben sibuk bukan hanya dengan urusan pekerjaan tapi juga dengan pembuatan Visa Raya dan kedua anaknya selain itu dia juga sibuk menyiapkan tiket pesawat serta hotel yang akan mereka tempati selama berada di Korea Selatan.
Setelah semua selesai Ruben persiapkan tiba saatnya bagi mereka untuk terbang ke Negara impian semua Army yaitu Korea Selatan.
Selama berada di Negeri ginseng Ruben mengajak Raya dan juga anaknya jalan-jalan mengelilingi beberapa kota yang terkenal di sana serta tidak lupa menikmati berbagai macam makanan khas Korea, Raya walau tidak bisa melihat tapi dia sudah cukup merasa senang untuk liburan di Korea bersama keluarga kecilnya.
" Terima kasih Ruben kamu sudah dengan sabar mengajak kami jalan-jalan keliling beberapa kota di Korea, aku tahu betul kamu pasti sangat lelah dan juga ribet karena selain harus menjaga anak-anak kamu juga harus menjaga wanita buta seperti ku" ucap Raya
" Jangankan keliling kota di Korea, keliling dunia pun aku bersedia mengantarkan, asalkan kalian bahagia aku rela melakukan apa saja karena kalianlah yang terpenting bagiku saat ini, dan kamu Raya kamu tidak pernah merepotkan aku jadi berhenti berpikir seperti itu" kata Ruben dengan lemah lembut
Seumur hidupku bersama kalian walau hanya jadi pelayan aku pun ikhlas menjalankannya. batin Ruben
" Raya tolong kamu di sini dulu dengan baby Dion, aku mau pergi beli eskrim bersama Athala" Ruben berpamitan sebelum meninggalkannya
Setelah beberapa menit kepergian Ruben, Raya terlihat pucat dan merasa tidak nyaman di bagian perutnya.
" Aduh perutku sakit sekali, ini pasti gara-gara aku kebanyakan makan kimchi, aku mau pergi ke toilet tapi bagaimana caraku kesana kalau melihat saja aku tidak bisa" keluh Raya
Karena perutnya semakin sakit dan dia sudah tidak bisa lagi menahannya, akhirnya Raya memutuskan meminta tolong pada salah satu pengunjung mall untuk mengantarkannya ke toilet, bermodalkan nekat dan penguasaan bahasa Korea yang minim akhirnya Raya berhasil meyakinkan seseorang untuk mengantarkannya sampai di depan pintu masuk toilet wanita. Setelah mengucapkan terima kasih Raya pun mendorong stroller baby Dion masuk ke dalam toilet lalu meletakkannya tepat di depan kamar mandinya. Selesai buang hajat Raya langsung panik tatkala stroller baby Dion tidak ada di depan pintu kamar mandi.
Dengan rasa panik Raya berlarian kesana kemari tanpa tujuan sambil meneriakkan nama Dion. Tingkah Raya menjadi pusat perhatian pengunjung mall, tidak sedikit dari mereka yang bertanya apa yang terjadi, sambil menangis Raya pun menceritakan kepada mereka kalau baby nya hilang. Tapi sayang tidak ada satupun dari pengunjung yang bisa benar-benar membantu Raya, sampai di titik dimana dia telah putus asa. Raya nekat berlari mengelilingi mall sambil meneriakkan nama Dion, meskipun beberapa kali dia harus terjatuh karena menyenggol pengunjung lainnya. Raya tetap bangkit dan berusaha terus mencari, sampai pada akhirnya dia hampir terjatuh dari eskalator beruntung ada seorang lelaki yang langsung menariknya hingga Raya berada dalam pelukan lelaki itu.
__ADS_1
" Raya" mendengar suara itu hati Raya langsung berdegup kencang karena suara yang di dengar Raya adalah suara yang selama beberapa bulan terakhir hilang dari pendengarannya, namun kini suara itu muncul dan menyebut namanya.
" Mas Dion? kamu mas Dion kan? " ucap Raya sambil tangannya terus meraba-raba muka lelaki itu
" Iya sayang ini aku Dion" ucap lelaki itu
Dengan rasa yang sudah campur aduk di dalam hati Raya pun segera memeluk erat lelaki yang selam ini dia rindukan kehadirannya, tanpa Raya sadari butiran-butiran yang ada di dalam matanya keluar dengan deras membasahi kedua pipinya yang tirus.
" Sayang apa yang terjadi dengan matamu? kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Dion yang penuh rasa penasaran
" Nanti aku ceritakan semuanya sekarang yang paling penting kita harus menemukan baby Dion" ujar Raya masih dalam kepanikan
" Memangnya baby Dion itu siapa? apakah dia anak kita?" tanya Dion antusias
" Bukan dia bukan anak kita, anak kita sudah meninggal sejak dalam kandungan, baby Dion adalah anak dari almarhumah Maya" jelas Raya
" Apa tadi kamu bilang? almarhumah Maya?" Dion ingin lebih memastikan yang baru saja dia dengar
" Iya Maya mantan istri kamu sudah meninggal dunia beberapa menit setelah melahirkan baby Dion" jawab Raya "Sekarang kita harus temukan anaknya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar hilang" tambah Raya
" Sebaiknya kita ke pusat informasi saja dulu! untuk mengumumkan hilangnya anak Maya, siapa tahu ada seseorang yang menemukannya "
__ADS_1
Raya pun menyetujuinya, sambil berpegangan tangan mereka berjalan menuju pusat informasi mall.
Raya yang sudah lama tidak merasakan jantungnya berdegup kencang kini dia rasakan kembali, seperti anak abege yang sedang kasmaran Raya pun tidak henti-hentinya mengukir senyuman di wajahnya. Dion yang sesekali melihat ke arah wanita yang berada di sampingnya bisa merasakan apa yang sedang dia rasakan, karena rasa itu juga yang sedang Dion rasakan saat ini.