
Rasa rindu yang mengkoyak hati membuat raga tak memiliki jiwa, raga yang selalu merasa kesepian dan raga yang selalu mengharapkan. Sepi dan sunyi di dalam hati selalu datang menghampiri walau banyak yang mengisi hari tapi hati masih terasa sakit tidak terperi. Seperti itulah gambaran hati Raya dan juga Dion di kala mereka harus terpisah jarak dan waktu, tanpa mereka duga akhirnya takdir lah yang menyatukan mereka kembali di dalam sebuah pertemuan yang indah.
" Raya maafkan aku, dulu aku tidak pernah percaya akan semua kata-katamu" ucap Dion tiba-tiba
Raya mendengar permintaan maaf dari Dion seketika menghentikan langkahnya.
" Aku selalu memaafkan mu mas, tapi untuk saat ini kata-kata itu apa sudah tidak terlambat untuk diucapkan?" ujar Raya sambil melepaskan genggaman tangan Dion
" Aku tahu semuanya sudah terlambat karena kita sudah resmi bercerai, tapi apakah tidak bisa bagi kita untuk rujuk kembali?" ucap Dion sambil memegang kembali kedua tangan Raya
" Kalau mas Dion masih menginginkan berumah tangga denganku kenapa dulu mengirimkan surat perceraian? sebenarnya apa yang mas rencanakan?" tanya Raya dengan penuh emosional
" Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? bukankah perceraian merupakan keinginanmu? aku saja yang membaca email darimu merasa sangat syok ketika tiba-tiba kamu minta cerai" jelas Dion
" Email? coba kamu lihat kondisi aku saat ini? bagaimana caranya aku bisa menulis email, sedangkan aku sendiri semenjak buta sudah tidak pernah lagi memegang smartphone, aku hanya menggunakan ponsel jaman dulu yang hanya bisa dibuat menelepon dan sms" terang Raya tidak mau kalah
" Lantas siapa yang menulis email dengan menggunakan akunmu?" Dion semakin penasaran dengan orang yang telah menghancurkan rumah tangganya
" Aku tidak tahu, tapi sudahlah sebaiknya urusan ini kita bicarakan nanti saja sekarang yang terpenting menemukan baby Dion" Raya mencoba mengingatkan prioritas mereka saat ini.
Dion pun kembali menggandeng Raya berjalan menuju pusat informasi, sesampainya di sana Dion yang fasih berbahasa Korea menceritakan semua kejadian yang di alami oleh Raya, setelah mendengarkan cerita dari Dion petugas itu nampaknya mengingat sesuatu, segera petugas itu berjalan ke dalam sebuah ruangan dan kembali lagi sambil menggendong baby di tangannya. Dengan menggunakan bahasa Korea petugas itu bertanya apakah baby itu yang mereka cari? Raya secara perlahan mendekati baby itu dan meraba-raba mukanya setelah yakin bahwa itulah baby Dion, Raya memberitahu Dion agar menjelaskan kepada petugas bahwa baby itu adalah baby Dion yang mereka cari, Dion menjelaskan kepada petugas bahwa baby itu benar baby yang mereka cari, sang petugas yang berada di ruang informasi mengucapkan permintaan maaf karena salah satu staf mereka yang khusus bekerja membersihkan toilet telah membawa baby Dion ke pusat informasi, hal itu ia lakukan karena menduga kalau baby Dion adalah baby yang sengaja di buang di dalam toilet oleh orang tuanya yang tidak mau bertanggung jawab.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari petugas, Dion mengungkapkan bahwa dirinya bisa memaklumi hal tersebut karena jaman sekarang banyak kasus pembuangan baby yang di lakukan oleh orang tua yang tidak mau bertanggungjawab. Setelah urusan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka telah selesai Dion mengajak Raya ke sebuah restauran.
Di restoran Dion menawarkan beberapa menu makanan kepada Raya.
" Kamu mau pesan apa Ray?" tanya Dion dengan pandangan penuh perhatian
" Terserah kamu saja" balas Raya
Dion yang tidak mau ribet langsung memesan semua menu makanan yang terbaik di restoran itu. Sambil menunggu makanan datang Dion mengambil kesempatan untuk melakukan pendekatan lagi kepada Raya.
" Raya kalau boleh aku tahu apakah kamu masih mencintaiku? jika iya maukah kamu rujuk kembali denganku?" ucapan Dion yang terkesan tiba-tiba membuat Raya bingung di dalam menjawab.
Raya yang gugup segera menghirup napas dalam-dalam lalu dia keluar kan secara perlahan-lahan ini dia lakukan agar perasaannya lebih tenang baru setelah itu Raya memulai pembicaraan lagi.
" Tidak ada penjelasan? bukankah aku sudah menjelaskan semuanya di dalam sebuah surat yang aku titipkan kepada Ruben, memangnya kamu belum menerimanya?" Dion semakin curiga dengan ketidakberesan ini.
" Aku tidak menerima apa-apa dari Ruben, memangnya apa yang kamu tulis di dalam surat itu?" Raya penasaran dengan isi suratnya
" Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa aku merasa bahwa hubungan kita sedang di kendalikan oleh seseorang? siapa di balik semua ini?" kata Dion sambil mengepalkan tangannya
" Kamu sabar dulu mas, sebaiknya kita tanyakan masalah ini kepada Ruben" Raya berusaha menenangkan
__ADS_1
" Memangnya Ruben ikut kemari bersamamu?"
" Iya" jawab Raya singkat
Sebaiknya aku tidak menceritakan dulu maksud kedatangan ku kemari bersama Ruben, agar Mas Dion tidak merasakan sakit hati yang terlalu dalam.
" Baguslah jika ada Ruben yang menemanimu liburan kesini aku jadi lebih tenang, tapi kalau di lihat-lihat sepertinya kalian jauh lebih dekat" celetuk Dion
" Ah enggak kok, kami biasa saja" jawab Raya sedikit terbata-bata
Tidak mau dirinya terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan Dion yang bersifat mengintimidasi akhirnya Raya menanyakan kembali perihal kepergian Dion.
" Sebaiknya kamu ceritakan apa yang kamu lakukan di tempat ini?"
Dion tertunduk untuk sesaat seakan-akan dia sedang mengumpulkan beberapa energi yang ada di dalam tubuhnya untuk menceritakan semua kisah hidupnya, sambil menghembuskan napasnya dengan kasar Dion pun mulai bercerita kenapa dirinya berada di Korea.
" Aku kemari bermaksud melakukan pengobatan dengan metode hipnotis, karena aku pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa metode seperti ini memiliki tingkat keberhasilan hampir seratus persen dengan kata lain aku memiliki peluang untuk bisa mengingat semua masa laluku yang selama ini mengganggu pemikiran ku. Aku ingin mengingat semuanya agar aku bisa lebih percaya dengan seseorang dan bisa menjalani hidup bersamamu dengan tenang dan normal seperti kebanyakan orang" jelas Dion
Mendengar penjelasan Dion membuat Raya merasakan penyesalan yang sangat mendalam hingga dia sudah tidak lagi bisa menahan air matanya yang hendak keluar.
" Maafkan aku mas, karena sudah berpikiran negatif tentang kepergian mu, aku benar-benar menyesal" sambil terus meneteskan air mata
__ADS_1
" Semuanya belum terlambat Raya, kita masih bisa rujuk kembali dan bersatu untuk selamanya sampai ajal lah yang memisahkan kita, jadi kamu tidak perlu terlalu menyesalinya" sambil menggenggam erat tangan Raya
Kamu tidak tahu mas bahwa aku sudah melakukan kesepatan dengan seseorang yang kamu sangat percayai, sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan? entah seperti apa reaksimu jika mengetahui aku dan Ruben akan segera melakukan akad nikah.